Dijebak Di Malam Pengantin

Dijebak Di Malam Pengantin
67. Show you


__ADS_3

Sedikit banyak, Aura sudah dapat menarik kesimpulan akan hubungan Rayyan dengan Tante Inggrid dan sang Nenek. Untuk itu, Aura mengerti dan memahami jika sang suami mengemban beban yang cukup berat untuk hal ini.


Masalahnya adalah, Rayyan tidak tega untuk menghukum Tante Inggrid sampai ke jalur hukum--meski sebenarnya ia bisa melakukan hal itu. Ditambah lagi, surat pemutusan hubungan keluarga memang berada di tangan Rayyan. Namun, meski Rayyan sudah mengambil tindakan itu, tetap saja didalam hatinya masih ada yang mengganjal. Bagaimanapun, ia masih tetap menghargai hubungan keluarga yang terjalin diantara mereka.


"Jadi, menurut kamu Tante Inggrid datang lagi itu karena apa?"


"Tentu aja karena mau uang." Rayyan tersenyum getir. "Udah lama juga dia gak minta uang, mungkin karena gak ketemu aku di Indonesia. Dan setelah dia tau aku balik ke sini, dia jadi nemuin aku di rumah orangtua kamu," sesal Rayyan.


"Mau gimana lagi, dia pasti tau alamatnya karena Bi Dima kan emang kerja disana dari dulu," tanggap Aura.


"Hmm." Rayyan mengangguk. "Setelah banyak menjual hasil peternakan dan korup dana yang masuk, mungkin uang simpanannya udah habis. Terus, aku juga ada bohongin dia, sih," ungkapnya kemudian.


"Bohong? Bohong apa?"


"Kamu ingat gak, waktu kita di Jerman-- pas pertama-tama kita menikah dulu, aku pernah tiba-tiba pulang ke Indonesia?"


Aura berpikir sejenak, kemudian mengangguk. "Oh, yang pas balik ke Jerman lagi kamu bawa rendang daging buatan Mama aku, kan?" tebaknya.


"Iya, yang itu. Itu sebenarnya aku pulang ke Indonesia karena Tante Inggrid berulah. Tante Inggrid melarikan diri dengan membawa sertifikat tanah peternakan, padahal dia tau kalau Nenek tinggal disana," terang Rayyan.


"Segitunya?" Aura tak habis pikir dengan kelakuan Tante Inggrid, Rayyan pun mengangguk.


"Terus? Kamu bohongin dia apa?" tanya Aura kemudian.


"Sertifikat yang Tante Inggrid bawa, sebelumnya udah aku ganti sama yang palsu. Yang asli ada sama aku karena aku tau kalau dia pasti bakal berulah lagi."


Sekarang Aura manggut-manggut.


"Pasti Tante Inggrid kesal sama aku, karena ternyata sertifikatnya palsu. Mungkin juga dia cari-cari keberadaan aku tapi gak ketemu karena kan aku cukup lama di Jerman. Jadi, baru sekarang dia nemuin aku lagi," terang Rayyan.


Rayyan tampak mengacak rambutnya sendiri. Ia mungkin bimbang untuk menghadapi Tante Inggrid. Sejujurnya, ia tidak mau berurusan lagi dengan sang Tante, tapi tetap saja hidupnya selalu diteror dengan kehadiran wanita itu.


Pernah terpikir oleh Rayyan, bahwa ia ingin sekali saja untuk mempercayai Tante Inggrid dengan memberinya modal--agar wanita itu dapat menghasilkan uang sendiri, tanpa meminta padanya lagi. Tapi Rayyan tidak memiliki kepercayaan itu-- mengingat tabiat Tante Inggrid yang suka berjudi.


Disatu sisi, Rayyan juga memikirkan nasib neneknya. Meski ia ditolak beribu kali, tetap saja itu adalah Ibu dari mendiang Ayahnya. Itu sebabnya Rayyan tak pernah menjual tanah peternakan meski sejatinya sertifikat yang asli ada pada dirinya. Pun adalah hak nya karena itu memang warisan ayahnya yang diberi khusus untuknya.


"Aku bingung, Ra. Dulu mereka yang gak mau menganggap aku keturunannya hanya karena Papi menikahi Mama yang bukan kriteria menantu mereka. Lalu, Papi tidak dianggap anak. Sampai akhirnya, Papi dan Mama berusaha dan bekerja keras untuk memiliki usaha di masa tua, dan hasilnya adalah punya tanah peternakan itu."


Rayyan tampak meluapkan kekesalan dalam ceritanya pada Aura.


"Setelah harta mereka habis dan tau Papi punya aset tanah peternakan yang luas, mereka datang lagi. Tapi tetap saja mereka tidak menganggap aku yang adalah cucu dan keponakannya."


Sekarang Rayyan terlihat hancur saat menceritakan masa-masa dimana ia tidak pernah dianggap ada.

__ADS_1


Jadi, hati Rayyan sudah terlatih sejak lahir. Sering tidak dianggap dan diabaikan. Maka dari itu, perlakuan Aura yang dulu seolah tidak berpengaruh apapun pada pria itu. Bedanya, ia bisa menerima Aura lagi karena ia tau Aura menjadi tulus mencintainya, berbeda dengan Tante dan Neneknya yang tidak berubah meski Rayyan sudah memberikan kesempatan itu berkali-kali. Mereka hanya datang saat butuh dan memanfaatkannya saja.


Aura kembali memeluk Rayyan, berharap perlakuannya dapat menenangkan pria itu. Bagaimanapun, Aura tau jika sekarang suaminya tengah mengingat masa kelam dimana hidupnya selalu diabaikan, tidak dianggap dan hanya didatangi ketika dibutuhkan. Tidak ada timbal balik, jelas Rayyan yang dirugikan. Padahal Rayyan hanya berharap dibalas dengan perlakuan baik, pun dianggap sebagai keturunan.


"Kamu tau gak, setiap problem itu ada jalan keluarnya," celetuk Aura ditengah-tengah kegamangan suaminya.


Rayyan mengadah pada sang istri, menunggu kata apa lagi yang akan diucapkan wanita ini.


"Aku yakin, semua masalah ini juga akan ada jalan keluar yang terbaik."


"Gimana caranya?" tanya Rayyan yang sudah pesimis dan putus asa.


"Kamu emang belum ketemu jalannya. Tapi, mungkin suatu saat mereka bisa berubah. Sama kayak aku. Maaf, dulu aku juga mengabaikan kamu tapi lihat sekarang, aku gak rela kehilangan kamu, bahkan jauh dari kamu sebentar aja aku gak sanggup."


Rayyan tersenyum dengan pernyataan istrinya. "Beda, Sayang," tuturnya lembut.


"Bedanya?"


"Mereka itu udah aku kasih kesempatan berkali-kali. Dan gak ada perubahan. Jangan samain kamu sama mereka, itu berbeda."


"Ya, mungkin mereka belum menyadari aja kebaikan kamu, mata hati mereka masih tertutup. Sama kayak aku dulu yang belum tau kalau kamu adalah lelaki yang paling baik yang dihadirkan dalam kehidupanku."


"Kok jadi gombalin aku, ya?" ledek Rayyan.


"Tapi kan emang bener, mereka belum sadar aja, Sayang. Pasti nanti akan ada saatnya. Kamu gak usah nunggu karena tiba-tiba nanti mereka udah berubah jadi baik," kelakar Aura yang senang melihat Rayyan yang sudah mulai ikut tertawa sekarang.


"Aamiin ... mudah-mudahan aja, ya." Rayyan tetap mengaminkan ucapan Aura, meski ia sendiri tidak yakin jika Nenek dan Tantenya akan berubah mengingat hati mereka sudah mengeras seperti batu selama puluhan tahun.


"Nah, sekarang, suami aku gak boleh galau lagi ya. Nanti, kalau Tante Inggrid datang lagi, kita tanya aja baik-baik, dia maunya apa."


"Kita?"


"Iya, kita. Aku sama kamu, Mas. Aku juga pengen kenal sama Tante sama Nenek juga. Masa gak boleh?"


Aura memiliki keinginan untuk membuat hubungan mereka membaik, meski ia tidak begitu yakin, tapi ia menganggap kedua orang keluarga Rayyan itu hanya belum terbuka mata hatinya--sama seperti dirinya dulu.


"Mereka itu gak akan berubah, Sayang." Rayyan menggenggam jemari Aura.


"Aku aja bisa berubah, kenapa mereka enggak?"


"Ya karena mereka lebih keras daripada kamu."


"Ada ya, yang lebih batu dari aku. Aku pikir aku aja yang begitu," kata Aura disertai cengiran keki.

__ADS_1


Rayyan mengacak rambut Aura gemas. Kemudian memeluk istrinya lagi. "Jangan tinggalin aku, ya. Sekarang kamu udah tau kan, kalau yang aku miliki dan orang yang terdekat sama aku ... cuma kamu aja," paparnya.


Aura mengangguk dalam dekapan Rayyan. Ia selalu merasa menjadi wanita paling berharga dan berarti bagi pria itu.


"Kenapa aku begitu beruntung ditemukan oleh kamu, Ray?" batin Aura. Ia selalu sedih mengingat perlakuannya dulu pada Rayyan, sehingga kini ia tak mau menyia-nyiakan laki-laki itu lagi.


"Kalau gitu, kita makan dulu, yuk! Aku laper, Mas."


"Emang kamu udah masak?"


Aura menggeleng.


"Aku masakin ya, udah lama aku gak masakin kamu," kata Rayyan yang kini sudah bisa kembali tersenyum lepas.


"Gak usah, kamu kan capek. Kita pesan online aja gimana?"


Rayyan mengangguk, lalu menyerahkan ponselnya pada Aura untuk memesan makanan sesuai dengan keinginan wanita itu.


"Udah dipesan?" tanya Rayyan yang melihat Aura sudah mengembalikan ponsel padanya.


"Udah, Mas."


"Ya udah, aku mandi dulu." Rayyan bangkit dari posisinya, namun Aura menarik tangan pria itu.


"Kenapa, Sayang?" tanya Rayyan yang kembali menoleh pada sang istri.


"Ikut," cicit Aura dengan bibir yang menggemaskan Dimata Rayyan.


"Nanti jadi lama," goda pria itu.


Sebenarnya Aura mau menghibur suaminya yang ia tahu hatinya masih gamang karena kedatangan Inggrid yang tiba-tiba. Jadi, ia mengangguk saja meski Rayyan sudah memberi kode bahwa kegiatan mandi itu tidak akan berakhir sekejap.


Melihat Aura yang tak keberatan, Rayyan dengan senang hati menuntun istrinya menuju kamar mandi.


"Tau gak, salah satu hal yang bisa buat stress hilang?" tanya Rayyan.


"Emang kamu lagi stress? Kalau iya, aku punya obatnya," balas Aura meladeni ucapan Rayyan yang ia tau kemana arahnya.


Rayyan tersenyum smirk. "Apa obatnya?" bisik Rayyan seduktif.


"Come to me ... and i'll show you," jawab Aura dan ditanggapi Rayyan dengan langsung menangkup pipi wanita itu dan menghujani bibirnya dengan ciuman panas.


...Bersambung ......

__ADS_1


Minta kopi boleh gak sih?💚


__ADS_2