Dewa Perang

Dewa Perang
Joko Ireng Sang Pemurni


__ADS_3

Sekembalinya Mosa dan Pembantai Dewa dari Organisasi Para Master bela diri, mereka tidak lagsung kembali ke daerah Nusatenggara, oleh Pembantai Dewa, mereka berkunjung ke daerah Bromo, disana ada sahabatnya, yang mendirikan Perguruan Silat Nusantara.


Ia sudah melepasakan tanggungjawabnya, dan menyerahkan Perguruannya kepada anaknya untuk mengolahnya. Dan Perguruan ini telah berkembang dan membuka cabangnya diseluruh negara. Dan ia sendiri mengasingkan diri,dalam pertapaan.


beberapa hari sebelum kedatangan Pembantai Dewa dan Mosa.


Joko Ireng, sedangang melakukan perjalanan ke arah gunung Bromo. Ia merasakan aura yang samar samar dari daerah itu. Joko Ireng penasaran, apakah ada Pemurni lain di sekitarnya? Walaupun ia tahu, bahwa saat diatas sana, hanya dia yang meluncur turun kedaerah ini. Namun aura ini, sedikit mengganggunya.


Joko Ireng berkelebat cepat diantara pepohonan,.dan meluncur ke arah datangnya aura itu. Ketika memasuki pegunungan Bromo, ia berhenti. Aura yang dirasakannya sangat kental. Dan berasal dari lereng barat, di atas puncak gunung Bromo. Ia berjalan berlahan,dan berdiri di bawah kaki gunung. Hari sudah mulai gelap.


Tanpa menunggu lama, ia berkelebat naik ke atas puncak. belum sampai di atas puncak, ia berhenti. Dan merasa heran, aura itu sekarang berada dari bawah. Ia melewati sesuatu ? Pikirnya. Kembali ia berkelebat turun ,dan berhenti. ia kemudian mengawasi sekitarnya, dan menemukan sesuatu yang lebih gelap di dinding lereng itu. Ia kemudian berjalan berlahan. Dan benar saja, disitu ada gua yang tidak lebar. Dan ketika ia memperhatiakan,.ada cahaya remang remang yang berasal gua itu.


Joko Ireng,menghentak kakinya, dan melayang masuk kedalam gua, ia mendarat di mulut gua,tanpa mengeluarkan bunyi. Namun baru selangkah masuk, ia disambut dengan suara yang sangat halus.


" anak muda, apa yang kau cari malam malam begini ?"


Joko Ireng sontak berhenti. Sesaat kemudian ia menjawab


" apakah engkau seorang pertapa ?"


setelah bertanya demikian, Joko Ireng tidak mendapatkan jawaban. Namun ia merasakan energi yang kuat, seakan ada seseorang yang berdiri di hadapannya.


Joko Ireng kemudian mengulurkan tangannya, dan seberkas energi menghadang energi yang berasal dari dalam gua.


Bbrrr....


Gua bergetar oleh tabrakan dua energi. Dan Joko Ireng terdorong mumdur beberapa langkah. Ia tidak menyangkah ada kekuatan yang besar menabrak energi yang dilepaskannya. Seorang master bela diri ? Joko Ireng tersenyum. Saatnya mulai bekerja, pikirnya.


Ketika kakinya hendak melangkah, tiba tiba dihadapannya, berdiri seorang lelaki tua, rambutnya yang sudah beruban,digelung keatas, dan hanya mengenakan selembar kain hitam, yang melilit dari bahu kanannya sampai ke bawah kakinya. Bahu kirinya bertelanjang dada.

__ADS_1


bertapa tua ini bernama , ki Braka. Setelah berdiri berhadapan dengan Joko Ireng, Ki Braka, sesaat terpatung dan kemudian melangkah mundur dengan terkejut. Ia samar samar melihat tanda titik merah diantara kedua alis Joko Ireng.


Itu adalah tanda Sang Pemurnih. Ratusan tahun lalu, oleh para pendahulunya, dikatakan, bahwa, Sang Pemurni adalah warisan dari mereka yang terpilih. Sekte atau perguruan itu, selalu mempunyai orang yang diwariskan sebagai Sang Pemurni. Dan sekte ini sangat sulit ditemukan. Mereka tidak pernah menunjukan diri terhadap dunia luar. Mereka hanya muncul ,swratus tahun sekali. Bahkan orang orang yang mereka utus sebagai Pemurni adalah murid mereka. Ketika Sang Murid keluar dari " daerah " Sekte itu,.sang Muridpun tidak bisa kembali. Atau lebih tepatnya, tidak dapat kembali. Ini karena, keberadaan para sekte tersembunyi ini, tersegel. Swhingga dunia luar tidak akan dapat menemukan mereka.


Setelah meyakinkan penglihatannya, Ki Braka bergumam pelan


" sudah mucul ?"


Namun yang membuatnya terkejut adalah, Sang Pemurni, yang berasal dari negara ini. Ini berarti, sejak dari zaman kuno, ada Sekte yang terpilih dari Negara Indonesia ini, sebagai salah seorang Sang Pemurni.


suasana di malam itu, kembali sunyi.


" apakah engkau mengenal aku ?"


Tanya Joko Ireng.


"tanda ? Aku tidak punya tanda lahir. "


" ahh...kalau begitu...benar...engkau adalah..."


" Sang Pemurni " jawab Joko Ireng.


Bersamaan dengan jawabannya,.kekuatan yang tak tampak meledak, membuat Ki Braka terhuyung mundur.


Joko Ireng, sebelum perjalanannya ke gunung Semeru,.oleh para gurunya, di pesankan, bahwa swtelah naik menerima tanda,dan perintah, dia harus membunuh pertapa pertapa yang dijumpainya. Sebab sejak dahulu, para pertapa ini, yang menjadi musuh mereka.


Ajaran ajaran kebajikan, ditemukan oleh manusia, lewat pertapaan ini. Dan mereka mengajarkan kepada manusia. ajaran kebajikan ini tidak sejalan dengan gerakan Sang Pemurni. Kebajikan mengajarkan, ketenangan,kedamaian, dan menentang kekerasan. Sebaliknya, Pemurnian, dilakukan serentak,dan dengan kekerasan, demi menghasilkan kemajuan.


Pemurnian memahami, bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang berkualitas,.harus dilakukan kekerasan. Suatu aturan dipaksakan kepada manusia, dan dengan keras mengawasi prosesnya, sehingga aturan itu benar benar dijalani manusia.

__ADS_1


Sebaliknya, kebajikan menentang kekerasan. Apa yang para pertapa dapati dalam pertapaan mereka, bahwa suatu kehendak tidak dapat dipaksakan kepada orang lain, karena itu akan mendatangkan pergejolakan dan perlawanan. Dan akhirnya menciptakan ketidak seimbangan.


" kau...si...siapa namamu.." Ki Braka,merasakan kekuatan yang dasyat dari pemuda ini. Ini kekuatan bela diri kuno.


Namum, Joko Ireng tidak memjawab. Ia memadatkan energi di telapak tangannya, jari jari tangannya membentuk cakar, langsung menyerang ke arah Ki Braka.


Ki Braka adalah seorang pertapa bela diri. Ilmu ilmunya ragam, dan tinggi. Mendapat serangan mematikan ini, ia menghela nafas, dan menangkis.


Dhukk !!


Gua yang kecil itu bergetar, yang menyebabkan beberapa batu dan tanah di langit gua itu runtuh. Sedang Ki Braka kembali terdorong mundur beberapa langkah. Ia sangat terkejut dengan kekuatan anak muda ini. Dan ia semakin kagum dengan kekuatan kuno ini.


Tak lama kemudian, terjadilah perkelahian yang seru di dalam gua itu. Sambil berkelebat, kedua bayangan itu saling menyerang dan naik kearah puncak. Pohon pohon sekitar mereka patah dan tumbang. tempat yang mereka lewati untuk sampai di puncakpun ,rata, pohon tumbang dan tanah longsor.


Kalau ada yang menykasikan kejadian itu, tentu akan mengerutkan dahi mereka. Sebab pohon pohon yang tumbang dan tanah longsor itu bukannya dari atas, tetapi kebalikannya.


Sesampainya di puncak, Joko Ireng menatap lekat ke araha Ki Braka. Ia tidak mengeluarkan sepatah katapun. Setelah berdiri diam sesaat, kembali Joko Ireng menyerang. Kini ia mengeluarkan pedang yang lebarnya hanya sebesar ibu jari tangan orang dewasa, dan yang panjangnya satu meter. Pedang itu berwarna merah. Merah oleh darah ribuan bahkan jutaan manusia, sejak dari jaman Kuno. Pedang itu adalah Pedang Para Pemurni. Yang telah diwariskan sejak partama kali di gunakan. Itu artinya, pedang ini telah berusia ribuan tahun.


Aura yang sangat mengerikan terpancar dari pedang tipis itu. Setiap kali diayunkan, terdengar bunyi desauh bagai suara ribuan manusia yang menjerit. Dan bila pedang ini dihunuskan,.maka dia harus minum darah.


Ki Braka,sontak mundur beberapa langkah. Ia merasa sangat ngeri melihat pedang itu. Aura haus darah dan kesunyian abadi yang memcengkam ,terpancar dari pedang tipis itu.


Ketika Joko Ireng mengangkat pedangnya, seketika aura kematian yang sangat kuat,menekan Ki Braka, ia seakan terhipnotis, dan diam terpaku, seakan seluruh kekuatannya hilang lenyap di hadapan pedang itu.


Joko Ireng menebas pedangnya, terdengar suara suara yang memilukan diantara desiran angin yanh dilewati pedang itu. Dalam.sekejap, pedang itu sampai dihadapan Ki Braka, swkian detik, ia seperti tersadar dari mimpinya, namun sudah terlambat.


Crraasss


Darah segar terpercik kemana mana. Tubuh Ki Braka terbelah dua. setelah membunuh Ki Braka, Joko Ireng turun ke gua.dan menunggu. Ia yakin, beberapa hari nanti, pasti akan datang orang lain. Murid dari si Pertapa. Pasti akan datang. Dengan dwmikian, jika Ki Braka memiliki murid di luar sana, ia akan memulainya dari sini. Setelah merencanakan demikian, Joko Ireng, memutuskan untuk tinggal dalam gua tempat Ki Braka bertapa.

__ADS_1


__ADS_2