
Setelah mengangkat tangannya memberi isyarat agar Chan Moi berhenti bicara, Tetua Agung berbalik menghadap Chan Moi. Tatapan marah diarahkan kepada Sang Ketua. Ia sudah mendapat laporan, bahwa Ketua bersama sesepuh perguruan akan menarik Mosa bergabung dengan perguruan Teratai Putih.
Tatapan marahnya menandakan ketidakpuasannya. Apakah Chan Moi tidak melihat kemampuan Mosa ? Anak ini tidak bersalah apa apa. Dan tidak bisa dianggap melanggar aturan perguruan. Aturan perguruan hanya mengikat para anggotanya. mengapa memaksa Mosa untuk bergabung ? Agar menjebak Mosa dalam aturan perguruan ? Dengan cara ini agar dapat memiliki Pedang Ular ? Dan memanfaatkan kemampuan Mosa, untuk menaikan pamor perguruan ?
" Chan Moi, Mosa tidak bisa menjadi murid Perguruan Teratai Putih. Pedang Ular telah menyatu dengan tubuhnya. Hanya dia yang mampu mengeluarkan Pedang Ular."
Mendengar kata kata Tetua Agung, Chan Moi sangat terkejut. Ia tidak menyangka, bahwa Mosa sudah mencapai level Than Kui, Sang Pendekar Legendaris, pemilik Pedang Ular ribuan tahun lalu.
" Murid tidak menyadarinya. Mohon petunjuk Tetua Agung " Chan Moi menjawab sambil membungkuk badannya.
" Hmmm...perhatikan lengan kanannya. Bukankah itu Pedang Ular ?"
Chan Moi sontak melihat kearah lengan kanan Mosa. Matanya terbelalak melihat apa yang terpampang disana. ' ah pantas, kekuatannya tidak terduga, kemampuannya sudah sejauh ini ' batin Sang Ketua.
Pada saat itu, Tetua Agung berbalik badan,dan kembali menghadap Mosa.
__ADS_1
" Engkau tidak usah berurusan dengannya. Biar aku yang akan mengambilnya "
Mendengar Tetua berkata demikian, Chan Moi dan para sesepuh perguruan, sangat terkejut. Mereka tidak menyangka, Tetua Agung yang akan turun tangan.
" Tetua... Maaf sudah merepotkan "
" Hahaha itu sudah menjadi kewajiban para murid Perguruan. Membela kebenaran, adalah kewajiban.membela harga diri adalah hak." sahut Tetua Agung sambil tertawa.
" Tetua Agung..."
" Aku bertanding dengannya, bukan karena kebenaran. namun karena harga diri" jawab Tetua Agung.
" engkau membantahku di hadapan murid Perguruan Teratai Putih. itu sudah cukup "
" Aku...ahhh...itu kebenarannya orang tua ?" jawab Mosa tidak mengerti.
__ADS_1
" benar atau tidak, kau membantahku,itu menantangku"
'orang tua, kalau kau ingin mengujinya, jangan banyak alasan, ' Tetua Agung mendengar ada orang yang berbisik ditelinganya. Pembantai Dewa yang sedari tadi mendengar, tidak dapat menahan dirinya. Ia lalu mengirim suara jarak jauh, yang hanya dapat didengar oleh Tetua Agung, Bao Fang.
Bao Fang agak terkejut. Ia lalu melihat kesekelilingnya,mencari siapa yang mampu mengirim suara jarak jauh ini. Kemudian mulutnya bergerak,
' ternyata ada orang pandai yang diam diam ikut campur urusan Perguruan Teratai Putih ? Siapapun engkau, tunjukkan dirimu '
Pembantai Dewa tersenyum. Karena hanya dia yang mampu mendengar apa yang dikatakan oleh Tetua Agung.
Pembantai Dewa tidak ingin membuat Tetua penasaran, ia lalu berdehem yang cukup keras.Tetua Agung, lanhsung melihat kearah suara deheman itu. Setelah melihat Pembantai Dewa, ia mengkerutkan keningnya, seolah sedang berpikir keras.
' jangan berprasangka buruk Tetua, aku adalah tamu undangan Perguruanmu' kembali Pembantai Dewa berbisik.
" Hahaha.... " tiba tiba Tetua Agung tertawa. Tentu para murid yang ada sangat terkwjut.
__ADS_1
" Mosa,bersiaplah...aku akan menyerang ..." setelah selesai tertawa, ia memperingati Mosa.
Tetua kemudian memukul kearah Mosa.pukulannya sangat biasa.bukan seperti seorang Master beladiri. Namun pukulanya mampu mengjacurkan batu yang besar seukuran rumah.