
"kamu habiskan makanan mu" ucap Irene memecah keheningan
"ah ya, enggak kamu habiskan" tawar Davin
"gak, makan kamu saja" ucap Irene duduk di sofa
"aku makan" ucap Davin lalu memakan makanan nya
setelah makan Davin menghampiri Irene yang duduk di sofa sambil memainkan handphone nya
"ada apa kamu kemari?" tanya Davin yang sudah duduk di samping irene
"aku punya ide untuk mu" ucap Irene meletakkan handphone nya di atas meja
"ide apa?" tanya Davin penasaran
lalu irene membisikkan ide nya pada Davin yang mengerti pun mangguk-mangguk
"sekarang telpon dia" ucap irene setelah membisikkan ide
"oke" ucap Davin
lalu ia menekan tombol pada layar handphone nya menelfon seseorang
Tut Tut Tut
"hallo Davin bagaimana kejutan ku" ucap nindi tersenyum licik
ya yang Davin telfon adalah nomor nindi
"nindi, aku mengaku kalah" ucap Davin di buat nada pasrah
"hahaha" bukan menjawab malah nindi tertawa keras
"nindi aku serius, aku kalah dengan semua ancaman mu aku, aku akan bertanggung jawab" ucap Davin pura-pura sedih
"kenapa kau tiba-tiba mau bertanggung jawab?" tanya nindi curiga
"aku tak tahan dengan omongan mereka nindi, mereka mempermalukan aku tak mau jika nama baikku hancuri" ucap Davin frustrasi
"benarkah?, apa buktinya jika kau sudah menyerah" ucap nindi
"baiklah jika kau butuh bukti, datang lah ke hotel mawar, aku akan mengadakan konferensi pers di sana dan kamu harus hadir di sana, aku akan mengatakan ke semua orang bahwa aku akan menikahi mu besok pagi, percayalah" ucap. Davin menyakinkan nindi
sejenak ia berpikir lalu ia mengiyakan tawaran Davin
"baik, tapi nanti jika kau berbohong padaku kau akan tau akibatnya" ancam nindi
"baik sayang, aku takkan membohongi mu" ucap Davin dengan ekspresi jijik
"baiklah sampai ketemu nanti" ucap nindi manja
lalu nindi menelfon pihak hotel apa yang di bilang Davin dan apa yang di katakan Davin itu semua benar bahkan Davin memesan kamar presiden suite untuk nindi
saking senangnya nindi melupakan jika ia harus mewaspadai Davin, apalagi hotel yang di maksud Davin adalah hotel bintang lima hanya orang tertentu saja yang bisa masuk ke sana
"umpan telah di makan" ucap irene menyeringai
"gak usah kayak gitu ngeri aku liatnya" ucap Davin melihat seringai irene
__ADS_1
tanpa memperdulikan ucapan Davin irene beranjak dari sofa berjalan keluar meninggalkan Davin yang hanya menggeleng kepala
✓✓
siang hari di hotel mawar satu jam sebelum acara konferensi pers di mulai
"permisi mbak mau nanya? kamar pesanan atas nama Davin Eka Prayoga di mana ya" ucap nindi
"dengan nona nindi" ucap resepsionis itu
"iya saya sendiri" ucap nindi
"mari nona saya antar" ucap resepsionis itu lalu mereka berjalan ke atas tempat kamar itu berada
"silahkan nona, di sini kamar yang di pesan atas tuan Davin, dan nona bisa masuk" ucap resepsionis itu menyuruh nindi untuk masuk
nindi tak menjawab ia terkagum akan kemewahan dari kamar itu
"maaf nona, apa nona butuh sesuatu" tanya resepsionis itu
"pesankan aku makanan terbaik di sini" ucap nindi masih menatap kagum di sekelilingnya
"baik nona, mohon tunggu sebentar" ucap resepsionis itu lalu meninggalkan nindi sendirian
beberapa jam kemudian konferensi pers akan di mulai, ruang aula hotel sudah banyak wartawan yang menunggu dengan tidak sabar
nindi masih sibuk memoles wajahnya supaya tampil cantik di depan kamera pikirnya
sedangkan Davin sedang dalam perjalanan ke hotel dengan asisten Ken di samping nya
beberapa menit kemudian pintu ruang aula terbuka lebar masuklah Davin dan juga asisten Ken
"sebelum kita mulai saya ingin memanggil seseorang terlebih dahulu" ucap Davin pada wartawan
wartawan bertanya tanya siapa yang di maksud oleh Davin
tak berapa lama sosok nindi muncul di balik pintu dengan senyum mengembang di wajahnya
berjalan ke arah tempat Davin berada naik ke atas podium lalu duduk di samping Davin
"oke, langsung saja di sini saya tak bisa berkomentar apapun tentang masalah ini, namun intinya saya ingin mengatakan kepada kalian semua bahwa saya ingin menikah dengan nindi esok hari" ucap Davin Langsung to the point sambil mengangkat tangan nindi
nindi yang mendengar nya pun senang bukan main bahwa Davin membenarkan ucapan nya
senyum terus mengembang di wajah nindi ia tak tau jika hidupnya berakhir akan berakhir hari ini juga
"dan saya punya kejutan untuk calon istri saya" ucap Davin melirik asisten Ken
lalu asisten Ken mengambil bunga yang sudah ia persiapkan, memberikan pada Davin
"mungkin hanya bunga saja,tapi ini semua hanya sementara,dan aku bukanlah pria romantis Will you marry me?" ucap Davin menyodorkan bunga ke nindi
"yes I will" ucap nindi senang sekali lalu mereka berdua berpelukan
"dan aku punya beberapa kejutan lagi untuk calon istri ku" ucap Davin tersenyum
tiba tiba lampu aula mati beberapa detik kemudian muncul gambar dari sebuah proyektor menampilkan saat nindi bermesraan dengan seseorang pria tak hanya satu pria tapi juga beberapa pria yang berbeda
tak hanya foto disana juga menampilkan video saat nindi merayu sutradara agar karirnya naik ke atas
__ADS_1
nindi yang melihatnya pucat pasi sedangkan para wartawan tak menyia-nyiakan kesempatan itu Langsung saja wartawan itu mengambil foto n rekaman itu
lampu kembali menyala tiba-tiba masuklah seseorang yang sedang menahan amarahnya berjalan mendekati nindi lalu
plak
satu tamparan mendarat di pipi nindi orang yang melihatnya hanya meringis
"kau dasar ****** berani-beraninya kamu menggoda suamiku, pantas saja suamiku selama ini mengacuhkan ku" ucap wanita itu dengan emosi
nindi yang masih sok dengan apa yang barusan terjadi hanya memegang pipinya yang merasa nyeri
"dasar pelakor kamu" bentak wanita itu
Davin hanya menonton saja keributan yang ada di depannya
"tenang dulu nyonya Bram tolong bekerja samalah dengan kami" ucap asisten Ken menenangkan
"takkan aku biarkan kamu lolos begitu saja akan ku tuntut kamu" ucap nyonya Bram atau bisa di bilang suami Bram yang punya saluran televisi
"silahkan tunggu di ruangan lain terlebih dahulu" ucap asisten Ken menggiring nyonya Bram untuk keluar
"bagaimana kejutan dariku?" ucap Davin menyeringai
nindi yang tersadar pun langsung menatap tajam Davin
"jadi semua ini ulahmu" teriak nindi
"bisa di bilang begitu" ucap Davin santai
"tentang lamaran juga, bagian dari rencana mu" ucap nindi menahan emosi
"beraninya kau" geram nindi hendak menyerang Davin tapi sudah di cegah oleh polisi yang entah dari kapan sudah berada di sana
"lepaskan, biar aku menghajar nya" berontak nindi
"nona mohon tenanglah" ucap polisi itu
"lepas" teriak nindi
"hukuman yang pantas buat kamu apa ya" ucap Davin tersenyum licik
"penjarakan saja dia tuan Davin" ucap seseorang di antara wartawan
semua yang mendengar ucapan orang itu sontak langsung saja melihat ke arah orang itu
"jangan ada kamera yang menyorot ku" tegas orang itu dengan aura mengerikan
semua orang tak berani membantah ucapan nya
"penjarakan dia seumur hidup jangan biarkan dia keluar begitu saja nanti bisa-bisa dia merebut suami orang lagi" sindir orang itu
"diam kamu" bentak nindi dengan emosi
"ide anda bagus juga . . .
lanjut besok ya😂😂
jangan lupa vote like dan komen sebanyak banyaknya
__ADS_1
terimakasih 🙏