Dijebak Di Malam Pengantin

Dijebak Di Malam Pengantin
63. Sangat cemburu


__ADS_3

Kedua pasangan pengantin--yang bukan baru--itu tampak sangat lengket seperti lem perekat yang sulit dipisahkan. Bahkan saat makan, keduanya malah asyik suap-suapan seolah di meja makan itu tidak ada orang lain.


"Ekhem ..." Cean berdehem keras, bagaimana mungkin dua orang pasangan ini melupakannya yang juga masih pengantin baru bersama Neska.


Aura hanya melirik Cean sekilas, kemudian tak menghentikan aksi dalam kegiatan menyuapi Rayyan ditengah-tengah sarapan pagi keluarga besar itu.


Untunglah tadi Aura dan Rayyan sempat saling mengeringkan rambut satu sama lain, jika tidak, mungkin saat ini Cean akan menyindir kembarannya itu sebagaimana Aura yang pernah meledeknya soal 'keramas'.


"Udah, Sayang. Udah." Rayyan menolak suapan Aura karena lama-lama ia sungkan juga dengan tindakan mereka berdua dihadapan mata Mama Yara, Papa Sky, dua orang saudara Aura dan istri Cean yang juga ada disana.


Aura mencebik tidak suka, tapi kemudian melihat arah pandangan mata suaminya. Seketika itu juga Aura mengesah pelan. Ia baru tau jika semua orang belum menyentuh sarapan mereka dan hanya menyaksikan intensitasnya bersama Rayyan seolah itu tontonan yang akan mengenyangkan.


Aura menyunggingkan senyum lebar. "Hehe, ayo semuanya sarapan," katanya keki.


Aura menunduk malu, kemudian mulai menyuap sendiri makanannya. Dalam kegamangan itu, Aura merasakan jika tangan Rayyan menyentuh punggung tangannya di kolong meja.


Aura menoleh sekilas pada Rayyan dan pria itu menyorotnya singkat dengan tatapan yang mengartikan jika semuanya sudah baik-baik saja, Aura tau suaminya ini berusaha menenangkannya dari rasa keki akibat kejadian barusan.


Lalu semuanya mulai makan seolah tidak terjadi apapun. Hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring yang terdengar kemudian.


Menjelang siang, Rayyan menerima telepon mengenai pekerjaannya. Sementara Aura juga tampak sibuk membaca banyak pesan ucapan selamat yang diberikan teman-temannya. Sebenarnya pesan itu dikirim kemarin pada hari pernikahannya dengan Rayyan, tapi baru sekarang Aura sempat membaca dan membuka ponselnya.


Akan tetapi, ada satu pesan yang membuat Aura meringis saat membacanya. Itu adalah pesan dari Devon.


[Pantas saja kau menghindari ku, Aura. Aku juga sempat bingung saat Rayyan bilang bahwa dia yang memintamu untuk menjauhiku dan kau malah menurutinya. Tapi, apapun itu, ku ucapkan selamat untuk kalian berdua. Semoga bahagia selamanya.]


Aura baru saja ingin membalas pesan Devon dengan ucapan terima kasih, namun itu tak sempat terjadi saat tiba-tiba ponselnya terasa melayang sebab ditarik oleh seseorang. Siapa lagi jika bukan Rayyan.


Rayyan tampak membaca pesan Devon disana, satu sudut bibirnya tertarik ke atas.


"Mau di balas?" tanya pria itu pada Aura yang masih terbengong ditempatnya.


"Iya," kata Aura sambil menganggukkan kepala.


"Gak usah."


"Loh, kenapa?"


"Gak usah balas apapun pesan dari Devon."


Aura menyeringai sekarang, ia menangkap tangan Rayyan dan menatapnya dengan senyum usil.


"Cemburu, ya??" goda Aura.


"Gak, tuh!" Rayyan mengangkat kedua bahu, lagaknya acuh tak acuh. "Lagian udah jadi istri aku ini, buat apa cemburu," katanya dan segera ingin menghindar dari pertanyaan Aura yang lain.


Alih-alih puas dengan jawaban Rayyan, Aura malah menghadang langkah pria itu.

__ADS_1


"Bilang aja cemburu, apa susahnya sih, Mas?"


Rayyan hanya tersenyum dan tak berniat mengakuinya.


"Waktu aku tenggelam di laut, katanya Devon yang lebih dulu mau nyelamatin aku, terus kamu tiba-tiba datang dan ambil alih aku dari dia."


Rayyan hanya berdehem menanggapi Aura, kemudian dia kembali tafakur pada layar gadgetnya sendiri.


"Terus, pas mau ngasih pertolongan CPR, Devon juga yang mau bantuin, kan?" pancing Aura, ia masih mau mendengar Rayyan mengaku soal rasa cemburu itu.


"Iya, tapi gak jadi. Kan udah ada aku, ngapain pula dia ikut-ikutan," sergah Rayyan dengan nada tak suka.


"Kok kamu mau nolongin aku waktu itu, Mas?"


"Ya kan aku sayang sama kamu."


Aura terkikik. "Tapi katanya itu hanya rasa kemanusiaan," ledek Aura.


"Ya itu juga, tapi selain itu ... ya karena aku gak mau kehilangan kamu."


Nah, Aura jadi tertarik membahas masa-masa itu sekarang. Ia duduk disebelah Rayyan--disebuah sofa yang ada dikamar mereka--lalu mulai menggencarkan aksi ingin tahunya.


"Waktu itu kamu takut gak, Mas?"


Rayyan menoleh pada Aura dan sorot matanya tampak dingin. Aura jadi merasa pertanyaannya ada yang salah.


"Lain kali, jangan gitu lagi ya. Jangan berenang di laut. Ehm, jangan berenang tanpa aku," ujar Rayyan dengan nada sendu di suaranya.


"Kamu beneran takut banget ya, Mas?"


Rayyan mengangguk, soal yang ini ia tampak mau mengakuinya, tidak seperti sebelumnya yang enggan mengaku soal cemburu kepada Devon.


"Bahkan aku pikir aku udah kehilangan kamu waktu itu," katanya kemudian.


"Maaf ya, Mas. Aku juga gak tau kejadiannya bakal begitu. Aku gak sengaja lalai pas berenang, aku gak bermaksud buat ngilangin nyawa aku sendiri," akui Aura.


"Terus, kenapa kamu bisa tenggelam waktu itu?"


"Sebenarnya sebelumnya aku melamun, Mas. Bayang-bayang kedekatan kamu sama Lucy saat aku lihat di Yacht, membuat aku sadar kalau aku sangat mencintai kamu. Aku sakit hati, Mas. Rasanya hati aku kayak di remass kuat-kuat," kata Aura kembali mengakui dengan terus terang.


Rayyan merangkul bahu Aura, membawa wanita itu dalam dekapannya. "Maafin aku, ya. Sebelumnya, aku gak tau kamu ada di Yacht itu juga. Soal kedekatan aku sama Lucy itu sebenarnya cuma dia yang deketin aku, aku malah anggap biasa aja, gak terlalu merespon dia. Cuma, aku emang gak langsung jauhi dia karena aku bilang ke dia bahwa dia seperti adik bagi aku. Aku salah. Maafin aku, Sayang," tuturnya.


Aura mengangguk, Rayyan pun mengecup pelipis sang istri dari posisinya.


"Aku sayang banget sama kamu, Mas." Aura merekatkan pelukannya pada Rayyan.


"Iya, Sayang. Iya."

__ADS_1


Rayyan menyusuri garis bibir Aura menggunakan jarinya dengan pergerakan yang sangat lembut. Hanya sebatas itu saja tapi g@irahnya sudah terpancing, padahal ia hanya merasai kekenyalan bibir Aura lewat jemarinya saja.


Aura mengadah pada Rayyan dan mendapati pria itu yang sudah menatapnya dengan sayu.


"Kiss me," pinta Rayyan kemudian.


Aura tidak menolak, ia memajukan wajah dan berhasil menyatukan bibir keduanya.


Awalnya pergerakan Aura yang masih amatir itu hanya ditanggapi Rayyan dengan diam, pria itu seolah mau melihat sampai dimana kemampuan Aura dalam menciumnya.


Rayyan mulai merasakan jika Aura menggigiit kecil bibir bawahnya. Tak tahan dengan pergerakan Aura yang perlahan tapi pasti itu, akhirnya Rayyan memegang tengkuk istrinya dan mulai menjadi pemimpin yang mengarahkan ciuman mereka.


Aura pun membalas. Istrinya ini memang pintar dan dapat menangkap maksudnya dengan cepat, pikir Rayyan. Lebih takjub lagi saat ternyata Aura sudah berpindah posisi dari yang tadinya duduk disisi Rayyan sekarang telah duduk di pangkuannya.


"Enghh ..." Aura bergumam dalam has-rat, membuat tangan Rayyan semakin turun menyusuri pinggang sang istri lalu menetap disana untuk memeluknya agar tidak ada jarak lagi diantara mereka--barang sesentipun.


"Mas?" Aura menatap Rayyan dari posisinya yang dibalas Rayyan dengan tindakan impulsif dengan memindahkan kecupan ke leher jenjang istrinya.


"Mas, kamu cemburu sama Devon, kan?" Rupanya Aura masih mau menuntut jawaban akan hal itu.


"Jangan menyebut nama pria lain saat kita sedang begini, Sayang," bisik Rayyan di telinga Aura, ada geraman dan penekanan dalam suaranya menandakan ketidaksukaannya akan pertanyaan Aura yang kembali menanyakan Devon.


Alih-alih menurut, Aura semakin menanyakan hal yang sama.


"Makanya kamu jawab, kamu cemburu kan kalau aku sama Devon---"


Ucapan Aura tak berlanjut karena Rayyan kembali membungkam bibirnya dengan bibir pria itu.


Rayyan puas melihat bibir Aura yang tampak sedikit membengkak karena intensitas ciuman mereka. Kemudian ia berpindah ke ceruk leher Aura dan menghisapp keras disana, sengaja meninggalkan jejak merah yang menandakan Aura adalah miliknya.


"Mas?!"


Pekikan Aura tertahan karena Rayyan tak memberi kesempatan untuk Aura memprotes tindakannya, ia segera me-lu-mat kembali bibir wanita itu.


"Aku cemburu, Ra! Sangat cemburu!" jawab Rayyan yang akhirnya menjawab rasa ingin tau Aura, meskipun sejak awal Aura dapat menebak ini, tapi ia belum puas jika itu tidak keluar dari bibir Rayyan sendiri untuk mengakuinya.


Berkat pertanyaan Aura tadi pula, Rayyan tampak lebih beringas sekarang. Kendati terkadang ia seperti menahan diri untuk tetap memperlakukan Aura dengan lemah lembut, tetapi jika boleh jujur Aura juga suka permainan kasar Rayyan. Entahlah, mau mode lembut atau kasar Aura tetap menyukainya asalkan itu Rayyan.


"Thank, Sayang. I love you." Selalu kalimat yang sama yang Rayyan berikan seusai permainan panas mereka.


Dan hal itu membuat Aura merasa sangat dihargai oleh suami tampannya.


"Love you too, Mas. As always," balas Aura dan memejamkan mata di dada te-lan-jangg sang suami.


...Bersambung ......


Makasih banyak yang masih stay disini. 🙏 Masih mau lanjut kebersamaan mereka atau langsung masuk ke konflik, nih??? Tinggalkan komentar kalian ya guys✅

__ADS_1



__ADS_2