Dijebak Di Malam Pengantin

Dijebak Di Malam Pengantin
43. Berenang


__ADS_3

Menahan sesak di dada, serta menahan airmata agar tidak lolos melewati pipinya, Aura beranjak dari sana dan memasuki toilet yang ada di bagian dalam yacht.


Menutup pintu dan akhirnya benar-benar menangis disana.


Apa ini yang namanya cemburu? Apa ini yang namanya sakit hati? Tapi, apakah ia bisa merasakan hal itu? Bukankah hatinya sudah mati? Bukankah ia tidak pernah mencintai? Lalu kenapa rasanya seperti ini saat melihat Rayyan bersama Lucy?


Apa Aura ditakdirkan untuk mencintai disaat seperti ini? Aura tidak tau apa rasanya cinta. Tapi sekarang ia tau apa artinya sakit. Apa begini juga yang dulu dirasakan Rayyan? Atau justru luka di hati pria itu lebih parah?


Cukup lama Aura meratapi nasib percintaannya disana, sampai suara ketukan pintu membuatnya harus kembali pada kenyataan.


"Ra! Aura! Kau di dalam? Kau tidak apa-apa, kan?" Suara riuh Wilow terdengar sambil mengetuk-ngetuk pintu


Aura mengusap kasar airmata yang membasahi pipinya. "Ya, aku disini. Aku tidak apa-apa, Wil," paparnya berdusta. Tentu saja ia kenapa-napa, bahkan sekarang ia ingin berkurang disini seharian agar tidak melihat Rayyan bersama Lucy lagi.


"Kau terlalu lama di dalam. Apa ada yang tidak beres?"


"Tidak ada. Aku akan keluar sekarang," ujar Aura setelah mencuci wajahnya di wastafel kecil yang ada disana.


Aura membuka pintu dan mendapati Wilow yang menatapnya penuh selidik.


"Kau kenapa?"


Sepertinya Wilow memang tak bisa untuk Aura bohongi.


"Sudah ku bilang tidak ada apapun." Aura mencoba tersenyum, tapi tentu saja itu senyum terkaku yang pernah ia sunggingkan. "Kenapa kau bisa tau aku disini?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Ah, tadi aku lihat Carl sudah bergabung dengan teman-temannya yang lain jadi ku pikir kau pasti sendirian sekarang. Carl bilang kau ke toilet dengan tergesa-gesa. Kau tidak apa-apa, kan?" Wilow kembali memastikan.


"I'm ok, apa kita bisa berenang?" tanya Aura mencoba baik-baik saja.


Aura mau berenang untuk bisa menyegarkan otaknya.


"Tunggu dulu, bukannya kau tidak mahir berenang? Kalau ini di pinggiran pantai mungkin aku akan membiarkanmu tapi sekarang yacht kita berada di tengah-tengah laut!" protes Wilow.


"Siapa bilang? Aku pandai berenang, Cean sering mengajariku dulu."


"No, no. Aku tidak yakin. Kita lihat lumba-lumba saja, menjelang sore begini biasanya banyak yang berlompatan," saran Wilow.


Aura menarik tangan Wilow. "Aku butuh menyegarkan pikiran. Aku mau berenang, oke?"


"Tapi, Ra..."


"Kau pandai berenang, kan? Kau bisa menjagaku nanti!" ujar Aura menyerah perkataan Wilow.


"Ya, tapi aku hanya bisa menjaga diriku sendiri, aku tidak bisa memantaumu."


"Kalau begitu, aku tidak akan jauh-jauh darimu. Ajak Ghea dan Sylvia juga."


"Mereka tidak akan mau, mereka tampak asyik pendekatan dengan teman lelaki Lucy."


"Ya sudah, kalau begitu kita berdua saja!"


Wilow mengikuti langkah Aura. Aura sendiri bingung dengan keberanian yang dimilikinya, mungkin karena rasa kesalnya akibat melihat kebersamaan Rayyan dan Lucy tadi sehingga mendorong dirinya sendiri untuk berbuat hal nekat.


Aura bisa berenang, tapi tidak mahir, apalagi dilautan lepas. Itu berbeda mengingat tekanan air dan ada ombaknya juga. Akan tetapi, kali ini Aura mau mencobanya. Menantang adrenalin yang ada pada dirinya.


Aura tau ini akan berbahaya, tapi ia tak peduli.

__ADS_1


Byur!!


Satu persatu teman-teman Lucy sudah menceburkan diri ke dalam air. Ada Carl juga.


Bicara soal Rayyan, Aura tidak tau apakah pria itu tau mengenai keberadaannya disini atau tidak. Yang jelas, Aura tidak mau melihat Rayyan bersama Lucy lagi, itu sangat menyakitkan.


"Ra!"


Saat mau melompat ke air, Wilow menghentikan pergerakan Aura.


"Kenapa lagi, Wil?"


"Kau yakin?"


Aura mengangguk mantap.


"Oke, ayo kita mulai!" kata Wilow yang terbiasa dengan hal ini.


"Oke," jawab Aura tanpa ragu.


Tapi Wilow menghentikan pergerakannya kala ujung matanya menangkap pemandangan disisi lain yacht mereka.


"Tunggu, Ra! Bukannya itu Rayyan?"


Aura memejamkan matanya sejenak. "Kau salah lihat, Wil. Dia tak mungkin disini," katanya menyangkal.


"Aku tidak salah, itu Rayyan. Coba kau perhatikan. Disana, yang sedang bersama Lucy!" kata Wilow lagi.


"Ku bilang kau salah lihat, itu tidak mungkin dia. Darimana dia mengenal Lucy. Itu tidak mungkin."


Wilow menatap ke dalam mata Aura, lebih serius untuk memastikan respon temannya ini.


"Sudahlah, aku akan berusaha melupakannya." Aura tau ucapannya itu hanyalah untuk menghindari pembahasan ini, bahkan ia tidak tau bagaimana cara untuk memulai melupakan seseorang yang sudah bergelayut dihatinya.


"Ya sudah, kita akan membahas ini lagi nanti!" kata Wilow disertai pergerakannya dan ...


Byur!


Wilow sudah melompat ke air dan sekarang giliran Aura.


Aura menarik nafas dalam, ada sedikit rasa takut yang terlintas namun ia melirik sekilas ke arah dimana Rayyan dan Lucy masih asyik bercengkrama disana dan tidak sedikitpun melihat padanya, itu membuat Aura kembali dihantam rasa sakit.


Bahkan Rayyan sangat asyik dan sepertinya tidak sadar jika Aura juga ada disana. Kenapa sesakit ini rasanya? Batin Aura ingin sekali menjerit sekarang.


Bukankah Rayyan miliknya? Harusnya Rayyan bersamanya, kan? Tapi Aura tau jika kebersamaan mereka sudah berlalu bahkan sebelum Aura menyadari perasaannya.


"Ayo, Ra!" pekik Wilow dari bawah sana. Ia mengadah pada Aura yang masih berdiri di bibir yacht.


Dalam hitungan ketiga yang Aura buat dalam hati, akhirnya wanita itu benar-benar melompat ke air. Entah kenapa disaat seperti itu, Aura justru berpikir untuk tidak usah muncul lagi ke permukaan karena ia tak mau melihat Rayyan bersama wanita lain selain dirinya. Itu sangat menyakitkan.


...***...


Rayyan sedang melihat Lucy yang menuangkan jus jeruk ke dalam dua gelas bertangkai saat suara teriakan teman-teman Lucy mengalihkan atensinya.


"Ada apa?" Lucy bergerak menjauh, sebelumnya meletakkan gelas berisi jus di meja.


Rayyan memperhatikan itu dalam diam, meski ia juga penasaran apa yang sedang terjadi disana.

__ADS_1


Lucy terlihat panik dan berjalan ke pinggiran Yacht.


"Ray! Sini!" teriak Lucy memanggil Rayyan.


Rayyan mendekat dengan sikap tenang. "Ada apa?" tanyanya sembari melihat pada arah yang sedang menjadi fokus Lucy.


"Lihat! katanya ada yang tenggelam disana!" seru Lucy panik.


"Rayyan!!" Tiba-tiba suara seseorang yang sedang berenang, meneriaki nama pria itu.


Lucy sontak menatap pada Rayyan. "Kau mengenal Wilow?" tanyanya heran.


Mendengar nama Wilow, Rayyan mengingat jika itu adalah salah satu teman Aura.


"Rayyan! Tolong Aura!" pekik Wilow kemudian.


Mata Rayyan terbelalak, dari posisinya yang tinggi di atas Yacht, Rayyan dapat melihat pada tubuh seseorang yang cukup jauh jaraknya dan terlihat terombang-ambing.


"*****!" Rayyan mengumpat entah pada siapa dan seketika itu juga melompat dari atas Yacht.


"Ray!"


"Rayyan!"


Semua teman-temannya, pun Lucy yang melihat tindakan Rayyan langsung meneriaki nama pria itu dengan tak percaya.


Rayyan tampak berenang menyusul beberapa orang yang juga sudah bergerak lebih dulu untuk menolong Aura disana.


Sampai akhirnya, tubuh Aura lebih dulu diselamatkan oleh salah seorang teman mereka--Devon--namun langsung diserobot Rayyan yang juga sampai tak lama setelahnya.


"Ray?" Devon keheranan dengan sikap Rayyan yang tiba-tiba datang lalu mengambil tubuh Aura darinya.


"Biar aku saja," sergah Rayyan.


Carl yang juga menyusul mereka ditengah-tengah laut, tentu melihat hal itu dan membisikkan sesuatu pada Devon.


"Aura teman Ray saat masih di Indonesia, mungkin mereka masih kerabat jadi biarkan saja Ray yang menolongnya," katanya.


Devon akhirnya memaklumi, lagipula ia tak mungkin menghalangi Rayyan mengingat mereka sedang menyelamatkan nyawa seseorang. Dan lagi, yang terpenting saat ini adalah keselamatan wanita itu.


Rayyan membawa tubuh Aura naik ke dek yacht, disana sudah ada Lucy, Wilow dan teman-teman lain yang tampak sudah menunggu.


"Aura ..." Wilow tampak sesenggukan disana.


Rayyan mengabaikan itu, ia fokus pada Aura yang kini berada dalam gendongannya, ia meletakkan Aura dengan hati-hati disana.


"Sepertinya Aura banyak menelan air laut," celetuk Ghea yang juga panik melihat keadaan Aura yang tak sadarkan diri.


"Biar ku bantu melakukan CPR," sergah Devon.


Rayyan masih diam, tapi saat mendengar Devon mengatakan niatnya dan mendekat pada sisi Aura, Rayyan lebih dulu memeriksa pernafasan wanita itu.


"Kau bisa? Biar aku saja!" kata Devon memberi usul tanpa pemikiran lain.


Rayyan tak menyahut, tapi tindakan lah yang ia lakukan.


Melihat Rayyan sudah lebih dulu memberi bantuan nafas pada Aura, Devon melengos namun dia berharap wanita itu benar-benar dapat diselamatkan.

__ADS_1


...Bersambung ......


Gimana menurut kalian, guys? 🙄🙄🙄


__ADS_2