Dijebak Di Malam Pengantin

Dijebak Di Malam Pengantin
45. Berusaha ikhlas


__ADS_3

Acara ulang tahun Lucy mulai digelar di pekarangan Resort yang ada di pinggir pantai. Suasananya sangat nyaman disertai dengan suara deburan ombak pantai dan angin laut yang berhembus sepoi-sepoi.


Malam itu juga sangat cerah, dengan langit yang dihiasi banyak bintang, menambah kesan romantis yang sulit untuk dilewatkan.


Acara dimulai dengan momen makan malam bersama, kemudian dilanjutkan dengan games-games kecil yang diikuti oleh teman-teman Lucy termasuk Ghea dan Sylvia yang juga antusias.


Aura sendiri tidak begitu tertarik mengikuti segala list acara yang diusung disana. Ia hanya duduk dan memperhatikan. Berbagai desert yang disuguhkan Aura cobai tanpa ada yang terlewat, terkadang makanan manis bisa membuat moodnya kembali membaik.


Sampai seseorang menghampirinya dan Aura tau jika itu adalah Devon-- pria yang baru dikenalnya beberapa saat lalu.


Sebenarnya Aura tidak banyak berubah mengenai ketertarikannya terhadap pria, ia tidak begitu berminat karena pemahamannya masih tetap sama yaitu semua pria tidak ada yang tulus. Untuk itu, ia menanggapi Devon secara biasa, sama seperti saat ia berbaur dengan Darren maupun Carl.


Sampai sejauh ini, hanya satu pria yang mampu membuatnya tertarik dan ingin memiliki, sayangnya orang itu justru pria yang sebenarnya sempat menjadi miliknya dan itu adalah Rayyan. Perasaan itu juga terbentuk karena Aura baru menyadari jika Rayyan telah banyak berkorban untuknya.


"Kenapa tidak bergabung dengan yang lain?" tanya Devon memulai percakapannya.


Aura merespons itu dengan senyuman tipis, "Aku tidak tertarik," jawabnya jujur.


"Ku pikir kau sedang memiliki personal problem," ujar Devon kemudian.


Aura mengangguk, ia tak menampik. "Kau penebak yang andal," akuinya.


Devon terkekeh sekilas. "Karena sejak awal kedatanganmu di atas yacht, aku sudah memperhatikanmu," ujarnya serius.


Mendengar ucapan Devon, Aura lantas menoleh pada pria dengan rahang tegas itu. "Benarkah? Ku pikir aku saja yang merasa diperhatikan olehmu," ujarnya membalas. Sebenarnya Aura tidak berniat meladeni Devon, hanya saja tanpa sengaja ia melihat jika Rayyan sedang memperhatikan interaksinya dengan Devon sekarang, sehingga Aura sengaja melakukan itu untuk melihat reaksi mantan suaminya tersebut.


"Ternyata kau tidak sekaku perkiraan ku. Kau bisa bercanda juga," sahut Devon dengan semringahnya.


Aura manggut-manggut. "Kau sudah mengenal Rayyan sejak lama, ya?" tanyanya.


"Oh, Rayyan bergabung dengan organisasi kami sejak enam bulan lalu."


Rupanya jawaban Devon sama dengan perkataan Carl tempo hari, hal ini justru memantik rasa ingin tahu Aura mengenai organisasi itu.


"Memangnya itu organisasi apa?"


"Organisasi sosial. Kita tergabung dalam satu lingkup yang peduli dan saling membantu untuk urusan sosial misalnya panti asuhan dan jompo, korban kecelakaan dan korban bencana alam. Jadi kami bahu membahu untuk membantu kegiatan yang menjurus pada hal semacam itu."


Aura tertarik mendengarnya. "Kalau aku bergabung disana juga, apa boleh?" tanyanya. Selain tertarik untuk dekat dengan Rayyan melalui organisasi itu, Aura mengajukan pertanyaan itu juga karena dia benar-benar memiliki jiwa peduli dengan hal demikian.

__ADS_1


"Boleh saja jika kau mau. Kau juga bisa menyumbangkan pakaian, obat-obatan terutama uang untuk mereka yang membutuhkan," jawab Devon.


"Sepertinya itu menarik. Aku akan senang bisa menyalurkan semua itu untuk orang yang pantas menerimanya."


"Itu artinya kau memiliki jiwa sosial yang tinggi seperti kebanyakan dari kami di organisasi tersebut."


Lambat laun, Aura jadi banyak bercerita dengan Devon. Awalnya ia hanya ingin melihat reaksi Rayyan, tetapi karena respon Devon baik terhadapnya juga menjawab semua perkataannya dengan sungguh-sungguh akhirnya mereka jadi benar-benar terlibat percakapan yang cukup serius.


Tidak terasa acara puncak yang dielu-elukan sejak awal itu akhirnya terlaksana. Dimana Lucy berdiri didepan cake ulang tahunnya dan menyapa semua teman-teman yang hadir disana.


"Malam ini adalah malam yang sangat spesial, selain karena ini adalah hari ulang tahunku, ini juga karena ada seseorang yang spesial datang untuk menghadiri acara istimewaku." Lucy mulai mengucapkan kata-katanya.


Disinilah Aura harus menguatkan hatinya, seakan ia sudah tau dan dapat menebak kemana arah percakapan Lucy selanjutnya.


"Terima kasih untuk dia yang sudah meluangkan waktu untukku. Kue pertama ini akan aku berikan untuknya," ujar Lucy dengan pancaran wajah yang semringah.


Tak lama, wanita itu mengucap sebuah nama yang akhirnya mendapat sorakan dan tepuk tangan dari semua tamu yang datang disana, kecuali Aura tentunya.


"Rayyan... kue pertamaku ini untukmu."


Dan Aura membuang muka saat Rayyan benar-benar menerima kue yang diberikan Lucy padanya.


Aura berlari ke pinggiran pantai. Ia meninggalkan pesta ulang tahun Lucy yang masih berlangsung. Ingatannya kembali membuat kilasan mengenai respon Rayyan saat menerima kue ulang tahun Lucy tadi. Pria itu tampak tersenyum malu dan seolah bersanding dengan Lucy disana.


Yang paling menyakitkan adalah, keduanya tampak serasi sekali. Bahkan pakaian mereka sarat akan makna jika keduanya benar-benar pasangan yang kompak.


Aura memegang dadanya yang terasa bergemuruh sakit. Apa begini rasanya hati yang dipatahkan? Aura tidak menyalahkan Rayyan, ini salahnya sendiri. Bagaimanapun, Aura tau jika Rayyan berhak untuk bahagia. Dulu ia tidak bisa memberikan kebahagiaan itu jadi sekarang adalah waktu bagi Rayyan untuk bahagia bersama orang lain.


Aura menarik nafas dalam. Ia duduk di pasir pantai yang memberikan pemandangan lautan malam. Menangis dengan dada yang sesak. Betapa penyesalannya sudah tidak berguna lagi.


Semua yang pernah terjadi antara dia dengan Rayyan--berputar di memori otaknya bagai film yang sedang dipertontonkan.


Aura sangat ingat bagaimana Rayyan memperlakukannya dan ia balas dengan sikap yang tidak pantas.


Aura juga mengingat kejadian dimana ia yang selalu berkata ketus pada pria itu. Membandingkan dengan perlakuan Lucy yang lemah lembut saat dihadapan Rayyan.


"Jelas saja Rayyan memilih Lucy, wanita yang lembut tidak seperti aku yang selalu ketus meski Rayyan sudah memperlakukanku dengan sangat lembut."


Aura menepuk-nepuk dadanya sendiri karena merasa kenyataan ini sangat nyeri sekali. Aura juga mengingat bagaimana dulu ia selalu meremehkan Rayyan. Tinggi hati dan menganggap Rayyan hanya menumpang hidup dengannya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kamu masih mengharapkan dia untuk kembali, Ra? Bahkan secuil pun tentang kamu, akan mudah dilupakan oleh Rayyan karena yang kamu beri padanya hanyalah rasa sakit!" Begitulah batin Aura mengingatkannya akan masa lalu yang selalu ia hidangkan untuk pria itu.


"Sekarang kau harus sadar diri, Aura! Tidak sepatutnya kau mengharapkan Rayyan lagi. Jika kau benar-benar telah mencintainya, maka biarkan dia bahagia bersama orang lain."


Lagi-lagi Aura seakan berperang dengan dirinya sendiri. Satu bagian dalam dirinya menyuruhnya untuk melupakan Rayyan dan mengikhlaskannya. Tapi disisi lain, jiwa egoisnya juga meronta-ronta untuk memiliki pria itu kembali dan berjanji akan menjadi lebih baik lagi.


Aura akhirnya menyerah, setelah merenung cukup lama, Aura tau jika Rayyan paling membenci sikap egoisnya. Untuk itu, Aura akan berusaha untuk tidak egois dengan memaksakan pria itu. Mulai sekarang, Aura harus bisa menerima kenyataan dan melupakan tentang Rayyan sebab mantan suaminya juga berhak untuk bahagia.


"Kau disini rupanya!"


Suara Devon membuat Aura segera menghapus jejak-jejak airmatanya. Ia menoleh dan melihat pria tinggi itu berada tak jauh darinya.


"Dev?"


"Kenapa pergi tiba-tiba? Tadi temanmu menanyakanmu padaku karena tadi kita sempat berada di meja yang sama."


Aura mencoba tersenyum. "Maaf, tadi aku sedang menerima telepon jadi memutuskan agak menjauh karena di sana terlalu berisik," dalihnya.


Devon manggut-manggut. "Ku pikir kau tidak begitu menyukai keramaian," tebaknya.


"Kau bisa menilai orang lain dengan cepat, ya?" kata Aura.


"That's right. Itu aku!" katanya dengan percaya diri.


"Apa kau melihat ketiga temanku yang lain? Sejak tadi aku tidak melihat mereka."


"Tadi temanmu yang bernama Wilow yang menanyakanmu, tapi setelah ku bilang aku akan mencarimu, dia merasa lega dan kembali bergabung dengan teman yang lain yang mengikuti games di acara Lucy."


"Oh, jadi mereka disana. Aku tidak melihatnya." Aura memasang cengiran yang tampak kaku.


"Bagaimana kau bisa melihat mereka jika tubuhmu ada disini tapi pikiranmu kemana-mana," kelakar Devon.


Aura meringis, Devon ini pandai menilai orang lain, pikirnya. Aura justru takut jika Devon sudah membaca situasi setelah melihat Rayyan menyelamatkannya sore tadi.


"Are you oke? Ku pikir kau banyak melamun."


Aura terkekeh kecil. "Bukankah tadi kau sudah menebak jika aku memiliki personal problem dan ya, itu tidak sepenuhnya salah," paparnya.


Mulai sekarang, Aura benar-benar akan mencoba untuk ikhlas dan menjalani semuanya sesuai alur yang sudah dituliskan untuknya. Ia mengingat, jika Rayyan pernah berkata padanya untuk mengahadapi masalah bukan menghindari, jadi sekarang Aura akan mulai melakukan itu.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2