
Pagi-pagi sekali, Aura sudah mengetuk pintu kamar Nenek. Ia berencana mengajak Nenek jalan-jalan diluar rumah, agar bisa menghirup udara segar di lingkungan sekitar.
"Nenek, nek ..."
Nenek membuka pintu, lalu mendapati Aura yang memasang senyum terbaiknya. Meski Rayyan sudah melarang, tapi Aura selalu meyakinkan suaminya jika nenek pasti akan berubah.
"Ada apa?" tanya Nenek datar.
"Nek, kita jalan-jalan keluar, yuk. Diluar sedang cerah, matahari pagi itu baik buat kesehatan Nenek, ayo, Nek!" ajak Aura.
"Sudah saya bilang, saya gak perlu perhatian kamu. Kamu perhatikan aja suami kamu itu," rujuk Nenek pada Rayyan yang sedang mengobrol dengan Pak Deri di ruang tengah.
"Mas Rayyan udah sering aku perhatikan, Nek. Lagian kalau aku perhatiin nenek, mas Rayyan juga gak bakal marah. Kan nenek itu neneknya Mas Rayyan."
Nenek berdecih dengan ujaran Aura. Ia melengos pergi namun Aura mengikuti langkah nenek yang pelan.
"Ayo, Nek. Aura bantu."
"Gak usah!" sentak Nenek.
Perkataan keras Nenek sampai membuat Rayyan dan Pak Deri mengalihkan atensi pada keduanya. Rayyan segera beranjak dan menghampiri istrinya.
"Kalau nenek gak mau, kamu gak usah paksa beliau, ya." Rayyan menatap Aura dengan sorot memohon. Ia tidak terima Aura dikatai kasar seperti itu bahkan didepan dirinya. Bukan apa-apa, jika saja itu orang lain, mungkin Rayyan akan melawannya, tapi karena itu neneknya, Rayyan jadi merasa tak berguna karena tidak bisa membela Aura dalam keadaan itu.
Aura menyorot Rayyan dan dapat menafsirkan arti tatapan suaminya. Akhirnya ia memilih menyerah dengan mengikuti perkataan Rayyan. Ia berlalu pergi dan Rayyan mengikutinya.
Rayyan tau Aura kurang enak hati terkait hal barusan sehingga ia berniat menghibur istrinya sekarang.
"Gimana kalau kita metik strawberry, kamu bilang mau ngelakuin hal itu, kan? Ayo!" ajak Rayyan.
Syukurnya Aura menanggapi itu dengan senyuman, ajakan Rayyan sangat membuatnya bersemangat dan kembali membuat mood baiknya datang.
"Ayo, Mas!"
"Nah, kebetulan teman kecilku punya kebun strawberry, kita kesana sekarang."
"Kamu udah gak sibuk sama Pak Deri?"
"Itu bisa ditunda, tapi kebahagiaan istriku gak boleh ditunda-tunda."
__ADS_1
Aura mencubit kedua pipi Rayyan dengan gemas. "Manis banget sih suaminya Aku," pujinya dengan suara yang dilebih-lebihkan.
Rayyan sedikit meringis, lebih tepatnya berlagak kesakitan karena cubitan Aura dipipinya. "Sakit, sayang," keluhnya.
Aura lantas mencium pipi Rayyan kiri dan kanan. "Nah, udah gak sakit lagi, kan?" katanya menggoda.
Rayyan tertawa sekarang. "Kamu selalu tau obat-obatan yang buat aku seneng," ujarnya sambil mengedipkan mata.
Sekarang malah Aura yang merotasikan bola matanya. Kemudian keduanya terkekeh.
Menggunakan sepeda motor milik pekerja yang dipinjam oleh Rayyan, keduanya menyusuri jalan setapak di lahan dataran tinggi tersebut. Hal itu berhasil membuat Aura kesenangan, ia bahkan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi sambil sedikit berteriak.
"Mas, aku sayang banget sama kamu. Makasih udah nikahin aku," pekik Aura.
Rayyan terkekeh bahagia, meski begitu ia tetap melarang kegiatan Aura yang absurd.
"Sayang, nanti yang pada kerja di perkebunan sama peternakan disekitar sini pada kaget kalau tiba-tiba denger suara kamu teriak-teriak kayak gitu."
"Lho, disini gak ada siapa-siapa, Mas!" ujar Aura menunjuk sekitar yang tampak adem-ayem dengan pemandangan hijau yang terhampar.
"Itu kan kata kamu, tapi bisa aja banyak orang yang bekerja. Ini masih jam kerja dan disini pekerjaan orang lain ya berkebun ataupun beternak."
"Iya juga, ya, Mas." Aura menggaruk pelipisnya sekilas.
Mengenai neneknya, Rayyan juga tidak mau memaksakan Aura. Jika Aura ingin membujuk Nenek, ia tak akan mencegahnya. Pun jika Aura sudah lelah, Rayyan tak akan menyalahkannya. Apapun yang Aura inginkan, Rayyan berusaha mengabulkannya.
Seperti saat ini, Ia mengendarai motor dengan keadaan dimana Aura memeluk perutnya erat dari belakang, sembari mata wanita itu menatapi pemandangan sekitar dan sesekali menghirup udara sejuk dalam-dalam. Rayyan senang jika Aura pun senang dengan posisi mereka saat ini.
Hingga akhirnya, motor yang dikendarai Rayyan pun tiba di sebuah rumah kayu yang didepannya banyak pohon strawberry yang ditanami. Pun di bagian belakang yang tanahnya tampak menurun. Sepanjang mata memandang, disana hanya ada pohon strawberry atau pohon pelengkapnya seperti pohon murbei dan beberapa pohon jeruk.
"Assalamu'alaikum, Man!"
"Man, Rahman!" Rayyan memanggil nama temannya sang pemilik kebun itu.
Pintu rumah kayu itu terbuka dan menampilkan sosok pemuda desa yang usianya terbilang setara dengan Rayyan.
"Waalaikumsalam." Pria itu tampak mengernyit sesaat sebelum akhirnya menyadari siapa yang sedang berkunjung.
"Ray? Rayyan!" seru pria bernama Rahman tersebut. "Wah, apa kabar?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
Rayyan terkekeh kemudian menyahut. "Alhamdulillah, baik, Man. Lo apa kabar?" tanyanya balik.
"Sehat juga. Wah, berapa anakmu, Ray?"
Rayyan menoleh pada Aura yang menunduk sedih akan pertanyaan itu. Bagaimanapun, seharusnya mereka sudah memiliki seorang anak saat ini jika saja dulu Aura tidak mengalami kecelakaan yang mengharuskannya kehilangan sang jabang bayi.
"Belum ada. Masih proses," jawab Rayyan akhirnya.
"Iya, iya. Coba terus!" kata Rahman tampak menyemangati.
Rayyan tertawa. "Pasti. Gue coba terus," jawabnya, lantas kembali melirik Aura. "Ya, kan sayang?"
"Eh, i-iya," jawab Aura malu-malu.
Rayyan langsung mengutarakan niatnya pada Rahman untuk memetik strawberry. Rayyan bilang itu adalah keinginan istrinya. Tidak lupa Rayyan memperkenalkan Aura dengan Rahma. Beruntungnya, Rahman langsung mempersilahkan niat mereka dengan sambutannya yang ramah.
"Boleh, boleh. Ayo petik aja strawberry nya, kebetulan memang lagi berbuah."
Rahman masuk ke dalam rumah kayunya kemudian keluar dengan seorang wanita muda dan satu orang anak berkisar empat-tahunan.
"Ini Hanifa, istri saya, Mbak Aura," kata Rahman memperkenalkan seorang wanita berhijab.
Aura dan Hanifa bersalaman dan mulai bercerita dengan cukup akrab. Aura juga mengenal bocah empat tahun itu dengan nama Hara, dia adalah putri dari Rahman dan Hanifa.
Dengan suaranya yang cadel, Hara berniat ikut membantu memanen buah strawberry juga.
"Ayo, Hara!" ajak Hanifa.
Hara mengikuti Aura dan Hanifa yang mulai berjalan menuju ke area belakang rumah. Disana lahannya lebih luas meski tanahnya menurun.
"Mbak, hati-hati ya. Disini jalanannya gak rata," peringat Hanifa.
Aura mengangguk. Ia melirik Rayyan yang masih mengobrol dengan Rahman. Biasalah, pertemuan dadakan setelah lama tidak bersua. Aura tak mau mengganggu dua orang sahabat yang kembali bertemu itu, ia akhirnya memetik strawberry bersama Hanifa dan Hara.
"Wah, banyak sekali buahnya, Teh," kata Aura pada Hanifa yang dia panggil dengan 'teteh'.
"Iya, petik aja sesuka kamu, Ra. Strawberry nya manis lho."
Ucapan Hanifa membuat Aura semakin bersemangat dalam kegiatan itu. Ia sampai lupa peringatan Hanifa yang mengatakan jika jalanannya tidak rata.
__ADS_1
...Bersambung ......
Makin sepi ya. Pada kemana? Kok gak komen. 😅😅😅