Dijebak Di Malam Pengantin

Dijebak Di Malam Pengantin
61. Don't worry


__ADS_3

Aura keluar dari kamar mandi dengan perasaan canggung karena Rayyan masih berada di kamar dalam posisi duduk di sofa dan fokus pada iPad-nya.


Dalam keadaan hanya mengenakan bathrobe mandi, Aura bingung apakah ia harus berpakaian dihadapan Rayyan atau justru mengambil baju dan kembali ke kamar mandi untuk berpakaian disana?


Saat Aura masih larut dengan pemikirannya itu, tatapan mata Rayyan sudah mengarah padanya.


Atensi pria itu teralihkan saat menemukan Aura yang hanya tampil dengan tubuh terbalut bathrobe saja.


Rambut Aura tampak digelung ke atas, dengan anak-anak rambut yang terurai ke luar dalam keadaan setengah basah. Wajah putih wanitanya juga masih terdapat tetesan air yang kemudian turun sampai ke leher.


"Ng--aku--aku--" Aura mendadak tergagap, padahal ia mau mengatakan pada Rayyan jika ia mau berganti pakaian dan meminta pengertian pria itu untuk keluar dari sana sebentar--meski Aura sendiri tidak yakin sanggup untuk mengatakan itu.


Rayyan tak menyahuti ucapan Aura yang terdengar tak jelas itu. Alih-alih menjawab, pria itu lantas menyimpan i-Pad nya di sisi meja, lalu bangkit berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana drawstring yang dikenakannya.


Aura tampak bergerak tak nyaman, menyilangkan kaki dalam posisinya yang masih berdiri keki.


Rayyan tampak tenang dan menghampiri posisi wanita itu.


Saat jarak mereka semakin dekat satu sama lain, Aura tidak dapat memprediksi apapun, saat Rayyan tiba-tiba menangkup pipinya dan mencium bibirnya dengan gerakan yang menuntut.


Secara spontanitas, Aura memegang ujung kaos Rayyan dengan erat, karena ciuman pria itu membuat posisinya semakin mundur ke belakang.


Rayyan mencium Aura layaknya orang yang kehausan.


Ciuman itu baru terlepas ketika Aura merasakan jika Rayyan sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjangg--dengan posisi pria itu yang berada diatas tubuh Aura. Aura segera meraup oksigen sebanyak-banyaknya karena ciuman Rayyan tadi seakan membuatnya gagal nafas.


Rayyan menyunggingkan senyuman lembut saat melihat Aura menggigitt bibirnya sendiri.


"I miss you," bisik Rayyan seduktif di telinga wanita itu.


Wajah Aura langsung merona. Seharusnya pendingin ruangan bisa mendinginkan suasana, sayangnya posisi mereka yang sangat int1m dengan tubuh tegap Rayyan yang mengungkungnya, membuat atmosfer di kamar itu terasa memanas. Aura mendadak kepanasan.


Rayyan menatap kedua bola mata Aura secara bergantian, seolah menyelami perasaan wanita itu.


"Ray?" panggil Aura pelan. Ia tau jika sekarang mata Rayyan sudah redup dan sayu, namun ia mau menanyakan dulu pada Rayyan mengenai hal yang tadi ia dengar dari Lucy. Aura tak mau menutupi apapun dari suaminya, pun ia tidak mau termakan ucapan Lucy bulat-bulat.


"Hmm?" Rayyan menyahut sembari mengecupi seluruh permukaan wajah Aura, pria itu sudah sibuk sendiri sekarang.


Aura terjengit geli saat merasakan Rayyan sudah mengendus lehernya, lalu menghisapp cuping telinganya.


"Tunggu dulu," kata wanita itu mencegah Rayyan yang semakin gencar saja.


"Kenapa, Sayang?"


Aura sempat tersipu sejenak mendengar Rayyan memanggilnya dengan nada lembut sekali.


"Boleh aku tau kenapa kamu mau menikah lagi sama aku?"


Satu alis Rayyan terangkat, kemudian tidak menghiraukan pertanyaan Aura. Pria itu malah menarik tali bathrobe Aura dan merabaa perut wanitanya.


Aura menahan lenguhann yang hampir keluar begitu saja dari bibirnya.


"Ray? Aku butuh jawaban kamu, hmm?" Aura mengelus pipi Rayyan lembut.

__ADS_1


Rayyan menggeram pelan karena perlakuan wanita itu kepadanya, dulu ia yang selalu ia yang lebih aktif menyentuh Aura saat mereka melakukannya, tapi satu sentuhan Aura sekarang berhasil membuat Rayyan kelabakan menahan sesuatu yang sudah cukup lama ia tahan.


"Apalagi kalau bukan karena aku sayang kamu, Ra," jawab Rayyan dengan suara parau.


"Meskipun dulu aku selalu nyakitin kamu?"


"Hmm ..."


"Jangan jawab gitu, aku mau jawaban yang serius."


"Semua itu gak akan bisa menghapus perasaan aku ke kamu, yang udah terlanjur hadir sejak belasan tahun yang lalu."


Rayyan ingin menyasar bibir Aura lagi tapi wanita itu kembali menahannya.


"Tunggu ... jadi kamu---"


"Iya, aku udah terlalu lama mencintai kamu, jadi apapun yang kamu lakukan sama aku, itu gak berpengaruh apapun untuk perasaanku yang tetap sama."


Aura tentu kaget bercampur takjub dengan jawaban Rayyan. Selama ini ia memang belum pernah mendengar pernyataan cinta oleh pria ini secara langsung dan nyata seperti ini.


Melihat bibir Aura yang sedikit terbuka karena pernyataan cintanya, Rayyan segera menyambar itu dengan bibirnya sendiri. Melarutkan Aura dalam ciumannya yang panas dan dalam. Sarat akan kerinduan, pun gai rah yang terpendam.


Saat Rayyan berhasil menyibak bathrobe milik Aura hingga benar-benar menyaksikan kembali tubuh polos istrinya, ia berdecak kagum didalam hati.


"Jangan lihat aku kayak gitu, Ray!" Aura malu saat menyadari Rayyan menatapnya dengan sorot takjub yang kentara. Ia memalingkan wajah, membuat Rayyan menyunggingkan senyum gemas karena wanita itu.


"So beautiful," gumam Rayyan memuji sang istri, lantas menyentuh kedua milik Aura yang terlihat membusungg itu dengan jemarinya yang terulur dan lihai bermain disana.


"Enghh ..."


Mendengar itu, justru membuat Rayyan semakin kalap, ia semakin gencar dengan kegiatan yang sudah dimulainya.


Kini Rayyan semakin berani bermain-main di puncak dada sang istri, demi memberikan rang-sa-ngan disana.


"Ah, Ray!" Aura tidak kuat menahan desahannyaa. Padahal ia sudah mengigiti bibirnya sendiri agar tidak meloloskan suara itu.


"Yes, it's me." Rayyan senang sekali mendengar Aura menyebut namanya disaat percintaann mereka berlangsung.


Bibir pria itu semakin turun, menyusuri seluruh lekuk tubuh Aura dengan lid@hnya, membuat Aura semakin blingsatan saat merasakannya.


Aura berpasrah diri dalam kendali pria itu, ia sudah menyerahkan diri sepenuhnya--melupakan peringatan yang sempat Lucy berikan kepadanya.


Saat Rayyan mencicipinya di bawah sana, Aura semakin tidak kuasa menahan erangannyaa.


"Ray?"


"Hmm?" Rayyan mendongak sedikit dari posisinya.


"No," kata Aura menggeleng-gelengkan kepalanya.


Rayyan tersenyum smirk. "Iya, aku tau kamu mau yang lebih," ujarnya frontal.


Aura tidak menyangka Rayyan akan menjawab demikian, namun tidak dipungkiri jika jawaban itu justru menambah rasa dalam permainan mereka.

__ADS_1


"Oke, here i am." Jeda sejenak, entah sejak kapan Rayyan sudah meloloskan drawstring pants nya, hingga kemudian pria itu bergumam lirih di telinga Aura. "I'll be gentle, don't worry, Baby!"


Dan ucapan Rayyan benar-benar mengerti kekhawatiran Aura hingga berhasil menenangkannya. Meski ini bukan yang pertama kali bagi mereka, tapi Rayyan selalu sukses membuat sekujur tubuh Aura merona.


Tubuh keduanya sudah menyatu. Dan Rayyan tau jika tubuh Aura membutuhkan waktu untuk menyesuaikan ini.


"Sakit?"


"Hmm ..." Tapi Aura tersenyum dalam kegiatan itu.


Rayyan mengelus pelipis Aura yang tampak basah karena peluh.


"Aku gerakin ya."


Aura mengangguk dan Rayyan mulai bergerak konstan diatas tubuhya.


Tidak terkatakan bagaimana rasa yang saat ini Aura rasakan. Yang jelas ia sangat bahagia. Pun Rayyan yang merasakan hal serupa. Jika dulu mereka melakukannya tanpa rasa dihati Aura, sekarang tentu saja berbeda. Tampak sekali jika saat ini Aura senang melakukannya.


Terbukti mereka melakukannya lebih dari sekali dan Aura tidak menolaknya.


"I love you," bisik Rayyan di penghujung permainan itu, lantas menatap Aura yang tampak kelelahan diposisinya.


Rayyan menutup tubuh Aura dengan selimut. "Maaf ya," katanya.


"Maaf kenapa?" tanya Aura dengan suara serak.


"Udah buat kamu capek."


Aura menggeleng. "Harusnya kamu yang lebih capek, sih," jawabnya dengan wajah merona.


Rayyan menyelipkan rambut Aura ditelinga wanita itu. "Mau bersih-bersih?" tawarnya.


Aura kembali menggeleng. "Kayaknya aku mau langsung tidur aja," jawabnya random.


Rayyan tertawa pelan mendengar ucapan istrinya. "Ya udah, kamu tidur aja. Nanti biar aku yang bersihin kamu," ujarnya.


"Gimana caranya emang?"


"Udah, nurut aja. Nanti pas kamu bangun pasti udah bersih," ujar pria itu lembut.


"Makasih, Mas. I love you ..." kata Aura yang sudah tidak canggung lagi mengutarakan perasaannya.


"Apa? Tadi kamu panggil aku apa?" Rayyan menahan senyumnya.


"Mas. Boleh, kan?"


Rayyan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Iya, Sayang. Boleh banget."


Aura tersenyum untuk kemudian jatuh dalam tidur yang lelap.


...Bersambung ......


Setiap rumah tangga pasti ada konfliknya ya, guys. Jadi, jangan kira kalau mereka udah balikan, terus cerita ini langsung tamat. Emang mau gitu ya? Kalau gak ada konflik, ya gak seru dong. Setuju gak? Beri dukungannya selaluπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ€—

__ADS_1


__ADS_2