Dijebak Di Malam Pengantin

Dijebak Di Malam Pengantin
39. Dejavu


__ADS_3

Aura masih tidak menyangka kenapa bisa Jeno bekerjasama dengan Shandy untuk melukainya. Ia pikir perasaan Jeno padanya cukup besar, tapi mungkin luka yang ia torehkan pada hati pria itu melebihi rasa tersebut.


Aura mulai sadar letak kesalahannya pada Jeno. Dimana selama ini ia yang tidak mencoba terbuka pada Jeno, kendati pria itu akan tetap mengajaknya melanjutkan pernikahan mereka yang sempat gagal meski keadaannya tak lagi sama.


Pun Aura tidak pernah jujur pada Jeno kemana tujuannya, seolah-olah pria itu tidak cukup berarti baginya. Seharusnya Aura bisa jujur pada Jeno, sayangnya waktu itu ia lebih mementingkan untuk menenangkan dirinya sendiri tanpa pernah memikirkan perasaan Jeno yang juga hancur karena kejadian yang menimpanya serta kepergiannya yang tanpa pamit.


Akan tetapi, terlepas dari hal itu tentu saja Aura tetap tidak menerima jika Jeno mau menjadikannya pelampiasan untuk rasa sakit yang diderita Hanin, karena jikapun Hanin menderita atas hukuman yang diberikan Rayyan pada gadis itu, Hanin layak mendapatkannya karena Hanin adalah dalang yang menjebak mereka dan menyebabkan Aura kehilangan kehormatannya.


Aura cukup penasaran dengan apa yang Rayyan lakukan pada Hanin sehingga Jeno marah dan ingin balas dendam padanya seperti ini.


"Apa yang Rayyan lakukan sama Hanin, Jen?"


Jeno tersenyum sinis. "Dia menghancurkan hidup Hanin," ujarnya ambigu.


"Kamu mencintai Hanin makanya mau menjadikan aku pelampiasan?"


"Ya, meski aku terlambat menyadarinya. Dia yang selalu ada disaat aku terpuruk dan ya ... berkat Rayyan aku juga nyaris dipenjara seperti Shandy."


Shandy terkekeh mendengarnya. Dulu ia pun dipergoki oleh Rayyan dan dihajar oleh pria itu saat ia mencoba melecehkan Aura. Rencananya jadi gagal juga karena Rayyan. Disanalah Shandy menjadi dendam pada Rayyan meski ia dan Rayyan berteman dalam sebuah kelas musik beberapa tahun silam.


Awalnya, Jeno dan Shandy tidak sengaja bertemu satu sama lain. Jeno tau jika Shandy adalah pria yang dulu pernah melecehkan Aura. Kini Shandy telah bebas dari penjara. Dan karena Jeno putus asa untuk membalas kelakuan Rayyan yang hampir memenjarakannya sebab kasus pengeroyokan waktu itu, ia menjadi berambisi untuk menghancurkan Rayyan tanpa meninggalkan jejak.


Namun, mengingat latar belakang Rayyan yang sudah Jeno ketahui, serta teman-temannya yang tidak berani untuk mengusik Rayyan lagi, sehingga Jeno berpikir untuk menemui Shandy kembali dan menawarkan kerja sama untuk menghancurkan pria bernama Rayyan.


Tak disangka, pertemuan itu membuat Jeno tau jika Shandy pun memiliki dendam yang sama pada Rayyan.


Untuk itulah, Shandy dan Jeno menjadi satu visi, menghancurkan Rayyan yang adalah musuh bersama.


Shandy masih ingat kala Rayyan mengatakan jika Aura adalah miliknya, sehingga ia tidak perlu mencari Rayyan untuk membalas dendam-- karena ia pun sependapat dengan Jeno yang mengatakan jika Rayyan akan sulit dilacak dan dijangkau keberadaannya.


Awalnya Jeno menolak rencana Shandy untuk menghancurkan Aura, tetapi setelah tau jika Hanin dihancurkan oleh Rayyan, ia pun jadi ingin menghancurkan wanita yang dicintai Rayyan yang tidak lain adalah Aura--wanita yang hampir ia nikahi.


Hingga akhirnya, mereka sepakat untuk menemukan Aura yang sejatinya dicintai dan dilindungi Rayyan sejak lama.


Bukankah menghancurkan wanita itu sama halnya dengan menghancurkan Rayyan?


"Kamu tau, aku dan Rayyan sudah berpisah. Enam bulan yang lalu, aku tidak pernah tau lagi kabarnya dan kamu salah jika melampiaskan dendam kamu sama aku karena kami gak punya hubungan lagi," jelas Aura.


Jeno dan Shandy saling berpandangan seolah saling menanyakan apa yang Aura katakan ini benar atau justru hanya sebuah alibi?

__ADS_1


"Jangan mencoba menipu, Aura!" Jeno memperingatkan wanita itu tapi Aura tidak mengurungkan perkataannya.


"Aku berkata jujur, Jen. Terserah mau percaya atau enggak, tapi meskipun kalian hancurin aku, itu gak akan berpengaruh apapun untuk hidup Rayyan."


Shandy menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana Rayyan menghancurkannya hanya demi Aura. Jikapun mereka berpisah, Rayyan pasti masih mencintai wanita yang sama, begitulah keyakinan pria itu.


"Lo aja yang duluan, Jen! Gue punya rencana yang lebih brilian setelah ini," kata Shandy dengan penuh maksud.


Satu alis Jeno terangkat naik, ia tak mengerti dengan perkataan Shandy mengenai rencana lain yang brilian.


"Apa rencana lo?"


Shandy menipiskan bibir dan mengeluarkan ponselnya untuk menelepon seseorang.


Dan mata Aura langsung terbelalak saat menyadari percakapan Shandy dengan orang diseberang sana. Shandy berniat menjadikan Aura wanita lelang di meja judi. Tentu setelah ia memuaskan dirinya dengan wanita itu malam ini. Terdengar kesepakatan Shandy dengan lawan bicaranya di sambungan telepon itu.


"Lo mau jual dia?" tanya Jeno begitu panggilan Shandy berakhir. Jeno melirik Aura yang memeluk lututnya sendiri dengan bahu berguncang.


"Iya, tapi setelah kita berdua puas. Toh, setelah ngerasain ntar gak penasaran lagi," kata Shandy dengan seringai menjijikkan khas-nya.


Aura memohon di kaki Jeno, meminta pria itu menyelamatkannya dari rencana Shandy yang terdengar sangat keji.


"Jen, tolongin aku, Jen. Please! Maafin aku, Jen. Maafin juga Rayyan, dia ngelakuin sesuatu ke Hanin karena Hanin emang salah udah menjebak aku dan Rayyan malam itu."


"Aku tau kamu gak sekejam ini, Jen!"


"Woa, kamu pikir Jeno sebaik itu?" timpal Shandy.


Mendengar ucapan Shandy, Jeno pun tersenyum tipis. "Aku udah pernah bilang sama kamu kan, Ra? Kalau aku gak sebaik yang kamu kira selama ini," paparnya.


Aura tak dapat menjawab, hanya suara tangisannya yang terdengar pilu dan menyayat hati saat Jeno menarik lengannya dengan cukup kasar.


Jeno membawa Aura ke ruangan yang tampak seperti kamar tidur. Aura sendiri tidak tau dimana keberadaannya saat ini, sebab saat ia dibawa kesini tadi ia dalam keadaan tak sadarkan diri.


"Jen, jangan, Jen!" Aura mundur dengan sikap panik. Tapi Jeno terus menuju ke arahnya sembari melepas satu persatu kancing kemejanya sendiri.


"Gak usah takut gitu, Ra! Seharusnya kita udah ngelakuin ini dari dulu, kan? Kenapa harus takut? Anggap aja waktu itu kita jadi menikah."


"Jeno! Berhenti, Jen!"

__ADS_1


"Kamu sadar gak, kalau kamu terlalu egois, Ra? Seharusnya dulu kamu juga memikirkan perasaanku, bukan cuma perasaan kamu sendiri. Yang gagal menikah waktu itu bukan cuma kamu, melainkan aku juga yang adalah pasangan kamu!"


Jeno menghempaskan tubuh Aura ke tempat tidur lalu menin-dihnya. Aura memberontak, ia mencakar dada Jeno yang sudah terbuka, namun hal itu justru semakin membuat Jeno tersulut emosi.


"Uhp!!" Aura tak dapat menjerit lagi saat Jeno membungkam bibirnya dengan ciumannya yang buas, ciuman itu kasar, tidak menggunakan perasaan, tersirat penuh dendam dan rasa kecewa yang besar.


Aura kehabisan nafas dan memukuli dada Jeno yang terus menghukumnya dengan hal itu.


"Aku gak akan membuat kamu melupakan malam ini, Aura! Bersiaplah untuk hancur seperti yang Hanin rasakan karena perbuatan suami kamu itu!"


Srek!!


Jeno merobek kasar baju yang Aura kenakan, membuat wanita itu semakin menangis histeris.


"Ya Tuhan, tolong selamatkan aku!" batin Aura meratap sejadi-jadinya. Disaat seperti ini ia menginginkan pertolongan dari siapapun, sama seperti ia dilecehkan oleh Shandy beberapa tahun silam.


Sekelebat ingatan Aura langsung teringat akan kejadian masa lampau, dimana seorang pria memasuki ruangan dimana Shandy menyekapnya. Bedanya, sekarang ia bersama Jeno juga. Aura merasa dejavu dengan keadaan ini.


Apakah akan ada pertolongan lagi untuknya seperti waktu itu? Apakah ada pria yang bisa mengalihkan perhatian Jeno hingga membuatnya bisa keluar dari situasi ini?


Secara mendadak, Aura mengingat paras dan rupa pria yang pernah menolongnya disaat terdesak waktu itu. Wajahnya muncul di memori ingatan Aura, lantas gadis itu meneteskan airmatanya kembali.


Jika tadi Aura menangis karena takut akibat perbuatan Jeno, sekarang ia menangis karena menyadari siapa sosok yang pernah menolongnya waktu itu.


"Rayyan ..." jerit hari Aura memanggil pria itu dengan pilu. Sekarang, ia benar-benar merasa berdosa pada mantan suaminya.


Jeno ingin membuka utuh baju Aura yang telah robek, sayangnya ia mengernyit sesaat dan sempat menghentikan aksinya saat tanpa sengaja indera pendengarannya justru mendengar sebuah keributan di luar kamar yang saat ini ditempatinya.


Namun, amarah dan dendam Jeno lebih mendominasi, sehingga ia mengabaikan hal yang sudah terpikirkan dikepalanya. Takkan ada yang bisa menghentikannya untuk melanjutkan aksinya malam ini.


Saat Jeno kembali mencium Aura dengan perlakuan kasar yang sama, Aura berusaha untuk bertahan dengan ciuman tersebut. Merasa mempunyai selah, Aura lantas mengigit keras dan sekuat tenaga bibir pria itu.


"Ah!!" Jeno langsung mengerangg kesakitan.


"Bitchhh! Apa yang kau lakukan?" hardik Jeno keras. Ia tak menyangka Aura akan melakukan itu, bibirnya sampai berdarah.


Disaat yang sama, pintu kamar itu dibuka dengan keras, membuat Jeno dan Aura lantas menoleh ke sana.


"Rayyan?" lirih Aura dengan mata berkaca-kaca. Pria itu datang seperti pahlawan untuknya. Aura sangat ingin berlari memeluk pria itu, tapi Jeno segera sigap menangkap tangan Aura dan menjadikannya sandera.

__ADS_1


"Kau mau melihatnya mati secara langsung?" tanya Jeno pada Rayyan.


...Bersambung ......


__ADS_2