
Rayyan melihat kondisi Aura yang sudah semakin membaik pasca operasi. Meski begitu, sikap Aura terhadap Rayyan masih sama saja seperti dulu, dingin dan terkadang ketus.
Rayyan jadi ragu untuk mengatakan pada Aura mengenai fakta yang sudah didapatkannya. Ia takut wanita itu kembali histeris atau justru bersedih.
Ya, semua ini mengenai dalang dibalik kejadian yang menimpa mereka pada malam itu. Dan kenyataannya, mereka memang dijebak agar pernikahan Aura dan Jeno waktu itu--tidak pernah terjadi.
Rayyan mencoba membaca gelagat Aura, apakah Aura sudah bisa diajak bicara baik-baik atau justru hal ini akan menjadi beban pikiran Aura nantinya? Rayyan tidak mau istrinya menjadi sakit kembali jika ia mengingatkan mengenai hal ini.
Akan tetapi, Rayyan tau jika Aura berhak dan patut mengetahuinya.
"Ra, bisa kita bicara?" Akhirnya Rayyan memulai kata setelah pertimbangan yang cukup lama.
"Mau ngomong apa? Kalo mau bicara ya bicara aja." Wanita itu menyahut sembari mengganti-ganti saluran televisi dengan remote di genggaman tangannya. Tatapan matanya tak sekalipun melirik Rayyan sebab Aura memandang lurus ke depan sementara Rayyan berada tak jauh disamping posisinya.
Rayyan pun memilih duduk terlebih dahulu, memberi jarak dari Aura yang menempati single sofa di kiri, sementara dia duduk di sofa panjang di kanan wanita itu.
"Aku ... udah mengetahui siapa orang yang menjebak kita malam itu."
Gerakan Aura terhenti. Tangannya menggantung di udara dengan remote yang masih digenggam erat. Sedetik, dua detik, kemudian Aura menoleh pada Rayyan dengan tatapan yang sulit dipahami. Ada jeda beberapa saat sampai akhirnya suara Aura terdengar bertanya.
"Siapa?"
Hanya itu kata yang akhirnya keluar dari bibir Aura setelah ia meletakkan remote ke atas meja dengan gerakan perlahan.
"Namanya Hanin, dia---"
"Ah ..." sergah Aura cepat, ia mengangguk samar sembari tersenyum getir. "Hanin mantan pacarnya Jeno?" ujarnya kemudian.
Rayyan menggeleng. "Bukan mantannya, lebih tepatnya Hanin dan Jeno masih berpacaran ketika kalian memutuskan untuk menikah," terangnya.
Aura menipiskan bibir, mengangguk beberapa kali, tampak kepedihan di kedua bola matanya yang Rayyan tatap secara bergantian. Tak lama, wanita itu memutuskan bangkit dan seperti hendak berlalu.
"Kamu mau kemana, Ra?" Rayyan menatap Aura yang sudah dalam posisi membelakanginya. "Aku belum selesai ngomong," lanjutnya.
Aura tak menyahut tapi bahu wanita itu tampak berguncang. Rayyan berdiri dari duduknya, ia takut telah menyakiti Aura karena telah memberitahukan fakta tersebut.
"Maafin aku, Ra. Aku gak bermaksud mengungkit hal ini lagi tapi ..." Rayyan tak melanjutkan kata, tangannya terulur untuk menyentuh pundak Aura, ingin sekali membawa wanitanya dalam pelukan dan mendekapnya erat untuk memberi ketenangan, namun itu hanya dapat terbayang di angan-angan, karena nyatanya tangan Rayyan kembali jatuh disisi tubuh, tanpa melanjutkan niat yang hendak ia lakukan.
"Kasih aku waktu untuk menjelaskan sama kamu semuanya yang udah aku ketahui, Ra."
Aura menggeleng pelan, tak menyahut apapun dan langsung berjalan cepat menuju letak kamar pribadinya sendiri.
Rayyan mengepalkan tangan erat. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Satu hal yang ia tau, Aura benar-benar tampak terpukul dengan hal ini.
Sementara di kamar, Aura menangis tersedu-sedu. Ia tidak menyangka ternyata selama ini Jeno membohonginya. Yang Aura tau, pria itu tidak pernah lagi berkomunikasi dengan Hanin setelah mengatakan ingin menikahinya dan menyetujui perjodohan mereka.
Tapi sekarang apa? Rayyan mengatakan jika Hanin dan Jeno tidak pernah mengakhiri hubungan mereka. Wajar saja jika Hanin marah dan tidak terima dengan rencana pernikahan Aura dan Jeno sebab gadis itu masih merasa jika Jeno adalah miliknya.
__ADS_1
Seharusnya Hanin masih bisa mengatakan hal itu jauh-jauh hari padanya. Setidaknya, Hanin bisa mengajak Aura bicara secara baik-baik. Aura juga tidak mau di-cap sebagai perusak hubungan orang lain. Ia menghargai jika Hanin dan Jeno masih ingin merajut kasih.
Pada dasarnya, Aura pun tidak pernah memaksakan Jeno soal hubungan keduanya, karena Aura hanya mengikuti alur yang sudah dirancang kedua orangtuanya untuk menjodohkannya dengan Jeno.
Hal ini turut membuat Aura tau, jika malam itu Hanin turut hadir ke kediaman orangtuanya. Tentu bukan untuk melihat Jeno mengucap ikrar pernikahan dengan Aura. Tapi untuk memastikan pernikahan itu tidak pernah terjadi.
Aura menangis diatas tempat tidurnya sendiri. Ia bukan meratapi kebohongan Jeno yang telah tega menipunya, tapi ia masih merasa hidupnya selalu kurang beruntung. Kenapa ia harus dijebak di malam pengantinnya sendiri? Padahal jika Hanin mau bicara dengannya lebih dulu, ia akan melepaskan Jeno dan ia tak perlu dijebak hingga kehilangan kehormatan seperti yang sudah terlanjur terjadi.
Menjelang larut, Aura merasa tubuhnya menggigil, bahkan penghangat ruangan tidak terasa menghangatkan. Aura baru sadar jika ia terlalu lama menangis dan meratapi nasib.
Aura keluar kamar dan mencoba duduk didekat perapian. Mungkin suhu disekitar memang sangat sejuk sehingga tindakan ini bisa menghangatkan tubuhnya kembali.
"Ra? Kamu kenapa?"
Sayangnya, Aura harus bertemu dengan Rayyan yang tampak sedang menonton televisi.
Kenapa juga pria itu masih disana? Pikir Aura.
"Kenapa gak tidur?" Rayyan bertanya lagi.
"A-aku ..." Aura mau menyahut, tapi entah kenapa disaat yang sama ia menyadari suaranya yang terdengar bergetar.
Entah kapan Rayyan sudah bangkit dan berdiri didekatnya, Aura tidak menyadari hal itu tetapi pria itu dengan sigap sudah membawanya duduk didepan perapian yang tak jauh dari posisinya.
"Tangan kamu dingin. Kamu kedinginan." Rayyan menggenggam tangan Aura dan entah kenapa Aura malah membiarkannya saja, mungkin karena ia terlalu menggigil sehingga tak bisa menepis perlakuan pria itu.
Aura menggeleng pelan.
"Kopi?"
"A-aku gak biasa minum kopi." Kembali Aura menyahut dengan suara bergetar.
"Oke, aku buatkan coklat panas. Tunggu disini. Sebentar," kata pria itu yang tiba-tiba pergi menuju pantry.
Aura menyatukan kedua telapak tangannya, menggosok-gosoknya perlahan agar bisa merasai hangat. Udara disekitar perapian perlahan-lahan merambat dan membuat suhu disekitarnya terasa menghangat.
Tak berapa lama, Rayyan datang dengan segelas cokelat hangat, ia meminta Aura meminumnya secara perlahan. Syukurlah wanita itu menurut, Rayyan tersenyum melihatnya.
"Sudah lebih baik?"
Aura mengangguki pertanyaan Rayyan, memang ia merasa sudah jauh lebih baik ketimbang tadi.
Rayyan duduk disamping Aura dan wanita itu tampak menelisik pergerakannya. Sebelum Aura sempat memprotes-- Rayyan segera beringsut untuk memakaikan syal dileher wanita itu.
Aura tertegun sejenak dengan perlakuan Rayyan, tetapi buru-buru ia mengalihkan tatapan yang tadinya menjurus ke mata pemuda itu.
"Makasih," kata Aura pelan.
__ADS_1
Rayyan menipiskan bibir. Biasanya ia selalu menanyakan Aura dulu, apakah tidak berterima kasih? Tapi sekarang Aura sudah mengucapkannya tanpa perlu Rayyan tanyai. Bagi Rayyan ini adalah sebuah kemajuan.
"Aku selalu senang membantu kamu." Rayyan berucap sungguh-sungguh.
Aura menunduk, "Kenapa?" tanyanya.
Rayyan tidak menyangka Aura akan merespon ucapannya tadi dengan pertanyaan 'kenapa', jadi haruskah Rayyan menjawab alasannya?
"Karena itu kamu."
"Kalau itu bukan aku?"
"Aku gak mungkin sesenang ini saat melakukannya."
Aura mengadah dan tatapan mata mereka bertemu. Senyap. Hanya ada keheningan disana, seolah Aura ingin menyelami arti di kedalaman netra pria itu.
"Aku takut," ujar Aura terdengar hati-hati.
"Apa yang kamu takutkan?" tanya Rayyan tanpa melepas kontak mata mereka. Ini bisa dikatakan reward terbesar bagi Rayyan selama dia tinggal bersama Aura selama satu minggu-- sebab baru kali ini Aura mau menatap padanya.
"Kamu bilang, masalah itu harus dihadapi, kan? Tapi aku takut makanya aku selalu pergi menjauh dari permasalahan yang aku punya."
Rayyan senang Aura sudah mau terbuka dan bercerita seperti ini padanya.
"Kamu punya aku sekarang, kita hadapi masalahnya sama-sama, hmm?"
Aura terdiam. Ia merasa justru Rayyan juga termasuk salah satu masalah baru untuknya, sehingga seperti biasa Aura harus menjauhi masalah itu untuk menghindar, makanya sejak awal Aura sudah takut untuk dekat pada pria tersebut. Aura tidak mau tersakiti lagi sehingga ia berusaha menepis kehadiran Rayyan yang tampak sangat mengerti dirinya.
Aura akhirnya memutus kontak mata diantara mereka, ia lebih memilih untuk menatap ubin.
"Ra?"
"Hmm?"
"Sebenarnya ada lagi yang aku tau soal malam itu." Rayyan terdengar berkata dengan hati-hati, takut-takut kalau Aura akan kembali pergi jika ia lanjut membahas hal yang sama.
"... ini bukan soal hasil penyelidikan aku tentang orang yang menjebak kita, tapi ini mengenai---" Rayyan tampak ragu kemudian, ia melirik Aura lebih dulu untuk memastikan respon dari wanita itu.
"Apa?" Akhirnya Aura bersuara, tampaknya kali ini ia sudah siap untuk mendengar kelanjutan cerita Rayyan.
"Sebenarnya aku sudah mengingat kejadian yang terjadi diantara kita berdua saat malam itu."
Wajah Aura langsung memerah mendengarnya. Lantas, wanita itu langsung menekuk leher dalam-dalam.
...Bersambung ......
Tinggalkan komentar, kirimkan hadiah dan vote agar novel ini terus dilanjutkan dengan rasa semangatπ₯π₯ππππ
__ADS_1