Dijebak Di Malam Pengantin

Dijebak Di Malam Pengantin
51. Mengundurkan diri


__ADS_3

Aura tampak sangat tergesa-gesa hari ini, ia menyimpan semua perlengkapannya di sebuah dus berukuran sedang dan hal itu membuat Wilow yang menghampiri kubikelnya menjadi keheranan.


"Kau hanya cuti, kan? Kenapa semua barang-barangmu harus kau kemasi?"


Aura hanya menipiskan bibirnya, ia tak berniat menjawab pertanyaan Wilow.


"Kau pulang setengah hari? Bukannya kau masih berangkat lusa?"


"Ya, untuk itu datanglah ke Apartmenku besok. Ajak Sylvia dan Ghea juga."


"Kau terlihat misterius! Aku tidak suka jika kau menyembunyikan sesuatu seperti ini," protes Wilow.


Tanpa pernah Wilow perkirakan, rupanya Aura memeluk tubuhnya secara tiba-tiba.


"Maaf ya, kalau selama ini sikapku sering menyebalkan."


Wilow melerai pelukan itu demi melihat wajah sahabatnya. "Kau ini, seperti tidak akan bertemu lagi saja," protesnya akan sikap Aura.


Aura tertawa pelan, kemudian undur diri dari hadapan Wilow sambil membawa dus-nya.


Sebelum pergi, ia kembali bersuara pada temannya itu.


"Jangan lupa, besok kalian harus datang ke Apartmenku," katanya mengingatkan.


"Iya, iya. Berhati-hatilah di jalan pulang."


Aura mengangguk dan melanjutkan langkahnya untuk pulang karena ia sudah pamit untuk pulang lebih awal, sedangkan Wilow kembali bekerja di kubikelnya sendiri.


Saat Aura keluar dari ruang divisinya, ia berpapasan dengan Darren disana.


"Ku dengar kau mau pulang ke Indonesia, Ra?" sapa pria itu berbasa-basi.


"Iya, saudaraku akan menikah."


"Apa saudaramu yang playboy itu?" kelakar Darren.


Aura tersenyum lalu mengangguk.


Melihat Darren, Aura jadi teringat soal kejadian kemarin malam, dimana Wilow sempat melihat pria itu bersama dengan Lucy dan garisbawahi ini--jika keduanya tampak mesra.


Sejujurnya, Aura ingin menanyakan hal itu pada Darren, tapi dia pikir untuk apa? Sejak awal, Aura bahkan menyadari jika ini bukan urusannya dan lagi itu adalah hubungan pribadi Darren.


"Sudahlah, Aura. Berhenti ingin tau dan berisikaplah masa bodoh!" Begitulah batin Aura memperingatkan dirinya sendiri.


"Apa mau ku antar?" tawar Darren.


"No, thanks, kau masih di jam kerja, lagipula aku tidak mau merepotkan mu."


"Aku bisa meminta izin untuk keluar sebentar."


"Tidak usah, Darren. Semoga harimu menyenangkan."


"Baiklah. Semoga harimu menyenangkan, Aura," balasnya.

__ADS_1


Aura keluar dari gedung kantornya dan menaiki taksi. Dari dalam kendaraan itu, ia menatap sekali lagi ke dalam bangunan yang sudah menjadi tempat kerjanya selama setahun belakangan. Ini memang hari terakhir Aura berada disini sebab ia sudah mengundurkan diri.


Awalnya Aura hanya ingin mengajukan cuti, tetapi itu terlalu mendadak dan ia gagal mendapatkannya. Akhirnya, Aura mengambil sebuah keputusan besar untuk berhenti bekerja saja. Lagipula, ia tidak tau akan kembali kesini lagi atau tidak setelah menyaksikan pernikahan Cean, nanti.


(Oh iya, Kisah Cean ada di judul TETANGGA MERESAHKAN. Jangan lupa mampir🤭)


Aura sengaja tidak memberitahukan pada Wilow dan temannya yang lain tentang hal ini karena ia takut mereka justru akan heboh di jam kerja dan Aura tak mau melihat wajah sedih mereka nanti. Untuk itulah Aura mengajak mereka berkumpul di Apartmennya besok.


...*...


Keesokan harinya, Aura membuka pintu Apartmennya untuk menyambut kedatangan Wilow, Ghea dan Sylvia.


Mereka bertiga datang dengan bingkisan yang cukup banyak.


"Kenapa repot-repot? Aku bahkan memasak untuk kalian," kata Aura yang menerima banyak makanan dari ketiga temannya itu.


"Kau memasak? Wah, kebetulan aku memang lapar," celetuk Sylvia dengan sikapnya yang cuek.


Mereka menempati sebuah meja makan berbentuk persegi panjang dan menduduki kursi yang ada disana.


"Wah, ternyata kau pintar memasak ya?" kata Ghea yang melihat begitu banyak makanan disana.


"Aku belajar memasak di sela-sela waktu kosong, aku sadar selama ini aku tidak pernah memasak untuk diriku sendiri pun saat aku menjadi seorang istri."


Wilow yang hampir memasukkan sebuah panganan ke mulutnya, tidak jadi menelan itu karena ujaran Aura. Ia menghampiri wanita itu dan merangkulnya dari samping.


"Aku percaya, setiap perubahanmu yang lebih baik, kau akan mendapatkan balasan yang baik juga. Semoga suatu saat nanti, kau bisa berubah semakin baik dan dapat belajar dari masa lalu untuk mendapatkan pasangan yang juga lebih baik." Wilow memberikan Aura motivasi untuk menyemangatinya.


Sylvia dan Ghea ikut-ikutan memeluk Aura yang terduduk disana. Aura merasa sangat senang bercampur sedih, apalagi sekarang ia harus mengatakan salam perpisahan pada ketiga teman dekatnya ini.


"Ya, Aura pasti bisa melewati setiap masalahnya dan dia akan kembali bersuka-cita." Sylvia ikut-ikutan memberi semangat.


Aura meneteskan airmatanya, ia terharu dengan kebersamaan dan sikap hangat para sahabatnya. Setidaknya, sejak mengenal mereka dunia Aura sedikit berbeda. Ia pun tidak pernah mengingat masa lalunya yang kelam lagi. Begitu juga dengan traumanya, memiliki teman-teman baik juga merupakan rezeki bagi wanita itu.


"Thanks, all. Kalian memang teman terbaik yang ku miliki."


Aura membalas pelukan mereka seadanya. Kemudian membiarkan semua temannya itu mencicipi masakannya lebih dulu barulah ia akan mengutarakan yang sebenarnya.


Seusai makan, mereka memilih menonton film di ruang tv. Sebuah film tentang persahabatan pun diputar. Disaat mereka tengah fokus pada tv layar datar itu, Aura memulai perkataannya.


"Guys, selain mengajak kalian makan-makan di rumahku hari ini, aku juga mau menyampaikan salam perpisahan. Aku... aku akan segera meninggalkan Jerman untuk waktu yang tidak bisa ku utarakan. Aku juga sudah mengundurkan diri dari pekerjaan, untuk itu ku harap hubungan kita kedepannya akan baik-baik saja meski kita akan jarang bertemu. Aku juga akan memastikan untuk hadir diwaktu-waktu terbaik yang kalian miliki."


Ucapan Aura itu sontak membuat ketiga temannya gagal fokus dengan film. Mereka memang tau Aura akan pulang ke Indonesia, tapi mereka tak pernah mendengar jika Aura akan meninggalkan kantor juga untuk selamanya. Hal itu lantas membuat mereka merasa sangat terkejut sekaligus bersedih.


"Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal?" tanya Wilow.


"Kenapa mendadak, Ra?" timpal Sylvia.


Dan Ghea yang lebih dulu menangis. "Kau mau pergi pasti karena kau memiliki masalah lagi, kan?" tebaknya.


Aura menenangkan Ghea yang umurnya memang paling muda diantara mereka, baginya gadis itu sudah seperti adik.


"Jangan nakal ya, aku akan datang berkunjung kapan-kapan," pesannya pada gadis kecil itu.

__ADS_1


"Ternyata ini yang kau sembunyikan dariku, Ra?" Wilow menatap nanar pada Aura, ia seperti menahan tangisan.


"Maaf, maafkan aku. Aku tidak bermaksud merahasiakannya dari kalian."


"Semoga kau menemukan kebahagiaanmu, Aura!" Sylvia memeluk Aura dengan wajahnya yang berubah sendu.


...***...


Kabar kembalinya Aura ke Indonesia, sudah terdengar sampai ke telinga Rayyan. Ia sudah dapat menebak ini karena ia juga sudah mendengar mengenai pernikahan Cean.


Hal ini turut membuat Devon dan Carl menanyakan pada pria Indonesia itu.


"Apa Aura tidak bilang padamu soal kepulangannya?"


Rayyan hanya menggeleng samar.


"Dia tidak pamit padamu?" Carl bertanya pada Devon.


"Tidak, kenapa dia harus pamit padaku?" jawab Devon yang malah ikut bertanya.


"Ku pikir kau sedang mendekatinya."


"Memang aku mendekatinya, tapi dia selalu menghindar dariku. Belakangan hari dia juga tidak pernah mau ku antar pulang."


Carl manggut-manggut akan ujaran Devon. "Ku pikir tidak ada yang bisa menolak pesonamu, Dev! Nyatanya Aura tidak setertarik itu padamu!" ejeknya.


"Sialan kau ini!" umpat Devon, keduanya tertawa-tawa sampai akhirnya Rayyan yang sejak tadi diam melihat mereka kembali buka suara.


"Aura menjahuimu karena permintaanku," katanya merujuk pada Devon.


"Kenapa kau menyuruhnya menjauhiku dan kenapa dia harus menuruti permintaanmu?" ujar Devon tak terima.


"Ku pikir Lucy benar, kau playboy karatan dan tidak seharusnya mendekati Aura," jawab Rayyan terus terang.


Devon mendengkus keras. "Kau ini! Sudah ku katakan jika aku tidak pernah seserius itu pada seorang wanita, tapi pada Aura aku benar-benar serius. Bahkan jika saat ini kau menantangku untuk mengejarnya ke Indonesia maka aku akan melakukannya," ujarnya berapi-api.


"Jangan terlalu berusaha!" kata Rayyan menepuk pundak Devon.


"Kenapa? Atau kau juga tertarik pada Aura?"


Rayyan hanya mengendikkan bahu cuek. Tidak pernah ada yang tau jika wanita itu adalah mantan istrinya.


"Kalau kau memang tertarik pada Aura, lalu bagaimana dengan Lucy?" timpal Carl yang masih ada disana.


Rayyan menoleh, tersenyum dan menampakkan lesung dipipinya.


"Aku tidak memiliki hubungan dengan Lucy. Dia yang mengejar ku seperti anak ayam. Sekarang apa kalian melihatnya bersamaku lagi?"


Kedua lelaki itu menggeleng, sebab akhir-akhir ini Lucy memang jarang terlihat bahkan di organisasi mereka.


"Karena Lucy sudah lelah. Aku tidak pernah menggubrisnya, jadi ku bebaskan dia untuk mencari pria lain, yang mungkin bisa membahagiakannya," ujar Rayyan tenang.


"Apa selama ini kau memanfaatkannya?" tanya Carl kemudian.

__ADS_1


"Aku tidak memanfaatkannya, seperti yang tadi ku katakan jika Lucy yang selalu mengejar ku, aku tidak pernah memberinya harapan sebab sejak awal aku sudah mengatakan padanya jika dia hanya seorang adik bagiku."


...Bersambung ......


__ADS_2