Dewa Perang

Dewa Perang
Tetua Agung


__ADS_3

Ledakan yang baru saja terjadi,menghantam tempat Mosa berdiri, dan menciptakan lubang besar ditanah. Sesaat ketika dua kekuatan bertubrukan, Mosa secepat kilat ,menghindar dengan cara berputaran melayang dan ikut melepaskan Jurus Inti Es nya, menghantam kearah bawah,searah dengan pukulan Sang Ketua. Akibatnya, tanah yang dihantam oleh dua kekuatan dasyat ini, bergetar hebat dalam ledakan susulan , yang menyebabkan permukaan tanah terbuka lebar, dan berhamburan.


Sang Ketua sendiri terdorong balik,dan melayang naik, dengan kaki tangan yang gemetar akibat benturan dua kekuatan tadi. Setelah melayang turun, segera mengatur pernafasannya. berlahan, ia memutar badannya. Karena Mosa, setelah berputar naik, ia melakukan beberapa kali salto kebelakang dan turun agak jauh dari tempat Ketua.


Setelah kembali berdiri berhadapan, sang Ketua hendak mengatakan sesuatu


Pada saat itu terdengar suara menggema, menyerang siapapun yang mendengar di aula itu. Banyak anak murid yang jatuh pingsan oleh serangan getaran dari suara itu.


" lancang...siapa yang berani membuat onar di sini..."


Ketua dan sesepuh perguruan yang telah kuat tenaga dalamnya, mampu melawan serangan getaran suara yang dikirim dari jauh itu. Semua orang menahan nafas. Mereka hanya merasakan hembusan angin yang sangat halus, tidak melihat siapa siapapun. Namun kemudian mereka dikejutkan oleh apa yang mereka lihat. Tahu tahu seorang pria yang sangat tua, berdiri berhadapan dengan Mosa. Pakaiannya sangat sederhana. Berupa sebuah kain utuh, berwarna putih, yang dililitkan dari leher dan menutup seluruh badannya. Dan dipinggangnya, terikat sebagai sabuk, kain yang juga berwana putih.


"Tetua Agung ..Anak Murid memberi hormat" sang Ketua segera membungkuk memberi hormat dari arah belakang. Para sesepuh serentak berdiri,dan dengan penuh hormat, membungkuk memberi hormat.


Tetua Agung adalah seorang tetua yang sudah lanjut usianya. pada usianya yang ke sembilan puluh tiga tahun ini, ia sudah bertapa selama dua puluh tahun.


Walaupun hidup dalam pengasingan sebagai seorang petapa, kejadian dan perkembangan Perguruan Teratai Putih, selalu diketahuinya. Seorang murid ,yang bertugas untuk melayani Tetua Agung,selalu membuat laporan,mengenai hal hal yang penting, yang melibatkan Perguruan Teratai Putih.


Tentu Tetua Agung juga sudah mendengar,perihal penemuan Pedang Ular. Dan juga seorang pemudah yang berada di negri jauh, yang memiliki Jurus Inti Api yang sangat kuat, dan bisa.dipastikan, sama.kuatnya dengan sang Legenda, Pendiri Perguruan Teratai Putih, Than Kui.


Tetua Agung yang juga adalah keturunan Than Kui, bernama Bao Fang, berdiri mengamati Mosa dengan tatapan tajam menusuk. mata yang sipit hampir tertutup, dengan wajah yang kaku, menatap lekat kearah Mosa.

__ADS_1


" engkau...siapa kau..." suara yang datar ,tanpa irama,membuat bulu kuduk meremang berdiri. Tidak ada Gerakan di mulutnya ketika bicara. Ia seakan hanya berbisik, namun sangat jelas terdengar.


Tetua Agung, tidak memperhatikan Chan Moi yang bersuara memberi hormat dari belakangnya. Ia malah bertanya kepada Mosa yang berdiri di depannya.


Mosa segera membungkuk badannya, memberi hormat, seraya memperkenalkan dirinya


" orang tua, saya Mosa, mohon maaf jika orang tua merasa terganggu "


" Hmmm... Mosa...apakah engkau yang menemukan Pedang Ular ?" tanya Tetua Agung tanpa basa basi.


" Benar orang tua...saya yang menemukan Pedang Ular "


" maafkan aku ...orang tua..."


" apakah engkau membantahku ?" tanya Tetua Agung dengan alis berkerut. Ia merasa sangat tidak dihormati oleh anak muda yang ada didepannya ini. penolakan Mosa dihadapan para murid Perguruan, seakan menamparnya.harga dirinya seakan diinjak. Namun dia seorang Petapa, yang telah menyelami kehidupan ini. Ia dapat menahannya. Dan menunggu jawaban Mosa. Jika jawaban Mosa tidak memuaskannya, ia akan lanhsung menyerang Mosa,bahkan mungkin akan membinasahkan Mosa.


" Orang tua yang budiman, " Mosa berusaha untuk menarik simpati Tetua Agung, dengan tetap merendah hati, dengan sopan menyapa Tetua Agung. Ia tidak ingin ada permusuhan antara mereka.


" aku menemukan Pedang Ular, di dalam hutan di negri kami. Aku tidak mengambilnya dari siapapun. Pedang Ular adalah barang yang hilang sudah ribuan tahun. Ia bukan milik siapapun, sampai ada yang menemukannya . Penemunya adalah pemiliknya."


" Hahaha...sungguh pandai engkau berkata...apakah Pedang Ular,muncul dengan sendirinya ?" Tetua Agung rupanya orang yang suka berdebat. Ia sebenarnya setujuh dengan perkataan Mosa. tetapi ia ingin melihat,sejau mana daya pikiran Mosa. Hanya orang yang berpikiran luas, yang dapat menciptakan peluang peluang yang berguna,dari kesempatan terkecil sekalipun.

__ADS_1


" Benar , Pedang Ular pada awalnya adalah milik seseorang. Namun, pemiliknya tidak menyerahkan Pedang Ular ini kepada siapapun. Ia bahkan menguburkan Pedang Ular ini di bawah sebuah batu besar ,di tengah hutan rimba, di negri kami.maka sejak saat itu, Pedang Ular bebas. Bukan milik siapapun,sampai ada yang menemukannya, penemunya adalah pemilik barunya, setelah dikubur ribuan tahun lamanya."


" Anak Muda, dari mana asalmu ?"


" Tetua Agung, murid berasal dari Indonesia "


Setelah Mosa mengatakan asal negrinya, Tetua Agung kembali diam, dan menatap Mosa dengan sangat tajamnya. Setelah diam beberapa saat...


" Chan Moi... Apakah Mosa adalah Murid Perguruanmu " tanya Tetua Agung, Bao Fang.


"Tetua Agung...dia belum menjadi murid Perguruan Teratai Putih..."


" belum menjadi Murid Perguruanmu ? Mengapa ia menyebut dirinya murid, dihadapanku ? "


" Tetua Agung...saya..."


" belum menjadi murid, namun kekuatannya melampoi para sesepuh Perguruan. Bagaimana kalian mendidik ilmu kalian kepadanya, jika kemampuan kalian dibawah anak ini ?"


"Tetua Agung..."


Chan Moi menghentikan perkataannya, ketika tiba tiba, Tetua Agung mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat untuk Chan Mo berhenti.

__ADS_1


__ADS_2