
Aura menatap tulisan di ponselnya yang menyatakan jika transaksi transfer uang telah berhasil dilakukan.
Dalam hati, Aura selalu berdoa semoga keputusannya mengirimkan uang--sejumlah 10 juta ke rekening Tante Inggrid--bukan keputusan yang salah.
Awalnya Aura ingin mentransfer setengahnya, tapi ia pikir deposit 5juta tidak mungkin cukup untuk pasien umum tanpa asuransi, apalagi jika Tante Inggrid mau menempati ruangan yang nyaman jika ternyata nanti Tante Inggrid harus dirawat.
Kesalahan Aura adalah, ia tidak menanyakan atau mengatakan hal itu dulu kepada suaminya. Aura menganggap Rayyan sedang sibuk meeting dengan jajaran direksi, sehingga ia tidak mungkin menelepon sang suami hanya untuk mengkonfirmasi mengenai transferan dana tersebut.
"Ra?"
Aura agak tersentak saat Marsya kembali memanggilnya, menyadarkannya pada keadaan.
"Kenapa, Sya?"
"Kenapa kayak ada yang dipikirin gitu?" tanya Marsya kemudian.
"Hmm, gak apa-apa, kok."
Meski dihati Aura ada keraguan akan dana yang diminta sang Nenek untuk membawa Tante Inggrid ke rumah sakit, namun hati kecilnya selalu meyakinkan jika ini tidak ada salahnya. Anggap saja ini untuk yang pertama dan terakhir.
Jika ternyata Nenek atau Tante Inggrid membohonginya, mungkin Aura tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi.
Akan tetapi, jika ternyata Nenek jujur kalau Tante Inggrid benar-benar dalam keadaan sakit dan butuh dana untuk berobat, maka Aura pasti akan menyesal jika mengabaikannya.
Aura hanya tidak mau ada penyesalan, karena telah salah mengambil keputusan yang salah dengan mengabaikan pernyataan nenek. Maka dari itu, sekarang Aura berusaha meyakinkan diri bahwa tindakan yang diambilnya adalah sesuatu yang sudah benar.
...***...
Disisi lain, sebelum dana yang dikirimkan Aura berhasil diterima di rekening Inggrid. Nenek yang memang mengunjungi putrinya itu--merasa gelagat Inggrid memang berbeda. Ia yakin jika Inggrid benar-benar sakit, tapi saat ia datang dan menanyakannya, Inggrid hanya bilang membutuhkan obat.
"Ya udah, kamu beli aja obatnya, Nggrid."
"Aku lagi sakit gak mungkin bisa beli obat, Ma." Inggrid menyahut dengan tingkah yang bersungut-sungut kesal.
"Kan bisa pesan online."
"Gak bisa, obat aku khusus dan juga biayanya mahal, Ma."
__ADS_1
"Uang kamu gak ada buat beli obat kamu? Lagian, kamu sakit apa sih?"
"Udahlah, aku ceritain juga mama gak bakal ngerti sama penyakit aku. Ah iya, uang aku udah abis. Mama punya uang gak?"
"Mama mana ada uang."
"Percuma sekarang mama tinggal sama Rayyan. Kayaknya cucu mama itu juga udah percaya banget sama mama."
Nenek malah melengos. Mana pernah Rayyan benar-benar mempercayainya setelah semua yang ia lakukan selama ini terhadap sang cucu.
"Kamu pikir Rayyan itu mau percaya sama mama gitu aja? Sekarang aja mama ngerasa dia lagi curiga, apalagi sejak kita ngakuin apa yang udah buat kita takut saat ketemu sama Indri, Oma-nya Aura."
Inggrid tampak membuang wajahnya, lalu satu ide terlintas dikepalanya.
"Kenapa gak kita jalanin aja rencana kita itu, Ma? Rencana buat manfaatin Aura," usul Inggrid yang merasa ucapannya adalah taktik cemerlang disaat buntu seperti ini. "Lagian, ini kan untuk beli obat aku, Ma, bukan buat foya-foya. Kalaupun nanti ketahuan Rayyan, dia pasti gak akan marah," paparnya dengan pemikirannya sendiri.
Nenek tampak menimbang-nimbang, sampai akhirnya ia mengiyakan.
"Ya udah, Mama telepon Aura, gih. Ntar bilang aja aku mau dibawa ke rumah sakit. Mau berobat. Terus, nanti uangnya suruh transfer ke rekening aku. Aku pergi beli obat deh."
"Ya udah, tapi untungnya buat Mama apa?"
"Mama udah tua, Nggrid. Gak perlu lah up to date gitu."
"Terus, Mama maunya apa? Kalau enggak, beli alat refleksi aja di Mall, itu cocok buat orang tua." Inggrid kembali tertawa lepas. "... nanti aku anterin, sekalian aku mau beli obat," katanya kemudian yang tampak bersemangat sekali sekarang.
"Mama mau beli perhiasan aja di Mall. Siapa tau nanti ketemu sama Indri lagi, kan jadi gak malu-maluin. Soal hutang, pasti dia udah gak mempermasalahkan, buktinya dia gak bahas hal itu sama sekali saat makan malam waktu itu."
Inggrid manggut-manggut sekarang. "Oke, siap-siap deh, Ma. Tapi nanti aku tinggal mama di Mall ya. Aku kan mau beli obat."
"Apa gak bisa beli obat kamu dulu, terus kita sama-sama ke Mall-nya?"
"Gak bisa, Ma!" sergah Inggrid langsung.
"Ya udah, sekarang yang jelas kita telepon Aura dulu buat minta dana. Kalau udah cair baru kita bisa pergi."
Dan mereka menjalankan rencana tersebut.
__ADS_1
...****...
Sementara disana, beberapa kali ponsel Rayyan terdengar bergetar. Berhubung ia sedang dalam rapat yang sangat penting. Ia hanya melirik benda pipih yang tergeletak diatas meja itu. Melihat nama yang mengiringinya pesan bukanlah dari sang Istri ataupun Marsya, Rayyan merasa semuanya masih berjalan baik-baik saja.
Selesai meeting cukup sore, bahkan saat hari mulai senja. Rayyan baru membuka pesan-pesan yang masuk ke ponselnya.
Disana ia mendapati jika itu kebanyakan dari Pak Deri, Asistennya. Rayyan hampir lupa jika tadi pagi ia meminta pria itu untuk mengikuti Nenek.
Pak, Nyonya Marini dan Nyonya Inggrid pergi dengan taksi, meninggalkan rumah kontrakannya.
Itu adalah pesan pertama dari Pak Deri yang Rayyan baca. Pesan itu dikirim tidak terlalu siang, pak Deri tidak meneleponnya karena tau jika ia sedang terlibat rapat penting di kantor.
Namun, pesan kedua yang dibaca Rayyan cukup membuatnya terkejut karena Pak Deri menyatakan mereka pergi ke sebuah pusat perbelanjaan dan tak lama Tante Inggrid keluar dari Mall sendirian tanpa sang Nenek.
Saya harus mengikuti Nyonya Inggrid atau tetap mengawasi Nyonya Marini di dalam Mall, Pak?
Pak Deri meminta pendapat Rayyan namun karena Rayyan tak menjawabnya, Pak Deri kembali mengirimi pesan yang lain.
Maaf Pak, saya terpaksa membiarkan Nyonya Inggrid pergi, karena saya khawatir Nyonya Marini tersesat didalam pusat perbelanjaan.
Dan ya, Rayyan pun ingin menjawab seperti itu karena dia lebih mengkhawatirkan neneknya ketimbang sang Tante. Namun pada akhirnya, mau tak mau Rayyan juga harus rela kehilangan jejak mengenai tujuan Tante Inggrid--yang rela pergi meninggalkan nenek sendirian di Mall.
Membuat Rayyan bertanya-tanya. Kemana tujuan Tante Inggrid? Apa segitu pentingnya hingga sampai hati meninggalkan nenek sendirian disana? Apa Tante Inggrid tidak takut ibunya tersesat disana? Mengingat umur nenek yang sudah tua dan bisa saja melupakan jalan untuk pulang? Bahkan Rayyan saja tidak tega membiarkan neneknya pergi sendiri pagi tadi meski nenek bersikeras menaiki taksi sendirian, tapi akhirnya Rayyan tetap meminta Pak Deri untuk memantau wanita tua itu secara diam-diam.
"Sebenarnya ada kepentingan apa sampai Tante Inggrid tega meninggalkan nenek disana?" batin Rayyan bertanya-tanya.
Rayyan kemudian menelepon Pak Deri untuk menanyakan keberadaannya sekarang. Namun teleponnya tidak tersambung. Ini tidak biasanya, pikir Rayyan.
Tak lama, pria itu memutuskan untuk menghubungi Marsya yang masih menjaga Aura di rumah.
"Marsya? Kamu sudah pulang? Apa istri saya makan dengan teratur hari ini?"
"Iya, Pak. Belum akan pulang sebelum Bapak suruh." Marsya terdengar menghela nafas sejenak. "Dan ya, semuanya aman terkendali, Pak."
"Baiklah, saya akan kembali segera. Setelah itu kamu boleh pulang."
"Baik, pak."
__ADS_1
...Bersambung ......