
Bujukan dari keluarga Aura, berhasil membuat Nenek mengikuti usul mereka untuk meninggalkan makam Inggrid. Meski bujukan itu bukan hanya sekali atau dua kali karena mereka semua harus membujuk nenek dengan susah payah, namun akhirnya nenek menurut.
Di kediaman keluarga besar Aura, nenek tampak termenung di taman belakang. Mama Yara sebenarnya prihatin akan kondisi wanita tua itu, tapi mengingat perangainya yang keras juga sikap nenek yang tadi tampak ngotot menyalahkan Rayyan, Mama Yara juga kehilangan respect terhadap Nenek.
"Bu, sebentar lagi sore. Cuacanya juga mendung. Sepertinya akan turun hujan. Sebaiknya ibu masuk saja ke dalam rumah," ajak Mama Yara dengan sopan.
Nenek tak bergeming, dia tampak banyak pikiran. Mungkin karena kepergian Inggrid yang tiba-tiba, juga karena penyesalannya sendiri. Entahlah.
Mama Yara kembali berusaha membujuk nenek dari menantunya itu. Apalagi ia sudah mendengar jika Nenek adalah sahabat lama dari Oma Indri. Meski Mama Yara juga sudah mengetahui berita buruk mengenai sikap nenek terhadap mertuanya, tapi tak menjadikan itu alasan untuk membalas perbuatan nenek dengan perilaku yang tidak baik juga.
"Bu, ibu juga belum mengisi perut sedikitpun. Ayo makan, Bu. Bi Dima sudah menyiapkan makanan untuk ibu. Jangan sungkan ya."
Kali ini Nenek menoleh pada ibu kandung Aura itu. Kemudian dia merespon ajakan Mama Yara dengan gelengan pelan.
"Ya sudah, saya masuk dulu ya, Bu. Kalau ibu membutuhkan apa-apa, jangan sungkan memanggil siapapun yang ada dirumah ini untuk meminta bantuan." Mama Yara menyerah. Lagipula ia tak mungkin memaksa nenek Rayyan terus menerus.
Seperginya Mama Yara ke dalam rumah, Nenek kembali melamun disana. Ia memperhatikan awan mendung di langit, juga menghirup dalam-dalam udara yang mulai terasa sejuk disekitar.
"Mar ..."
Nenek menoleh pada seseorang yang memanggilnya. Rupanya disana dia mendapati Oma Indri yang menghampirinya di Beranda.
"Aku tau kepergian Inggrid pasti membuat kamu terpukul, tapi kamu harus merelakannya, Mar." Oma Indri kembali berbicara, meski nenek tidak menyahuti saat ia memanggilnya.
"Garis hidup manusia sudah ada yang mengatur. Apapun yang terjadi pada diri kita ada skenario dari yang kuasa. Dan kita hanya bisa menjalaninya, lalu memilih mau lewat jalan mana. Apakah jalan yang baik atau yang buruk."
Nenek benar-benar memutar tubuh menjadi menghadap Oma Indri sekarang.
"Kamu tau apa?" Tiba-tiba dia melontarkan kata-kata. "Kamu gak akan tau apa yang aku rasakan, Indri," tekannya.
Oma Indri mengulas senyum simpul, ia senang akhirnya Nenek Marini mau menanggapinya.
"Darimana kamu bisa mengetahui jika aku tidak dapat merasakannya?" tanya Oma.
"Karena kamu tidak pernah ditinggalkan anakmu. Lihat, putramu masih hidup dan baik-baik saja sekarang. Jadi, kau tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan!" pungkas Nenek.
"Ya, harus ku akui. Aku memang belum pernah merasakan kehilangan anak. Bahkan jika bisa, aku yang lebih dulu dipanggil menghadapNya, daripada anakku yang duluan meninggalkanku."
Mendnegar itu, tangis nenek kembali pecah. Ia mengingat jika dua orang anaknya lebih dulu meninggalkannya. Bian meninggal kecelakaan. Dan sekarang Inggrid meninggal karena over dosis. Kenapa tidak dia saja yang lebih dulu dipanggil Tuhan? Bukankah ia sudah tua?
"Kenapa Tuhan lebih dulu mengambil anak-anakku, Indri?" lirih Nenek dengan nada getir.
__ADS_1
Oma terenyuh mendengarnya. Namun tak urung mengutarakan juga apa inti yang ingin ia sampaikan dari pembicaraan mereka hari ini.
"Mungkin ini adalah teguran untukmu, Mar. Tuhan tidak memanggilmu lebih dulu daripada mereka karena Tuhan masih memberimu waktu untuk dapat berubah."
Nenek sedikit tertegun dengan ucapan mantan sahabatnya ini.
"Jadi ... gunakanlah waktu yang diberi Tuhan itu dengan sebaik-baiknya."
Nenek terdiam. Sedikit banyak ia mulai memahami jika Oma Indri memintanya untuk berubah menjadi lebih baik lagi.
"Kau telah menyia-nyiakan Bian. Aku dengar kau tidak merestui pernikahannya dengan Calista sampai mereka meninggal. Bahkan anak mereka, Rayyan. Kau sia-siakan."
Dan ucapan Oma Indri sangat menohok bagi nenek.
"Lalu, kau juga telah menyia-nyiakan hidup Inggrid. Kau terlalu mempercayainya. Sampai kadar kasih sayangmu untuknya sangat berlebihan. Kau lupa, bahwa menyayangi bukan berarti selalu mengiyakan. Lihat, apa yang terjadi pada Inggrid. Itu teguran keras untukmu karena kau selalu menuruti keinginannya. Inggrid tumbuh menjadi wanita yang selalu semaunya dan harus mendapatkan apa yang diinginkannya."
Nenek tertampar dengan ucapan Oma Indri--yang mau tak mau harus Nenek iyakan didalam hatinya.
"Sekarang, apa yang kau dapatkan dari sikapmu selama ini, Mar?"
Nenek masih bergeming, mulutnya sudah terbuka untuk menjawab tapi terkatup kembali karena ia bingung sendiri harus menjawab apa atas ucapan Oma Indri disana.
"Bian sudah tiada. Inggrid juga sudah menyusulnya. Kita sudah tua, Mar. Mungkin aku masih memiliki anak yang bisa ku andalkan. Tapi kau, yang kau punya sekarang hanyalah seorang cucu. Itupun kau sia-siakan."
"Apa kau masih ingat sikap terakhirmu pada Rayyan?"
Tentu Nenek ingat jika dia kembali menyalahkan Rayyan pagi tadi di pemakaman.
"Aku harap, semua teguran yang datang untukmu ... mampu menyadarkan mu, Mar. Kini, cuma Rayyan yang bisa menjadi tumpuan hidupmu. Dia yang akan menjadi orang yang bisa mendoakanmu. Kelak, jika kau dipanggil Tuhan, izinkan Rayyan mempunyai sedikit saja kenangan yang manis bersamamu. Jangan sampai kau dilupakan begitu saja oleh cucumu satu-satunya, karena jika kau sudah meninggal ... penyesalanmu sudah tidak ada artinya."
Oma Indri meninggalkan Nenek disana setelah menegurnya habis-habisan.
Nenek kembali gamang sekarang. Ditambah ia merasa perasaan bersalah pada sang cucu mulai merambat didalam hatinya.
Oma Indri benar, yang sekarang menjadi penopang dan harapannya hanyalah Rayyan. Jika Rayyan tidak menganggapnya, mungkin ia sudah tidak dapat kehidupan yang layak sejak lama.
"Ya, Tuhan ... ampuni aku, Rayyan ... maafkan Nenek." Nenek tampak menangis sejadi-jadinya. Ia serasa ingin bertemu Rayyan secepatnya.
Mungkin dengan bersimpuh di kaki cucunya, sang cucu akan memaafkannya. Entahlah, atau mungkin Rayyan akan membalas semua perlakuannya selama ini. Dengan tidak menganggapnya nenek? Bisa jadi.
Selama ini Rayyan hidup sendirian tanpa kedua orangtua. Bukankah sekarang hidup mereka sama. Nenek pun sudah tak memiliki anak lagi. Dia seorang diri.
__ADS_1
Jika dulu nenek memperlakukan Rayyan yang sendirian dengan semena-mena. Bukan tak mungkin Rayyan akan membalas hal serupa disaat ia sudah tak memiliki sesiapa?
...***...
Meninggalkan rasa bersalah, Aura dan Rayyan terbang ke Singapura hari itu juga. Untuk pertama kalinya, Aura mengajak Rayyan ke negara singa tersebut dimana disana ada sebuah Apartmennya yang dia tinggali saat masih aktif bekerja di perusahaan Oma Indri yang berpusat di negara itu.
"Apartmennya udah lama kosong, dong?" respon Rayyan begitu mereka tiba disana.
"Iya. Tapi sesekali Rion nginap disini," jawab Aura merujuk pada adik bungsunya yang berkuliah disana. Meski Rion juga punya tempat tinggal sendiri, tapi sesekali ia akan datang ke Apartmen Aura untuk sekedar singgah. "Terus, ada maid yang kerja buat bersih-bersih setiap hari jadi disini tetap nyaman," lanjut wanita cantik itu.
Rayyan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sekarang Aura tampak menyibakkan gorden kamarnya lebar-lebar, hingga dari posisi mereka yang berada di lantai 23 itu, dapat melihat dengan jelas pemandangan kota yang sangat ramai dengan lampu yang gemerlapan.
"Aku senang bisa ajak kamu kesini." Aura menoleh pada Rayyan. "Dulu aku menjadikan tempat ini sebagai tempat untuk menenangkan diri. Jadi, aku mau kamu juga bisa menenangkan diri disini."
Rayyan mendekat pada Aura yang berdiri didepan kaca lebar tersebut, kemudian memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Aku udah cukup tenang jika bisa meluk kamu erat-erat kayak gini," jawab Rayyan jujur.
Aura melepaskan pelukan Rayyan di pinggangnya, ia merubah posisi agar bisa berhadap-hadapan dengan pria itu.
"Aku bakal kasi obat penenang buat kamu, jadi selama disini kamu bisa lupain semua masalah kamu. Cukup fokus sama aku."
Sebelah alis Rayyan naik karena ujaran istrinya.
Aura lantas mengalungkan tangannya di leher Rayyan. Rayyan pun mengulas senyum tanpa mencegah sikap istrinya.
"Selama kaki aku sakit, kayaknya kamu udah cukup lama berpuasa, kan?"
Rayyan mengangguk sambil mengulumm senyum.
"Jadi ..." Aura mengigitt bibirnya sendiri. "Sekarang kamu boleh--"
"Buka puasa?" serobot Rayyan dengan senyum penuh maksud.
Aura mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Pake yang manis-manis?" tambah Rayyan lagi.
Aura kembali mengangguk dengan raut malu-malu.
__ADS_1
"Oke, aku mau ambil obat penenang aku sekarang!" Rayyan menyahut sambil memegang tengkuk istrinya dan semakin merapatkan jarak mereka.
...Bersambung ......