
Akibat jalanan yang menurun, ditambah pergerakan Aura yang tadinya sangat bersemangat, kakinya terus bergerak turun tanpa bisa direm. Aura panik dalam keadaan itu, syukurnya Hanifa melihatnya dan menjerit namanya.
"Aura!!"
Pekikan Hanifa membuat Rayyan dan Rahman sontak menoleh ke arah tersebut, dimana Hanifa menunjuk-nunjuk ke arah Aura yang terus berjalan menurun tanpa bisa dihentikan.
"Aura?!" Rayyan ingin segera mengejar, namun Rahman memperingatkannya.
"Ray, kalau lo ngejar Aura dengan lari ke jalanan menurun itu, maka lo juga bakal mengalami hal serupa."
"Terus, gimana?" tanya Rayyan panik.
Disaat bersamaan, Aura rupanya telah tiba di dasar dengan permukaan tanah yang rata. Ia terperosok jatuh dikarenakan langkahnya yang tak bisa dihentikan sejak diatas tadi.
Mereka semua masih bisa mendengar teriakan Aura.
"Mas!!!"
Sesaat kemudian hening.
Dengan perasaan yang campur aduk, Rayyan berusaha menyusul Aura di bawah sana dengan jalan alternatif lain yang biasanya di lewati jika ingin ke dasar. Diikuti oleh Rahman dan Hanifa yang terburu-buru.
"Hara, kamu disini saja ya, Nak!" pesan Hanifa kepada putrinya, sebelum ia benar-benar mengejar Rayyan dan Rahman. Syukurnya bocah itu menurut dan tidak melawan untuk mengikuti orangtuanya yang panik.
Sesampainya di dasar, Rayyan mendapati Aura yang tergeletak dalam keadaan tak sadar. Dia pingsan, mungkin syok karena tidak menyangka dengan kejadian ini. Mungkin juga karena diakhir tadi kakinya terseok saat mencapai dasar.
"Sayang!" Rayyan menyongsong istrinya dengan perasaan amat sangat bersalah.
"Ayo bawa ke rumah," saran Rahman.
Rayyan segera menggendong tubuh istrinya dan membawanya kembali naik ke kediaman sederhana milik Rahman.
Setelah tiba disana, Rayyan membaringkan Aura dengan sangat hati-hati. Jika boleh jujur, Rayyan sedang menahan diri untuk tidak menangis sekarang. Ia sangat takut terjadi sesuatu pada Aura.
"Kita tunggu istri lo sadar, nanti tanya dimana yang sakit, baru kita ambil tindakan selanjutnya. Lo tau sendiri disini jauh dari Rumah Sakit."
Rayyan mengembuskan nafasnya sepenuh dada. Berusaha menahan gejolak yang sulit dikatakan yang muncul dalam dirinya setelah melihat Aura dalam keadaan seperti ini.
"Ya," kata Rayyan akhirnya. Pasrah.
Sekitar 15 menit kemudian, untungnya Aura tersadar dari pingsannya. Hanifa juga membantu memijat pelan tapak kaki Aura agar wanita itu segera merespon.
"Sayang?" Rayyan menatap istrinya dengan tatapan sendu dan guratan kesedihan yang kentara.
__ADS_1
"M-mas?" Suara Aura terdengar bergetar.
"Kamu gak apa-apa, kan? Bilang sama aku mana yang sakit?" tanya Rayyan sambil membawa kepala Aura ke dalam dekapannya.
Aura menggeleng lemah, ia mulai mengingat kejadian terakhir yang menimpanya dan sekarang Aura sudah mengetahui sendiri jawabannya dari kilasan yang terlintas di ingatan.
"Aku gak apa-apa kok, Mas. Tapi ..." Aura mencoba bergerak dan merasakan jika kakinya tidak bisa digerakkan sama sekali. Mendadak wajahnya pias saat bertatapan pada Rayyan.
"Kenapa?" tanya Rayyan merasa ada yang tidak beres.
"Kaki aku, Mas."
"Kaki kamu kenapa?" Rayyan bergerak melihat pada kaki Aura yang tadinya dibersihkan oleh Hanifa menggunakan handuk hangat karena keadaannya memang kotor terkena tanah perkebunan.
"Ma-Mas, kaki aku ..." Aura berkata sambil terus mencoba menggerakkan kakinya tapi tidak bisa.
"Sayang? Kamu masih bisa gerakin kakinya kan?"
Aura menggeleng keras, sekarang airmatanya telah merembes keluar dari pelupuk mata.
"Ra, kaki kamu gak bisa digerakin?" tanya Hanifa pula. Wanita itu bahkan memijat betis Aura dan bertanya lagi. "Aku pijat begini, terasa gak?" mulai panik.
"Ng--gak." Aura menyahut dengan suara serak.
"Kita bawa ke tukang urut aja, Ray!" saran Rahman menimpali. Wajahnya menunjukkan rasa simpati yang kentara.
Hari itu juga, Rayyan membawa sang istri untuk berobat tradisional di tempat yang direkomendasikan oleh Rahman, karena dia ingin ada penanganan yang paling cepat mengenai kondisi Aura. Menggunakan mobil pick up Rahman yang biasanya digunakan untuk membawa hasil panen, mereka berempat pun berangkat. Hara ditinggal di rumah bersama ibu dari Rahman.
Setelah tiba ditempat pengobatan itu, kaki Aura di urut cukup lama, lalu dinyatakan mengalami permasalahan persendian dan patah tulang. Pun sang tukang urut juga menyarankan untuk melakukan rontgen di Rumah Sakit untuk dapat memastikan keadaan tulang Aura yang mungkin juga mengalami fraktur akibat kecelakaan yang tak disangka itu.
Untuk sementara ini, Aura memang tidak bisa berjalan menggunakan kedua kakinya.
"Sepertinya istri bapak juga mengalami syok," kata pria paruh baya yang mengobati Aura disana. "Hal itu juga bisa mempengaruhi keadaan kakinya yang sulit untuk digerakkan," nilainya.
Setelah berobat, Rayyan pun membopong istrinya dengan niat untuk pulang ke kediamannya sendiri yang ada di peternakan. Tak lupa juga ia mengucapkan rasa terima kasih pada Rahman dan Hanifa.
"Kalau butuh apa-apa, kita siap bantu ya, Kang," kata Hanifa turut prihatin pada keadaan Aura.
Rayyan mengangguk dan segera undur diri dari sana.
Sesampai di rumah peternakan, kedatangan Rayyan yang menggendong Aura langsung membuat kedua orang ART yang menyambut kepulangan keduanya langsung sigap menanyakan.
"Lho, Bu Aura kenapa, Pak?" tanya Mbak Niar.
__ADS_1
"Tadi jatuh," jawab Rayyan singkat. Ia segera membawa istrinya masuk ke kamar karena ia juga khawatir pada mental Aura yang sejak tadi hanya diam saja.
"Sayang?" Rayyan membelai wajah istrinya yang masih pucat seperti tadi.
"Sayang, kamu mau mandi, gak? Biar badannya lebih segar," bujuk Rayyan.
Aura menggeleng lemah. Tatapan matanya tampak kosong. Rayyan jadi serba salah.
"Maafin aku ya, Sayang. Tadi aku gak jagain kamu," sesal Rayyan.
"Aku yang salah. Harusnya aku hati-hati," jawab Aura datar tanpa melihat pada Rayyan.
"Sayang, jangan gini ya. Kaki kamu pasti sembuh, besok kita pulang ke kota terus cek ke Rumah Sakit."
"Aku gak mau, Mas."
Sekarang Rayyan mengernyit. "Kenapa?" tanyanya lirih.
"Aku gak siap kalau ternyata pemeriksaan itu malah bilang kalau kaki aku akan lumpuh selamanya." Aura mengusap airmatanya yang mendadak mengucur kembali dari sudut mata.
Rayyan terenyuh mendengarnya. Ternyata sejak tadi Aura memikirkan kemungkinan itu.
"Gak, Sayang. Justru kita periksa secepatnya jadi tau cara untuk mengobatinya," kata Rayyan yang sekuat tenaga berusaha kuat didepan Aura. Padahal ia juga menahan tangis sebab melihat keadaan istrinya yang begini secara tiba-tiba.
"Padahal aku masih mau bujuk Nenek, Mas. Kenapa aku harus ngalamin hal kayak gini? Kenapa, Mas? Apa aku emang gak berhak bahagia." Sekarang Aura memprotes keadaannya, dan itu membuat Rayyan semakin merasa bersalah. Rayyan juga bingung antara harus mengabarkan keadaan Aura ini pada mertuanya atau justru diam saja sampai menunggu kepastian berapa lama kiranya sang istri dapat segera sembuh.
"Gak sayang, kamu jangan mikirin soal nenek dulu." Rayyan tak habis pikir, kenapa disaat begini Aura masih saja berpikir mengenai meluluhkan hati nenek. "Kita pulang besok, biar tau keadaan kamu selanjutnya. Aku gak mungkin tetap diam tanpa usaha untuk penyembuhan kamu," kata Rayyan yang akhirnya menitikkan air mata.
Rayyan membuang wajahnya sejenak, menghapus jejak air di pipi sebab ia mau Aura semangat tanpa merasa dikasihani olehnya.
"Kalau ternyata aku gak bisa sembuh, gimana, Mas?" ratap Aura kemudian.
"Gak, aku yakin kamu bakal sembuh," jawab Rayyan optimis.
"Kalau aku tetap lumpuh meski udah jalani pengobatannya gimana, Mas?" tanya Aura dengan pertanyaan yang sama dan intonasi suara yang lebih tegas. "Apa kamu bakal ninggalin aku, Mas?" lanjutnya menanyakan.
Rayyan menggeleng dengan wajah sendunya. "Gak sayang, aku gak mungkin ninggalin kamu dalam keadaan apapun. Janji aku itu bukan cuma sama kamu, tapi sama Allah, Ra! Jangan berpikiran yang enggak-enggak ya. Ini ujian buat kita dan kita harus bisa melewatinya."
...Bersambung .......
(fyi, adik kandung othor juga pernah jatuh kayak Aura ini. Posisinya jalan menurun juga dan langkah kita emang gak bisa dihentikan sama sekali. Kayak ngikut aja gitu (entah efek gravitasi atau apa) jadi, makin dekat sama dasar langkah pun makin cepat, berasa kayak lari dan tiba di dasar, mentok, terus jatuh terjerembab.
Komen ya guys✅
__ADS_1