
Aura sempat tercengang sejenak saat mendengar perkataan Rayyan, tapi buru-buru ia menetralkan perasaannya yang mendadak membuncah akibat situasi ini.
Tentu saja dengan senang hati Aura berpindah posisi, duduk disebelah pria berlesung pipi yang mulai mengemudi.
Jangan tanyakan atmosfer yang ada didalam kabin mobil itu, sebab meskipun itu dingin sedingin sikap Rayyan saat ini tapi tetap saja Aura merasa bersyukur. Bukankah dia beruntung?
Aura menahan senyuman yang hampir saja tersungging di bibirnya. Jika ini cuma mimpi, tolong jangan bangunkan ia secepatnya, karena demi apapun ia mau terjebak berlama-lama di dalam kondisi ini. Tidak perduli malam menjadi pagi, kemudian berubah menjadi siang kembali.
"Ray?" Menepiskan rasa gugup, Aura memilih untuk buka suara lebih dulu sebab pria disisinya tampak terlalu fokus ke jalanan.
Tak mendapat jawaban, Aura menarik nafas dalam-dalam, sebelum akhirnya kembali berbicara.
"... makasih ya, karena kamu udah nolongin aku lagi waktu itu. Aku--aku ... tau ucapan makasih aja gak cukup, tapi walau bagaimanapun aku harus mengucapkannya sama kamu."
Aura menoleh pada pria itu yang hanya merespon ucapannya dengan gumaman pelan.
"Hmm ..."
Meski demikian, Aura tetap senang karena Rayyan mau menanggapinya. Haruskah Aura berlonjak senang saat ini juga?
Untung saja ia bisa menahan keinginan itu.
"Ehm, kamu sekarang tinggal dimana, Ray?" tanyanya kemudian.
"Masih disekitar sini juga."
"Kenapa gak pulang ke Indonesia?"
Rayyan tak menyahut. Aura merasa pertanyaannya salah.
"Maaf ya, aku nanya begitu bukan karena aku mau kamu kembali kesana. Aku senang kok kamu masih di Jerman, itu artinya kamu masih mau ketemu aku."
Tiba-tiba saja Rayyan tertawa, namun itu terdengar sumbang.
"Aku masih disini karena masih betah saja, bukan karena kamu."
__ADS_1
Aura mengangguk-anggukkan kepalanya, ia tau jawaban Rayyan itu terdengar menyentilnya, tapi salahnya sendiri yang berucap terlalu percaya diri tadi.
"Apapun itu, aku bersyukur kamu masih disini dan beberapa kali menyelamatkan aku."
Rayyan tak menjawab, mobilnya berbelok kiri saat menemukan perempatan. Entah kenapa Aura merasa perjalanan mereka sangat lama sekarang.
"Aku ... juga minta maaf ya, Ray," kata Aura pelan sembari menatapi jari jemari di pangkuannya.
"... aku tau aku banyak salah sama kamu. Setelah kita pisah, aku belajar satu hal bahwa aku menyadari seseorang yang begitu berharga setelah aku kehilangannya."
Cukup lama hening menguasai keadaan sampai akhirnya Rayyan berdehem pelan dan mengucapkan sebuah kalimat yang membuat Aura semakin merasa bersalah.
"Sekarang kamu bahagia, kan? Karena aku sengaja menghilang demi kebahagiaan kamu. Kita pisah atas keinginan kamu. Manfaatkan keadaan ini sebaik-baiknya dan raih kebahagiaan kamu sendiri."
Airmata yang entah kapan sudah terkandung di balik kelopak mata Aura-- akhirnya jatuh dan menetes juga. Haruskah Aura jujur jika ia tidak lantas bahagia kendati Rayyan sudah pergi dari hidupnya? Bahkan sekarang hidupnya terasa kosong dan monoton. Bolehkah Aura jujur mengenai perasaannya yang sudah jatuh hati pada Rayyan, namun semuanya telah terlambat?
Lambat laun, mobil itu akhirnya benar-benar berhenti di kawasan gedung Apartmen yang Aura tempati.
"Makasih udah repot anterin aku, semoga kamu dan Lucy juga bahagia. Aku akan berusaha menghadapi semua ini dan enggak menghindarinya, begitu kan yang kamu mau?"
Aura menarik tuas pintu, namun tangan Rayyan mencegahnya.
"Ke-kenapa, Ray?" tanya Aura gugup dengan wajah yang sudah basah oleh airmata.
Rayyan berdehem sekilas, melerai tangannya yang tadi sempat mencekal lengan Aura yang hendak beranjak.
"Jangan terlalu dekat dengan Devon," kata pria itu, matanya menatap ke sembarang arah, tidak mau membalas tatapan Aura yang tampak sendu.
Aura tersenyum, entah kenapa ia malah menangkap nada cemburu dari ujaran pria ini.
"Kamu cemburu aku dekat sama Devon?"
"Ya enggak, hanya saja Devon itu bukan lelaki baik."
Aura malah tertarik untuk memancing Rayyan demi memastikan kecurigaannya tentang perasaan cemburu yang dimiliki pria itu.
__ADS_1
"Yang aku tau dia baik dan selalu sopan sama aku."
"Aku lebih kenal dia daripada kamu."
Dan Aura sudah mendapat jawaban atas rasa ingin tahunya, pria ini benar-benar cemburu atas kedekatannya dengan Devon.
Dengan beraninya, Aura memegang sisi wajah Rayyan, supaya pria itu menatap lurus kepadanya dan tindakan Aura itu membuat Rayyan sedikit gelagapan.
"Ray, kamu cemburu kan? Aku tau kamu masih ada di negara ini karena aku, kan? Aku juga tau, kamu yang bela-belain menyelamatkan aku waktu aku tenggelam tempo hari. Iya, kan? Jawab aku, Ray!" desak Aura.
Rayyan memang membalas tatapan Aura, namun sorot dingin masih terpancar dengan kentara diwajahnya.
"Jangan berpikiran yang berlebihan. Aku di Jerman karena masih ada urusan, dan soal menyelamatkan kamu waktu itu, itu murni karena rasa kemanusiaan. Apa kamu pikir aku bisa membiarkan orang lain tenggelam? Jikapun itu bukan kamu, aku akan tetap menyelamatkan. Jadi, jangan berharap lebih, Aura!"
Aura terdiam. Tentu saja ucapan Rayyan yang menolaknya sangat menyayat-nyayat perasannya.
Akan tetapi, seperti yang sudah ia tanamkan dalam dirinya selama ini, jika Rayyan memang tak akan terpengaruh pada setiap ucapannya.
Lagipula, mana mungkin Rayyan masih mencintainya jika Lucy tampak lebih segala-galanya dari dia. Jelas saja Rayyan lebih memilih Lucy ketimbang dirinya.
Menahan rasa sakit dihatinya, akhirnya Aura benar-benar keluar dari mobil Rayyan, sedikit berlari untuk mencapai gedung Apartmennya, ia tak pernah menoleh lagi ke arah mobil pria itu. Baginya, Rayyan memang tidak akan pernah bisa ia miliki lagi sebab hati dan perasaan pria itu sudah dimiliki oleh wanita lain.
Aura memasuki unit Apartmennya sambil menangis. Ia menahan dadanya yang terasa bergemuruh hebat dan sesak. Tidak, ia tidak menyalahkan Rayyan apabila pria itu benar-benar telah jatuh cinta pada wanita lain. Ini justru adalah kesalahan Aura sendiri yang meminta berpisah dari sang pria dan memberi peluang untuk wanita lain sehingga dapat masuk ke dalam kehidupan Rayyan.
Ini semua karena Aura tak pernah menyangka jika ia bisa memiliki perasaan seperti ini terhadap pria yang sudah ia sakiti. Ia juga tak pernah menduga jika setelah berpisah justru merasa kehilangan Rayyan seperti ini. Apalagi, setelah ia tau Rayyan yang selalu menyelamatkan hidupnya dari dulu, itu menambah rasa bersalah dalam hati Aura, pun semakin membuatnya menginginkan pria tersebut.
"Aku pikir aku akan kuat selama aku gak mendengar penolakan kamu secara langsung, Ray! Tapi nyatanya aku emang gak sekuat kamu ... yang meski udah aku tolak berkali-kali tapi masih tetap kekeuh untuk bersama aku."
Aura tau, penolakan Rayyan padanya hari ini tidak lebih parah daripada sikapnya yang dulu pada lelaki itu. Aura merasa ini adalah harga yang pantas untuk ia terima dan sekali lagi ia harus kuat menghadapi cobaan ini.
Sementara disisi lain, Rayyan tidak kunjung menyalakan mesin mobilnya kembali. Ia justru memukul kemudi, mengumpat diri sendiri dan berkali-kali mengesah frustrasi.
Sekali lagi ia memandang pada arah dimana punggung Aura menghilang ditelan keramaian, ada rasa ingin menyusul terbersit dibenaknya, namun buru-buru ia menepiskan pemikiran tersebut.
"Semoga kamu bahagia, Ra!" ujarnya lemah.
__ADS_1
Lalu, pria itu menyalakan mesin mobilnya, pergi dari posisinya untuk membawa diri kembali ke kediamannya sendiri.
...Bersambung ... ...