
Aura memasuki tempat pesta, disana ia bertemu dengan teman-teman lainnya yang satu divisi dengannya. Wilow juga tampak sudah menikmati pesta tersebut, karena gadis itu memang telah mengenal hampir seluruh orang-orang yang hadir disana.
"Aurora?"
Aura melihat Jack dan Ghea yang datang menghampirinya.
"Hai?"
"Kau tidak ikut Wilow? Lihat, dia sudah ada di lantai dansa."
Mereka semua melihat Wilow yang sedang berdansa dengan seorang pria dari divisi lain. Aura tak mengenalnya, tapi sepertinya Jack mengenal pria yang sedang bersama Wilow.
"Dengan siapa Wilow berdansa?" celetuk Aura.
"Oh, itu Darren. Dia dari divisi keuangan."
"Apa kau tidak mau bergabung? Ayo, aku akan dengan senang hati menjadi partner dansamu." Jack mengajak Aura dan wanita itu langsung menggeleng cepat.
"Tidak, kalian saja yang kesana."
"Apa kau yakin?" tanya Ghea.
"Ya, aku disini saja."
"Baiklah, kami kesana dulu ya."
"Okay."
Ghea dan Jack akhirnya meninggalkan Aura disana. Aura duduk dan menikmati makanan yang disajikan. Beberapa pelayan tampak hilir mudik menyajikan berbagai minuman.
"Hei, apa kau tidak ikut berdansa?" Tiba-tiba ada seorang gadis yang menyapa Aura. Aura tidak tau siapa gadis itu tapi dia juga salah seorang teman sekantornya.
"Eh, hai. Aku tidak bisa."
"Ah, kau tidak asyik!"
Aura hanya menanggapi gadis itu dengan senyuman kecil.
"Siapa namamu?"
"Aku Aura."
"Aku Sylvia. Aku juga sama sepertimu, kita sama-sama anak baru."
"Kau tau aku anak baru disini?"
"Tentu saja, aku melewati interview dan sempat melihatmu di ruang tunggu yang sama."
"Kau ditempatkan di divisi apa? Aku di perancangan."
"Aku di divisi keuangan," jawab Sylvia.
"Oh, apa kau mengenal pria yang bersama Wilow?" Aura merujuk pada pria yang masih berdansa bersama Wilow disana.
"Itu Pak Darren, dia kepala di divisi kami," jawab Sylvia.
Aura hanya merespon dengan anggukan kecil. Ia dan Sylvia terlibat beberapa percakapan dan akhirnya menikmati makanan dan minuman bersama-sama.
"Apa kau kesini bersama Wilow?"
"Iya, tapi dia ingin berdansa jadi aku membiarkannya saja."
"Ya, ya, ku pikir juga begitu."
Aura menandaskan minumannya tanpa pikir panjang, saat gelasnya habis ia baru menyadari aroma berbeda dari minuman itu.
"Astaga, apa minuman ini mengandung alkohol?"
"Ya, apa kau tidak bisa membedakannya."
Aura menggeleng singkat, kemudian ia mulai bersikap aneh.
__ADS_1
"Ya Tuhan, kau pasti tidak biasa minum itu." Sylvia mulai panik dan mau tak mau memanggil Wilow yang sedang bersama Darren.
"Maaf mengacaukan acara dansa kalian. Tapi aku mau mengatakan bahwa Aura sedang tidak baik-baik saja disana. Aku dengar dia datang bersamamu kesini."
Wilow ikut panik. "Apa terjadi sesuatu pada Aura?" Wanita itu gegas kembali ke posisi semula dimana seharusnya Aura berada.
"Sepertinya dia tidak sengaja meminum alkohol dan mabuk."
"Ya Tuhan, Aura!" Wilow pun melihat wanita itu sudah benar-benar mabuk dan sempoyongan ditempatnya.
"Aura, kenapa kau minum?" omel Wilow.
Aura meracau tak jelas, sesekali menyeringai namun sesaat berikutnya tampak seperti orang menangis.
"Apa dia tidak apa-apa?" Rupanya Darren mengikuti Wilow dan ikut menghampiri Aura disana.
"Sepertinya dia mabuk berat. Apa tadi dia banyak minum?" Pertanyaan Wilow kini kembali ditujukan pada Sylvia.
"Aku rasa itu hanya segelas." Sylvia menyahut ragu. "Sebaiknya kalian pulang, atau antarkan Aura pulang lebih dulu. Kau tau alamatnya, kan?" tanya gadis itu pada Wilow.
"Ya, tadi aku yang menjemputnya," kata Wilow.
"Aku akan membantumu mengantarnya," tawar Darren. Dia tau Wilow tak akan sanggup membawa tubuh Aura seorang diri, jadi dia akan menolong wanita itu.
Dalam perjalanan, Wilow memperhatikan Aura yang mengoceh, ia semakin panik karena merasa bersalah telah membiarkan Aura begitu saja.
Darren yang dalam posisi mengemudikan mobil juga mendengar sekilas ocehan Aura, ia hanya geleng-geleng kepala karena pesta malam ini harus berakhir dengan mengurusi wanita yang mabuk.
"Hihi, aku benci kamu! Kamu membuat Papa tidak mau memberiku kartu kredit." Aura menggerutu, mabuknya semakin parah.
"Astaga, Aura. Kau ini ..." Wilow mengesah panjang.
"Tapi kamu sering buatin aku makanan. Makanan kamu enak, tapi tetap saja aku benci kamu!"
"Hahaha ..." Kali ini Darren ikut terkekeh mendengar celotehan Aura yang mabuk. "Dia lucu sekali. Dimana kau bertemu temanmu ini?" tanyanya pada Wilow.
"Astaga, Darren. Dia mabuk, sempat-sempatnya kau mengatakan dia lucu." Wilow tak habis pikir dengan ucapan Darren, sepupunya.
"Heh! Jangan bilang kau tertarik dengannya!"
"Memangnya kenapa?"
"Aura berbeda, kau akan menyerah sebelum memulai."
"Woa ... sepertinya kau yakin sekali!" kata Darren meremehkan ucapan Wilow.
"Tentu saja, aku mengenal Aura sejak di bangku kuliah. Dia tidak seperti gadis-gadis lain yang kau kencani. Kau tau apa yang lebih keras dari batu?"
"Apa?" tanya Darren.
"Tentu saja Aura. Dia lebih keras dari batu. Jadi jangan coba mendekatinya kalau kau tidak punya kesabaran sebesar dunia," kata Wilow dengan kekehannya.
"Wah, aku jadi semakin tertarik. Ucapanmu itu seperti menantangku."
"Come on, Darren! Enyah saja kau sana!" gerutu Wilow.
Darren malah terkekeh kencang karena umpatan Wilow.
"Terserah kau saja, yang penting aku sudah memperingatkanmu!"
Mobil yang dikendarai Darren akhirnya sampai di gedung Apartmen Aura. Darren ingin membawa Aura dalam gendongannya tapi Wilow mencegahnya.
"Kenapa? Aku tidak akan macam-macam, kita hanya mengantarkan sampai ke unitnya saja," jelas Darren.
"Bukan begitu, Aura memiliki Kakak lelaki, aku takut kakaknya marah jika dia pulang dalam keadaan begini lalu diantarkan oleh lelaki sepertimu!"
Darren menghela nafas panjang. "Jadi, bagaimana? Apa kau mau membopongnya sampai lantai atas?" ujarnya memberi opsi.
Karena tak memiliki pilihan, akhirnya Wilow membiarkan Darren menggendong Aura dan mereka pun menaiki lift untuk mengantarkan wanita itu sampai ke apartmennya.
"Kak ..." Wilow menatap Rayyan yang tampak membukakan pintu dengan wajah bingung.
__ADS_1
"Mana Aura?" Rayyan bertanya dengan pemikiran yang sudah tidak enak, sebab ia hanya melihat Wilow berdiri sendiri diambang pintu.
"I--itu ..." Wilow menoleh ke belakang dan menunjukkan Aura yang mabuk berada dalam gendongan Darren.
Hal itu sungguh memantik amarah Rayyan. Kedua tangannya mengepal, dalam sekali pergerakan dia langsung mengambil alih tubuh Aura dari Darren.
"Maafkan aku, Kak. Aura luput dari perhatianku dan dia sempat meminum alkohol."
Rayyan tidak berkata apa-apa, hanya saja sorot matanya menunjukkan api amarah yang siap membakar siapa saja.
"Kalau begitu, kita permisi ya, Kak." Wilow langsung pamit undur diri setelah memastikan Aura berada di tempat yang seharusnya.
Rayyan sempat bersitatap lama dengan Darren, sebelum akhirnya pria itu mengikuti jejak Wilow yang sudah berjalan lebih dulu didepannya.
Hingga akhirnya, Rayyan menggendong Aura masuk ke dalam apartmen.
Demi apapun, Rayyan amat marah melihat wanitanya yang sempat berada dalam gendongan pria lain, untungnya Rayyan masih bisa berpikir waras, karena kalau dia mengikuti kegilaannya-- pasti dia sudah menghajar Darren saat itu juga.
"Aku membencimu, Rayyan! Kamu menghancurkan hidupku yang sudah hancur!"
Deg ...
Ucapan Aura yang sedang mabuk dalam gendongan Rayyan, semakin membuat perasaan pria itu tertohok.
Rayyan akhirnya menurunkan Aura di sofa, ia berniat mengambil air dan washlap untuk membasuh wajah wanita itu.
Sayangnya tangan Rayyan dipegang erat oleh Aura. Ia jadi menghentikan langkahnya dengan mata memejam rapat-rapat.
"Mau kemana?"
Rayyan akhirnya menoleh pada Aura yang ia tau jika wanita itu masih mabuk. Baiklah, Rayyan akan meladeninya.
"Aku mau ke pantry. Tunggulah disini."
Mendengar suara Rayyan yang menyahutinya, Aura lantas menegakkan diri.
"Oh, hai. Ternyata ini kamu."
Rayyan mengernyit bingung dengan wanita mabuk didepannya. Apa lagi ini? Begitulah batin Rayyan.
"Kamu suamiku, kan? Ayo, ayo, sini. Jangan kemana-mana." Aura menarik Rayyan untuk duduk disisinya.
Aura memegang kedua sisi wajah Rayyan, tampak memperhatikan lamat-lamat pada pria itu, Rayyan memutar bola matanya dengan jengah. Haruskah ia terus meladeni Aura yang mabuk?
"Hah! Ternyata kau benar-benar suamiku."
"Hhh ..." Rayyan menghela nafas berat, menahan sabar. "Jangan ke pesta lagi jika akhirnya kamu pulang dengan keadaan mabuk," kata Rayyan pelan.
Aura mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu ia terkekeh kencang, seolah ucapan Rayyan adalah omong kosong yang tidak masuk ke telinganya.
Aura mengelus-elus rahang Rayyan, membuat pria itu memilih bangkit dari duduknya.
"Aku tidak bisa meladeni kamu terus. Kamu mabuk. Bau alkohol!" cibir Rayyan.
Aura menggeleng, dia kembali menarik tangan Rayyan dan memaksa pria itu untuk duduk. Aura memegang bibir Rayyan, lalu menelusuri seluruh wajah pria itu dengan jari jemarinya.
"Sepertinya suamiku kurang kasih sayang. Kenapa harus marah-marah?" tanya Aura dengan wajah polosnya.
"Jauhkan tanganmu, atau aku akan khilaf Aura!" Rayyan memberi peringatan pada Aura, ia tidak tahan lagi melihat tingkah istrinya itu. Aura semakin menjadi-jadi dan kini malah menggerayangii tubuhnya.
Aura kembali tertawa akan ucapan Rayyan yang seperti lelucon baginya.
Rayyan ingin pergi, ia takut memanfaatkan keadaan Aura yang mabuk dan itu justru akan membuat Aura marah lagi padanya ketika wanita itu sadar dari mabuknya nanti.
Sayangnya, bukan Rayyan yang lebih dulu memulai, tetapi Aura yang lebih dulu memancing pria itu dengan mencium bibirnya.
Awalnya Rayyan menolak, bukan ia tak mau, ia hanya tidak menyukai dimana keadaan ini akan membuatnya menjadi tersangka lagi nantinya.
Kenyatannya, godaan Aura sangat dahsyat dan Rayyan tidak mungkin melewatkan hal ini. Rayyan merasa bersalah, tapi hal itu tertepis dengan sendirinya kala ia mengingat jika Aura adalah istrinya.
...Bersambung ......
__ADS_1
Kopi mana kopi???🙄🙄🙄