
2 Bulan Kemudian ...
Aura menutup mulutnya yang terpana hanya karena sebuah benda kecil yang kini ada ditangannya.
"Mas? Mas Rayyan!!" jeritnya.
Dengan tergopoh-gopoh Rayyan menghampiri posisi istrinya yang berada di kamar mandi.
"Kenapa, Sayang? Ada kecoak?"
Aura menggeleng dari posisinya, membuat Rayyan tak mengerti apa yang membuat Aura tampak histeris.
"Sini, deh ..."
"Kenapa?" Rayyan mendekat lalu tanpa disangka Aura justru menubruk tubuh tinggi suaminya dengan sebuah pelukan erat.
"Eh, kenapa, kenapa?" Rayyan masih belum bisa mencerna keadaan.
Aura sedikit mendongak pada suaminya, kemudian mengeluarkan suara lirih.
"Akhirnya, Mas." Aura menjeda kalimatnya, ia kembali memeluk Rayyan hingga ucapan selanjutnya yang keluar dari bibirnya justru teredam karena pelukan itu.
"Kamu bilang apa?" tanya Rayyan memastikan. Ia tak begitu mendengar jelas apa yang Aura katakan tadi.
Aura kembali mendongak, bersamaan dengan Rayyan yang menunduk menatapnya. Tatapan mata mereka beradu satu sama lain seiring dengan mulut Aura yang kembali terbuka untuk menyatakan hal yang membuatnya terpana.
"Aku ... hamil, Mas. Akhirnya aku hamil lagi!"
Kelopak mata Rayyan melebar saat mendengarnya, setelah itu ia langsung membawa Aura dalam gendongannya dan memutar-mutar tubuh itu dengan pergerakan konstan.
"Aku seneng banget, Sayang." Respon Rayyan.
"Apalagi aku, Mas."
Rayyan menurunkan Aura kembali hingga mereka bertatapan lagi.
"Makasih ya, Sayang. Udah mau mengandung anakku." Rayyan mengecup dahi Aura dengan ciuman dalam dan lama seolah menyalurkan kasih sayangnya yang begitu tulus untuk sang istri. Sementara Aura memejamkan mata meresapi apa yang tengah dilakukan suaminya.
"Mulai sekarang kamu harus lebih hati-hati. Lebih sehat lagi. Lebih bersemangat dan gak boleh terlalu capek."
"Iya, Mas." Aura manggut-manggut.
"Dan satu lagi ... aku gak mau kejadian waktu di Jerman sampai terulang lagi." Rayyan mengingat bagaimana saat dulu Aura mengalami kecelakaan hingga kandungannya terpaksa digugurkan demi menindaklanjuti kondisinya yang harus melakukan operasi demi menyelamatkan nyawa wanita itu.
"Iya, Mas. Doain aja semuanya lancar dan aku gak bakal ceroboh lagi. Kamu bakal jagain aku kan, Mas?"
"Pasti."
Hari itu, Rayyan kembali menjadi Rayyan yang dulu. Dimana dia terlihat sangat sigap melayani Aura. Bahkan pria itu tidak membiarkan istrinya untuk memasuki area dapur karena Rayyan yang akan menyiapkan segalanya untuk Aura.
Aura mengingat kejadian dimana hal serupa pernah dialaminya. Betapa dulu dia buta saat menerima kebaikan Rayyan. Betapa naifnya dia ketika tidak bisa melihat segala pengorbanan Rayyan kepadanya.
Syukurlah sekarang mereka kembali dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan dan Aura bertekad tidak akan menyia-nyiakan suaminya lagi.
"Kenapa liatin aku kayak gitu?" tanya Rayyan sembari menyajikan sayur capcai ke atas meja. Pria itu baru saja memasak untuk istri tercintanya.
"Gak apa-apa, lagi mengagumi ketampanan chef yang ada di depanku aja, kok." Aura menahan geli karena ucapannya sendiri.
Entah kenapa ujaran Aura malah membuat wajah Rayyan memerah, istrinya yang sekarang sering kali menggodanya. Tapi dia suka.
"Makan ya. Meskipun rasanya gak seenak buatan Mama kamu ataupun seperti yang biasa kamu beli di Restoran andalan kamu tapi aku jamin ini pasti enak, kok. Dan aku udah pastiin kebersihannya."
Aura mengacungkan jempol. "Siap, bos," ujarnya diselingi tawa pelan.
"Kok, bos? Katanya tadi Chef tampan..."
"Ups ..." Aura berlagak menutup mulutnya dengan sebelah tangan. "Salah ya, aku? Maaf deh ..." katanya lagi sembari menyendok nasi yang sudah Rayyan ambilkan.
"Enak gak?"
Aura mengangguk-anggukkan kepalanya. "Enak tapi ..." bola matanya berputar seakan memikirkan sesuatu.
"Tapi kenapa? Keasinan?"
"Bukan... tapi kamu gak boleh masakin ini ke orang lain selain aku ya."
Rayyan menghela nafas pelan. "Iya, cuma kamu yang bisa menikmati masakan aku," katanya pongah.
"Dih ... iya deh, chef pribadiku yang tampan," ujar Aura dan kembali menikmati masakan suaminya.
Rayyan ikut makan dihadapan Aura dan mereka terlibat beberapa percakapan mengenai kegiatan masing-masing.
Aura yang kini kembali aktif mengurus perusahaan pusat milik sang Oma, karena sampai saat ini keduanya masih stay di Singapore sejak Tante Inggrid meninggal. Tidak sekalipun Rayyan pernah membahas soal keinginannya untuk kembali ke tanah air. Pun Aura tak mau menyinggung soal itu.
__ADS_1
Mengenai pekerjaan Rayyan di Indonesia, masih sama seperti dulu. Dalam dua bulan ini ia selalu menghandle lewat email dan virtual meeting. Sangat fleksibel memang.
Aura tau Rayyan belum mau kembali ke Indonesia mengingat jika dia tak ingin disalahkan lagi oleh Neneknya. Tapi, karena sekarang Aura tengah mengandung jadi mau tak mau Aura harus membuka cerita mengenai hal ini.
"Ehm ... Mas?"
"Ya?"
"Apa gak sebaiknya kita kembali ke Indonesia, Mas? Aku kan lagi hamil, kok kayaknya lebih enak kalau dekat sama keluarga ya, Mas?"
Rayyan tampak mengehentikan kegiatan makannya.
"Kamu ... mau pulang?"
Aura mengangguk cepat.
Rayyan tidak merespon apapun, seperti tengah menimbang-nimbang.
"Ya udah, kita pulang."
"Kamu gak apa-apa, Mas?"
"Justru selama ini aku gak berani ajak kamu pulang ke Indonesia karena takut kamunya yang belum mau," jawab Rayyan.
Aura menghela nafas lega. "Maaf ya, Mas. Selama ini aku emang gak pernah bahas ini lagi, karena aku pikir kamu pasti masih sakit hati sama kejadian terakhir di makam Tante Inggrid."
"Udah ya, aku gak mau bahas itu lagi."
"Iya, Mas. Maaf."
"Kalau kamu emang mau pulang, aku pesankan tiket kita ke Indonesia tapi sebelum itu kita cek keadaan kandungan kamu dulu ya ke dokter."
Aura mengangguk tanda menyetujui usul suaminya.
...***...
Kepulangan Aura dan Rayyan ke Indonesia disambut oleh keluarga besar Aura yang telah lama menunggu mereka.
"Akhirnya kalian pulang juga. Gimana bukan madunya selama dua bulan?" goda Mama Yara pada keduanya.
Rayyan hanya tersenyum kecil kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia malu jika harus terlalu terbuka soal ini pada ibu mertuanya.
"Berhasil dong bulan madu kita," kata Aura yang rupanya merespon godaan sang Mama.
"Berhasil isi. Nih buktinya!" Aura tampak antusias menunjukkan perutnya yang masih rata didepan keluarga besarnya.
"Yang bener kamu?" Papa Sky angkat suara. Tampak semringah sekali.
"Iya, dong, Pa!" Aura kembali mengiyakan.
Sekarang Papa Sky melihat pada menantunya dan Rayyan mengangguk sebagai jawaban.
"Wah, akhirnya papa bakal punya cucu juga. Udah lama banget papa nungguin momen seperti ini lagi."
"Enak aja! Ini karena doa mama," serobot Mama Yara. "Jadi mama yang paling nungguin sebenarnya," lanjutnya.
Aura dan Rayyan saling pandang melihat Papa Sky dan Mama Yara yang tampak berebut mengenai siapa yang paling menunggu momen kehamilan Aura.
"Hei kalian." Oma Indri terlihat muncul dari arah belakang rumah. "Jangan pada sok ya. Ini semua berkat Oma yang selalu mendukung mereka," kelakar ya disertai kekehan.
Mereka semua tertawa karena candaan Oma yang menimbrung.
"Gimana kabar kalian?" Oma lebih dulu melihat pada Rayyan.
Sebenarnya Rayyan masih saja malu untuk bertemu Oma Indri, mengingat dosa nenek dan Tantenya dimasa lalu kepada wanita tua itu, tapi sepertinya Oma memang tidak pernah mau membahas hal itu lagi. Betapa hati Oma sangat baik, pikir Rayyan yang bersyukur akan hal itu.
Bahkan saat Rayyan pernah ingin meminta maaf mewakili Nenek dan Tantenya, Oma Indri seakan mengalihkan pembicaraan agar Rayyan tidak pernah membahas hal itu lagi.
"Ray?"
"Iya, Oma."
"Kamu sehat, kan? Masalah lalu ... biar kita lupakan bersama-sama. Oma mau kalian menyongsong masa depan yang lebih baik karena sekarang sudah ada calon anak diperut istrimu."
"Makasih ya, Oma." Rayyan menyalami tangan Oma dengan takzim.
"Iya, Oma sayang sama kalian. Dan kamu ... gak pernah punya salah sama Oma jadi jangan pernah meminta maaf untuk kesalahan yang tidak kamu lakukan." Oma Indri seakan bisa membaca isi hati Rayyan membuat pria itu terharu sekali.
"Ngomong-ngomong, ada yang lebih nungguin kalian daripada Oma, Mama dan Papa." Mama Yara kembali bersuara.
"Siapa?" tanya Aura.
Oma Indri menoleh pada satu arah hingga Rayyan dan Aura melihat ke arah tersebut.
__ADS_1
Seorang wanita tua dengan tampilan sederhana tampak berdiri disana dengan senyuman yang paling tulus.
"Nenek .." gumam Aura tak percaya. Nenek Rayyan tampak berbeda, terakhir kali bertemu di pemakaman penampilan nenek tidak begini, biasanya wanita tua itu selalu berdandan dengan tampilan menor, tapi sekarang tidak. Nenek tampak bersahaja dengan kerudungnya.
"Rayyan ..." lirih Nenek. Nenek menghampiri Rayyan dan tanpa pernah Rayyan duga sang nenek malah bersujud di kakinya. Agaknya nenek telah menyadari kesalahannya.
Rayyan membeku ditempat, namun hanya beberapa detik saja karena kemudian ia tersadar dengan keadaan bahwa tak seharusnya nenek melakukan tindakan ini padanya.
"Nek, bangun, Nek!" Rayyan memegang kedua pundak nenek, agar wanita tua itu bangkit dari posisinya.
"Nenek minta maaf sama kamu, Ray." Nenek menangis dihadapan Rayyan.
Rayyan masih diam seakan mencerna keadaan ini.
"Nenek tau nenek banyak berdosa saja kamu. Nenek banyak salah sama kamu. Nenek menyia-nyiakan kamu. Izinkan nenek berubah, Rayyan. Nenek gak mau terus begini karena sekarang nenek sadar bahwa satu-satunya yang nenek miliki sekarang cuma kamu."
Rayyan menatap mata Nenek yang tampak sangat sungguh-sungguh disana. Siapa yang tahan melihat neneknya meratapi seperti itu. Dalam hati Rayyan berdoa semoga sang nenek benar-benar telah menyesal dan bertaubat.
"I--iya, Nek." Entah kenapa suara Rayyan tergugu. Ia terenyuh melihat sang nenek.
"Kamu mau maafin nenek?" tanya Nenek tampak terkejut.
"Iya nek." Rayyan menganggukkan kepala.
"Makasih, Ray. Makasih... seharusnya sejak lama nenek menyadari jika kamu adalah berkah yang dikirim Tuhan untuk nenek. Maaf nenek telat menyadarinya." Nenek ingin memeluk Rayyan namun tampak sungkan, Rayyan selama melihat gelagat sang nenek hingga akhirnya ia yang memeluk tubuh sepuh itu lebih dulu.
"Kita mulai semuanya dengan lebih baik lagi ya Nek. Semoga nenek sudah mau menerima Saya sebagai cucu nenek."
"Tentu, Rayyan. Tentu. Nenek yang banyak bersalah sama kamu."
Aura dan semua yang menyaksikan itu disana sangat bersyukur karena Rayyan mau memaafkan sang Nenek. Betapa hati Rayyan sangat lapang dan pemaaf.
Disaat yang sama, Aura menerima panggilan dari nomor luar negeri. Ia menerimanya dan ternyata itu panggilan dari Wilow.
"Darren dan Lucy akan menikah. Aku mau menyampaikan hal itu padamu."
"Wah, congrats." Aura merasa ikut senang dengan hal ini. Akhirnya Lucy membuka hati untuk pria lain dan melupakan Rayyan yang pernah menempati hati wanita bermata biru itu.
"Ya, nanti Darren akan meneleponmu. Itupun jika kau mau."
"Kenapa begitu? Tentu saja aku mau. Dia kan temanku juga. Pun Lucy adalah teman Rayyan, kan?"
"Haha, aku pikir atas semua yang pernah terjadi dulu kau tidak mau lagi menerima telepon. dari Darren maupun Lucy."
"Darren tidak pernah salah apapun padaku, sementara Lucy ... ya semua orang kan bisa berubah. Semoga saja mereka menemukan kebahagiaan yang baru." Doa Aura kemudian.
Rayyan menghampiri istrinya setelah ia dan nenek saling memaafkan satu sama lain.
"Siapa, Sayang?"
"Wilow. Dia bilang Darren dan Lucy akan menikah." Aura menceritakan pada Rayyan mengenai apa yang Wilow sampaikan.
"Selamat untuk mereka. Aku ikut senang.," ujar Rayyan.
Aura mengangguk, kemudian melanjutkan perbincangannya dengan Wilow. Dia mengatakan tak bisa datang kesana untuk menghadiri undangan Darren tapi dia akan mengirimkan kado untuk mereka.
"Aku sedang hamil, aku juga baru tiba di Indonesia jadi aku tidak mungkin naik pesawat lagi untuk pergi kesana. Sampaikan maafku pada Darren, atau nanti aku yang akan mengatakannya jika dia meneleponku."
"Kau hamil? Wah, aku senang sekali, Ra!" respons Wilow.
"Ya, kau tidak ingin menikah?"
"Hahah, aku akan menikah nanti. Setelah anakmu lahir."
"Kenapa menunggu anakku lahir?" Aura keheranan.
"Ya, mungkin saja jika anakmu laki-laki dia yang akan menjadi jodohku!"
Dan Aura tergelak karena candaan Wilow. Dia berharap semua orang akan merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang saat ini ia rasakan.
Sepasang tangan melingkari perut Aura dari belakang. Itu adalah Rayyan yang memeluknya. Rayyan mengecup pipinya dari samping.
"Happily ever after, Sayang," bisik pria itu. "Semoga kamu selalu bahagia seperti ini. Aku senang karena akhirnya kamu bisa tertawa bahagia lagi setelah banyak cobaan yang menimpa kamu dan kita. Semoga kita selalu bahagia."
Aura mengelus tangan Rayyan yang bertengger di perutnya. Ia ikut mengecup pipi sang suami.
"Makasih, Mas. Aku harap kamu juga bisa selalu bahagia. Tanpa ada yang menyakiti kamu dan aku bersedia menjadi sumber kebahagiaan kamu. Selamanya."
...The End ......
Makasih ya yang udah baca cerita ini sampai tamat. Konfliknya udah selesai semua dan kalau rajin dan sempat nanti othor kasi bonus chapter. Insha Allah ya. Semoga kita semua sehat dan dilancarkan segala urusannya. Aamiin...
Nantikan novel baru othor setelah ini ya. Terima kasih banyak banyak all readersππππππ
__ADS_1