Dijebak Di Malam Pengantin

Dijebak Di Malam Pengantin
60. Kembali


__ADS_3

Matahari baru saja terbit di ufuk timur, dengan langit nampak jingga disisinya. Suara kicauan burung terdengar riang, bersamaan dengan desau angin yang berhembus pelan. Titik-titik embun tampak menerpa di dedaunan, disertai aroma tanah basah yang ditimpa hujan semalaman.


Aura menikmati semua itu dari atas balkon kamarnya. Sebuah sunggingan tipis terpatri di bibirnya, memikirkan hari ini ia akan menikah dengan satu-satunya pria yang membuat hatinya mampu berdenyut rindu, tidak peduli jika baru semalam mereka sempat bertemu.


Sebuah deringan membuat Aura harus menghentikan kegiatan melamunnya itu, ia pun meraih ponsel dan melihat sebuah nama yang tengah memanggilnya lewat saluran seluler.


"Ya, Wil?"


"Aura! Aku senang sekali mendengar kabar bahagia ini. Ini terasa mengejutkan, tapi aku dan yang lain turut bahagia. I'm happy for you, my best friend!"


"Thank, Wil. Datanglah berkunjung ke tempatku jika kau memiliki waktu luang yang panjang."


"Of course, maafkan aku tidak bisa hadir langsung disana hari ini. Tapi doaku selalu menyertaimu," ujar Wilow tulus dari seberang sana.


"Aku juga selalu mendoakan mu, Wil. Thank you. Sampaikan salamku pada Ghea, Sylvia dan Darren juga."


"Aku akan menyampaikannya, semoga acara bahagiamu hari ini berjalan lancar."


"Amin..."


"Ah, iya. Jangan lupa ceritakan padaku nanti of long, hot nights, (tentang malam yang panjang dan panas)," goda Wilow, membuat Aura tertawa.


"Ku pastikan kau akan iri dan langsung ingin menikah," ledek Aura.


"I'm waiting," jawab Wilow terdengar optimis.


Selepas bercengkrama dengan Wilow lewat saluran seluler, suara dehaman Mama Yara menyadarkan Aura jika ini sudah waktunya.


"Ma?"


Mama Yara tersenyum tipis pada Aura yang menatapnya dengan tatapan berkaca-kaca.


"Ma, Aura takut ..."


Mama Yara langsung mengernyit saat Aura memeluk tubuhnya dan mengatakan soal rasa takut.


"Takut apa, sayang?"


Sebenarnya yang Aura takutkan adalah terbayang akan kejadian yang dulu pernah menimpanya dimana ia gagal menikah menjelang akad.


Jika diingat lagi, itu semua karena kecerobohannya yang menerima sebuah minuman dari perias MUA saat mendandaninya, dimana minuman itu sudah dicampurkan dengan obat dan perias itu juga sudah dibayar oleh Hanin untuk menjebaknya.


Aura masih terbayang akan kejadian masa itu. Dimana akhirnya pernikahannya gagal, sehingga ia takut sekali jika itu akan terulang kembali dimasa sekarang--karena kini calon suami yang akan menikahinya adalah pria yang benar-benar ia inginkan.


Aura takut ada seseorang yang kembali menggagalkan pernikahannya yang kali ini.


"Aura takut ada orang jahat yang menggagalkan pernikahan Aura sama Rayyan hari ini, Ma," ungkap wanita itu.


"Semuanya akan baik-baik aja, Ra."


Dan ucapan sang Mama tidak begitu berhasil membuat Aura tenang, sepanjang ia di dandani oleh MUA yang meriasnya kali ini, tak sekalipun Aura mau mencicipi apapun meski itu diantarkan oleh Bi Dima sekalipun.


Ketika Aura mendengar jika Rayyan sudah tiba di kediaman orangtuanya, Aura langsung merasa deg-degan.


"Ya ampun, kamu cantik sekali, Nak." Mama Yara kembali melihat keadaan putrinya yang sudah selesai dirias

__ADS_1


Aura terlihat mengenakan pakaian pengantin yang sederhana, itu dibeli secara dadakan mengingat pernikahan inipun terjadi secara mendadak. Meski begitu, gaun pengantin yang dikenakan Aura terasa pas dan bagus dikenakannya.


"Jadi biasanya gak cantik ya, Ma?" tanya Aura tersenyum.


"Biasanya juga cantik, tapi hari ini jauh lebih cantik," puji sang Mama. "Kamu udah siap, kan?" tanyanya kemudian.


Aura mengangguk, kemudian mengikuti sang Mama yang membawanya turun ke bawah dimana disana akan diadakan acara akad pernikahan Aura dan Rayyan kembali.


Acara hari ini tidak sebesar pernikahan Cean waktu itu. Ini hanya sekedar akad biasa karena Aura tidak mau menggelar resepsi sekaligus. Ia hanya ingin pernikahan yang sakral dan disaksikan oleh keluarga intinya saja.


Lagipula, mereka memang sengaja melakukan ini secara kecil-kecilan agar Oma Indri tidak tahu, mengingat jika beliau yang tidak pernah mengetahui jika Rayyan dan Aura sudah sempat berpisah. Ya, mereka merahasiakan acara ini dari sang Nenek dan mencegah Oma untuk datang ke rumah khusus untuk hari ini saja.


Saat Aura turun dari lantai atas, ia dapat melihat Rayyan disana, pria itu awalnya sedang berbincang dengan Papa Sky dan Cean, tapi mungkin telah menyadari kehadiran Aura di undakan tangga--hingga Rayyan pun mengadah kepadanya.


Tatapan mereka bertemu satu sama lain. Seulas senyuman tersungging di bibir keduanya, lalu tak lama Rayyan menundukkan pandangan dan Aura tersipu ditempatnya.


"Ayo, Ra!" ajak Mama Yara kembali membuat Aura melanjutkan langkah untuk menuruni anak tangga.


Aura tidak dapat menahan rasa bahagianya saat mendengar pria itu mengucap akad kembali untuk menikahinya.


Tidak ada keraguan dalam suara Rayyan yang tenang saat menyebut namanya. Hingga akhirnya semua mengatakan jika ikrar itu sudah selesai dibacakan dan mereka telah resmi menyandang status sebagai suami dan istri--lagi.


Ada cairan bening yang lagi-lagi menetes dari pelupuk mata Aura. Namun tidak seperti biasanya, hari ini ia menangis karena bahagia. Amat bahagia.


Sebuah sorot mata langsung menghujam Aura begitu wanita itu dipersilahkan duduk bersanding disamping Rayyan. Lantas diminta menyalami tangan sang suami dengan takzim. Sudah boleh disebut suami, kan?


Sebuah kecupan singkat di ubun-ubunnya-- terasa menggetarkan hati Aura. Ia membalas senyuman yang Rayyan suguhkan dihadapannya.


Setelah doa-doa dibacakan, serta menandatangi surat-surat pernikahan. Keduanya resmi dinyatakan sebagai suami istri dalam hukum agama dan negara.


Acara pernikahan singkat itu telah usai. Aura memang tidak berharap akan ada pesta bermewah-mewahan, meski Rayyan sempat mengatakan jika resepsi itu akan tetap mereka lakukan nantinya-- mengingat ada banyak orang yang masih menganggap jika Aura pernah menjadi istri dari Jeno--padahal pernikahan itu tidak pernah terjadi.


Rayyan bilang, ia ingin semua orang mengetahui jika Aura adalah miliknya dan Aura hanya bisa mengiyakan karena ia juga risih jika masih ada yang salah menduga mengenai siapa suaminya.


"Capek?"


Aura mengadah pada Rayyan yang baru saja memasuki kamarnya--lebih tepatnya kamar pengantin mereka.


"Lumayan," jawab Aura keki. Ia mengusap-usap tangannya sendiri, tampak bertingkah absurd.


Rayyan tersenyum kecil, mengusap pipi Aura sekilas.


"Aku mandi dulu, ya."


Aura mengangguk samar dengan gelagat yang tampak gelisah--entah kenapa.


"Mau sekalian ikut?" tawar Rayyan dengan senyuman penuh maksud.


Aura menggeleng canggung, padahal ia dan Rayyan dulu sudah pernah melakukan hal yang ... ah, sudahlah.


"Kamu duluan aja, ya."


"Ya udah, kalau gitu." Rayyan tak memaksa, dan lantas bergerak menuju pintu kamar mandi yang terletak agak ke ujung dalam ruang kamar tersebut.


Saat Rayyan sedang berada di kamar mandi, Aura langsung bangkit dari duduknya. Ia merasa gugup untuk melewati malam ini bersama Rayyan kendati ini bukan yang pertama kalinya bagi mereka.

__ADS_1


Aura sedikit tersentak saat suara deringan ponselnya terdengar. Sebuah nomor asing yang tampak memanggilnya disana. Aura mencoba mengabaikan, tetapi ponselnya kembali menjerit-jerit seolah ingin segera diangkat.


"Hallo?"


"Hai, Aura."


Tunggu, Aura seperti mengenal suara ini. Ini adalah Lucy.


"Kau pasti senang sekali ya. Akhirnya berhasil kembali menikah dengan Ray."


Aura terdiam dengan jantung yang mendadak berdebar kencang, dari nada bicaranya--Aura tau jika orang yang meneleponnya ini tidak menyukai pernikahannya dengan Rayyan.


"... dari awal, aku sudah menebak jika kau adalah mantan istri Ray." Suaranya terdengar sarkas.


"Apa maumu Lucy?" tanya Aura akhirnya. Ia meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja, apalagi Rayyan sudah mengatakan padanya jika pria itu dan Lucy tidak memiliki hubungan apapun.


"Tidak ada, aku cuma mau mengingatkanmu saja."


"...."


"Aku cukup tau bagaimana dulu kau memperlakukan Ray dalam pernikahan kalian sebelumnya. Untuk itu, apa kau tidak curiga kenapa Ray langsung mau menikahimu kembali?" ujar Lucy.


"Curiga? Kenapa aku harus curiga pada suamiku sendiri?"


Suara tawa sumbang terdengar dari Lucy di seberang sana.


"Kau harusnya sadar, Aura! Kalau Ray menikahimu lagi untuk membalas semua kelakuanmu dulu kepadanya. Jadi, jika sekarang kau sudah menyandang status sebagai istrinya, jangan langsung senang dulu, karena berhati-hatilah! Itu artinya kau harus siap menerima neraka yang akan Ray berikan dalam rumah tangga kalian."


"Tidak mungkin!" sangkal Aura.


"Kau bisa saja mengatakan itu tidak mungkin. Tapi ku pikir kau tidak lupa bagaimana dulu kau memperlakukan Ray. Ku rasa Ray tidak akan terlalu bodoh untuk menerimamu kembali kecuali untuk membalas dendam atas kelakuanmu itu."


Aura terdiam, mendadak jantungnya mencelos mendengar perkataan Lucy.


"Kau juga pasti tidak lupa kan, bagaimana dekatnya aku dengan Ray?" Lucy berdecih singkat disana. "Ray akan meninggalkanmu setelah dendamnya terbalas, dia hanya akan kembali padaku. Jadi, ingat itu baik-baik!" tukasnya kemudian.


"Aku ... tidak ... percaya padamu!" tekan Aura dengan rasa gamang.


"Itu terserahmu, sejak awal sudah ku bilang jika aku hanya mau memperingatkanmu!"


Sambungan seluler itu terputus sebelah pihak. Bersamaan dengan itu, pintu kamar mandi tampak terbuka dan menampilkan sosok pria yang baru saja menikahi Aura kembali.


”Kenapa, Ra? Apa ada masalah?" tanya Rayyan yang melihat istrinya terdiam mematung di dekat sofa.


Aura menggeleng sambil menatap Rayyan lekat-lekat. Sedikit banyak, ucapan Lucy tadi cukup mempengaruhinya dan membuat Aura khawatir. Bukan ia lebih percaya Lucy ketimbang Rayyan, tapi ucapan Lucy yang mengingatkan akan kelakuannya dimasa lalu tadi cukup membuat Aura berpikir, apa mungkin benar Rayyan akan membalas kelakuannya yang dulu?


"Kamu gak mau mandi?" tanya Rayyan.


"Ng--iya, aku mandi dulu ya."


Aura segera berlalu, setelah sebelumnya menyunggingkan senyum kaku dihadapan sang suami.


Rayyan merasa ada yang aneh pada Aura, namun ia mengira mungkin itu karena Aura masih canggung dengan keberadaannya.


...Bersambung ......

__ADS_1


Dukungannya mana? Kok gak ada sih😪 Dilanjut apa enggak ini??


__ADS_2