Dewa Perang

Dewa Perang
Pertemuan Besar Bersama Perguruan Teratai Putih


__ADS_3

Mendapat serangan dari orang yang selevel Tetua Agung ini, Mosa langsung mengerahkan kekuatan terbaiknya. Ia pun mengangkat tangannya, menyambut pukulan Bao Fang.


Tidak ada ledakan yang terjadi,tetapi seluruh ruangan aula itu bergetar bagai gempa bumi.


Mosa terdorong kebelakang beberapa langkah. Sedangkan Tetua Agung Bao Fang tetap berdiri di tempatnya, dengan badan yang bergetar.


' hmm pantas juga anak muda ini. Pukulan Jurus Membela Gunung dapat ia tahan.' batin Tetua. kembali ia mengayunkan tangannya, udara yang sangat panas, meluncur bagai anak panah, menyerang Mosa, kali ini Tetua Agung menyerang dengan Jurus Membela Gunung disertai dengan Jurus Inti Api.


Mosa tidak mau memukul dengan jurus Guntur Bumi, ia memainkan Jurus Awan Angin dengan Jurus Inti Esnya. Hawa yang sangat dingin, yang mampu membekukan seketika apa saja yang dikenainya, menyambut serangan Tetua Agung.


" Baaannngggg !!" terdengar ledakan yang bagai tertahan. kembali Mosa terdorong mundur beberapa langkah kebelakang. Sedangkan Tetua Agung,berseru kaget dan melompat mundur. Ia merasakan sekujur tubuhnya diserang hawa yang sangat dingin.


jika ia tidak melompat mundur,sambil mengerahkan Jurus Inti Api, untuk mematahkan hawa dingin, ia pasti akan menjadi beku seketika.


" Jurus Inti Es ? Siapa kau sebenarnya ?" tanya Tetua Agung. Ia tentu juga tahu,.bahwa ada Jurus Inti Es yang seakan menjadi tandingan Jurus Inti Api. Karena Jurus inilah, maka leluhurnya, Than Kui mengembara untuk bertemu dengan Pendekar Jurus Inti Es, yang berada di negri yang jauh. Dan akhirnya menghilang tanpa jejak selamanya.


" Benar Tetua, yang aku mainkan adalah Jurus Inti Es. " jawab Mosa singkat.


" apa hubunganmu dengan Pendekar Jurus Inti Es ?"


" Tetua, saya tidak ada hubungan dengan Pendekar Jurus Inti Es,demikian juga, saya tidak ada hubungannya dengan Pendekar Jurus Inti Api."


" baik ..baik..apakah engkau menemukan Kitab peninggalan mereka ?"


" Tidak ada Tetua, "


Tetua Agung menatap lekat kearah Mosa sambil mengangguk angguk kepalanya. Tidak tahu apa yang dipikirkannya.

__ADS_1


Tetua Agung kemudian berbalik menatap sang Ketua


" layani tamu dengan baik. Sesuatu terjadi pasti ada alasannya." perintah Tetua Agung.


Setelah mengatakan demikian, ia melihat kearah Pembantai Dewa.


" sahabat, ikutlah dengan aku. Bawa muridmu serta " setelah mengatakan demikian, Bao Fang berbalik dan melangkah kedalam gedung utama Perguruan.


Para sesepu Perguruan semuanya.berdiri menyambut Pembantai Dewa dan Mosa, yang berjalan masuk ke gedung Utama bersama dengan Ketua,mengikuti Tetua Agung.


Didalam gedung Utama itu, ada meja besar berbentuk bunga teratai. Dengan tempat duduk untuk seratus lima puluh orang. Tempat duduk ketua, ada diujung dengan lambang perguruan yang terukir besar, di belakang kursi Sang Ketua. Disamping gambar lambang Perguruan, ada juga gambar Pedang Ular. Yang sama persis dengan Pedang Ular. Di samping kiri dan kanan kursi ketua ada empat kursi besar. Ini adalah kursi dari perwakilan Keturunan Pendiri Perguruan Teratai Putih. Namun yang terisi selama ini hanya ada tiga kursi. Sebab kursi yang kosong adalah bagian untuk Dewa Naga. Yang sejak nenek buyutnya, meninggalkan kursi kehormatan ini.dan sejak saat itu, tidak ada lagi yang menempati kursi ini.


Semua kursi sudah di tempati. Kecuali kursi Dewa Naga. Untuk Pembantai Dewa dan Mosa, ditambahkan lagi dua kursi. Tetua Agung, menempati kursi yang ada di kanan Sang Ketua.


Walaupun meja bulat yang menyerupai bunga teratai ini, namun semua kursi yang ditempati oleh sesepuh dan para pengurus perguruan, menghadap kearah lima kursi, yaitu Kursi Sang Ketua dan empat kursi bagi keturunan pendiri perguruan.


" Ketua, bagaiamana hubungan perguruan dengan Dewa Naga ? " Tetua menyebut Chai San dengan gelarnya. Ini berarti Tetua memghormati Dewa Naga di hadapan Murid Perguruan Teratai Putih.


Mendapat pertanyaan yang tiba tiba dari Tetua Agung, Chan Moi terdiam. Pertanyaan itu menyadarkannya, pada pertemuan besar ini, dia belum memberi tahu kakaknya itu. Walaupun dia tahu, kakaknya tidak akan hadir, tapi jika Perguruan mengadakan pertemuan besar, dia selalu mengundang Dewa Naga. Hubungan mereka sebagai kakak beradik, tidak ada masalah. Hanya saja Dewa Naga yang masih tetap setia pada keputusan nenek buyutnya.


" Tetua...ini terlalu mendadak, kami tidak sempat mengundang Dewa Naga...mohon dimaafkan Tetua " jawab Chan Moi.


" tidak apa apa.aku juga tahu..."


Pada saat itu, berhembus angin dan berkelebat dua bayangan yang sangat cepatnya.


" ini juga rumahku,..mengapa harus diundang..."

__ADS_1


Setelah suara itu terdengar, di hadapan Tetua Agung, sudah berdiri Dewa Naga dan Muridnya, Han Ok.


" Tetua Agung, aku Chai San dan muridku memberi hormat " Dewa Naga membungkuk badannya memberi hormat.


" Cucu Murid memberi hormat pada Tetua Agung " Han Ok juga memberi hormat


" Hahaha... Aku tahu , engkau sudah ada sejak tadi, aku sangat senang, duduklah Chai San " Tetua Agung tertawa senang.


Sedangkan Chan Moi matanya berkaca kaca,melihat kearah sang kakak. rasanya beban yang selama ini,telah terangkat buang.walaupun dia tahu, kakaknya mau datang lagi ke Perguruan ,karena Tetua Agung yang keluar dari pertapaannya,dan hadir dalam pertemuan ini. Jika tadi Tetua Agung kembali ke kamarnya,dan melanjutkan pertapaannya,dan tidak hadir dalam pertemuan ini, dia juga yakin, pasti kakaknya akan kembali ke tempatnya,dan tidak ikut dalam pertemuan ini.


" kakak..." ucapnya lirih.


" Ketua..." kata Dewa Naga,sambil memberi hormat. Ia harus memanggil ketua kepada adiknya ini. Dan bagi Chan Moi, ini adalah pengakuan dari kakaknya, bahwa dia adalah Ketua Perguruan Teratai Putih.


Setelah menyapa adiknya, Dewa Naga lantas duduk disebelah Tetua Agung, sedangkan Han Ok kembali duduk di antara para murid.


Tetua Agung mengangguk puas,melihat kembalinya Dewa Naga keperguruan. Ini memberi semangat bagi Ketua. Tanpa Mosa bergabung, Perguruan Teratai Putih akan tetap sebagai Perguruan yang besar dan disegani oleh perguruan silat lainnya.


" saya,sebagai Ketua Perguruan Teratai Putih, sangat senang dengan Kehadiran Kembali Dewa Naga, mengisi kursi yang selama ini kosong "


Kata kata Sang Ketua menyambut kepulangan Dewa Naga dalam perguruan. Dengan mengatakan demikian, sang Ketua seakan memberi tahu Dewa Naga, bahwa sejak ditinggal oleh nenek buyutb mereka, Kursin itu tidak pernah dipakai oleh siapapun dalam pertemuan besar Perguruan.


Menyambut kata kata Sang Ketua, serentak semua yang hadir,berdiri dan memberi hormat sambil berkata


" selamat datang kembali, tetua Dewa Naga "


" Tetua Agung, Tetua Dewa Naga, Tetua Raja Pedang, dan Tetua Dewa Mabuk, kini hadir di tengah kita, tamu kita, Pembantai Dewa dan Muridnya yang bernama Mosa"

__ADS_1


Ketua memperkenalkan tamu mereka.mereka semua sudah tahu. Namun dalam pertemuan resmi dan besar ini, maka harus diperkenalkan lagi. Inilah basa basi yang kita sepakati bersama tanpa kesepakatan tertulis.hehehe


__ADS_2