
Mendengar ujaran sang Nenek, cukup membuat kemarahan Rayyan tersulut. Kenapa mata nenek seolah tertutup akan semua kesalahan yang diperbuat oleh Tante Inggrid? Bukankah sudah terlalu banyak yang wanita itu lakukan dan disadari oleh nenek juga? Kenapa nenek tidak pernah melihat sisi buruk putrinya. Jika nenek terus mendukung Tante Inggrid sampai ke perbuatannya yang salah--maka selamanya Tante Inggrid tak akan pernah berubah.
"Gak bisa, Nek. Saya gak bisa menerima Tante Inggrid disini. Rumah saya bukan tempat penginapan," tegas Rayyan kemudian.
"Lho, kenapa? Nenek kamu terima disini, kenapa Inggrid gak diizinkan juga sekalian?"
Rayyan menghela nafas singkat. "Itu keputusan saya, dan tidak bisa dirubah sampai kapanpun!" pungkasnya.
"Hei, Rayyan! Makin sok aja kamu ya. Kamu itu hidup dari hasil peternakan milik Kakakku! Dan sekarang kamu kaya karena keluarga istrimu yang berpengaruh, jadi jangan sombong! Apartmen sebesar ini masa gak bisa menambah satu penghuni saja!" ketus Inggrid menimpali.
"Saya sudah kehabisan waktu untuk meladeni Tante ..." Rayyan langsung menelepon seseorang disana yang sepertinya adalah pihak pengamanan gadung.
"Pak, bisa bantu saya membawa seseorang untuk keluar dari unit saya?"
"...."
"Ya, ya, tower 30."
Mendengar percakapan Rayyan dengan seseorang yang diyakini Inggrid sebagai security, membuat matanya langsung membola.
"Tega kamu mengusir Tante dengan cara seperti ini, Rayyan!" protes Inggrid.
"Rayyan, kenapa kamu melakukan itu sama tantemu?" timpal Nenek.
Rayyan tak menyahut, ia keluar dari huniannya saat itu juga tanpa sepatah katapun lagi. Ia juga tak jadi mengajak Nenek untuk ke kediaman keluarga Aura.
Rayyan tiba di mobilnya dan mendapati Aura yang menatapnya penuh tanya disana.
"Kenapa, Mas?"
Rayyan memijat pangkal hidungnya sekilas, sebelum akhirnya ia menyalakan mesin mobilnya kembali.
"Mas?"
"Nanti aku ceritain," kata Rayyan pelan.
Aura sepertinya memahami jika sesuatu telah terjadi dan ia tidak memaksa lagi agar sang suami langsung menceritakan keadaannya.
Hampir dua puluh lima menit berkendara dan mobil yang dikemudikan Rayyan mulai memasuki kawasan tempat tinggal mertuanya, ia baru membuka suara kembali.
"Tadi Tante Inggrid datang," mulainya.
Aura langsung menoleh pada wajah suaminya yang sejak tadi sudah memilih diam saja dibalik kemudi.
__ADS_1
"Dia mau ikutan nginap di Apartmen kita," jelas Rayyan lagi.
"Terus, kamu jawab apa? Apa kalian bertengkar?" tebak Aura. Ia masih ingat bagaimana kejadian tempo hari dimana Tante Inggrid yang sekonyong-konyong datang ke kediaman orangtuanya untuk mengganggu ketenangan Rayyan.
"Iya, aku gak ngasih dia nginap disana."
"Seharusnya biarin aja, gimanapun juga dia kan Tante kamu, Mas."
"Kamu gak ngerti, Ra. Tante Inggrid itu ... ah, sudahlah."
Rayyan ingin mengatakan jika Tante Inggrid selain mewarisi sikap ketus neneknya juga memiliki karakter lain yakni seperti parasit yang mau membelit siapapun yang dianggapnya menguntungkan dirinya sendiri.
"Mungkin selama ini dia hidup dengan kurang nyaman, Sayang. Kan kamu sendiri yang bilang dia udah gak tinggal di peternakan lagi sejak bawa kabur sertifikat palsu itu."
"Ya, mana berani dia balik kesana kan statusnya udah bukan siapa-siapa lagi karena aku buat surat perjanjian."
"Ya udah, gak apa-apa dong kalau beliau mau tinggal bareng kita, siapa tau dia bisa berubah juga kayak nenek."
Mobil yang dikendarai Rayyan tiba di pelataran rumah Orangtua sang istri.
"Gak, gak! Dia hidup susah karena kelakuannya sendiri, jadi itu murni kesalahannya kalau sekarang dia hidup dengan tidak nyaman."
Aura membuka seatbelt-nya saat Rayyan sudah turun lebih dulu dari dalam mobil.
Rayyan membawa istrinya dalam gendongan. "Kamu ngerti, kan? Jangan pernah menerima Tante Inggrid dalam kehidupan rumah tangga kita kalau kamu masih mau kita baik-baik aja," ujarnya kemudian.
"Assalamu'alaikum, Ma, Pa."
"Waalaikumsalam."
Papa Sky dan Mama Yara keluar untuk menyambut keduanya dan mulai berbincang di sofa rumah tamu saat Rayyan telah mendudukkan Aura dalam posisi yang nyaman disana.
Mereka mulai membahas soal keadaan Aura dan awal mula kejadian itu terjadi. Syukurnya kondisi Aura akan segera memulih yang artinya ia akan bisa berjalan kembali.
"Gak apa-apa ya, Sayang. Anggap sakit kamu sebagai ujian dan penggugur dosa," kata Mama Yara berusaha menguatkan sang putri, sudah lama ia tidak mengelus rambut Aura--tepatnya sejak Aura kembali ke Indonesia dan memutuskan untuk menikah lagi dengan Rayyan.
Mama Yara melanjutkan pembicaraan setelah papa Sky dan Rayyan beranjak dari sana. Kemana lagi jika bukan main catur.
"Ra?"
"Ya, Ma?"
"Gimana rumah tangga kamu?" tanya Mama Yara.
__ADS_1
"Semuanya baik-baik aja kok, Ma."
"Kamu bahagia? Gak nyesel kan udah mau balik sama lelaki yang sama?" Mama Yara tersenyum menggoda putrinya.
"Justru aku bakal nyesel kalau sampai mas Rayyan dimiliki oleh wanita lain, aku pasti bakal ngerasa bodoh setiap harinya, Ma. Karena Mas Rayyan pendamping yang terbaik buat aku."
Mama Yara mengangguk, sejak awal ia sudah memahami bagaimana perasaan Rayyan pada putrinya. Membayangkan sedalam apa rasa itu sebab Rayyan sudah menaruh hati pada Aura sejak mereka masih amat muda.
"Mama seneng kamu bahagia, Nak."
"Iya, Ma. Lihat, kakiku begini aja Mas Rayyan yang paling sabar menghadapi aku. Padahal aku selalu saja pesimis dan kehilangan semangat. Kalau aku gak memiliki suami seperti dia, aku pasti gak bisa bangkit lagi, Ma. Karena support dari dia begitu berarti buat aku."
Sekarang Mama Yara tersenyum simpul. "Sejak awal berarti Mama gak salah kan udah minta dia tanggung jawab?" godanya dengan menaik-naikkan alis.
"Iya, pilihan Mama emang paling the best," kata Aura sembari mengacungkan jempol. "Tapi ..." Aura tampak ragu melanjutkan kalimatnya.
"Tapi kenapa, Nak?"
"Belakangan hari kami lagi sibuk buat bujuk Nenek nya Mas Rayyan, Ma. Hampir luluh sih, tapi sekarang Tante Inggrid malah datang juga ke tengah-tengah rumah tangga kami."
"Bagaimanapun mereka masih bagian keluarga suamimu, Nak. Jadi, kamu juga harus menerima kehadiran mereka ya."
"Iya, Ma. Aura ngomong gini bukan berarti Aura gak menerima kehadiran keduanya tapi Aura mau Mas Rayyan juga menerima itu," paparnya.
"Memangnya Rayyan gak suka sama kehadiran mereka? Terus mengenai hal yang sempat mama dengar--soal Rayyan yang menelantarkan Nenek dan Tantenya itu memang benar, ya?" Mama Yara memang tak sengaja mendengar percakapan Rayyan dan Inggrid ketika wanita itu menyambangi kediaman ya tempo hari--sebab waktu itu suara Inggrid menggema di seluruh penjuru ruangan seolah mau menunjukkan bahwa kata-katanya itu adalah benar.
"Bukan gak suka dan gak menerima kehadiran mereka, Ma. Tapi Tante Inggrid dan Nenek yang sejak awal gak pernah menganggap Mas Rayyan ada."
"Kok gitu?"
Aura mulai menceritakan pada sang Mama mengenai apa yang terjadi dalam keluarga Rayyan. Ia bukan mau mengumbar aib keluarga suaminya tapi ia hanya tak mau sang Mama salah tanggap mengenai hal yang simpang-siur pernah didengarnya itu.
"Ya wajar aja sih Rayyan bersikap tegas sama tantenya. Kan emang kelakuan tantenya kelewatan," respon mama Yara setelah mendengar semuanya dari sang putri.
"Ya, Ma. Aku udah memahami situasinya sekarang. Mas Rayyan kadang merasa bersalah juga, dia juga lelah tapi mau bagaimanapun ya mereka tetap keluarga Mas Rayyan, kan?"
"Terus, apa rencana kamu buat semua ini?"
"Ya kalau bisa Mas Rayyan, Nenek dan Tante Inggrid saling memaafkan dan hidup layaknya keluarga yang damai tanpa perseteruan. Aku pasti maunya yang adem-ayem, Ma. Tapi, balik lagi sama kebiasaan dan tabiat Tante dan nenek mas Rayyan yang seperti tadi aku bilang, semuanya jadi susah karena pembawaan diri mereka yang seperti itu."
Mama Yara paham bagaimana keadaan Rayyan yang serba salah sekarang. Mau ditolak datang tapi masih keluarga, mau diperhatikan tapi Inggrid dan Nenek sering kelewatan. Semuanya seakan sulit untuk diteruskan.
"Coba deh, nanti kamu ajak aja mereka gabung sama keluarga kita. Anggap aja undangan makan malam keluarga. Nanti biar Mama cerita ke papa, dan cari solusi terbaiknya bagaimana. Biasanya papamu punya pemikiran dan ide yang tidak bisa kita duga."
__ADS_1
...Bersambung ......
...Bersambung ......