Dewa Perang

Dewa Perang
pertemuan rahasia Perguruan Teratai Putih


__ADS_3

Di negri Cina, di Perguruan Teratai Putih, sekembalinya Pembantai Dewa dan Mosa dari Perguruan itu, sang Ketua dan Tetua Agung serta bersama Tetua Raja Pedang, Tetua Dewa Mabuk, dan Tetua Dewa Naga, serta beberapa sesepuh Perguruan, mengadakan rapat rahasia.


" Tetua Agung, kabar kurang menyenangkan datang dari negri Jepang. Jiang Ho yang memimpin kelompok ninja, yang menyerang Sekte Kuno Samurai, kalah dan di tawan oleh Sekte itu "


Sang Ketua membuka pertemuan,dengan laporan yang baru saja diterimanya dari negri Jepang.


" Jiang Ho terlalu gegabah." jawab Tetua Agung sambil tetap memejamkan matanya.


" hahaha ia ditangkap? Sifat Ninja belum mendarah daging benar dalam tubuhnya. Setahu saya, seorang Ninja pantang untuk di tangkap... " Tetua Dewa Mabuk menyambung perkataan Tetua Agung sambil tertawa.


Ya benar sekali apa yang dikatakan oleh Tetua Dewa Mabuk. Asli ninja Jepang, lebih memilih mati dari pada menyerah.


Kemudian, disepakati, bahwa Perguruan Teratai Putih tidak akan mengakui, bahwa serangan ke sarang Sekte Kuno Samurai, atas sepengetahuan perguruan itu. Serangan itu atas nama Organisasi Ninja Jepang. Dan jika Jiang Ho sampai membuka mulut dan mengatakan, bahwa serangan itu atas prakasa Perguruan Teratai Putih, maka mereka sudah menyiapkan jawabannya.


" Para Tetua sekalian, bagaimana pendapat tetua tentang fenomena saat ini. Maksud saya, dengan munculnya anak anak mudah dengan kemampuan yang sangat mengagumkan ini "


" Hmmm...ini memang sangat fenomenal. kita seakan diingatkan kembali pada masa masa dahulu kala. " jawab Tetua Raja Pedang.


" ini sangat menyenangkan...kemunculan anak anak muda dengan kemampuan yang tinggi, menjadikan sisa hidupku penuh gairah hahahaha...." Tetua Dewa Mabuk menyahut perkataan Tetua Raja Pedang.

__ADS_1


" Dewa Mabuk, bagaimana kalau engkau ke Jepang, menyelesaikan tugas Jiang Ho. " Tetua Agung menawarkan misi ini ,kepada Tetua Dewa Mabuk.


" menyamar menjadi Ninja ? hahaha aku kurang suka pakaian mereka. Biarlah aku kesana sebagai peziarah. Semoga disana aku menemukan tandinganku."


" hmm... Jangan gegabah, Dewa Mabuk kesana, bukan untuk bertanding. Tapi sebagai utusan Perguruan Teratai Putih. " jelas Tetua Agung , dengan sedikit mengernyitkan dahinya.


Waktu mudahnya, Dewa Mabuk paling suka mencari lawan. Hampir Semua murid Perguruan, diajaknya bertanding. Pernah ia mencari gara gara dengan Tetua Raja Pedang. Namun kekuatan mereka imbang. Dan sejak saat itu, Dewa Mabuk giat berlatih. Setelah tiga tahun kemudian, dia kembali menantang Tetua Raja Pedang, namun kembali hasilnya imbang. Hal ini membuatnya menjadi jerih menantang Tetua Raja Pedang. Saat itu,mereka masih sama sama mudah, dan belum menempati posisi sebagai Tetua. Karena masih ada tetua tetua diatas mereka. Yaitu orang yang lebih tua dari garis keturunan Than Kui, Pendiri Perguruan.


" haiyaoo...Tetua Agung, jikalau memungkinkan aku untuk bertanding, maka biarlah aku bertanding. Hitung hitung untuk mengukur kekuatan sekte kuno itu..."


" Baik...kau aturlah, bertanding, namun bukan sebagai musuh. Kita tidak tahu kekuatan mereka.jadi kau berhati hatilah. "


" Tetua...bisakah lebih serius sedikit ?" gerutu ketua perguruan, Chan Moi.


" aiii...Chan Moi...bukankah aku serius ? " Dewa Mabuk balik bertanya sambil tersenyum senyum.


" Baguslah kalau Tetua serius..."


Demikianlah sifat Dewa Mabuk, yang sesukanya menanggapi sesuatu. Namun sebenarnya, Ia selalu menganggap serius segalah permasalahan, namun cara penyampaiannya ,yang terkesan asal asalan saja.

__ADS_1


" Tetua sekalian, bagaimana dengan keberadaan Pembantai Dewa, terlebih Mosa,muridnya itu ?" kembali Ketua, mengungkapkan apa yang menjadi perhatiannya yang serasa baginya, sebagai beban itu.


" Hmmm...saya juga masih memikirkannya. Kemampuan anak itu sangat tinggi. Untuk sementara, kita lihat perkembangannya saja dulu." jawab Tetua Agung.


Dalam sekali serangan tadi,ia sudah tahu kemampuan Mosa. Tidak berada dibawahnya. Jika pertandingan tetap berlangsung, kemungkinan mereka akan imbang. Dan hal itu sangat memalukan. Apalagi di hadapan murid murid perguruan.


" maksud saya, apakah kita juga mesti mewaspadai Mosa ?" Ketua bertanya, sebab ia juga belum tahu, apa yang harus dilakukan terhadap Mosa. Dan ini adalah persoalan yang mengganggunya.


" Hahaha...ketua, apa yang kau takutkan ? Keberadaan Mosa, tidak mengancam perguruan. Walaupun ia termasuk master yang memiliki kemampuan yang unik, yang sekarang kita cari. " Dewa Mabukpun menyampaikan pendapatnya.


" saya rasa yang disampaikan oleh Dewa Mabuk benar. apa mungkin Mosa mengumpulkan kekuatan,untuk melawan dirinya ?" sahut Tetua Raja Pedang.


" kita tidak usah mengkuatirkan Mosa. Aku sendiri ada disana, ketika itu terjadi. Kemampuan Mosa sangat tinggi. Namun oleh sosok kekuatan yang merasuki dirinya, menyatakan akan datang kekuatan lain, yang juga sangat tinggi, dan diakui oleh suatu sosok itu, bahwa hanya dia yang mampu menghadapi kekuatan lain itu. " Dewa Naga ikut angkat bicara, ketika Ketua Perguruan, sedikit kwatir dengan keberadaan Mosa.


" Tetua, maaf saya menyela pembicaraan Tetua. Jika hanya Mosa yang mampu menghadapi, untuk apa ia mengumpulkan bantuan ?" seorang sesepuh yang bernama Tian Ong ,yang berusia enam puluh lima tahun bertanya.


" sesepuh, Mosa mengumpulkan bantuan untuk mencari tahu kemunculan kekuatan lain itu. Sekaligus untuk mencegah kekuatan itu memiliki pengikutnya. Semakin banyak perguruan yang diajak bekerja sama, maka informasi kedatangan kekuatan lain itu semakin cepat diketahui, dan ruang ruang geraknya semakin dipersempit. " jelas Tetua Dewa Naga.


Sesepuh Tian Ong dan sesepuh lainnya, mengangguk angguk mengerti.

__ADS_1


__ADS_2