Dijebak Di Malam Pengantin

Dijebak Di Malam Pengantin
84. Disalahkan (lagi)


__ADS_3

Rayyan menatap beberapa orang yang datang silih berganti dengan pakaian serba hitam, mereka menghampiri sebuah makam, dimana disana ada sang nenek yang menangis terisak dibawah nisan bertuliskan nama Inggrid Dewi.


Rayyan tidak melakukan apapun. Sedari awal, ia bahkan tidak tau dan bingung harus bersikap bagaimana dengan kematian Tante Inggrid yang tiba-tiba. Wanita itu dinyatakan meninggal setelah tidak mampu melewati masa kritisnya karena obat-obatan terlarang.


Menurut dokter, Tante Inggrid sudah terlalu lama mengonsumsi barang haram tersebut. Dan gelagatnya agak aneh jika dia belum mendapatkan obatnya. Dan hal ini yang juga disadari nenek sedari awal, jika putrinya nampak berbeda dihari ia mengunjungi Tante Inggrid di kontrakannya. Karena itulah, Nenek tidak menampik jika dia mengira Inggrid benar-benar sedang sakit.


Kembali ke Rayyan yang tampak diam seribu bahasa di pemakaman. Meski kejadian semalam ada sebuah hikmah yang membuat Rayyan harus bersyukur yakni Aura kembali bisa berjalan diantara rasa syok yang menderanya akibat kejadian ini. Tapi, kematian Tante Inggrid cukup membuat hati Rayyan mencelos.


Dengan tangan kiri yang masih memegang sebuket bunga mawar putih, sedang tangan kanannya menggenggam erat jemari Aura yang berdiri disisinya. Rayyan tampak linglung disana, ia merasa sedang bermimpi sekarang tapi genggaman Aura terasa nyata.


Rayyan pun menoleh pada Aura. Dengan suara tangisan Nenek yang seakan menggema disana, Rayyan akhirnya menghirup wanita tua itu karena isyarat yang diberikan istrinya.


"Kita pulang ya, Nek." Rayyan berujar tenang. Berniat untuk membuat sang Nenek tidak terus meratapi kepergian Tante Inggrid.


Dan perlakuan Rayyan yang lembut itu justru mendapat tepisan kasar dari sang nenek.


"Ini semua gara-gara kamu!" teriak Nenek didepan wajah Rayyan.


Rayyan memejamkan matanya rapat-rapat. Sudah terlalu terbiasa disalahkan dalam hal yang tidak semestinya menjadi kesalahannya.


"Kamu tau, tantemu jadi begini karena kamu! Dia pake obat-obatan itu pasti karena mikirin kamu yang tega mendepak dia dari silsilah keluarga! Kamu pasti masih ingat dengan jelas, kan? Bagaimana kamu membuat perjanjian dimana Inggrid bukan lagi bagian dari keluarga kamu!" marah Nenek.


Dan kemarahan nenek itu tentu saja bukan hanya didengar oleh Rayyan seorang. Meski banyak pelayat yang sudah pulang namun disana masih ada pihak keluarga Aura yang turut hadir.


Aura yang tau bagaimana nenek dari suaminya, berusaha untuk melindungi Rayyan yang seakan dikuliti habis-habisan.


"Nek, maaf, meninggalnya Tante Inggrid bukan semata-mata karena kesalahan Mas Rayyan!" ujar Aura tegas. Ia tak terima suaminya disalahkan. "Soal obat-obatan yang dikonsumsi Tante Inggrid juga bukan salah Mas Rayyan, Nek! Itu keputusan beliau sendiri yang mau mengonsumsinya. Ini tidak ada hubungannya dengan suami saya!" lanjutnya menekankan.


"Halah! Kamu tau apa? Kamu hanya orang baru dalam hidup Rayyan! Lagipula, kamu gak tau kan, kalau dia memang membuat mental Inggrid down karena mendepak Tantenya sendiri dari silsilah keluarga!"


"Itu karena kelakuan Tante Inggrid sendiri, Nek. Bukankah mas Rayyan sudah mewanti-wantinya untuk tidak melakukan kesalahan tersebut? Tapi apa? Tante Inggrid melanggar perjanjian itu sendiri!" geram Aura yang sudah tak bisa mengontrol emosinya.


"Ra, udah, Ra ..." Mama Yara yang menarik putrinya. Sedang Rayyan tampak syok dan terdiam sejak Nenek menyemburnya dengan ucapan yang terlalu menyakitkan seolah semua ini terjadi karena kesalahan Rayyan.


Inilah sebabnya jika Rayyan memiliki sikap yang sering merasa bersalah pada orang lain. Saat Hanin bunuh diri saja--Rayyan sempat merasa itu adalah kesalahannya juga. Dia merasa ikut andil dalam mendorong Hanin untuk melakukan hal itu. Tidak jauh berbeda dengan sekarang. Dimana Nenek menyalahkannya atas kematian Tante Inggrid yang sebanyak bukan kesalahan Rayyan.


Dari hal ini, Aura tau jika Rayyan terbiasa disalahkan. Maka dari itu, kadang suaminya merasa sangat lelah dan serba salah. Karena ini pula pemicu yang membuat Rayyan sering menyalahkan dirinya sendiri.


"Kita pulang aja, Mas!" Aura tak tahan lagi dengan serangkaian ucapan Nenek yang terus mengulang-ulang kata dengan mencaci dan menyalahkan Rayyan disana. "Kamu gak layak mendengar semua ini, Mas," lanjut Aura sembari meraih buket bunga yang sejak tadi masih berada di tangan suaminya.

__ADS_1


Dengan sedikit berjongkok, Aura meletakkan buket dari Rayyan di pusara baru milik Tante Inggrid. Dan setelahnya, Aura menarik suaminya untuk segera memasuki mobil mereka.


Aura tidak mengizinkan Rayyan menoleh kembali kesana. Ia mau Rayyan pulang dari sana dengan wajah yang tegak tanpa merasa bersalah sedikitpun karena ini memang bukan kesalahan Rayyan.


Aura tidak tau apa lagi yang terjadi di pemakaman selepas kepergiannya dengan Rayyan. Tapi ia tau mengenai nenek Rayyan pasti akan ada yang mengurusnya disana mengingat jika keluarga besar Aura pun masih berada disana saat dia meninggalkan tempat itu tadi.


"Mas?" Aura tak membiarkan Rayyan menyetir, justru dia yang mengambil alih kemudi sekarang.


Rayyan tak protes, meski diawal ia sedikit canggung dengan hal itu. Terutama mengingat jika istrinya baru saja sembuh dari sakit tapi Aura tampak cekatan dalam hal ini.


Rayyan menoleh demi melihat Aura yang memanggilnya.


"Kamu gak usah pikirin apa yang dibilang nenek. Kamu gak salah apapun. Kamu ngerti maksud aku, kan, Mas?"


Rayyan hanya diam tanpa jawaban.


"Mas?" Rupanya Aura menuntut jawaban dari bibir pria itu. "Kamu dengerin aku, kan, Mas?" tuntutnya.


Rayyan mengembuskan nafas panjang.


"Aku gak mau kamu menyalahkan diri kamu sendiri, Mas. Kamu gak salah. Aku tau semuanya dan aku bisa menilai semuanya, Mas."


Sampai di Apartmen, bukannya membersihkan diri Aura malah menuju walk in closet untuk meraih koper yang paling besar.


"Kamu mau kemana?" Dan barulah Rayyan gelagapan melihat tingkah istrinya itu. Dia takut Aura berniat pergi darinya.


"Pergi," jawab Aura acuh tak acuh. Dia membuka panel pintu dimana semua setelan dan bajunya tersusun disana.


Mendadak Rayyan panik dengan wajah pias.


"Kamu mau ninggalin aku?" tanya Rayyan heboh.


Sekarang giliran Aura yang diam dan tak menyahut, seperti halnya Rayyan yang tidak menjawabnya saat ia mengomel di mobil tadi.


"Sayang, kamu mau ninggalin aku?" ulang Rayyan dengan pertanyaan yang sama. "Jangan bilang kamu mau pergi dari hidup aku setelah merasa jika aku turut bersalah atas kematian Tante Inggrid," lanjutnya.


Mendengar itu, Aura lantas menoleh pada sang suami. Tatapannya tampak tajam dan tidak bersahabat sama sekali.


"Apa tadi kamu bilang, Mas?" tanyanya. "Kamu bilang kamu turut bersalah atas kematian Tante Inggrid?"Aura berdecak lidah sekarang.

__ADS_1


Rayyan diam dengan segala pemikirannya yang entah apa.Antara semrawut terngiang-ngiang ucapan sang nenek yang men-judge nya bersalah, juga karena tingkah Aura yang ingin menyusun baju ke dalam koper.


"Aku udah bilang kan, kalau kamu gak bersalah atas kematian Tante Inggrid. Terus kenapa kamu masih juga bilang kalau kamu turut bersalah atas hal ini? Kalau kamu benar-benar menyalahkan diri kamu sendiri. Maaf ya, Mas. Aku bakalan pergi!" ancam Aura.


Rayyan segera menghadang istrinya yang hendak berjalan ke lain arah--mungkin mau mencari peralatannya yang lain untuk dimasukkan juga ke dalam koper.


"Gak, Sayang! Gak!" Rayyan menjawab tegas.


"Gak apa?"


"Aku gak bakal nyalahin diri aku karena aku emang gak salah!"


"Bagus!" kata Aura puas.


Aura meraih semua pernak-perniknya diatas meja rias. Dan mata Rayyan semakin membola sekarang.


"Kan aku udah ikutin apa mau kamu Kenapa kamu tetap nyusunin barang-barang ke koper?" tanya Rayyan tak mengerti.


"Iya, Mas. Karena aku tetap mau pergi."


"Tapi, Sayang? Apalagi salah aku?" tanya Rayyan frustasi.


"Gak ada. Salah kamu gak ada. Kalau kamu udah nggak merasa bersalah lagi ... kamu juga boleh ikut pergi sama aku."


Sekarang Rayyan melongo.


"Iya, Mas. Ayok kita pergi ninggalin semua kekacauan disini. Aku gak mau mendengar kamu disalahkan lagi sama nenek. Biarin suasananya tenang dulu. Sekarang waktunya kita bener-bener bulan madu. Aku juga udah sembuh, kan?"


"Kamu ... serius?"


Aura mengangguk. "Mau gak? Atau kamu maunya aku pergi sendiri aja?" ancam Aura.


Rayyan menggeleng seketika. "Aku ikut kamu, Sayang."


...Bersambung ......


Mohon dukungannya untuk novel ini. Akan segera end yaaa di bulan ini🙏🙏 makasih buat yg masih stay baca sampai bab ini❤️❤️❤️❤️❤️


"

__ADS_1


__ADS_2