
Tania merasa kasihan pada Rakha. Ia takut kalau pria itu kenapa-kenapa di dalam sana. Ada apa sebenarnya? Hati Tania terus berkata untuk kembali lagi ke kamar itu.
Akhirnya Tania memutar langkah. Ia kembali masuk ke kamar Rakha. Saat ia masuk, pria itu sedang terduduk lemas bersandar di dinding. Rakha sedang terisak begitu memilukan dengan memegangi foto yang tadi Tania lihat.
"Tuan," ucap Tania. Ia bersimpuh duduk di depan Rakha untuk menenangkannya. Ia begitu panik. Hanya bisa menerka, apa Rakha terluka? Atau kenapa?
"Tania," lirih Rakha menatap Tania.
"Tuan kenapa?"
Rakha menarik tubuh Tania, memeluknya sangat erat. Tania hanya terdiam tak bisa berbuat apa-apa, tubuhnya terasa kaku. Sedangkan Rakha semakin membenamkan dirinya.
Tania tak tau apa yang sudah terjadi dan tak mengerti apa maksud dari semua ini. Tapi sekarang, Rakha sudah lebih tenang dalam pelukannya.
Tania memberanikan diri memegang kepala Rakha dan mengusapnya lembut. "Tenanglah, Tuan." Lirihnya. Ia hanya merasa kasihan.
Rakha diam dan tak menjawab sepatah katapun. Bahkan pelukannya kini semakin erat, seolah enggan membiarkan Tania pergi.
"Tetaplah di sini, Tania." Lirihnya pelan.
Tania tak menjawab.
"Dari sekian banyak Pekerja, hanya kau yang peduli saat aku sedang seperti ini, Tania." Ucap Rakha, Tanya tetap diam mendengarkan.
__ADS_1
"Kebanyakan dari mereka menganggap aku ini orang gila dan memilih pergi tak kembali." Rakha.
"Sudahlah, Tuan. Tuan lebih baik istirahat saja." Tania menuntun Rakha bangkit, dan menuntunnya menuju kasur. Pria itu menurut saja.
Lalu, Tania membaringkan tubuh Rakha, melepas sepatunya dan juga menyeka bajunya.
"Kau di sini saja," pinta Rakha.
"Iya, Tuan." Tania mengangguk pelan. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang. Ia hanya merasa kasihan pada Rakha yang seperti ini. Ia terus menatap mata Rakha yang sudah terlelap.
Tania berjalan mengambil foto yang tergeletak di lantai tempat Rakha terduduk tadi. Ia memandangi foto itu dengan penuh tanda tanya.
"Apa gara-gara foto ini? Lalu orang yang di foto ini siapa?" Tania meletakkan foto itu di atas meja seperti semula, Karena memang di situ tempatnya.
Tania kembali memperhatikan Rakha. Merasa pria itu sudah tertidur pulas, ia segera keluar dari kamar itu. Karena pekerjaannya yang lain sudah menanti.
Malam,
Tania sengaja duduk di tepi kolam, karena tak ada kegiatan lain. Di sini tempat favoritnya untuk menghibur diri. Ia biasanya melihat pantulan cahaya bulan di air. Sangat indah dan menenangkan.
Sepi, hening...
Begitulah keadaan di rumah ini setiap harinya. Dan itu adalah hal yang di sukai majikannya itu. Ia bilang sepi membuatnya damai. Entahlah, Tania tak paham.
__ADS_1
'Apa ia tak merasakan kesepian?'
Banyak hal yang belum Tania ketahui tentang Rakha. Tentang foto itu, ia benar-benar penasaran. Tapi ia takut untuk bertanya tentang hal yang bukan urusannya. Yang ada, Rakha pasti akan memarahinya karena terlalu ikut campur.
"Sedang apa?" Tanya Rakha datang menghampiri. Tania tersentak kaget, hampir saja ia terjatuh di kolam itu. Rakha malah tersenyum kecil memperhatikan.
"Tuan membuatku kaget." Tania mengelus dada.
"Kenapa kau suka sekali ke sini?"
"Aku merasa punya teman di sini, Tuan."
"Teman?"
Tania menunjuk pantulan bulan di dalam kolam. Rakha tertawa terbahak-bahak memperhatikannya.
"Kau ini aneh sekali!" Ucapnya. Tania hanya manyun.
"Di sini aku tak punya teman bicara, Tuan. Kenapa Tuan sangat betah tinggal sendiri di rumah ini?"
Rakha hening.
Tania jadi tak enak hati. Apa ia sudah menyinggung perasaan majikannya itu? Tania menggigit bibir bawahnya, merasa bersalah karena sudah salah dalam berucap.
__ADS_1
"Aku suka hening, Tania. Hanya hening yang paling mengerti diriku dan perasaanku. Walau dalam keramaian sekalipun, aku tetap merasakan keheningan pada diriku."
Tania menoleh ke arah Rakha. Menatap nanar matanya. Ia semakin penasaran dengan kisah hidup Rakha di masa lalu. Ia sangat ingin tau. Bahkan sangat ingin.