Dijebak Di Malam Pengantin

Dijebak Di Malam Pengantin
37. Bertemu


__ADS_3

Waktu bergulir begitu cepat, sampai Aura tidak menyadari hal apa saja yang sudah ia paksa untuk hilang dari hidupnya. Perasaan bersalah belum muncul dihati Aura, sebab ia tidak pernah merasa salah, wanita itu selalu merasa bahwa kebahagiaannya lah yang sering terampas tanpa ia inginkan.


Darren yang telah mendengar jika Aura pernah menikah dengan Rayyan, tidak begitu mempedulikan justru semakin tertarik untuk mendekati wanita itu. Sayangnya, hati Aura memang sekeras batu, ia selalu menolak pendekatan yang dilakukan oleh Darren. Sikap Darren justru mengingatkan Aura pada Shandy yang pemaksa dan hal ini membuatnya sangat jengah.


Lambat laun, Aura mulai membandingkan sifat pria-pria itu dengan Rayyan.


Sedikit banyak, Aura merasa jika Rayyan lah yang tidak pernah memaksa kehendaknya.


Ah, kenapa sekarang Aura harus mengingat pria itu? Terlebih disaat mereka sudah tidak memiliki status apapun.


Aura bahkan tidak tahu kemana Rayyan pergi dan apa yang Rayyan lakukan setelah perpisahan mereka.


Sekelebat ingatan mengenai kebersamaannya yang sedikit dengan Rayyan, mulai terlintas dalam pikiran.


"Apa kamu hanya mengangap aku menginginkan tubuh kamu?"


"Jangan menilai aku begitu, Ra. Aku sayang sama kamu."


Entah kenapa sekarang segala ucapan Rayyan bagaikan mantra yang terus terngiang-ngiang dikepala perempuan itu. Apa setelah enam bulan berpisah darinya, Aura mulai merasa merindukannya?


Aura mendekap tubuhnya sendiri. Ia selalu merasa ada yang kurang. Entah itu yang lain atau justru itu adalah Rayyan yang seharusnya mengisi ruang yang terasa kosong itu.


Disaat perasaan seperti itu menyerangnya, Aura selalu berusaha untuk menepis dengan menyibukkan diri.


Malam itu sangat dingin, Aura memilih untuk pergi ke sebuah Supermarket yang dekat dari Apartmennya.


Belum cukup lama Aura disana, hanya beberapa makanan ringan yang baru memenuhi troli-nya saat tiba-tiba seseorang menyapanya disana.


"Aura?"


Perempuan dengan surai hitam itu tersentak, ia menoleh dan mendapati seseorang yang membuat matanya terbelalak.


Aura mundur beberapa langkah dengan sikap kalut dan syok luar biasa. Ia bahkan tak sengaja menjatuhkan beberapa bungkus mie instan dari rak yang memajang makanan itu di sebuah supermarket yang sedang dikunjunginya.


"Woa, tidak disangka ya, semesta masih mengizinkan kita untuk bertemu lagi."


Aura merasa sangat takut sekarang, ia ingin menjerit tapi entah kenapa suaranya seolah tidak melewati kerongkongan.


Aura tahu, seseorang didepannya ini bukan ditakdirkan untuk bertemu dengannya, melainkan pria ini memang sengaja mencaritahu keberadaannya. Entah sejak kapan tapi yang jelas akhirnya mereka bertemu kembali.


"Jangan mendekat, atau aku akan teriak!" kata Aura mengancam.


Pria yang tak lain adalah Sandy itu, tersenyum miring yang penuh cibiran terhadap Aura.

__ADS_1


Melihat Sandy tidak berani mendekat, Aura lantas bergegas pergi dari supermarket tersebut.


Aura meninggalkan belanjaannya, ia berlari dengan terburu-buru.


Saat tiba di lobby Apartmennya, aura masih diliputi rasa takut luar biasa. Dengan tergesa ia memasuki unitnya, barulah ia bisa bernafas lega.


Ngos-ngosan, dan ada rasa sesak yang langsung membuatnya ingin menangis. Kenapa Sandy bisa berada di negara yang saat ini ia tinggali?


Aura tak perlu mencari tahu jawabannya sebab pria itu pasti masih memiliki dendam dengannya. Dipenjara selama bertahun-tahun, dan saat keluar dari jeruji besi tujuan utama pria itu adalah mencarinya.


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" Segala rasa dilema, gusar dan trauma nya seakan kembali muncul di depan mata. Jika sudah begini, Aura bingung untuk mengendalikan dirinya sendiri. ia takut depresi lagi.


Aura ingin menelepon kedua orangtuanya, ingin memberitahukan hal ini tetapi ia terlanjur sungkan, sebab ia sendiri yang sempat menolak untuk dijaga oleh bodyguard lagi.


Ini semua karena Aura selalu merasa bisa sendiri, nyatanya ia tidak sekuat itu. Ia tidak bisa melindungi dirinya sama seperti dulu.


"Ma, Aura … Aura ngelihat Sandy ada disini, Ma."


Itulah pesan suara yang Aura kirimkan ke ponsel sang Mama, sebab ia tidak bisa menghubungi ibunya saat itu. Aura menunggu saat pesan itu akan terbaca, nyatanya pesannya sama sekali belum dibuka.


Malam itu, Aura akhirnya tertidur dalam rasa takut. Sesekali ia bahkan bermimpi buruk jika Sandy dapat menangkapnya dan menghabisinya.


...***...


Keesokan harinya Aura kembali bekerja, ia bertemu dengan Wilow dan teman-teman satu divisinya yang lain. Aura mencoba biasa saja, melupakan kejadian dimana ia bertemu dengan Sandy semalam. Sayangnya, sentuhan Darren di pundaknya membuatnya tersentak.


"Hei, kau kenapa? Apa aku menyakitimu?" tanya Darren dengan raut bingung.


"Jangan sentuh aku!" DONT TOUCH ME!" Aura menunjukkan sisi lain yang tidak pernah ia tunjukkan didepan khalayak. Ini semua karena pengaruh Sandy yang terang-terangan mendatanginya semalam.


"Aura ... kau tidak apa-apa, kan?" tanya Wilow tampak khawatir.


Aura menghela nafas berat, kemudian tertunduk menyadari kekeliruannya saat mengira Darren adalah Sandy.


"Maaf, maafkan aku, aku tidak bermaksud mengumpatmu..." kata Aura penuh penyesalan sambil menatap Darren.


"It's oke, mungkin kau sedang lelah saja," kata Darren mencoba pengertian.


Wilow mengarahkan Aura ke ruang istirahat dan memberinya air mineral dingin.


"Kau kenapa, Aura?" Wilow mencoba menyelami perasaan temannya itu.


"Aku, aku hanya tidak enak badan," sanggah Aura.

__ADS_1


"Coba kau bicara jujur padaku. Aku sudah mendengar sekilas dari Darren jika kau sudah menikah... aku ingin menanyakannya sejak beberapa bulan lalu, tapi ku lihat kau dalam mood yang tidak baik," ujar Wilow perhatian.


Aura mengangguk pelan. "Ya, itu memang benar. Aku memang sempat menikah," jawabnya mengakui.


"Lalu, dimana suamimu? Kenapa kau tidak jujur dan seakan menyembunyikan semuanya dariku? Apa kau tidak menganggapku teman dekatmu? Sehingga kau merahasiakan hal itu dariku? Apa aku tidak boleh tau mengenai status pernikahanmu?"


"Bukan begitu, Wilow." Aura menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tapi pernikahan itu bukanlah pernikahan seperti kebanyakan orang, aku dan dia tidak saling mencintai."


"Jadi, sekarang suaminya ada dimana? Apa aku pernah bertemu dengannya.


Aura mengangguk ragu-ragu. "Dia ... Rayyan."


"Apa? Rayyan? Pemuda yang kau akui sebagai kakakmu itu? Ya Tuhan ..."Wilow mengusap wajahnya sendiri. Bahkan ia pernah mengakui pada Aura jika ia tertarik pada pria itu sebab ia benar-benar mengira jika Rayyan adalah kakak lelaki Aura.


"Tapi sekarang kami sudah berpisah."


Wilow menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Apa yang ada dikepala temannya ini?


"Kenapa kau berpisah dengannya?" tanya Wilow kemudian.


"Seperti yang tadi ku katakan jika pernikahan ini tidak seperti kebanyakan orang. Kami tidak saling mencintai."


"Tapi yang ku lihat, Rayyan menyayangimu, Ra."


"Darimana kau tau?"


"Aku bisa melihat dari sorot matanya padamu, apa kau tidak bisa melihat itu? Oh Aura, kenapa kau naif sekali. Bahkan sejak awal aku memang ragu jika dia adalah kakak lelakimu karena pandangannya padamu nampak berbeda."


"Sudahlah, berhenti membahasnya. Aku tidak mau membicarakannya."


"Jadi, bisa kau ceritakan kenapa hari ini kau nampak berbeda dan malah ingin mengumpat Darren?" selidik Wilow.


"Aku--aku bertemu Sandy."


"Sandy?" Wilow terkejut, tentu saja ia tahu jika pria bernama Sandy adalah pria yang dulu melecehkan Aura. Aura sempat bercerita padanya saat mereka masih duduk di bangku kuliah, saat itu Wilow bertanya pada Aura kenapa memilih kuliah di Jerman yang letaknya jauh dari negara kelahiran wanita itu dan disanalah Aura menceritakan tentang Sandy yang membuatnya memilih berkuliah keluar negara.


"Aku pikir dia mencariku... aku takut sekali, Wilow."


Wilow menggenggam tangan Aura. Tentu saja ia prihatin dan khawatir pada temannya itu.


"Ku pikir, kau bisa meminta bantuan pada Rayyan untuk melindungi mu."


"Kau gi la? Aku dan dia sudah berpisah. aku bahkan tidak tau keberadaannya sekarang. Aku akan meminta bantuan pada orangtuaku saja."

__ADS_1


"Itu juga baik, tapi orangtuamu ada di negara lain. Aku takut bantuan itu datang terlambat, Ra. Mulai sekarang, ku mohon berhati-hatilah," pesan Wilow.


...Bersambung .......


__ADS_2