Dijebak Di Malam Pengantin

Dijebak Di Malam Pengantin
22. Kamar yang sama


__ADS_3

Hari ini Aura sudah diperbolehkan untuk pulang dan kembali menetap di Apartmennya.


Mama Yara dan Papa Sky yang sudah mulai lega karena Aura sudah ada suami yang bisa menjaganya pun telah merencanakan jadwal kepulangan mereka ke Indonesia.


"Ma, kenapa sih harus pulang secepat ini. Aura masih sakit, masih mau Mama berada disini sama Aura." Aura merengek manja kepada sang Mama.


"Mama sama Papa juga masih ada yang perlu diurus di Indonesia, Sayang. Gak mungkin disini terus." Yara mengelus rambut hitam milik putrinya. "Lagian, kamu kan udah ada Rayyan. Dia bakal jagain kamu disini," lanjutnya berusaha menenangkan Aura.


"Ih, kok jadi bahas dia sih, Ma." Aura memprotes perkataan sang Mama.


"Ya, apa kamu lupa kalau Rayyan itu udah jadi suami kamu? Apa perlu Mama ingatkan terus?" Mama Yara tertawa diujung kalimatnya.


Aura mencebik sebal. Selalu saja alasan yang diberikan mamanya seperti itu. Ya, meski pada kenyataannya memang begitu tapi tetap saja Aura belum bisa menerima semua ini dengan sepenuh hati.


"Tapi, Aura dan dia menikah tanpa surat-surat. Itu gak sah. Dia bukan suami Aura."


"Memang belum sah secara hukum negara tapi secara agama kalian udah suami istri. Sah aja kok mau ngapain aja." Mama Yara mengerling, menggoda sang putri, sementara Aura membuang nafasnya dengan kasar.


"... lagian, ntar surat-suratnya juga bakal selesai diurus. Jadi, jangan berpikir untuk terus melawan sama suamimu, berdosa lho." Lagi-lagi Mama Yara mengingatkan Aura perihal ini. Bagaimanapun kodrat Aura sudah menjadi istri dari Rayyan jadi dia wajib mematuhi sang suami.


"Gak tau deh. Pusing. Makin pusing." Aura pun menggerutu.


Mama Yara selalu geli melihat tingkah Aura, padahal sudah dewasa tapi selalu bertingkah kekanak-kanakan jika didepannya. Wajar saja sih, Aura itu anak perempuan satu-satunya, bahkan tingkahnya kadang lebih manja dari Rion yang notabene nya adalah anak bungsu.


"Lusa Mama udah pulang, tapi sebelum mama pulang, mama mau ngelihat kamu sama Rayyan damai dulu ya. Jangan kayak Tom and Jerry."


"Ih, dia aja tuh yang jadi Jerry si tikus."


"Berarti kamu Tom nya, kan? Kucing?" Mama Yara tertawa mengolok putrinya.


"Tauk, ah!!!" Aura kembali menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Mama Yara masih terkekeh saja menanggapi sikap absurd gadis yang sudah menjadi seorang istri tapi tak mau mengakuinya itu.


Mama Yara keluar dari kamar yang Aura tempati. Dia berpapasan dengan Rayyan didepan pintu.


"Papa mana, Ray?"


"Di dekat perapian, Ma."


"Oh, oke. Mama nyusulin Papa kesana. Kamu temenin Aura didalam ya."

__ADS_1


"Tapi, Ma?" Rayyan takut Aura marah jika dia memasuki kamar gadis itu. Dia tampak ragu-ragu.


"Ray, Aura itu harus diluluhkan hatinya. Dia keras kepala, egois dan kadang juga sulit ditebak. Tapi, kamu udah menjadi suaminya, kan? Jadi, tugas kamu harus mencairkan dia. Kalau kamu ragu sama diri kamu sendiri, kapan dong hati Aura bisa mencair."


Rayyan diam mendengar nasehat sang mertua.


"Mama yakin kamu pasti bisa. Mama juga bakal terus mendorong Aura untuk bisa menerima kamu. Jadi, kamu jangan menyerah ya. Harus tetap optimis kalau suatu saat nanti Aura bisa buka hati buat kamu."


"Iya, Ma." Kali ini Rayyan menyahut.


Mama Yara tersenyum hangat. Menepuk pundak Rayyan kemudian.


"Selagi Mama masih disini mungkin Mama bisa bantuin kamu buat dekat sama Aura. Tapi besok lusa Mama udah kembali ke Indonesia. Kamu harus lebih siap lagi."


Rayyan mengangguk. "Saya gak akan menyerah untuk Aura, Ma," paparnya tulus dan sungguh-sungguh.


"Bagus. Mama tau kamu orang yang bisa diandalkan dan kukuh pendirian. Jadikan Aura sebagai sesuatu hal yang patut kamu perjuangkan ya. Mama harap kamu bisa membuat Aura kembali seperti dulu lagi. Ceria dan gak terus murung."


"Aamiin. Mudah-mudahan saya bisa mewujudkannya, Ma."


Rayyan juga ingin melihat Aura yang periang seperti dulu. Setidaknya, itulah sikap asli Aura saat dulu Rayyan mendengarnya dari Bi Dima. Aura mulai berubah sejak pelecehan yang Sandy lakukan kepadanya. Sejak saat itu, Aura nyaris tidak pernah tampak bahagia. Jikapun dia tersenyum dan melempar tawa, itu hanya untuk membuatnya terlihat baik-baik saja.


Rayyan pun memasuki kamar yang Aura tempati. Disana dia dan Aura saling bertatapan satu sama lain. Pandangan mata itu berhasil membuat Aura bersuara.


"Aku mau istirahat."


Aura melongo, belum sepenuhnya memahami ucapan Rayyan yang ambigu. Istirahat apa maksudnya?


"Istirahat apa maksud kamu? Ini kamar aku, kalau kamu mau istirahat ya diluar sana, kalau enggak di kamar tamu, tuh!" sungut Aura.


"Kamu baru selesai operasi. Kenapa sih harus ngomong ngotot gitu? Gak baik berkata keras-keras begitu. Ngomongnya pelan-pelan aja, nanti kepala kamu pusing." Masih saja Rayyan mengkhawatirkan kondisi Aura yang sudah berkata dengan nada tinggi kepadanya.


"Ya, makanya, kalau kamu gak mau aku bicara keras, kamu keluar sana. Jangan istirahat di kamar aku!"


"Kamu lupa kita udah menikah? Jadi dimana kamu tidur, disitu juga aku tidur, Ra. Lagian dikamar tamu itu ada Mama dan Papa. Apartemen ini cuma punya dua kamar."


Aura mendengkus. Lalu terlintas ide dikepalanya. Dia melempar bantal dan guling ke arah Rayyan.


"Nih, tidur di sofa aja. Jangan harap kamu bisa satu ranjangg sama aku!"


Rayyan menghela nafas panjang. Daripada dia mendebat Aura dan terjadi pertengkaran lebih baik dia mengalah. Lagipula dia segan jika orangtua Aura mendengar keributan mereka.

__ADS_1


"Ya udah, aku tidur di sofa."


Aura hanya menjawab Rayyan dengan bergumam singkat. Dia bahkan membuang tatapannya ke arah lain.


Rayyan mulai mengatur bantal di sofa lalu berbaring disana sembari memainkan ponselnya. Dia melihat ada sebuah pesan yang baru saja masuk dan rupanya pesan itu berisi foto gadis yang ingin diselidikinya.


Gadis yang dianggap Rayyan menjadi pokok permasalahan alias dalang pada malam nahas itu. Gadis yang meminta Rayyan untuk ke apotek dengan alasan sakit kepala.


Ah, akhirnya latar belakang gadis itu berhasil diselidiki oleh Pak Deri, pikir Rayyan.


Rayyan pun membaca sekilas tentang profil gadis itu yang juga sudah dikirimkan Pak Deri kepadanya.


Rayyan menghela nafas panjang setelah tau siapa sosok gadis itu.


Sementara Aura diam-diam memperhatikan Rayyan yang tampak serius menekuri ponselnya. Aura mencoba memejamkan mata tapi entah kenapa terasa sulit. Dia berusaha agar lekas tertidur tapi keberadaan Rayyan disana cukup membuatnya sedikit terusik.


Sekarang Rayyan terlihat meletakkan ponsel disamping telinganya, tampak seperti ingin menghubungi seseorang.


"Tanyakan padanya, apa tujuannya melakukan hal itu?" Meski Rayyan sudah dapat menebak tujuan gadis itu menjebaknya dan Aura pada malam itu, tapi Rayyan tetap ingin tau jawabannya dari mulut sang gadis.


"Dan tolong rekam percakapannya. Setelah itu, kirimkan pada saya," titah Rayyan pada Pak Deri yang dia hubungi.


Rayyan mendengar perkataan Pak Deri disana, kemudian memutus panggilan teleponnya begitu saja.


Aura yang mendengar percakapan Rayyan, tentu merasa bingung apalagi yang dia dengar hanya suara Rayyan, dan dia tak dapat mendengar lawan bicara Rayyan yang mengatakan apa diseberang sana.


"Kenapa gak tidur?" Suara Rayyan menegur Aura yang masih tampak membuka mata.


"Gimana bisa tidur, orang kamu berisik!"


"Maaf, aku gak bermaksud mengganggu kamu. Sekarang tidurlah."


Aura berdehem-dehem sekilas.


"Mau minum?" Rayyan bertanya sembari menawarkan. Siapa tau Aura mau menerima tawarannya.


Aura menggeleng, kemudian masuk ke dalam selimutnya tanpa menyisakan apapun bagian tubuhnya untuk Rayyan tatap.


Rayyan tersenyum kecil melihat tingkah Aura. Kemudian dia kembali berbaring untuk mengistirahatkan tubuh.


"Ini semua baru dimulai, Ra. Aku gak akan menyerah sekeras apapun sikap kamu."

__ADS_1


Rayyan tersenyum sembari mulai memejamkan matanya di atas sofa. Meski tak bisa tidur disamping Aura, berada dalam kamar yang sama dengan perempuan itu sudah membuatnya bahagia.


...Bersambung ......


__ADS_2