
Kepulangan Aura ke Indonesia, disambut dengan bahagia oleh keluarga besarnya. Terutama sang Oma yang sangat berbinar saat melihat cucu perempuan satu-satunya telah kembali ke rumah.
"Ya ampun ... Oma kangen banget sama kamu, Sayang." Oma Indri lantas memeluk Aura dengan penuh kasih sayang, ia juga tampak mengusap-usap surai hitam milik sang cucu.
"Aura juga kangen banget sama Oma," akui wanita itu.
"Suami kamu mana? Kenapa gak ikut kesini?"
Pertanyaan Oma Indri sontak membuat Aura menatap pada kedua orangtuanya yang juga ada disana. Disinilah Aura mengetahui jika sang nenek tidak pernah diberitahukan mengenai perpisahannya dengan Rayyan.
"Ehm, gak ikut, Nek." Akhirnya, itulah jawaban yang Aura berikan.
Aura juga tak tega untuk memberitahukan wanita sepuh itu mengenai hubungannya dengan Rayyan yang telah kandas, ia takut Oma Indri semakin kecewa padanya. Dulu, sang Nenek sempat menentang kepergiannya ke Jerman dan hanya memintanya untuk konsultasi ke psikiater terkait insiden yang sempat menimpanya di malam pengantin. Lalu, Omanya juga sudah pernah meminta agar dirinya menerima pertanggungjawaban dari Rayyan, namun ia menolak itu mentah-mentah.
Jika sekarang Aura mengatakan dia sudah berpisah dengan pria itu, Aura takut itu akan berdampak pada kesehatan sang Nenek yang mungkin akan terkejut mendengar hal ini.
"Tapi suami kamu sehat kan, Sayang?" Oma Indri kembali bertanya, Aura semakin merasa bersalah terus membohonginya. Ia pun menatap pada sang Mama untuk meminta bantuan agar dapat memberikan jawaban pada Oma Indri.
"Rayyan sehat kok, Ma. Kemarin kan Mama baru telepon Rayyan. Mama lupa, ya?" sahut Mama Yara menimpali. Ia mau memberi bantuan pada Aura atas pertanyaan yang berkaitan dengan Rayyan.
Akan tetapi, perkataan Mamanya itu justru membuat mata Aura membola. Benarkah jika mereka masih sering menghubungi mantan suaminya itu? Aura juga tak tau dan sekarang justru ingin mengetahuinya.
"Ma, Aura kan baru sampe dari Jerman. Gimana kalau kita biarin dia istirahat dulu. Sekalian Mama juga bisa rehat di teras belakang, gimana?" Papa Sky juga pasang badan untuk menutupi kebohongan Aura dan Aura memaklumi ini sebab ia tau tindakan kedua orangtuanya adalah menjaga kesehatan jantung sang Nenek yang tidak bisa mendengar kabar sen-si-tif.
"Oh, iya, iya. Aura, kamu istirahat ya. Oma mau duduk di teras belakang sama Mamamu."
"Iya, Oma." Aura segera menyingkir dari sana sebelum sang Nenek akan terus menanyakan perihal Rayyan kepadanya. Sebenarnya, Aura senang-senang saja jika membahas mengenai pria itu, tapi ia harus sadar diri jika kini Rayyan bukan siapa-siapanya lagi dan ia takut justru akan memberitahukan Oma-nya mengenai hubungannya dengan Rayyan yang sebenarnya.
Terkadang ada hal-hal yang memang harus ditutupi, meski entah sampai kapan, namun jika itu untuk kebaikan maka itu tak selalu salah untuk dilakukan.
Begitulah batin Aura mencoba menenangkan dirinya yang cukup merasa berdosa sebab telah membohongi neneknya sendiri.
Aura memasuki kamarnya yang ada di lantai 3 di kediaman orangtuanya. Membaringkan tubuh dan menatap langit-langit kamar yang tidak berubah sedikitpun. Bahkan parfum kamarnya masih sama seperti saat ia meninggalkan rumah ini. Mungkin Bi Dima memang diminta untuk terus menjaga kebersihan kamarnya itu.
Ehm, bicara soal Bi Dima, Aura jadi ingin menemui perempuan baya itu. Bukankah Bi Dima sempat menjadi ibu mertuanya meski tidak lama?
Aura akhirnya memilih bangkit dan mandi untuk membersihkan diri. Setelah merasa segar, ia keluar dari kediaman orangtuanya dan menuju paviliun belakang. Ia tau di jam ini Bi Dima pasti berada disana.
__ADS_1
"Bi?" panggil Aura pelan.
Wanita itu menoleh dan tersenyum semringah pada Aura disana.
"Non Aura, akhirnya pulang juga," sambut Bi Dima--ramah seperti biasanya.
"Bi, Aku mau ngobrol, boleh?"
"Tentu aja boleh, Non." Bi Dima langsung beringsut untuk memberikan ruang pada Aura agar wanita itu dapat menempati bagian kosong pada kursi kayu yang didudukinya.
"Bi, pasti Bibi udah mendengar kabar kan kalau aku sama Rayyan sempat ... menikah," ujar Aura ragu.
Bi Dima mengangguk, ia tersenyum riang layaknya sang Oma yang tidak mengetahui apapun mengenai perpisahannya dengan Rayyan.
"Maaf ya, Bi. Waktu itu aku gak sempat meminta restu Bibi."
"Gak apa-apa, Non. Lagian Mas Rayyan udah nelepon Bibi, kok!"
Aura diam, tampak menimbang-nimbang perkataan yang akan meluncur lagi dari bibirnya.
"Bi, sebenarnya ada hal yang paling buat aku penasaran sih soal Rayyan."
"Ehm, kok bisa ya Rayyan tau tentang masa kecil aku? Terus dia juga punya foto aku waktu masih kecil?"
Bi Dima sedikit terkejut mendengar perkataan wanita itu. Aura jadi bingung apakah ia salah melontarkan pertanyaan?
"Aku salah ngomong ya, Bi?"
"Bu-bukan, Non. Bibi cuma heran kenapa Non Aura malah nanya hal itu ke Bibi. Bukannya lebih baik Non tanya langsung ke Mas Rayyan, darimana beliau mendapatkan semua itu dan tau mengenai masa kecil Non Aura?"
Aura langsung tertunduk lesu. "Aku gak sempat menanyakan itu, Bi. Aku juga tau semua itu setelah aku sama Rayyan berpisah," paparnya.
"Pisah? Non Aura sama Mas Rayyan udah berpisah? Ma-maksudnya bercerai, gitu?" seru Bi Dima yang tampak terkejut.
Aura tak kalah kaget melihat reaksi asisten rumah tangga itu. Kenapa Bi Dima bersikap demikian? Atau jangan-jangan beliau juga tak tau jika ia dan Rayyan sudah bercerai? Apa Rayyan tidak bercerita mengenai hal ini pada ibunya?
"Rayyan gak cerita ke Bibi soal ini?" tanya Aura kemudian.
__ADS_1
Bi Dima menggeleng lemah. "Enggak, mungkin Mas Rayyan menganggap itu adalah hal pribadinya," jelasnya.
"Tapi Bibi kan orangtuanya Rayyan. Harusnya Bibi tau mengenai status pernikahan anak Bibi sendiri," kata Aura heran.
Bi Dima langsung mengernyit kebingungan.
"Non? Ini kayaknya ada yang salah ..." ujar wanita baya itu menatap Aura dengan kerutan di dahinya.
"Maksudnya?" Aura lebih tak paham lagi dengan apa yang dimaksud oleh sang ART yang ia kira adalah mantan mertuanya.
"Apa selama menikah ... Mas Rayyan gak pernah bilang kalau Bibi ini bukan ibu kandungnya? Apa Mas Rayyan gak cerita kalau Bibi ini cuma ibu asuhnya yang dulu juga bekerja di kediaman orangtua Mas Rayyan untuk menjaganya sewaktu kecil?"
Sekarang Aura ingin berteriak menertawakan dirinya sendiri. Ia memang sebodoh itu. Bukan, bahkan ia lebih parah karena sedikitpun tidak pernah mengetahui latar belakang pria yang sudah menikahinya, lebih tepatnya tidak ingin tahu! Ya itulah dirinya yang dulu.
Bagaimana Rayyan mau bercerita padanya mengenai hal pribadi itu, sedangkan mereka tak pernah terlibat sebuah percakapan yang serius selama masa pernikahan? Bahkan, ia tak memberi kesempatan untuk bisa saling mengenal dengan pria yang menikahinya itu. Aura selalu menghindari Rayyan, bahkan menjauhinya layaknya bakteri yang akan menyebarkan penyakit.
Lagi-lagi Aura tidak bisa menyalahkan Rayyan karena ketidaktahuannya ini, Aura justru menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu cuek dan masa bodoh dengan pria itu. Aura amat menyesal. Kenapa ia sebodoh itu?
Tidak ada gunanya untuk menangis, Aura! Apa yang kau tangisi? Kebodohanmu yang tidak tau siapa Rayyan? Atau justru menangis karena menyesal sebab tidak pernah mempedulikan pria itu?
Pantas saja Rayyan marah saat Aura mencoba mempedulikannya waktu itu. Aura bahkan berlagak mengadukan sikap Lucy pada pria itu dengan alasan peduli.
Hahaha ... It's bullshitttt!
Nyatanya, semua hanya omong kosong yang tidak pernah Aura realisasikan saat ia diberi kesempatan untuk menjadi istri seorang Rayyan. Bahkan nama asli pria itu saja Aura tak tau.
"Lalu, siapa Rayyan sebenarnya, Bi?"
Kali ini Aura bertanya tanpa basa-basi lagi. Mungkin Bi Dima akan terus menatapnya heran, sekaligus bertanya-tanya dalam hati mengenai hubungan pernikahan seperti apa yang selama ini Aura jalani dengan Rayyan. Sampai-sampai Aura tidak mengetahui sama sekali mengenai pria yang sempat menjadi suaminya.
Bahkan, Aura juga mengira jika Bi Dima adalah ibu dari Rayyan? Oh tidak! Itu sebuah bukti nyata jika Aura memang tak pernah peduli dan tak pernah tau apapun tentang mantan suaminya tersebut.
Bi Dima pun mulai menceritakan pada Aura mengenai latar belakang keluarga Rayyan yang ia ketahui. Wanita baya itu juga mengatakan soal pekerjaan Rayyan.
"Jika Rayyan terikat pekerjaan di Indonesia, bagaimana mungkin dia bisa di Jerman selama kurun waktu yang lama? Lalu, bagaimana dengan pekerjaannya di Indonesia?" Begitulah batin Aura yang semakin ingin tahu tentang pria yang pernah menikahinya itu.
...Bersambung ......
__ADS_1
Kalau dukungannya nambah, pagi/siang othor bakal up lagiππππ makasih banyak yah guys yang masih baca kisah mereka.