
satu bulan setelah kepulangan Davin dan irene bulan madu di Venice Italia kini irene setiap bangun tidur selalu merasakan muntah di pagi hari
Seperti saat ini irene terburu-buru bangun dari tidurnya kemudian berlari ke arah kamar mandi memuntahkan sesuatu tapi tidak ada yang keluar hanya cairan bening
Huek huek
"kau sebenarnya kenapa akhir-akhir ini selalu muntah terus padahal enggak ada yang keluar, kita ke dokter aja yuk" ucap Davin khawatir sambil tangannya memijat tengkuk irene
Huek huek
"kita ke rumah sakit ya" ucap Davin semakin cemas
irene mengangguk saja semua badannya terasa lemas lalu tangannya terulur menekan tombol pada closet agar airnya keluar
"udah?" tanya Davin di balas anggukan kecil irene
Lalu Davin mengambil sebuah tisu membersihkannya pada bibir irene setelah selesai tangan irene terulur minta di gendong Davin
Davin yang mengerti pun langsung menggendong irene seperti koala, irene mengalungkan nya tangannya di leher Davin
Sampai di ranjang Davin ingin menidurkan irene kembali tapi irene enggan melepaskan tangannya dari leher Davin
"lepas sayang kamu tidur lagi aja" ucap Davin lembut
"enggak mau" ucap Irene menggeleng kepala nya
"lepas ya" bujuk Davin tapi irene juga tidak mau melepaskan diri malah semakin erat pelukannya
Davin hanya menghela nafas ia duduk di ranjang mengusap punggung irene yang berada di atas nya
Lima belas menit berlalu posisi mereka masih tetap sama bahkan irene di buat semakin nyaman duduk di pangkuan Davin
"sayang kita sarapan dulu yuk". ajak Davin
"aku gak mau makan" ucap Irene pelan
"kalau kamu gak mau makan, dapat energi nya dari mana" ucap Davin masih setia mengelus punggung irene
"aku enggak mau" ucap Irene semakin dalam menaruh kepalanya di ceruk leher Davin
"huh, kamu mau makan apa, biar nanti kita beli ya yang penting kamu mau makan" bujuk Davin
Irene berpikir lalu ia membayangkan memakan dim Sum dan membuat air liurnya menetes dengan cepat ia mengusap nya
"aku mau makan dim Sum" ucap Irene antusias menatap Davin dengan polosnya
"dim sum?, kita suruh bibi buatkan ya" ucap Davin menyetujui permintaan irene
__ADS_1
"enggak mau nya makan di restoran" ucap Irene menggeleng
"kan sama aja sayang lebih cepat di buatin bibi malah" ucap Davin mengelus pipi irene
"enggak, maunya di restoran" ucap Irene merajuk
"hah baiklah tuan putri kita beli dim sum di restoran" ucap Davin mengalah yang penting irene mau makan pikirnya
Mendengar penuturan Davin irene Langsung turun dari pangkuan Davin lalu bersorak gembira seperti anak kecil
"yey" sorak irene gembira Davin yang melihatnya hanya menggeleng kepala sebab akhir-akhir ini irene terkadang bertingkah seperti anak kecil
"ya udah kita ganti baju dulu yuk lalu kita ke restoran setelah ke restoran kita ke rumah sakit" jelas Davin
Irene mengangguk lalu ia berjalan ke arah walk in closet diikuti Davin yang mengekor di belakang nya
✓✓
Sampai di restoran Davin dan irene segera memesan makanan nya
"aku mau pesan yang ini, ini, ini, ini, dan ini" tunjuk irene pada buku menu
"sayang kamu yakin makan sebanyak itu?" tanya Davin tak percaya
"iya" singkat irene mengangguk kepalanya
Bukan menjawab ucapan Davin irene malah ingin menangis Davin yang melihat wajah Irène pun segera menuruti permintaan irene
"pesanan nya itu aja mbak sama tambah pasta satu sama lemon tea saja" ucap Davin cepat
Irene yang mendengar nya senang bukan main
"terimakasih" ucap Irene tersenyum senang Davin mengangguk
Setelah beberapa menit akhirnya makanan yang mereka tunggu tiba juga lalu mereka segera memakan makanan mereka dengan habis
Setelah sarapan mereka lanjut menuju ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan irene
Sampai di rumah sakit Davin langsung saja menuju ruangan dokter Dina yang sebelumnya sudah membuat janji
"apa keluhan yang nyonya alami?" tanya dokter itu dengan ramah
"setiap pagi selalu muntah dok tapi enggak keluar apa-apa" Jawab irene
"apa kepala nyonya terasa pusing" tanya dokter
"e sedikit dok" jawab Irene
__ADS_1
"kalau boleh tau kapan nyonya terakhir datang bulan" tanya dokter tersenyum
"lupa dok karena saya datang bilang nya enggak menentu" jawab Irene
Dokter Dina mangguk-mangguk lalu ia menyuruh irene berbaring di bilik yang di sediakan
"boleh nyonya berbaring di sana sebentar" ucap dokter menunjuk sebuah bilik
Irene mengangguk lalu ia mulai tidur di atas ranjang lalu dokter itu mengoleskan sebuah gel bening di perut irene setelah itu dokter memeriksa perut irene menggunakan alat
"tuan dan nyonya bisa liat itu" ucap dokter menunjuk ke layar monitor
"apa itu dok kayak biji kacang" ucap Davin bingung
"betul pak dan itu adalah janin yang baru tumbuh" jelas dokter
Oh irene dan Davin ber oh ria dan mengangguk hening sesaat
krik krik krik
"apa dok janin?" ucap mereka berdua tersadar
"iya tuan dan nyonya selamat anda akan menjadi orang tua" ucap dokter itu tersenyum sambil mengelap perut irene
"kita akan jadi orang tua sayang" ucap Davin senang memeluk irene
Irene menetes kan air mata ia tak menyangka bahwa ia sebentar lagi akan menjadi seorang mommy
Setelah acara berpelukan mereka berdua di beri arahan tentang kehamilan pantangan apa saja yang harus di hindari dan Davin tahu kenapa akhir-akhir ini irene bertingkah seperti anak kecil karena itu semua bawaan dari bayi mereka
Dokter juga menjelaskan pada Davin bahwa Irene suasana hatinya akan selalu berubah itu karena hormon seorang wanita hamil Davin mengiyakan ucapan dokter lalu mereka berdua pamit pulang setelah menebus obat dan vitamin untuk bumil
"terimakasih sayang sudah mengandung anak kita" ucap Davin tersenyum tulus
"sama-sama" jawab Irene membalas senyuman Davin
"sehat-sehat ya nak di dalam sana" ucap Davin mengusap perut irene
"iya Daddy" ucap Irene menirukan suara anak kecil
Mereka berdua tertawa geli mendengar suara Irene, sampai di rumah Davin pun mengabarkan Berita gembira ini pada seluruh keluarga irene dan keluarga nya mereka semua juga merasa gembira atas kehamilan irene
lanjut nanti malam ya
Jangan lupa vote like dan komen sebanyak banyaknya readers, terimakasih 🙏
selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan, tambah semangat puasanya hari kemenangan sudah dekat ☺️🙏
__ADS_1