Dijebak Di Malam Pengantin

Dijebak Di Malam Pengantin
41. Sebuah kamar


__ADS_3

Aura tidak bersemangat menjalani aktivitasnya hari ini. Ia masih memikirkan Rayyan yang kemarin telah menyelamatkannya.


Aura merasa perlu berbicara pada Rayyan, apalagi mengenai pertolongannya dulu yang belum sempat Aura sadari dan tidak pernah mengucapkan terima kasih.


"Aura, apa kau sakit?" tanya Wilow yang melihat Aura tidak berbicara sedikitpun padanya hari ini, bahkan sampai jam bekerja hampir usai.


Dan Aura hanya menggeleng lemah untuk merespon pertanyaan temannya tersebut.


"Apa terjadi sesuatu? Kau bisa bicara denganku seperti biasanya," saran Wilow.


Sekarang Aura malah menangis dan Wilow menjadi serba salah melihat sikap Aura yang membingungkannya.


"Baiklah, setelah ini kita bicara berdua, oke?" Wilow merasa Aura memerlukan teman untuk menuangkan keluh-kesahnya.


Dan disinilah mereka berada sekarang, disebuah cafe taman yang letaknya tidak terlalu jauh dari gedung tempat keduanya bekerja. Wilow memaksa Aura untuk ikut dengannya kesana selepas jam bekerja hingga akhirnya Aura menyetujuinya.


"Jadi kemarin kau bertemu Shandy? Dan Jeno?" tanya Wilow yang terkejut dengan cerita Aura.


Aura mengangguk mengiyakan. "Bukan cuma mereka, aku juga bertemu Rayyan."


Mata Wilow langsung membola mendengarnya. Jika dilihat dari gelagat Aura yang menangis saat bercerita dapat dipastikan jika sesuatu yang besar telah terjadi.


Aura mulai menceritakan pada Wilow kejadian yang menimpanya kemarin, termasuk dengan pertolongan Rayyan kepadanya. Aura juga mengungkapkan jika Rayyan melakukan itu demi dirinya bukan hanya karena ingin mewaspadai Jeno seperti alasan pria itu.


Tentu saja respon Wilow syok saat mengetahui jika Aura sempat disekap oleh Shandy dan Jeno. Akan tetapi, ia juga turut prihatin dengan kejadian yang menimpa Aura itu terutama dengan perkataan Aura yang mengatakan jika Rayyan memang sengaja menolongnya. Wilow menganggap jika Aura mulai berharap lebih pada mantan suaminya tersebut.


"Sekarang, aku tanya padamu ... apa kau sudah menyesalinya?" tanya Wilow mengguncang lengan Aura.


"Menyesali apa?"


"Tentu saja menyesali sudah mengabaikan Rayyan selama ini!" tukas Wilow menohok.


Aura mengangguk, tak ada lagi yang perlu ia tutupi.


"Baguslah. Jika kau benar-benar menyesalinya, sebaiknya kau mengatakan hal itu padanya, Aura. Aku tidak yakin kau akan menemukan pria sepertinya lagi atau tidak. Rayyan itu pria tersabar yang mampu menghadapi sikap kerasmu yang keterlaluan."


Aura kembali tersedu mendengar ucapan Wilow yang blak-blakan. Aura tau Wilow selalu berkata terus terang bahkan terkesan pedas jika memang kelakuan Aura pantas untuk ditegurnya. Bukan cuma pada Aura saja tapi ia memang selalu demikian pada yang lain.


"Katakan padanya kau menyesal, Ra. Atau jika perlu, ajak dia untuk memperbaiki segalanya."


"Aku pikir itu tidak mungkin."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Rayyan sudah nampak berbeda. Dia dingin dan sepertinya dia sudah tidak menginginkanku."


Wilow menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lalu, bagaimana denganmu? Apa kejadian ini membuatmu sadar akan sesuatu selain penyesalan yang terlambat?" ujarnya yang lagi-lagi menohok hati Aura.


"A--aku rasa semuanya sudah terlambat."


Wilow menarik satu sudut bibirnya. "Ku pikir juga begitu. Sudahlah, anggap ini hukuman yang pantas untukmu karena sudah menyia-nyiakan Rayyan yang tulus kepadamu. Nikmatilah kesakitan itu, semoga kau bisa dewasa dengan hal ini."


"Tidak!" Aura menarik nafas dalam. "Aku sudah pernah berjanji pada diriku sendiri jika seseorang menyelamatkanku dalam situasi itu, maka aku akan melakukan apapun demi dia. Dan Rayyan seharusnya menerima hak itu sejak lama karena dia juga yang menolongku saat Shandy melecehkan ku beberapa tahun silam."


Dan hal ini kembali mengejutkan Wilow.


"Jadi maksudmu, Rayyan adalah orang yang sama dengan orang yang menyelamatkanmu waktu remaja?" tanya Wilow dengan kelopak mata yang melototi Aura.


"Ya, dia yang menolongku dulu."


Wilow kehabisan kata. Sepertinya Aura sangat keterlaluan memperlakukan Rayyan selama ini. Bahkan temannya ini tidak menyadari jika Rayyan lah yang pernah menolongnya dulu.


"Ku pikir wajar saja Rayyan marah dan kecewa padamu, Ra. Maaf, hanya itu yang bisa ku katakan sekarang karena aku kehabisan kata-kata karena semua ini."


"Wilow?"


"Tapi aku juga baru tau jika Rayyan adalah orang yang menolongku waktu itu, kejadian semalam menyadarkan dan mengingatkanku!"


"Entahlah, ku rasa kau harus mengejarnya sebelum dia benar-benar pergi dan kau kembali menyesalinya!" Wilow memperingatkan Aura dengan ucapannya yang tegas.


...***...


Aura memasuki Apartmennya dan entah kenapa ucapan Wilow yang mengatakan jika Rayyan sudah mencintainya sejak lama terus terngiang di benak wanita itu.


Dengan ujung mata, Aura melihat sebuah pintu yang tak lain adalah pintu ruang kamar yang sempat Rayyan tempati selama tinggal bersamanya di Apartmen yang sama--dulu.


Entah kenapa hati Aura tergerak untuk menuju ke ruangan itu, dengan pelan ia mendorong pintunya dan masuk ke baliknya.


Setalah enam bulan kepergian Rayyan, baru kali ini Aura memasuki ruangan ini. Ah, tidak. Bahkan sejak Rayyan menempati kamar ini tak sekalipun Aura pernah masuk ke dalamnya.


Aura melihat pada tempat tidur yang rapi sebab tak pernah ditiduri lagi. Satu tangannya terulur dan mengelus pelan sprei yang terpasang disana. Tanpa disangka Aura justru menginginkan Rayyan berada disana. Apa Aura merindukan pria itu?


Aura mengusap airmatanya yang tiba-tiba menetes tanpa kompromi. Ia mengingat raut wajah dingin Rayyan kemarin dan membandingkannya dengan sikap hangat pria itu selama tinggal bersamanya.

__ADS_1


"Maafin aku, Ray ... aku terlalu egois." Aura membelai sisi tempat tidur merasa Rayyan mendengarkan ucapannya.


Aura bergerak pelan menuju nakas sebab tanpa sengaja ia justru melihat sebuah pigura foto yang diletakkan dalam posisi terbalik.


Aura membalik pigura itu demi melihat foto yang ada disana. Semakin menjadi tangisnya saat melihat jika itu adalah foto saat Rayyan mengucapkan ikrar pernikahan didepan sang Papa. Aura juga terlihat di foto yang sama, ia dalam keadaan tak sadar dan sedang berbaring dengan balutan baju pasien yang sangat kontras.


Foto itu melempar Aura pada ingatan saat ia mengalami kecelakaan dan ketika ia sadar, orangtuanya memberitahukan bahwa ia sudah dinikahi oleh Rayyan.


"Baru kali ini aku lihat foto pernikahan kita, Ray. Dulu aku bahkan gak mau tau soal ini," ratapnya.


Naluri wanita itu tanpa sadar membuat sebuah pergerakan didepan pigura fotonya, seolah ia tengah menyentuh wajah Rayyan yang ada disana.


Aura semakin ingin tahu mengenai pria yang sempat menjadi suaminya itu. Ia tau ini sudah sangat terlambat, seharusnya ia mencaritahu tentang Rayyan sejak dulu. Sayangnya dulu Aura selalu memikirkan dirinya sendiri, tanpa mau tau mengenai orang lain disekitarnya termasuk Rayyan yang pernah menikahinya.


Kini pandangan Aura tertuju pada sebuah lemari diujung ruangan, membukanya dan lebih terkejut lagi saat mendapatkan fakta bahwa Rayyan masih meninggalkan beberapa pasang baju disana.


Tangisan Aura semakin menjadi, ia benar-benar menyesal sekarang namun semua barang Rayyan yang masih tertinggal ditempatnya, membuat Aura memiliki harapan jika Rayyan pasti akan kembali ke sisinya.


Entahlah apa perasaannya saat ini. Apa Aura mulai mencintai pria itu? Yang jelas sekarang ia sangat ingin memeluk Rayyan.


Aura melihat baju-baju yang ada disana, setidaknya itu bisa mengobati rasa rindunya. Ya, Aura mulai mengakui jika ia merindukan sosok itu. Kenapa semuanya baru terjadi sekarang? Disaat Rayyan telah pergi? Haruskah Aura mencintai pria itu disaat yang tidak tepat?


Dan sebuah box unik yang tak sengaja terjatuh saat Aura melihat isi lemari-- justru membuatnya semakin tertarik untuk mengetahui isi didalam kotak tersebut.


"Apa ini?" Aura bergumam. Penasaran.


Aura menarik pita yang menjadi perekat sisi-sisi box itu, membuat kotak tersebut terbuka sepenuhnya. Aura terkesima saat mendapatkan semua tentang dirinya berada disana.


"Astaga, darimana dia mendapatkan semua ini?" batin Aura merasa spechless.


Disana ada fotonya saat kecil yang disandingkan dengan sebuah foto anak lelaki kecil yang tampan. Aura yakin itu adalah Rayyan dan pria itu sengaja menyandingkan foto mereka berdua seperti ini.


Aura membalik foto itu dan menemukan tulisan tangan yang sepertinya sengaja ditulis oleh Rayyan. Dalam tulisan itu, Rayyan mengatakan jika ia sangat menginginkan sebuah kebahagiaan untuk Aura.


Semoga milikku, Aurora, selalu dilingkupi dengan kebahagiaan. Sampai suatu saat nanti, aku mampu membahagiakannya.


Dan pertanyaan di kepala Aura semakin banyak untuk ditanyakan pada pria itu. Sebenernya sejak kapan Rayyan mencintainya? Kenapa Aura hanya mengingat pertemuan pertama mereka kala bertemu di rumah orang tuanya waktu itu. Lalu, darimana Rayyan mendapatkan foto masa kecilnya? Apa dari ibunya, apa Bi Dima yang memberikannya pada Rayyan? Tapi, kenapa?


Yang membuat Aura semakin terenyuh adalah sebuah kotak cincin yang ada disana. Itu adalah sebuah cincin yang Aura yakini sebagai cincin pernikahan mereka.


Aura tau Rayyan tak pernah memberikan cincin itu padanya, karena pria itu memahami jika Aura tak mungkin mau mengenakannya, jadi Rayyan hanya bisa menyimpannya seperti ini--kendati cincinnya sudah dibeli.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2