
"Jangan gini, Ray!" Aura malu dengan perlakuan Rayyan. Bagaimanapun, ia tau jika perpisahan yang terjadi diantara mereka adalah salah dirinya sendiri--sehingga ia tidak mau Rayyan berlaku demikian kepadanya.
Rayyan mengadah pada Aura, lalu mengulumm senyuman. Ia tidak berniat bangkit dari posisi berlututnya, meski Aura sudah mengatakan jangan berlaku demikian.
"Dulu, aku gak sempat ngelakuin ini sama kamu. Aku juga belum sempat bilang hal yang harusnya kamu tau, jadi mungkin sekarang saatnya."
Aura menatap Rayyan dengan binar kebahagiaan di matanya. Tidak menyangka jika Rayyan masih mau berlaku manis kepadanya. Berkali-kali Aura meyakinkan diri jika sekarang ia tidak sedang bermimpi.
"Pink Aurora Lazuardi, will you marry me?" tanya Rayyan, menarik nafas sejenak. "Again?" tambahnya lagi.
Aura mengangguk sambil menutup mulutnya yang saat ini ingin sekali menjawab Rayyan dengan teriakan bahagia.
"For the second and last?" tanya Rayyan lagi untuk memastikan.
Aura mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat. "Iya, iya, aku mau," jawabnya sembari menitikkan airmata bahagia. Ia terharu. Hatinya sangat tersentuh sebab ini adalah pertama kalinya ia diperlakukan seperti ini.
Rayyan pun mengeluarkan sebuah cincin dari saku celananya, kemudian ingin menyematkan itu di jari manis Aura, namun tindakannya terhenti kala mendapati jika disana sudah terpasang sebuah cincin yang lain.
"Ini cincin pernikahan kita, aku temuin di lemari kamu yang ada di Apartmen aku, jadi aku pakai," ujar Aura seolah menjawab tanda tanya yang ada di hati Rayyan.
Rayyan tidak pernah tau jika Aura menemukan cincinnya, pun ia tidak pernah memperhatikan dengan jelas jika ternyata wanita itu mengenakan cincin yang memang seharusnya ia berikan pada Aura sejak lama. Cincin yang memang sepatutnya menjadi milik wanita itu.
"Maafin aku ya, selama ini aku selalu nolak kamu. Makanya kamu gak pernah punya kesempatan untuk memberi cincin ini sama aku, iya kan?"
Rayyan hanya tersenyum tipis mendengar ujaran Aura yang sudah dapat menebak bagaimana situasinya. Lantas, ia pun berdiri dari posisi sebelumnya yang masih berlutut. Rayyan lalu memegang jemari Aura dan menatap wanita itu lurus-lurus.
"Kamu mau berubah kan, demi hubungan kita yang lebih baik kedepannya?"
"Iya, aku bakal berubah untuk kita," jawab Aura mantap.
Kemudian, Rayyan tetap memasangkan cincin yang baru ke jari manis Aura yang lain--yang tidak terdapat cincin apapun disana.
Aura mengulumm senyum sekarang--sambil menatap cincin dari Rayyan yang disematkan dijarinya.
Rayyan pun berujar pelan,
"Karena cincin ini juga udah terlanjur aku beli khusus buat kamu, jadi kamu tetap harus pakai sebagai pertanda bahwa kita akan memulai semuanya kembali, dengan harapan dan doa yang lebih baik."
...***...
Sepanjang perjalanan pulang, kedua jemari itu terus bertautt kendati sesekali Rayyan juga melepaskan untuk dapat menarik tuas persneling mobil yang dikendarainya.
"Ehm, Ray?"
"Ya?" Rayyan menoleh sekilas untuk merespon Aura, sebelum kembali fokus pada jalanan yang dilalui kendaraannya.
"Soal Lucy, gimana?" tanya Aura kemudian.
Rayyan menipiskan bibir. "Ya gak gimana-gimana," jawabnya enteng.
"Kalian udah putus?"
__ADS_1
Rayyan tertawa pelan. "Emang kapan aku sama dia jadian?" tanyanya balik.
"Ya mana aku tau." Aura mengendikkan bahu acuh tak acuh.
Rayyan menyunggingkan seulas senyuman lagi. Sikap Aura yang seperti ini justru selalu berhasil membuatnya merasa gemas.
"Kamu cemburu sama Lucy?"
"Iyalah," jawab Aura tanpa tedeng aling-aling.
Sekarang Rayyan menahan ledakan tawanya.
"Dia lengket sama kamu kayak lem perekat yang sulit dilepaskan," desis Aura.
"Aku seneng kamu cemburuin," akui Rayyan akhirnya.
"Aku serius nanya, kamu malah jawab gitu. Kalau kita balikan terus Lucy gimana?" tanya Aura kembali mengulang pertanyaan yang sama.
"Aku gak pernah ada hubungan sama dia, Aura."
"Tapi, kan, kalian dekat. Bahkan aku masih ingat waktu Lucy ulang tahun, dia memperkenalkan kamu sebagai orang yang spesial untuk dia."
Rayyan mengelus tangan Aura yang ia genggam dengan ibu jarinya. "Buat aku, kamu yang selalu spesial," ujarnya sambil melirik Aura sekilas.
Aura mengulumm senyum dengan wajah yang sudah memerah, lantas Rayyan semakin mempercepat laju kendaraannya untuk segera tiba di kediaman orangtua wanita itu.
Sampai mereka tiba, semua orang di rumah tampak sudah menunggu keduanya, tapi disana tidak terlihat Oma Indri, sebab wanita sepuh itu sudah kembali ke kediamannya sendiri.
"Ray! Sini, sini. Ayo temenin Papa main catur!" Papa Sky menarik Rayyan, ia sengaja melakukan itu sebab ia tidak mau menghadapi kemarahan Aura karena tadi ia sempat ikut-ikutan membohongi putrinya terkait kecelakaan Rayyan yang hanya karangan belaka.
"Apaan sih, Ma?" tanya Aura berlagak bodoh.
"Gimana?"
"Apanya?"
"Oh jadi gak mau cerita? Pas nangis-nangis aja minta support Mama. Pas seneng gak mau bilang, nih?" ledek Mama Yara.
Aura menunduk malu. "Udah, kok, Ma," jawabnya pelan.
"Udah apaan?" Mama Yara ingin sebuah penjelasan yang detail.
Aura langsung menunjukkan cincin baru di jarinya dengan wajah semringah.
"Hmmm ... hm ... awas aja kamu kalau ngulah lagi!" peringat Mama Yara pada sang anak.
Aura memasang cengiran. "Enggak dong, Ma. Aura kan udah cinta Rayyan sekarang," katanya pelan. Ia mengigitt bibirnya sendiri.
"Apa? Apa?" Mama Yara berlagak tak mendengar ujaran Aura.
"Tau, ah! Aura mau ke kamar sekarang. Dah, Ma ..." katanya sambil ngeluyur pergi.
__ADS_1
Mama Yara geleng-geleng kepala, namun ia ikut senang karena pada akhirnya Aura dan Rayyan akan kembali menikah.
"Semoga perpisahan yang pernah terjadi diantara kalian, membuat kalian semakin dewasa dan makin menghargai hubungan pernikahan yang bukan untuk dipermainkan," ujar Mama Yara bermonolog.
...***...
"Skakmat!"
Papa Sky senang sekali karena bisa mengalahkan Rayyan bermain catur sampai tiga kali berturut-turut seperti ini.
"Fokus dong, Ray! Kalau enggak fokus, gimana mau lawan Papa nih," kata Papa Sky setengah mencibir Rayyan yang tampak berbeda, biasanya papa Sky yang seringkali dibuat kalah saat bermain catur dengan pemuda itu.
"Saya sengaja ngalah sama Papa," kata Rayyan sambil terkekeh.
"Ah, kamu. Jangan gitu lah! Kesannya jadi kayak Papa gak pinter main."
Kedua pria berbeda generasi itu saling tertawa satu sama lain.
"Ehm, Pa?"
"Hmmm?" sahut Papa Sky sembari menatap lamat-lamat pada pion-pion yang masih tersisa di papan catur.
"Makasih ya, Papa udah bantu saya hari ini."
"Gak masalah. Paling nanti Aura yang protes sama Papa. Tapi, lain kali kalau mau buat frank jangan gitu-gituan lah, Ray. Papa kurang setuju, untung aja Aura tadi mau disupiri sama Pak Dedi. Nah, kalau dia ngotot mau nyetir sendiri terus ngebut dan kenapa-napa, kita juga yang bakal nyesel, Ray!"
"Iya, Pa. Namanya juga rencana dadakan."
Papa Sky manggut-manggut, lalu berhasil menemukan selah untuk menang lagi dalam permainan catur nya kali ini.
"Nah, kalah lagi kamu, Ray!"
Rayyan hanya terkekeh saja menanggapi Papa Sky yang senang sekali karena berhasil mengalahkannya berkali-kali.
"Jadi, gimana tadi?" tanya Papa Sky kemudian.
"Kita bakal nikah ulang, Pa. Sekalian ngurus ke KUA juga, biar surat-suratnya lengkap, karena waktu itu kan belum sempat ngurusin sampai ke tahap itu."
"Nah, bagus itu. Kapan rencananya?"
"Menurut Papa kapan? Kalau saya sama Aura mau menuruti saran Papa saja," ujar Rayyan.
"Ehm, lebih cepat lebih baik. Bagaimana kalau bulan depan?"
Rayyan meringis keki. "Itu sih kelamaan, Pa," ujarnya sambil menggosok tengkuknya sendiri.
Papa Sky tertawa kencang. "Kalau gitu, lusa saja. Gimana?" tawarnya.
Rayyan tersenyum kecil. "Papa emang paling tau situasi," kelakarnya.
...Bersambung ......
__ADS_1
Nah, yang mau othor up banyak, ini othor udah up lagi ya. Tapi, dukungannya yang kencang dong🤭🤭
Nanti kalau othor udh siap di RL, othor bakal up lagi deh. Selamat hari Jumat semua... semoga kita sehat selalu💚