Dewa Perang

Dewa Perang
Akhirnya datang juga


__ADS_3

Sejak dari tadi, Dewa Naga masih menutup matanya.


" apakah dia sudah datang ?" tanya Dewa Naga kepada muridnya.


" sepertinya belum,guru" jawab muridnya yang bernama Han Ok. Dia adalah murid pertama Dewa Naga.


" hmm apakah dia tidak datang?" gumam Dewa Naga sedikit mencibir.


"kita sambut, Dewa Naga...." ketika namanya dipanggil, Dewa Naga bangkit dari duduknya, dan dengan gagah melangkah masuk kedalam arena pertandingan. Para penonton tanpa diminta, berdiri dan bertepuk tangan dengan meriahnya.Ketika sampai di pinggir arena, yang dipagari dengan tali, Dewa Naga tiba tiba menghentakkan kakinya,badanya melayang tinggi kemudian berputar bagai gasing di udara dan melayang turun kedalam arena.


Ketika melihat atraksi pertunjukan ilmu meringankan tubuh yang indahnya,semua penonton terpaku.para master terpana. Ini penampilan master tingkat Dewa, sudah swpuluh tahun lebih,semua ilmunya pasti telah swmpurna.


" ini dia,.Sang Dewa Naga dari Cina, master Chai San " kata pembawa acara ,memecah kesunyian.


" dan selanjutnya, mari kita sambut...Pembantai Dewa..dari Indonesia..."


Suasana tiba tiba menjadi sunyi. Penuh ketegangan. Setelah menunggu beberapa lama, Pembantai Dewa belum muncul, kembali, pembawa acara memanggil Pembantai Dewa. Para penonton mulai berbisik bisik,sambil melihat ke kiri dan kanan, dimana Pembantai Dewa? Demikian mereka bertanya, walau tidak bersuara.


Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya dari kejauhan,terdengar suara orang berbicara. Para petugas yang berpatroli, kembali dengan membawa dua orang. mereka adalah pak Jona dan Mosa.


Beberapa orang yang masih mengenal Pembantai Dewa, sontak bertepuk tangan, dari bisik bisik akhirnya menjadi jelas, ternyata yang datang adalah Pembantai Dewa dan muridnya.


Para penonton, kemudian membuka jalan, Mosa berjalan di samping pak Jona,Pembantai Dewa, pedang pusaka ular, yang setipis sabuk, telah disamarkan, dengan dililitkan kepinggangnya. Sekilas orang tidak menyangka,jika sabuk yang dipakainya itu adalah pedang pusaka.


Pembawa acara melihat Pembantai Dewa, ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya, setelah mengamatinya beberapa saat, ia kemudian dengan wajah berseri, berkata


" ini dia ,Pembantai Dewa, ..." kemudian tangannya buru buru bertepuk tangan. Dan diikuti oleh penonton. Ia tidak tahu harus berkata apa, sebab ia tiba tiba ragu. Dan agak kecewa.


" apakah dia benar pembantai dewa?" Tanya penonton yang tidak mengenal pak Jona.

__ADS_1


" kelihatan tidak meyakinkan?"


" jangan melihat dari penampilan kawan "


" kamu seperti tidak mengetahui, pemerintah kita ya begitu, banyak yang telah mengharumkan nama bangsa di luar negri, tapi di negara sendiri kurang perhatian dari pemerintah. Banyak yang hidupnya menderita."


Para penonton yang adalah para master dari Indonesia, dan petinggi negara yang diundang, mulai membicarakan nasib para pengharum bangsa, yang hidupnya susah karena tidak diperhatikan pemerintah.


" lapor ,pak, Pembantai Dewa sudah datang " ajudan panglima memberi laporan.


" akhirnya dia datang ... Soal menang atau kalah, itu urusannya nanti. Yang terutama itu harus hadir dulu." kata salah seorang jendral yang duduk di samping pamglima. Sedang panglima hanya mengangguk kepala, sambil melihat ke arah pembantai dewa, yang kini sudah berjalan ke arah arena pertandingan.


Para penonton kini semuanya memperhatikan pembantai dewa, yang penampilannya sangat sederhana. Kain sarung,celana pendek dan sandal jepit. Sedang Mosa, celana pendek sebetis, baju kaos putih oblong,dan sandal jepit.


Ada yang tersenyum senyum, ada yang menggelang geleng kepala. Mereka seakan tidak percaya, kalau yang sekarang mendekati arena adalah pembantai dewa.seorang legenda.


Setelah pak Jona masuk dalam arena, Mosa lalu keluar dari arena.


" pak tua, berusahalah..."


" hehehe...aku tidak apa apa. jangan mengajariku bocah " jawab pembantai dewa dengan tersenyum.


"para hadirin, kini dihadapan kita, telah memasuki arena, dewa naga dan pembantai dewa. Mari kita sambut dengan tepuk tangan" setelah agak lama termenung, pembawa acara kembali berbicara.


Penontonpun bersorak,sambil bertepuk tangan. Mereka mulai bertaruh, namun hampir semuanya,menjagokan dewa naga.


" pertarungan kali ini, adalah partai ulang. Hasil apapun dari pertandingan ini, tidak mempengaruhi, pertandingan resmi. "


" baiklah,..tanpa banyak kata, kita mulai pertandingan ini. Dewa naga...siap ?...pemmbantai dewa...siap? ..mulai..."

__ADS_1


Setelah memberi aba aba, pembawa acarapun keluar dari arena. Namun kedua orang yang akan bertanding,masih berdiri di tempat, saling berhadapan sekitar tiga meter.


" dewa naga, senang berjumpa kembali,engkau sangat menantikan hari ini ya ?" tanya pembantai dewa.


" apakah engkau siap, pembantai dewa ?" tanya dewa naga. saat mengucapkan 'pembantai dewa' dewa naga swperti tidak rela.


" aku selalu siap dewa naga "


" apakah engkau takut ?"


" takut? Hahaha...aku tidak takut apa apa dewa naga"


" hmm...kalau begitu,siaplah..."


" tunggu dewa naga..." pembantai dewa mengangkat tangan kirinya,


" kulihat, engkau membawa muridmu. Bagaimana kalau murid kita yang bertanding ?" usul pembantai dewa,sambil melihat kearah Mosa.


" tidak !! Ini urusan kita berdua !" bantah dewa naga.


" baiklah dewa naga. Bagaimana kalau kita bertanding sebanyak lima pulub jurus. Kalau dalam lima puluh jurus tidak ada yang menang, maka kita imbang. Selanjutnya,biarkan murid kita yang bertanding atas nama kita ?" kembali pembantai dewa memberi usulan.


Bamyak master yang merasa tidak puas dengan sikap pembantai dewa. Tapi sebenarnya pembantai dewa mengusulkan demikian,karena untuk memberi kesempatan Mosa untuk bertanding . apalagi mereka sudah tua. Ini bukan pertandingan karena dendam atau permusuhan. Jadi harus dibatasi,berapa banyak jurus yang dimainkan. Bukan bertarung sampai mati.


" hmm..baiklah..aku setuju " jawab dewa naga.


" tapi, kalau dalam lima puluh jurus ini engkau kalah, maka aku akan mengajari muridmu." dewa naga berbicara denhgan sedikit mengejek.


Pembantai dewa agak terkejut, dengan usulan dewa naga. Namun pembicaraan mereka didengar oleh penotonto. Bamyak penonton yang meneriakan kata setuju.

__ADS_1


__ADS_2