Dijebak Di Malam Pengantin

Dijebak Di Malam Pengantin
47. Menumpang


__ADS_3

"Sudah siap?"


Aura menanggapi pertanyaan Devon dengan anggukan.


Mereka baru saja selesai mengadakan acara sosial di panti asuhan dan syukurnya kegiatan itu berjalan dengan lancar.


"Aku antarkan pulang, ya?"


"Tidak usah, Dev. Aku menunggu Wilow saja."


"Bukannya Wilow sudah pulang, ya? Aku melihat mobilnya pergi tadi."


"Benarkah?" Aura memang tidak mengatakan pada Wilow jika ia ingin menumpang dengan temannya itu, tapi biasanya Wilow selalu menunggunya karena tau ia sendirian. Mungkin Wilow ada hal yang mendesak sehingga buru-buru pulang tanpa mengajak Aura untuk pulang bersama. Entahlah.


"Huum. Lihat, ini sudah mulai gelap, lebih baik jika ku antar," ajak Devon lagi.


Aura belum sempat menjawab ketika suara seorang wanita menginterupsi percakapan mereka.


"Ra, Dev? Kalian belum pulang?" Rupanya ada Lucy dan Rayyan yang menghampiri keduanya. Lucy menyapa, sedangkan Rayyan tampak diam dan memperhatikan saja, gestur dan ekspresi pria itu masih saja sama, dingin dan datar.


Aura hanya menanggapi Lucy dengan senyuman tipis, sementara Devon lah yang memilih untuk menjawab.


"Ini kita baru mau pulang."


"Oh, kalian pulang bersama?" tanya Lucy menyelidik. Dia menatap Rayyan sekilas, seolah mau melihat reaksi pria itu atas hal ini.


"Iya."


"Bukannya Devon naik motor, memangnya Aura tidak keberatan?"


Devon pun menoleh pada Aura, berharap wanita itu yang memberikan jawabannya.


"Tak masalah. Lagipula barang bawaan ku sudah dibagikan jadi tidak akan repot meskipun naik motor," jawab Aura.


"Oh. Ya sudah, hati-hati ya kalian," kata Lucy sambil berlalu. Aura sempat melirik jika tangan Rayyan sedikit ditarik perempuan itu agar segera beranjak dari tempat tersebut.


Setelah Aura mengambil tasnya, ia dan Devon pun berjalan beriringan untuk menuju tempat dimana motor pria itu terparkir.


"Ayo!"


"Apa kau lelah?" tanya Devon.


"Lumayan."


"Bagaimana menurutmu? Kegiatan seperti ini menyenangkan bukan?"


"Ya, ini bisa mengisi waktu luang diakhir pekan," timpal Aura dengan senyuman khasnya.


Sesampainya didepan motor Devon, pria itu tampak mengernyit, karena merasa sesuatu telah terjadi dengan kendaraannya itu.


"Kenapa bannya kempes?" gumam Devon. Pria itu menatap Aura dengan tatapan sungkan.


"Ya sudah, aku naik taksi saja. Atau kau mau ikut juga?" tawar perempuan itu pada Devon.


Setelah berpikir singkat, Devon akhirnya menyetujui saran Aura. Ia akan meninggalkan motornya di panti dan akan menghubungi bengkel langganan untuk mengambil kendaraan itu nanti.


"Baiklah, ayo kita cari taksi."


Aura sedikit terkejut karena Devon menggandeng tangannya, karena tak mau menyinggung perasaan pria yang selalu bersikap baik padanya itu, akhirnya Aura menepis perlahan tangan Devon yang memegang jemarinya.


"Oh, sorry, aku refleks menggandengmu tadi," ujar Devon yang menyadari jika Aura risih dengan tindakannya.

__ADS_1


"Iya, tak apa." Aura tidak membalas tatapan Devon itu.


Saat mereka menunggu taksi, rupanya sebuah mobil menghampiri keduanya.


"Dev! Ra! Kenapa kalian disini?" Suara Lucy terdengar dari kaca jendela mobil yang perlahan diturunkan.


Aura sontak melihat kesana, dimana di mobil itu ada Rayyan yang duduk di balik kemudi, namun tatapannya lurus ke depan tanpa menoleh ke arahnya.


"Kita mau pulang tapi ban motorku kempes," kata Devon menyahut Lucy.


"Oh, bagaimana kalau kalian menumpang di mobil kami saja? Ya, kan, Ray?" Lucy menanyakan pendapat Rayyan dan pria itu hanya mengangguk sekali untuk merespons.


"Tidak usah. Terima kasih," tolak Aura langsung, bagaimana bisa ia menumpang disana dan harus terus menyaksikan kebersamaan Lucy dan Rayyan sepanjang perjalanan. Oh, tidak!


"Boleh juga jika kalian tidak keberatan."


Jawaban Devon berbanding terbalik dengan ucapan yang dilontarkan Aura itu. Bukankah Aura sudah menolak tawarannya, kenapa Devon malah setuju?


Aura menoleh pada pria tinggi disisinya. Harusnya Devon meminta pendapatnya akan hal ini, tetapi nyatanya pria itu kembali refleks menggandeng tangannya untuk memasuki mobil yang sudah berhenti disana.


"Dev?"


"Aku tidak mau kita terus disini sampai gelap, tak apa ya kalau kita ikut mereka," bisik Devon.


Aura seakan tak punya pilihan saat Devon sudah membukakan pintu mobil untuknya, mau tak mau perempuan itu naik juga ke mobil.


"Kita antarkan Aura dulu, ya," ujar Devon.


"Bukankah kita lebih dulu melewati Apartmenmu?" Rupanya Rayyan yang menyahut perkataan Devon.


"Iya, tapi aku mau ikut mengantar Aura."


Tak mau membantah, akhirnya Devon menyerah sebab ucapan Rayyan memang benar. "Baiklah, kita ikuti sesuai rute,' katanya mengalah.


Aura hanya diam di jok belakang yang bersisian dengan Devon.


"Aura?" Tiba-tiba suara Lucy memecah keheningan yang sempat tercipta diantara mereka berempat.


"Ya?"


"Sejak awal, aku ingin tau bagaimana kau dan Ray bisa saling mengenal, kebetulan sekarang kita pulang bersama jadi aku ingin mendengar jawabanmu mengenai hal itu."


"A-apa?" Aura sedikit tertegun dengan pertanyaan Lucy. Ingin rasanya ia menyerahkan jawabannya pada Rayyan saja, tetapi melihat respon pria itu yang hanya diam, membuat Aura jadi serba salah.


"Iya, sejak kapan kalian kenal dan kenapa bisa saling kenal?" tanya Lucy mengulangi.


"A-aku tidak ingat kapan tepatnya kami saling mengenal," kata Aura ragu. Ia memang tak tau kapan Rayyan mengenal dirinya setelah fakta mengenai Rayyan yang sempat menolongnya dari Shandy--mulai Aura ingat. Pun dengan foto masa kecilnya yang disimpan oleh pria itu.


"Tapi kabarnya kalian adalah kerabat?" timpal Devon yang juga jadi tertarik dengan hal ini.


"Ke-kerabat?" beo Aura tak paham, darimana pula info ini, pikirnya.


"Ya, aku dengar dari Carl kau dan Rayyan adalah kerabat."


Rayyan yang mendengar itu juga melirik sekilas dari kaca spion tengah, ia ingin tau apa jawaban yang akan diberikan Aura, meski tampangnya dibuat sedatar mungkin.


"Ah, iya, kita kerabat. Kurang lebih seperti itu," jawab Aura ambigu.


Lucy sampai mengesah frustrasi dengan jawaban yang tidak jelas dari bibir Aura.


"Jadi, sejak kapan kalian mengenal?" tanya Devon kemudian.

__ADS_1


"Dari kecil. Ya, bukannya kerabat akan mengenal satu sama lain dari kecil?" kata Aura dengan cengiran yang tampak bingung akan jawabannya sendiri. Demi apapun, Aura ingin sekali keluar dari situasi ini, sesegera mungkin.


"Ah, padahal aku mau jawaban yang serius, tapi Aura sepertinya hobi bercanda." Lucy terkekeh sumbang diposisinya.


"Bagaimana denganmu, Ray? Kapan tepatnya kau mengenal Aura?" tanya Devon yang kini balik menanyakan Rayyan.


Pria itu diam, Aura pikir Rayyan tak mungkin tertarik dengan pertanyaan konyol yang diajukan Lucy dan Devon.


"Ya, itu benar, aku mengenalnya sejak aku kecil," kata Rayyan datar namun terdengar jujur.


Dan jawaban Rayyan membuat Aura sedikit tertegun.


"Benarkah? Apa saat kecil Aura juga cantik seperti saat ini?" Devon bertanya dengan senyuman yang mengarah pada Aura membuat wanita itu menundukkan kepala.


"Meski dulu giginya pernah patah karena jatuh dari sepeda, tapi itu tidak mempengaruhi apapun, dia memang selalu cantik," papar Rayyan.


Sekarang mata Aura membola mendengarnya. Bukan cuma Aura, tetapi Lucy juga.


Tapi Devon berbeda, pria itu malah terkekeh kencang. "Benarkah? Pasti dia imut sekali," paparnya.


"Begitulah," tanggap Rayyan.


Lucy terlihat terus mengamati Rayyan yang ekspresinya sama sekali tak merasa bersalah sudah memuji kecantikan Aura didepan wanita itu.


Sementara Aura, ia menatap jalanan sambil berpikir kenapa bisa Rayyan tau mengenai peristiwa masa kecilnya--dimana ia jatuh dari sepeda dan menyebabkan giginya patah.


"Sudah tiba, Dev. Turunlah!" kata Rayyan, membuat Devon melihat ke sekitar dan benar jika ia sudah didepan pelataran gedung Apartmennya.


"Ra, aku duluan ya. Kau hati-hati dijalan dan jangan melihat adegan dewasa yang mungkin akan dipertontonkan Lucy dan Rayyan," kelakar Devon sebelum benar-benar keluar dari mobil.


Wajah Aura langsung memerah karena pernyataan Devon. Membayangkan ucapannya saja membuat Aura ingin menjerit.


Jangan sampai Lucy dan Rayyan benar-benar mempertontonkan itu dihadapannya.


Mobil kembali berjalan dan terasa suasana hening yang cukup akward. Aura pikir ucapan Devon akan terealisasi, minimal Rayyan dan Lucy akan bercengkrama dan membuatnya patah hati untuk kesekian kalinya lagi. Nyatanya tidak demikian, keduanya juga terdiam seolah larut dalam pikiran masing-masing.


Sejak awal menawari Aura dan Devon untuk menumpang, Lucy memang berniat untuk memamerkan kemesraannya dan Rayyan pada Aura dan Devon. Akan tetapi, pujian Rayyan soal Aura tadi, berhasil membuat mood Lucy memburuk sehingga ia mendadak diam tanpa kata.


Sampai akhirnya, mobil yang dikemudikan oleh Rayyan kembali berhenti. Aura merasa ini belum sampai di kawasan apartemennya, sehingga ia pikir mungkin ada yang ingin dibeli oleh Rayyan atau Lucy di kawasan ini, nyatanya suara Lucy membuat Aura tersadar jika sekarang mereka berada dia area tempat tinggal Lucy.


"Kenapa kita tidak mengantar Aura dulu, Ray?" protes Lucy yang kembali bersuara.


"Ini sudah benar, kita mengikuti rute dan Apartmen Aura ada di rute terakhir," jawab Rayyan tenang.


"Tapi, Ray?"


"Aku tidak akan memutar arah untuk mengantarmu kembali kesini, Lucy."


Lucy bersungut-sungut. "Baiklah." Perempuan itu pun menoleh sekilas ke belakang. "Aku duluan ya, Ra!" katanya berbasa-basi namun terdengar ketus.


Aura mengangguk dengan sikap keki. Bukan apa-apa, setelah Lucy turun itu artinya ia akan berdua saja dengan Rayyan di dalam mobil yang sama. Benar begitu, kan? Bagaimana ini?


Selepas kepergian Lucy, mobil itu tidak kunjung berjalan kembali. Aura bertanya-tanya apa kiranya yang ada dipikiran Rayyan, kenapa pria itu tidak kembali mengemudi dan segera mengantarkan Aura saja?


Karena rasanya Aura ingin segera tiba di rumah, sebab ia tak mau terjebak suasana canggung jika hanya berdua bersama Rayyan didalam mobil ini.


Sayangnya, suara Rayyan yang dingin berhasil membekukan otak Aura didetik yang sama.


"Jangan duduk di belakang, pindahlah ke depan karena aku bukan sopirmu."


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2