
Pesta pernikahan Cean terlaksana dengan baik dan sesuai dengan ekspektasi keluarga. Aura tak lupa memberikan selamat kepada saudara kembarnya.
"Akhirnya kamu menikah juga. Semoga pernikahan kalian langgeng dan bahagia, ya," kata Aura tulus. Ia memeluk tubuh Cean yang sudah hidup dan tumbuh bersama-sama dengannya sejak mereka masih berada dalam kandungan.
"Hahaha!" Cean malah menanggapi ucapan Aura dengan tawa.
"Malah ketawa! Diaminkan, dong!" sungut Aura pada adiknya itu.
"Iya, Aamiin. Aku juga memberikan doa yang sama untuk kamu dan---"
"Udahlah, jangan dibahas!" sergah Aura memotong ucapan Cean. Cean berdecak, lalu Aura mengabaikannya.
Aula lanjut memeluk Neska, gadis yang dulu ia kenal masih bocah, rupanya sudah menjadi istri dari kembarannya.
"Sabar sabar menghadapi, Cean, ya, Nes!" ucapnya memperingati sang Adik ipar.
"Iya, Kak. Pasti," jawab Neska dengan yakin.
Turun dari pelaminan dimana saudara kembarnya sedang bersanding, Aura lantas memasuki kamarnya sendiri. Ya, pernikahan Cean memang dilaksanakan di taman belakang rumah yang disulap menjadi pesta taman seperti yang sering terlihat di Film Holywood.
Aura sengaja meninggalkan acara itu, ia memang senang dengan pernikahan Cean tapi hal itu justru membuatnya jadi teringat akan nasib pernikahannya sendiri dan itu kembali memantik ingatannya mengenai Rayyan.
Apa suatu saat nanti ada kesempatan untuknya kembali bersama dengan pria itu? Melaksanakan resepsi pernikahan seperti yang Cean dan Neska lakukan?
Aura kembali menangis, tergugu sendiri karena ia tidak pernah merasakan tahap itu bersama Rayyan. Pernikahannya dulu bahkan tak pernah ia saksikan. Bagaimana pria itu mengucap ikrar berikut namanya didepan penghulu.
Aura tersedu, ia merasa sangat berdosa namun ia tau bahwa semua sudah tidak berguna.
"Aura?"
Aura menoleh dan mendapati sang Mama yang berdiri di ambang pintu kamarnya. Ia memang lupa mengunci pintu, pasti Mama Yara tau bahwa ia sedang menangis sejak tadi.
"Kenapa, Nak? Make-up nya luntur dong," kata Mama Yara berusaha mencandai Aura.
Aura memaksakan senyum. "Aura gak bisa ikut acaranya sampai selesai ya, Ma," tuturnya sambil mengelap asal airmata yang meleleh di pipi.
"Kenapa? Kamu gak senang lihat hari bahagia Cean?"
"Tentu aja gak gitu, Ma. Aura cuma kurang enak badan."
Mama Yara tau bahwa ia telah banyak kehilangan waktu untuk menasehati Aura selama anak perempuannya itu berada di negara lain. Kendati ia juga sering memperingatkan Aura lewat saluran seluler, tapi tetap saja Mama Yara merasa itu tidak efektif, terbukti pada akhirnya Aura dan Rayyan harus berpisah juga.
"Kamu tau gak, Mama sama Papa berharap besar dengan pernikahan kamu dan Rayyan, Nak. Harapan besar itu ... salah satunya adalah kesehatan psikis kamu, mengingat Rayyan pria yang baik dan bertanggung jawab, mama dan papa yakin kamu akan bahagia. Mama dan Papa juga berharap dari pernikahan kalian kami bisa mendapatkan cucu pertama--" Mama Yara menghentikan kalimatnya saat melihat Aura kembali meneteskan airmata.
"... tapi, karena tidak semua yang kita harapkan bisa terwujud, maka Mama juga gak mau memaksakan kamu lagi. Apabila dengan berpisah dari Rayyan kamu bahagia dan saat menikah dengannya kamu menderita, mau gak mau Mama dan Papa harus menerima keputusan kalian yang memilih untuk berpisah."
__ADS_1
"Ma ..." Aura memeluk tubuh sang Mama dari samping. Haruskah sekarang ia mengatakan pada sang Mama bahwa perasaannya pada Rayyan sudah berubah? Dan perubahan itu adalah setelah ia dan pria itu berpisah? Apakah sang Mama akan menyalahkannya karena hal ini.
"Sekarang, kamu udah berpisah dari Rayyan, kan? Harusnya kamu bahagia, Sayang. Tapi, kenapa kamu malah menangis?" tanggap Mama Yara mengelus-elus puncak kepala Aura.
"Aura ... nyesel ... Ma," ucap Aura dengan terputus-putus.
Mama Yara tersenyum di posisinya, meski Aura tak dapat melihat itu.
"Nyesel kenapa? Bukannya ini yang kamu mau?" tanya wanita paruh baya itu dengan sangat lembut.
"Ternyata cuma Rayyan yang bener-bener menyayangi Aura, Ma. Aura sadar itu setelah kami udah pisah. Apa Aura salah kalau baru sekarang Aura merasa ingin memiliki dia?"
"Kalau kamu udah sadar letak kesalahan kamu dimana, itu bagus. Tapi kalau sekarang kamu mau memiliki dia, kamu juga tau bahwa itu udah terlambat, kan?"
Aura mengangguk diposisinya.
"Kamu udah coba ajak bicara Rayyan soal ini?"
"Soal apa, Ma? Dia aja selalu dingin setiap aku ajak cerita."
Mama Yara sedikit tertawa sekarang.
"Kok malah ketawa sih, Ma. Anaknya sedang sedih juga," protes Aura.
Aura kembali menangis. Ia tau bahwa dulu ia sangat keterlaluan. Karma is real dan sekarang Aura merasakan hal itu, bahkan ia dibalas oleh orang yang sama dengan orang yang dulu ia sakiti.
"Coba kamu ajak Rayyan bicara lagi, obrolin soal hubungan kalian. Kamu bilang deh kamu mau jadi istrinya lagi."
"Mana bisa, Ma!"
"Kenapa? Gengsi?" sindir Mama Yara.
Aura terdiam, dulu ia memang menjunjung tinggi harga diri tapi jika sekarang ia harus menyatakan rasa lebih dulu pada Rayyan dan itu bisa membuat pria itu kembali, kenapa ia tidak mencobanya saja?
"Aku udah pernah bilang kalau aku cinta dia, Ma."
"Oh, ya?" Mama Yara terkejut. "Terus, gimana?"
"Tapi aku minta dia lupain perasaan aku itu, terus aku yang menghindar gitu aja!"
"Ih, kamu selalu gitu. Coba kamu tunggu Rayyan jawab dulu," kata Mama Yara memberi saran.
"Mana mungkin Rayyan mau, Ma. Dia juga udah deket sama Lucy."
Mama Yara langsung mengernyit. "Lucy itu siapa?" tanyanya.
__ADS_1
"Ada, teman di organisasi kita. Cewek bule, matanya biru. Ehm, wajahnya kayak Barbie, Ma. Aura aja langsung minder," akuinya.
"Hahaha!" Tak disangka Mama Yara langsung terkekeh kencang.
"Tuh, kan, mama malah ngetawain aku lagi!" Aura merengut, tapi tangisannya sudah berhenti.
"Ya gimana, abisnya kamu bilang Lucy itu kayak Barbie terus kamu minder. Seumur-umur mama gak pernah denger kamu minder gitu."
"Terus gimana dong, Ma?" rengek Aura.
"Ya kamu usaha, dong! Rayyan aja dulu usaha buat naklukin kamu. Ya walau usaha itu berhasil setelah kalian udah berpisah. Tapi kan ada usaha."
Aura manggut-manggut. Ujaran sang Mama malah membuatnya bersemangat. Kalau kemarin ia semangat untuk mencoba melupakan Rayyan, sekarang ia justru semangat untuk membuat pria itu kembali.
"Kalau aku udah usaha tapi Rayyan tetap gak mau, gimana dong Ma?"
"Setiap tindakan ada resikonya. Kerja aja ada resiko apalagi perbuatan!" kata Mama Yara yang mulai bangkit dan berdiri, sepertinya wanita itu ingin kembali ke acara pesta pernikahan Cean di taman belakang.
"Iya, sih. Tapi ..."
"Seenggaknya udah mencoba, Ra! Kalau Rayyan emang gak mau juga ya udah, tandanya kalian emang gak berjodoh."
"Yah, Mama ..." Aura kembali merengut.
"Tetap yang menentukan itu adalah Tuhan, kalau kataNya iya, berarti usaha kamu gak sia-sia. Tapi, kalau Dia bilang enggak, berarti ada rencana lain yang lebih indah."
Aura memeluk sang Mama sekali lagi.
"Makasih ya, Ma. Udah ngasih Aura support, Aura akan coba untuk merealisasikan saran Mama dan berusaha ikhlas menerima apapun resikonya nanti."
"Nah, gitu dong! Sekarang kita balik ke pesta ya. Gak enak lama-lama ninggalin tamu yang ada disana. Mungkin juga ada rekan Mama yang udah keburu datang. Ayo!"
"Mama duluan aja, ya. Aura mau benerin make-up dulu sebentar."
"Oke deh. Mama tunggu disana aja, ya."
Aura membalas ucapan sang Mama dengan acungan jempol pertanda setuju.
Baiklah, ia akan berusaha mendapatkan hati Rayyan kembali meski saingannya adalah Lucy atau wanita lain yang mungkin lebih cantik dari dirinya. Aura harus percaya diri, bagaimanapun juga Rayyan pernah begitu menginginkannya jadi optimis tidak ada salahnya, kan?
...Bersambung .......
Makasih banyak yang udah ninggalin komentar ya. othor selalu senyum-senyum baca komentar kalian. Ya, meski gak semua othor balasin tapi komentar kalian itu penyemangat untuk othor terus update bab lagi🥰
Yang mau ditambahin up nya hari ini, komen ya✅
__ADS_1