Dijebak Di Malam Pengantin

Dijebak Di Malam Pengantin
64. Ingin Pindah


__ADS_3

Seminggu setelah pernikahan (kembali) antara Rayyan dan Aura terlaksana, Rayyan mengatakan jika ia ingin lebih mandiri dengan menetap di kediamannya sendiri dan mengajak Aura untuk ikut bersamanya.


Untuk itu, Rayyan menanyakan pendapat sang istri terkait hal ini.


Rayyan memang memiliki sebuah Apartmen yang baru ia beli sesaat setelah ia menikahi Aura untuk yang pertama kali. Waktu itu, Rayyan optimis bisa mengajak Aura kembali ke Indonesia dan tinggal bersamanya disana. Sehingga, ia sudah menyiapkan sebuah tempat tinggal untuk keduanya. Sayangnya, dulu Aura tidak pernah luluh, sikapnya yang keras bahkan membuat Rayyan sempat melepaskannya. Kendati sebenarnya, Rayyan tidak pernah benar-benar melakukannya, itu terbukti dengan dia yang tidak meninggalkan Jerman karena Aura masih memilih untuk menetap di Negara tersebut.


Hingga sekarang, disaat mereka sudah kembali bersama sebagai sepasang suami-istri, Rayyan pun mengutarakan keinginan yang sudah lama ia niatkan itu. Tinggal berdua dengan sang istri dikediamannya sendiri.


"Mas, aku udah jadi istri kamu, jadi ... apapun keputusan kamu, selama itu baik buat hubungan kita--aku bakal ngikut. Dan lagi, aku akan mengikuti kemanapun kamu mengajakku, Mas. Aku gak mau kita tinggal terpisah lagi."


Rayyan tersenyum tipis dengan jawaban yang diberi istrinya, itu artinya Aura sudah setuju dengan keputusannya.


"Beneran gak apa-apa? Aku pikir kamu akan berat tinggal terpisah sama kedua orangtua kamu," ujar laki-laki itu sembari menatap mata Aura lamat-lamat.


"Bukannya selama dua tahun belakangan ini aku juga udah tinggal terpisah sama Mama dan Papa. Jadi gak akan ada yang berubah, Mas."


"Aku seneng kamu udah bisa menyikapi hal ini dengan dewasa." Rayyan menepuk pelan punggung tangan sang istri.


Aura mengulumm bibir. "Maaf ya, Mas. Kalau dulu aku lebih sering kekanakan," akuinya.


Rayyan tertawa pelan. "Gak apa-apa, aku tetap sayang kamu," ujarnya sambil membelai wajah cantik istrinya.


Aura langsung merona dan menundukkan kepala dalam-dalam, membuat Rayyan semakin terkekeh diposisinya.


"... tapi, kalau bisa sikap yang seperti itu agak di kurangin, ya, Sayang."


Aura mengangkat wajah dan akhirnya tersenyum keki dengan ujaran suaminya.


"Iya, Mas. Aku mau usaha agar lebih dewasa lagi sekarang."


Rayyan mengecup pipi Aura kiri dan kanan sebelum akhirnya pembicaraan mereka harus terhenti karena suara ketukan pintu kamar.


"Non Aura, Mas Rayyan. Maaf, ada Nyonya besar dibawah dan mau bertemu." Suara panggilan Bi Dima berhasil menginterupsi keduanya.


Mendengar itu, Aura dan Rayyan tau bahwa yang dimaksud Bi Dima adalah Oma Indri.


Mereka saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya memutuskan turun dan menemui sang Nenek.


"Aura, Rayyan ..." Oma Indri tersenyum melihat Aura dan Rayyan yang turun sembari bergandengan tangan, tampak akrab dan mesra sekali.


"Oma," kata Rayyan yang langsung menyalami tangan Nenek dari istrinya itu dengan takzim.


Aura juga melakukan tindakan yang sama--kemudian mereka ikut duduk disana--bergabung dengan yang lain yang juga sudah menempati posisi masing-masing di sofa ruang keluarga.


"Jadi, Oma kembali ngumpulin kalian semua disini, cuma mau ngasih kabar bahwa Oma bener-bener udah pensiun sekarang. Oma gak akan ngurusin apapun lagi soal perusahaan. Jadi, Oma serahkan ini sama Cean dan Aura." Oma menatap sepasang anak kembar yang sudah dewasa itu secara bergantian. "Ehm, sepertinya Rion juga sudah bisa mulai melirik perusahaan karena kamu juga punya saham disana," lanjutnya sambil melihat pada sang bungsu.


"Iya, Oma," sahut Rion tanpa protes.


Selama ini, Cean dan Aura memang sudah terjun di perusahaan kecantikan milik sang Oma. Cean menempati posisi CEO disana, sementara Aura, ia adalah kepala bagian produksi dimana ia bebas mendesain dan merancang penampilan produk sebelum dipasarkan. Sementara Rion, adik bungsu mereka yang masih berkuliah itu, kini juga sudah disinggung Oma untuk ikut andil sebab Oma tidak mau ikut campur dalam dunia itu lagi.


"Oma udah terlalu tua. Oma mau istirahat. Oma tau cucu-cucu Oma semuanya udah bisa diandalkan."

__ADS_1


Kemarin-kemarin Oma memang sudah menyatakan soal rehatnya, tapi sesekali Oma masih mau mengontrol jalan kerja di perusahaan. Namun, sepertinya sekarang sang Nenek benar-benar akan lepas tangan seutuhnya.


Ketiga cucu itu mengangguk paham dengan ujaran sang Nenek. Akan tetapi, Aura mengutarakan kebimbangannya untuk kembali masuk ke perusahaan itu.


"Oma, maaf, Aura kan udah lama vakum. Terus, saat ini Aura sedang masa pendinginan dan menenangkan pikiran." Aura melirik Rayyan sekilas, suaminya itu tampak diam seolah tak ingin mencampuri. "Dan lagi, Aura mau program hamil, jadi untuk saat ini Aura belum bisa bergabung kembali," lanjutnya hati-hati.


Oma Indri tampak manggut-manggut. Ia tahu Aura pernah mengalami keguguran dulu dan ya, ia pun menantikan cicit dari pernikahan Aura dan Rayyan yang ia ketahui sudah menginjak angka 2 tahun.


Rayyan sendiri tersenyum diposisinya, jika dulu Aura tak pernah membahas ingin mengandung anaknya lagi, ternyata sekarang Aura sudah memikirkan hal itu. Ia akan berusaha keras agar istrinya cepat hamil, batin Rayyan.


"Oma pikir, kamu memang sudah seharusnya mengandung lagi. Oma setuju dengan keputusan kamu yang mau dirumah dulu. Oma doakan semoga kamu segera hamil lagi, ya, Sayang."


"Aamiin ..." sahut semua yang ada disana nyaris serentak.


Oma lalu melirik Cean, sekarang hanya Cean yang bisa ia andalkan, karena putranya sendiri tidak pernah mau ikut campur soal perusahaan sebab Papa Sky dulunya memang lebih memilih mengikuti profesi keinginannya sendiri yakni menjadi seorang Arsitek.


"Harapan Oma tinggal kamu, Cean. Jadi, sebelum Rion lulus kuliah sebentar lagi, Oma harap kamu bisa menangani semuanya dengan baik seperti biasanya," papar Oma menatap saudara kembar Aura disana.


"Aku tau, Oma. Aku akan berusaha lebih baik untuk semakin mengembangkan perusahaan, lagipula saat ini kondisinya sedang stabil, jadi ku pikir semuanya masih dalam tahap yang baik, meski Aura masih belum mau bergabung," kata Cean penuh tekad. Ia tau bahwa tanggung jawabnya atas perusahaan Oma memang paling besar ketimbang Aura maupun Rion--sekarang.


Selepas percakapan keluarga itu, Rayyan segera mengajak istrinya untuk melihat tempat tinggal mereka yang akan segera ditempati nanti.


"Kapan kita pindah, Mas?"


"Kamu maunya kapan?" Alih-alih menjawab, Rayyan malah kembali menanyakan Aura, ingin tau pendapat istrinya.


"Kalau hari minggu aja gimana, Mas?"


"Iya, Mas."


Rayyan fokus pada jalanan, sampai suara Aura kembali terdengar.


"Maaf ya, Mas. Soal yang tadi aku bicarakan sama Oma."


Rayyan mengernyit. "Soal yang mana?" tanyanya tak paham.


"Soal program hamil. Aku pengen hamil lagi, Mas. Hamil anak kamu, anak kita," kata Aura dengan suara yang sangat pelan, nyaris berbisik.


Rayyan menarik kedua sudut bibirnya. "Kenapa harus minta maaf? Itu bukan sebuah kesalahan, Sayang." Rayyan meraih jemari Aura dan menyatukan dengan jari jemarinya sendiri.


"Memangnya ... kamu mau, Mas?"


Rayyan tertawa sejenak. "Ya, mau banget. Kita udah cocok jadi orangtua juga, kan? Aku malah gak sabar menunggu hal itu," akuinya.


Aura tersenyum lembut, ia menatap sang suami dengan binar cinta dimatanya.


"Kamu mau ikut program hamil? Kita ke dokter?" tawar Rayyan.


"Menurut kamu?"


"Ya boleh aja, Sayang. Kapan kamu mau konsultasi, kamu tinggal bilang sama aku."

__ADS_1


Aura bergelayut singkat di lengan Rayyan. "Makasih ya, Mas. Aku udah gak sabar mau hamil anak kita lagi," katanya jujur.


Rayyan tertawa. "Apalagi aku. Dulu belum rezeki kita, semoga dalam waktu dekat kita bisa dapat rezeki itu lagi ya."


"Aamiin ..."


Mobil itu pun sampai di pelataran gedung sebuah apartemen yang berada di jantung kota.


"Disini, Mas?" tanya Aura.


"Iya, kenapa? Kamu gak suka lingkungannya?"


Aura menggeleng cepat. "Aku suka, Mas. Dulu bahkan aku pengen banget punya satu unit apartmen disini, tapi Papa gak ngizinin karena waktu itu aku baru aja naik kelas 11 SMA," katanya.


Rayyan mengusak rambut Aura. "Aku tau," ujarnya mengakui.


"Oh, kamu curang, Mas. Selalu tau tentang aku."


"Ya gimana, saat aku gak nanya tentang kamu sama Bi Dima, beliau tetap aja ceritain tentang kamu sama aku, ya jadi aku tau semua."


Aura berlagak merengut. "Emang Bi Dima bilang apa?" tanyanya.


"Mas, Non Aura mau beli Apartmen tapi gak dikasi sama Bapak karena dibilang belum pantas tinggal sendirian." Rayyan mencontohkan suara Bi Dima saat menceritakan tentang Aura mengenai keinginannya itu dulu.


"Ih, mirip banget sih kamu memperagakan Bi Dima," ledek Aura dan membuat keduanya terkekeh.


"Bi Dima juga bilang kalau itu adalah permintaan kamu atas kenaikan kelas dan ranking yang udah kamu raih, tapi Papa tetap enggak ngasih," terang Rayyan.


"Iya, aku ingat itu. Tapi pasti Bi Dima ceritanya udah lama, kan? Kamu kok masih ingat aja?"


"Apapun tentang kamu ... aku pasti ingat."


"Makasih ya, Mas." Aura tidak tau harus mengucap apalagi. Ia merasa beruntung karena ternyata Rayyan sudah menyukainya selama itu bahkan tanpa pernah ia ketahui.


"Ucapan terima kasihnya bisa ditukar sama yang lain, gak?" tanya Rayyan dengan penuh maksud.


Aura langsung memicing. "I know what you think, Mas," ujarnya.


Dan Rayyan mengulumm senyum. "Hmm?" tanyanya.


Aura mengangguk-angguk. "Hmm," katanya penuh arti.


"Ya udah, ayo!" Rayyan mengajak Aura untuk naik ke unit apartmennya disana.


...Bersambung ......


Yang masih ada vote Senin, kirimin kesini yaaa... Nanti othor up lagi. Pegangan yaa, abis ini masuk konflikβœ…β€οΈπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™



__ADS_1


__ADS_2