Dijebak Di Malam Pengantin

Dijebak Di Malam Pengantin
38. Takut


__ADS_3

Kehidupan yang monoton, membuat Aura memutuskan untuk langsung pulang ketika jam kerja berakhir. Ia tidak begitu antusias saat teman-temannya mengajak untuk ikut makan malam bersama di sebuah Restauran.


Aura menyempatkan untuk singgah sekejap demi membeli makanan siap saji yang akan menjadi menu makan malamnya hari ini. Setelah itu, barulah ia menuju gedung apartmen menggunakan taksi yang ia tumpangi.


Saat tiba didepan gedung tersebut, Aura buru-buru berderap untuk memasuki lobby, mendadak ia teringat ucapan Wilow yang mengatakannya harus berhati-hati. Sayangnya, alarm peringatan di kepala Aura seakan tidak berguna saat tiba-tiba saja lengan wanita itu ditarik menjauh dari bangunan dihadapannya.


Tentu Aura ingin menjerit, namun mulutnya dibekap oleh orang yang sama dengan yang menariknya.


Bungkusan makanan yang ada ditangannya sampai jatuh berceceran.


Tubuh Aura ditarik paksa kesebuah lorong yang letaknya tak terlalu jauh dari gedung Apartmennya. Punggungnya langsung didorong hingga membentur tembok, membuat wanita itu meringis dan akhirnya menjerit disaat yang sama.


"Sha-Shandy?" Aura tergagap, ketakutannya benar-benar terjadi, pria itu kembali mendatanginya dan bukan cuma menerornya.


Shandy tersenyum miring, tampak sinis, kemudian pria itu berkata pelan namun penuh intimidasi.


"Rupanya kamu selalu ingat aku ya, Ra ..."


Seringaian pria itu tampak sangat mengerikan dimata Aura, sekujur tubuhnya merinding. Ia tahu berhadapan dengan Shandy bukan hal yang baik.


"Kau mau apa? Lepasin aku!" Aura mencoba memberontak, tapi aksinya sia-sia karena kedua tangannya disatukan lalu dicengkeram erat oleh Shandy.


Wajah Shandy mendekat, ingin memaksa Aura untuk menatap padanya dan mencoba merasai bibir wanita yang membuatnya penasaran selama bertahun-tahun, tapi juga menyisakan dendam yang cukup besar karena berkat Aura ia merasai dinginnya lantai penjara.


"Breng sek! Jangan lakukan itu!" Aura kembali memberontak. "Tolong ... tolong!" Aura menjerit disertai isak tangis yang keluar tanpa bisa dikendalikan.


"Jerit aja! Coba, siapa yang bisa nolong kamu?" tantang Shandy dengan seringaian yang sama.


Aura terus menjerit, namun nihil. Tidak ada yang akan menolongnya di jam ini, memang ini belum terlalu malam tetapi area ini adalah kawasan perkantoran yang hanya akan dihuni orang-orang di jam kerja.


Shandy semakin antusias melihat wajah Aura yang tampak histeris itu, justru itu menyulut gai rahnya.


Tangan Shandy yang bebas mulai membelai wajah Aura, kemudian kembali memangkas jarak diantara mereka.


"Kamu harus menjadi milikku, Ra!"


Namun pergerakan Shandy terhenti kala mendengar suara mobil yang mendekat. Mobil itupun berhenti tepat didepan lorong sunyi dimana ia memojokkan Aura.


"Shan? Ayo!"


Shandy menoleh sekejap pada seseorang yang meneriakinya dari dalam mobil, kemudian pandangannya kembali jatuh pada wanita yang saat ini berada didepannya dengan wajah ketakutan.


"Jemputan kita sudah datang, Sayang!" katanya sembari membelai wajah Aura dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


Aura membuang muka, demi menghindari sentuhan Shandy yang semakin membuatnya gemetar ketakutan, namun usahanya itu sia-sia saat ia merasa sedikit sakit di bagian lengannya.


Lambat laun, Aura merasa pandangannya buram. Tapi, ia dapat melihat Shandy menarik kembali sebuah alat suntikan yang tadi sempat membuat Aura meringis. Dapat dipastikan jika cairan dalam suntikan tersebut yang membuat mata Aura mengabur.


...***...


"Sayang, bangun ..."


Aura merasa seseorang membangunkannya dengan sangat lembut. Entah kenapa Aura berharap itu adalah Rayyan yang selalu memperlakukannya tanpa emosi.


"Ayo, Sayang. Bangun! Aku gak mau menyetubuhii kamu dalam kondisi kamu yang pingsan seperti ini."


Deg ... Aura langsung melengos, dapat dipastikan suara ini bukan lelaki yang sempat terlintas dikepalanya. Tapi, kenapa pula Aura mengharapkan kehadiran Rayyan sekarang dan kecewa saat tau yang saat ini membangunkannya bukanlah pria itu?


"Aku sukanya ada perlawanan, biar gak seperti main sama orang mati," gerutu pria yang membangunkan Aura.


Aura sebenarnya sudah benar-benar terbangun, hanya saja ia takut untuk membuka kelopak matanya karena perlahan-lahan ia mulai mengenal pemilik suara ini. Shandy.


Mengingat kejadian sebelumnya, Aura semakin yakin jika ia tidak bermimpi dan jelas yang saat ini membangunkannya bukanlah Rayyan.


Sekarang Aura ingin mengumpat dirinya sendiri karen selalu memikirkan pria itu disaat seperti ini. Apa penyesalannya baru muncul sekarang?


Tak tahan dengan Aura yang tidak kunjung bangun, Shandy menarik rambut wanita itu membuat Aura mau tak mau membuka matanya sambil menahan rasa sakit.


Shandy melengkungkan senyuman, ia sangat merindukan tatapan Aura yang seperti menantangnya itu.


"Andai aja dari dulu aku berhasil mendapatkan kamu, pasti sekarang kita sudah bersama. Aku gak bakal dipenjara karena keluarga kamu pasti menuntut tanggung jawabku karena aku berniat membuat kamu hamil waktu itu," kata Shandy penuh keyakinan.


"Breng sek! Pengecut! Kenapa kau tidak mati saja dipenjara!"


Shandy tertawa keras akibat umpatan Aura, perkataan wanita itu tidak merubah apapun niatnya di malam yang semakin larut ini.


"Tapi, sayang sekali malam ini aku gak akan menikmati kamu sendirian karena aku harus berbagi dengan temanku."


Shandy menepuk tangannya sebagai kode agar teman yang dia maksud itu datang dan disanalah mata Aura terbelalak melihat orang yang dimaksud Shandy dengan temannya. Mungkin dia juga yang tadi menjemput mereka di lorong, hanya saja waktu itu Aura tidak begitu jelas melihatnya.


Berbeda dengan saat ini, dimana mereka berada dalam ruangan yang cukup cahaya sebagai penerangan.


"Jeno?"


Aura beringsut mundur. Mungkin saat ini ia sedang berkhayal. Tidak mungkin Jeno ada dihadapannya. Ia tahu Jeno adalah pria yang baik. Setidaknya, begitulah yang Aura ketahui. Untuk itulah dulu ia percaya dan setuju untuk dijodohkan dengan pria tersebut.


"Hai, Ra? Apa kabar?"

__ADS_1


Masih bisa Jeno berbasa-basi didepan Aura, sementara Aura dengan pikirannya sendiri yang sedikit blank akibat kenyataan ini.


"Jen, kamu gak kerja sama dengan Shandy untuk menghancurkan aku, kan? Itu gak bener, kan? Aku tau kamu mau nolongin aku. Tolong lepasin aku dari sini, Jen."


Jeno menatap Aura dengan senyuman sendu. "Maaf ya, Ra. Aku terpaksa ngelakuin ini," paparnya tampak menyesal.


"Kenapa, Jen? Kenapa kamu tega begini sama aku? Apa salah aku sama kamu?" rintih Aura tersedu-sedu. Air mata mengucur deras dikedua pipinya, Aura tidak bisa menahannya, kehadiran Jeno dihadapannya seperti menguak masa lalu yang pernah terjadi nyaris setahun yang lalu dimana pernikahan mereka gagal dilakukan.


Mendengar perkataan Aura justru membuat Jeno terkekeh, begitupun Shandy.


"Kamu nanya salah kamu ke aku apa?" ulang Jeno. "Tentu aja banyak, Ra!" tukasnya.


"Apa? Soal gagalnya pernikahan kita? Itu bukan salah aku! Kamu yang gak mutusin Hanin, padahal kamu bilang ke aku kalau kalian udah gak saling berhubungan. Hanin yang ngejebak aku, kan? Karena dia gak terima kamu dan aku bakal menikah!"


Jeno tersenyum tipis. "Ya, itu emang bener, Ra! Hanin yang jebak kamu. Aku juga baru tau hal itu karena ada seseorang yang menyakiti Hanin. Untuk itu, aku terpaksa menyakiti kamu juga dan akhirnya kerja sama dengan Shandy untuk mencaritahu keberadaan kamu."


"Jadi, kamu ngelakuin ini untuk balas dendam sama aku karena Hanin disakiti oleh orang lain? Seseorang yang menyakiti Hanin itu, gak ada hubungannya sama aku, Jeno!"


Jeno terkekeh. "Tentu aja ada! Hanin disakiti karena dia menjebak kamu malam itu, dan orang yang menyakiti Hanin itu adalah Rayyan, orang yang udah jadi suami kamu!" tukas Jeno.


"A-apa?" Aura terbelalak. Apa yang sebenarnya terjadi? memang Aura tahu mengenai Hanin yang menjebaknya dari Rayyan, tapi Aura tidak pernah tau hukuman apa yang Rayyan berikan pada wanita itu. Kenapa sekarang Jeno harus membalas dendam padanya?


"Rayyan dengan berani menyakiti Hanin, jadi jangan salahkan aku kalau aku juga menyakiti istrinya!"


"Udahlah, Jen. Aura emang pantas kita gilir. Atau lo mau main bareng-bareng?" tanya Shandy menimpali.


Aura menggeleng tegas ditempatnya. Ia masih berharap Jeno mempunyai hati nurani untuk tidak memperlakukannya seperti ini, namun Aura sadar Dimata Jeno sekarang hanya tersirat rasa dendam.


"Jen, bukannya kamu bilang hubungan kamu sama Hanin cuma main-main gak pakai perasaan? Itu yang dulu buat kamu sepakat untuk menikahi aku? Lalu, kenapa kamu membalas dendam sama aku demi Hanin?"


Jeno mengendikkan bahu. Baginya, Aura tidak lagi berharga setelah ia menyadari jika Hanin lebih mempedulikannya saat ia terpuruk ditinggal Aura tanpa rasa bersalah. Aura bahkan tidak pernah memberitahunya kemana wanita itu pergi. Jeno tidak pernah dianggap oleh Aura, dan yang berada disampingnya saat itu hanyalah Hanin.


Meski saat tau yang menjebak Aura malam itu adalah Hanin, tapi Jeno akhirnya tau jika Hanin melakukan itu karena sangat mencintainya.


Berbeda dengan Aura yang tidak pernah mengerti perasaannya, dan kabar terakhir yang Jeno dengar justru Aura menikah dengan Rayyan. Hal itu membuat Jeno semakin tersulut emosi.


"Jangan jadi pria breng sek, dengan menyakiti aku, Jen!" Aura masih memohon belas kasih dari Jeno.


Sayangnya pria itu tersenyum sinis. "Aku breng sek? Lalu apa yang bakal kamu sematkan sama suami kamu itu, hah? Dia lebih breng sek karena udah buat Hanin menderita!"


...Bersambung ......


Maaf ya, baru up🙏 sibuk banget di dunia nyata. Next aku up lagi kalo vote nya nambah✌️😅

__ADS_1


__ADS_2