Dijebak Di Malam Pengantin

Dijebak Di Malam Pengantin
73. Perhatian Nenek


__ADS_3

Rayyan sangat terkejut saat mendapati istrinya sudah berada di lantai kamar dalam posisi terduduk. Padahal, ia baru saja keluar dari kamar untuk mengisi air minum untuk Aura yang mungkin akan kehausan ditengah malam seperti kebiasaan Aura biasanya.


"Sayang! Kamu ngapain?" tanya Rayyan. Buru-buru ia meletakkan dispenser air berukuran kecil diatas nakas, dan langsung menghampiri posisi istrinya.


"Aku gak apa-apa, Mas. Aku cuma mau ke kamar mandi aja." Aura tampak tersenyum tapi entah kenapa Rayyan trenyuh melihat senyumnya itu.


"Aku bantu ya. Harusnya kamu jangan turun dari tempat tidur sendiri. Kaki kamu lagi sakit, jadi kamu harus tungguin aku," kata Rayyan sembari mengangkat tubuh sang istri agar berada dalam gendongannya.


"Aku gak mau terus ngerepotin kamu, Mas. Aku mau jalan sendiri. Udah dua hari ini aku ngerepotin kamu terus," kata Aura tanpa berani menatap pada sorot mata Rayyan.


Rayyan meletakkan Aura secara perlahan agar terduduk di kloset, berniat membantu Aura untuk buang air kecil.


"Aku bisa, Mas!" cegah Aura saat Rayyan hendak membukakan bawahannya.


Rayyan mengangguk samar, sebenarnya ia juga sedih melihat istrinya dalam kondisi demikian, tapi ia berusaha untuk tetap kuat dihadapan Aura dan seolah semuanya akan baik-baik saja.


Kemarin, Rayyan sudah mengajak istrinya untuk pulang ke kota. Pun ingin mengabarkan keluarga Aura mengenai kondisi wanita itu sekarang, tapi Aura mencegahnya. Aura juga belum mau kembali ke Apartmen mereka, karena ia mau kembali setelah perasaannya mulai lebih baik dan bisa menerima keadaan kakinya yang tidak bisa digerakkan.


Saat Aura sudah selesai menuntaskan hajatnya, Rayyan kembali membopong tubuh istrinya menuju tempat tidur mereka, ia tau hati Aura saat ini pasti sangat sedih karena merasa rendah diri karena keadaan kakinya saat ini.


"Sayang, besok pagi-pagi kita pulang ke kota, ya. Nanti disana, kita lihat pengobatan apa yang bagus biar kamu cepat sembuh. Semakin cepat dilakukan itu semakin baik, aku mohon kamu mau ya. Aku mau yang terbaik untuk kamu," kata Rayyan yang lagi-lagi meyakinkan Aura meski sebelumnya ia juga sudah mencoba mengajak istrinya namun selalu ditolak oleh wanita itu.


Aura tampak diam, seperti larut dalam pemikirannya sendiri pun memikirkan ucapan suaminya. Sebenarnya ia belum siap dengan keadaannya ini. Tidak. Ia memang tidak pernah menyiapkan diri untuk hal semacam ini, sehingga ia masih merasa terkejut mendapati diri yang sulit melakukan apapun karena keterbatasan kakinya.


"Sayang? Kamu mau, kan?" Lagi-lagi Rayyan mencoba membujuk Aura.


Dan anggukan dari kepala Aura membuat Rayyan akhirnya bisa bernafas lega.


"Semua bakal baik-baik aja. Aku yakin kamu pasti bisa kembali seperti dulu. Kamu harus tetap semangat ya." Rayyan mengelus rambut Aura dengan lembut dan penuh kasih sayang.


...***...


"Jadi, istrinya Rayyan sekarang gak bisa jalan karena jatuh di kebun strawberry nya si Rahman, Ma?" sergah Inggrid begitu mendengar kabar terbaru dari Nenek.

__ADS_1


"Iya. Gimana dong ini? Mama bahkan belum sempat manfaatin dia. Dan yang mama denger, Rayyan itu ngajakin Aura untuk segera balik ke kota."


"Ini gak bisa dibiarin, Ma. Dia boleh balik ke kota kalau Mama udah dapatin sesuatu dari dia," jawab Inggrid kesal.


"Ya terus gimana? Mama juga belum ngelakuin apapun, karena kejadian ini diluar prediksi kita, kan?"


Inggrid tak menyahut, sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu diseberang sana.


"Gimana kalau mama nunjukin rasa prihatin dari kejadian yang menimpa dia. Nanti, kalau dia beneran ke kota, mama sekalian minta ikut aja."


"Kalau itu Mama bisa mencobanya. Tapi, apa Rayyan mau ajak Mama ke kota?"


"Ayo coba dulu, Ma! Mama buat Aura bujuk si Rayyan biar nerima Mama yang mau ikut. Nanti kalau Mama udah ke kota, aku bakal lebih mudah temuin Mama, karena aku gak perlu pulang ke peternakan jauh-jauh untuk ketemu sama Mama."


"Ya udah, besok deh Mama coba."


Pagi harinya, Aura dan Rayyan sarapan bersama di meja makan. Kebetulan sekali hari ini Nenek ikut bergabung disana setelah hari-hari sebelumnya nenek enggan untuk berada dalam satu meja yang sama dengan mereka berdua.


Biarlah ini menjadi alasan perubahan Nenek. Biar Aura mengira jika kecelakaan yang menimpanya masih memilihi hikmah yaitu nenek menjadi baik kepadanya, padahal tidak demikian.


"Ehemm ..." Nenek berdehem sekilas. "Saya dengar, kaki kamu lagi sakit?" tanyanya kemudian.


Aura lantas mengangkat wajah, ia sedikit terperangah mendengar nenek yang menanyakannya. Apa ini artinya nenek sudah menaruh perhatian padanya?


"Iya, Nek. Kemarin Aura jatuh di kebun strawberry," akui wanita itu.


"Kenapa gak hati-hati?" Nenek terdengar ketus, seperti nada bicaranya yang biasa-- namun ia tetap menunjukkan perhatian agar Aura tau jika dia mulai peduli sekarang. "Itu pasti cuma keseleo, nanti kamu juga bisa jalan lagi. Yang penting jangan hilang semangat," tuturnya.


Rayyan sedikit mengerutkan dahi mendengar ucapan sang Nenek yang ketus--namun disaat yang sama--tak bisa dipungkiri---nenek juga terdengar perhatian. Ini seperti bukan nenek, pikir Rayyan.


Aura yang tadinya memasang wajah sendu, sekarang mulai bisa tersenyum. Ia menyadari Nenek dari suaminya ini mulai menaruh perhatian kepadanya.


"Iya, Nek. Makasih ya, nenek udah mau peduli sama Aura," ujarnya tulus.

__ADS_1


"Hmm... dulu saya juga pernah seperti itu, jatuh tapi akhirnya bisa jalan lagi. Yang penting ada keinginan untuk sembuh dan jangan terlalu dipikirkan ke arah yang negatif. Yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja."


"Nenek juga pernah? Terus sembuhnya gimana?" tanggap Rayyan pula.


"Iya, waktu masih remaja dulu nenek pernah jatuh juga. Akhirnya di urut beberapa kali dan sembuh."


Sekali lagi Rayyan mengernyit, baru sekali ini neneknya menjawab pertanyaannya dengan nada biasa. Seumur-umur, Rayyan tidak pernah mendengar neneknya peduli padanya. Tapi kenapa sekarang sang nenek terlihat mau mempedulikan Aura? Apa pintu hati neneknya memang mulai terketuk dan prihatin karena kondisi Aura?


"Kalau gitu, apa Aura bisa seperti itu juga, Nek?" tanya Aura mulai semangat karena perkataan Nenek.


"Ya iya, kamu masih muda. Penyembuhannya bahkan bakal lebih cepat."


"Jadi, gak perlu ke rumah sakit buat lihat fraktur tulang?" tanya Aura kembali.


Rayyan diam, dia masih memperhatikan dalam sikapnya yang tenang. Untuk pertanyaan Aura yang terakhir, Rayyan kurang setuju, karena ia ingin memastikan keadaan tulang kaki sang istri.


"Ya gak perlu! Urut aja sama tukang urut kampung, pasti sembuh," ucap Nenek dengan tampang penuh keyakinan.


"Tapi hari ini kita bakal pulang ke Jakarta buat rontgen, Nek," timpal Rayyan.


Mendengar itu, mata Nenek sedikit mendelik kecil. Benar dugaannya jika mereka akan segera kembali ke kota.


"Kalau gak mau denger saran dari saya ya sudah," kata Nenek dingin.


"Bu-bukan gitu, Nek!" Aura mengibaskan kedua tangannya sambil melirik Rayyan, memberi isyarat pada sang suami agar tidak melanjutkan kalimat yang mungkin akan menyinggung hati wanita tua itu. "Mas Rayyan cuma mau lihat kondisi tulang kaki Aura aja. Ya, kan, Mas?"


Rayyan mengangguk. "Maaf kalau nenek tersinggung."


"Kalau keyakinan nenek ... kaki istrimu itu gak kenapa-kenapa, cuma keseleo aja. Tapi kalau kalian tetap mau rontgen ya gak apa-apa. Sekalian deh, Nenek ikut juga ke kota biar nenek juga bisa lihat gimana hasil rontgen nya," cetus nenek dengan gampangnya.


...Bersambung ......


Fyi, novel ini bakal tamat di bulan ini ya. Buat yang udh kasih dukungan, terimakasih banyak. semoga kita semua mudah rezeki, sehat dan selalu dilancarkan apapun rencana dan usahanya. Aamiin ...❤️

__ADS_1


__ADS_2