Dijebak Di Malam Pengantin

Dijebak Di Malam Pengantin
50. Menjadi Pengecut


__ADS_3

Aura pulang ke Apartmennya, ia tak mau tau tentang siapa wanita yang bersama Darren. Mau itu Lucy atau bukan, itu tidak berpengaruh apapun untuk dirinya.


Meski teman-temannya memilih untuk membuktikan itu dengan datang ke pesta Lucy, Aura berusaha untuk tidak ikut kesana dan tidak ingin tau apapun.


Saat ponselnya berdering dan itu dari Wilow, sebenarnya Aura malas menerimanya. Tapi berhubung ponselnya terus berdering, mau tak mau Aura menerimanya juga.


"Ya, Wil?"


"Ra! Aku, Ghea dan Sylvia sudah tiba di pesta Lucy." Wilow memberitahukan keberadaannya.


"Lalu?" tanya Aura tidak begitu tertarik, ia sudah dapat menebak jika Wilow ingin memberinya info terkait penyelidikan mereka untuk membuktikan soal keberadaan Lucy.


"Coba kau tebak? Lucy ada disini atau tidak?" Wilow sedikit terkekeh diujung kalimatnya.


"Ya ampun, kau meneleponku untuk bermain tebak-tebakan?" sarkas Aura.


Wilow terkikik mendengarnya.


"Ayolah! Tebak saja!"


"Tentu saja Lucy ada disana, itu pestanya. Dia pasti sedang bersenang-senang disana bersama Rayyan dan memamerkan kemesraan mereka seperti di acara ulang tahunnya waktu itu, kan?" tebak Aura.


"Hahaha. Salah!"


"Maksudmu?" Aura mengernyit diposisinya.


"Lucy tidak ada disini! Sudah ku bilang yang tadi ku lihat bersama Darren adalah Lucy dan aku akan memastikannya pada Darren nanti."


"Jadi pestanya bagaimana?"


"Pestanya tetap diadakan, aku juga tidak tau kenapa. Aku denger dari teman-teman yang sudah hadir sejak awal disini tadi, Lucy tadi memang disana saat acara baru dimulai, tapi kemudian dia pergi."


"Lalu ... Rayyan?" tanya Aura ragu-ragu, ia ingin memastikan keberadaan pria itu juga.


"Rayyan ada disini, tadi aku sempat melihatnya sekilas, dia bersama Carl dan Devon."


"Ya sudah," jawab Aura tak semangat.


"Ah ya, Devon menanyakanmu tadi."


"Sudahlah, aku tidak mau membahasnya. Bye!"


Aura memutus panggilan dengan Wilow. Ia jadi memikirkan ucapan temannya itu. Wanita yang bersama Darren adalah Lucy? Apakah iya?

__ADS_1


"Tapi, jika itu benar-benar Lucy ... apa itu artinya dia telah mengkhianati Rayyan?" Pikiran Aura terasa berkecamuk. Padahal, ia berharap Rayyan sudah bahagia meski tanpanya, tapi jika Lucy mencurangi Rayyan seperti itu Aura juga tak terima.


Hati kecil Aura ingin sekali memberitahu Rayyan akan perbuatan Lucy dibelakangnya, ia tidak mau sang mantan dibodohi seperti ini.


Aura menatap ponselnya dan melihat sebuah nomor yang sempat dikirimkan Carl padanya tempo hari. Memang nomor itu belum Aura simpan di phonebook, namun ia tau jelas jika itu adalah nomor Rayyan yang ia sempat minta pada Carl--saat di Yacht waktu itu.


Dengan ragu, Aura mulai menghubungi nomor pria itu dan saat panggilannya tersambung Aura malah menjadi ragu.


Lebih gelagapan lagi saat mendengar pemilik nomor itu menerima panggilannya.


"Hallo?"


Aura terdiam, keki sendiri. Ia bingung harus memulai dari mana pembicaraan ini. Haruskah ia menjadi pihak pengadu yang mungkin akan membuat Rayyan percaya? Atau justru ucapannya hanya akan dianggap Rayyan omong kosong belaka?


"Hallo ... siapa ini?" Suara Rayyan kembali terdengar, dan Aura sudah membuka mulut untuk bicara.


"R-Ray?" panggilnya ragu.


"Ada apa?"


Dari pertanyaannya, Aura tau jika Rayyan sudah dapat mengenali suaranya yang tersambung lewat saluran seluler tersebut.


"Ray, aku cuma mau ngasih tau kamu sesuatu, mungkin kamu gak akan percaya gitu aja tapi ..."


Suara dingin Rayyan yang kembali terdengar ditelinga Aura semakin membuat perasaannya tidak menentu, tetapi jika ia diam tanpa memberitahukan hal ini pada Rayyan, Aura juga tidak bisa. Mau bagaimanapun, ia tetap merasa peduli pada pria itu dan perasaan semacam ini muncul entah sejak kapan.


"Tadi, aku dan teman-temanku makan di Cafe, Wilow tidak sengaja melihat Darren disana."


"Darren? Pria itu, apa hubungannya dengan aku?" serobot Rayyan yang sepertinya langsung emosi mendengar Aura menyebut nama Darren.


"Aku belum selesai bicara, Ray."


"Oke, apa lagi?"


"Wilow melihat Darren mesra dengan seorang wanita dan itu ... itu Lucy," kata Aura sembari menggigitt bibir diposisinya.


Hening, tidak ada sahutan dari Rayyan di seberang sana.


"Ray? Kamu masih disana? Aku ngasih tau kamu hal ini karena aku tau kamu sama Lucy cukup dekat, meski aku gak tau hubungan kalian apa, tapi melihat Lucy bersama Darren aku pikir kamu berhak tau, mungkin Lucy membohongi kamu dan aku gak mungkin diam aja setelah tau hal ini," jelas Aura panjang lebar.


"Kenapa? Kenapa harus ngasih tau aku?"


"Ya karena aku peduli sama kamu, aku gak mau kamu dibohongi sama Lucy. Aku--"

__ADS_1


"Cukup, Ra! Bagaimanapun, aku tau gimana acuhnya kamu sama aku, jadi gak usah sok peduli sama aku sampai bawa-bawa nama Lucy!"


"R-Ray?" Aura tergugu mendengar kalimat Rayyan yang seolah tidak mempercayai ucapannya itu.


"Lagipula, yang pernah jalan sama Darren bukan cuma Lucy, kan? Apa kamu lupa kalau kamu juga sama seperti itu?"


Tentu Aura tidak lupa dengan kejadian perpisahannya dan Rayyan sesaat setelah Darren mengantarkannya pulang waktu itu. Tapi saat itu Aura benar-benar tidak pergi bersama Darren, pria itu hanya tak sengaja melintas lalu mengantarkannya pulang. Kenapa sampai sekarang Rayyan tidak bisa mempercayainya? Apa karena waktu itu ia yang tidak pernah menanggapi peringatan Rayyan dan selalu mengabaikannya saja?


"... mungkin kamu lupa ya, Ra? Padahal waktu itu status kamu adalah seorang istri. Jadi, siapa yang paling membohongi aku disini? Kenapa waktu itu kamu gak peduli, padahal kelakuan Lucy ini sama dengan kelakuan kamu sendiri, kan?"


Aura tiba-tiba meneteskan airmatanya lagi dan lagi. Ucapan Rayyan benar, tidak seharusnya ia mengadukan sikap Lucy padahal dulu iapun sama seperti wanita itu. Malah jauh lebih parah karena statusnya adalah istri Rayyan.


"Sekarang, kenapa kamu harus peduli saat kejadian yang sama terulang lagi?" tanya Rayyan yang sejak tadi tidak mendapat jawaban dari Aura yang kehabisan kata.


Aura menarik nafas dalam, dengan semua lontaran kemarahan Rayyan padanya hari ini, entah kenapa ia tak berani membela diri, namun satu yang tak bisa ia terima yaitu disamakan dengan Lucy.


"Kamu bener, Ray. Kelakuan aku dan Lucy emang sama. Sama-sama membohongi kamu. Dan aku malah lebih parah karena dulu aku masih berstatus istri kamu.Tapi, aku gak sama dengan Lucy, karena aku sama Darren gak memiliki hubungan khusus sampai harus jalan dengan mesra. Satu lagi, dulu memang aku gak peduli sama kamu, tapi sekarang aku udah berubah. Aku peduli sama kamu karena ... karena aku mencintai kamu, Ray. Aku tau ini udah terlambat. Jadi, lupakan soal perasaan aku."


Aura menutup panggilannya secara sebelah pihak. Ia tersedu dan menyesali segalanya. Ia harus berusaha melupakan Rayyan lebih dari yang selama ini ia usahakan.


Aura tidak menyangka ternyata sedalam itu sakit yang ia torehkan untuk mantan suaminya, sampai Rayyan masih mengingat dengan jelas bagaimana kesalahannya di masa lalu dan mengungkitnya saat ia bersikap peduli pada lelaki itu.


"Ya Tuhan, bantu aku melupakan dia." Aura berdoa disela-sela tangisannya.


"Aura bodoh! Kenapa harus mengadukan sikap Lucy! Rayyan pasti lebih percaya Lucy ketimbang kamu yang udah menyakiti dia!" kata Aura mengumpat dirinya sendiri.


Saat tangisan Aura mulai reda, sebuah panggilan kembali masuk ke ponselnya. Aura tau dan yakin jika itu bukan Rayyan, tak mungkin pria itu menghubunginya lagi. Jikapun itu Rayyan, Aura tak mau menerima panggilannya sebab ia butuh waktu untuk menenangkan diri.


Syukurlah itu panggilan dari sang Mama.


"Aura, Sayang, kamu bisa pulang ke Indonesia, nak? Cean mau menikah ... Mama harap kamu bisa ikut berkumpul disini."


Dan Aura pikir ini adalah momen yang pas untuk ia pergi dan menghindari pertemuan dengan mantan suaminya lagi. Aura merasa memiliki alasan yang kuat untuk pergi.


"Nyatanya aku emang selalu menghindari masalah, Ray. Aku gak kuat untuk menghadapinya. Aku selalu lari. Aku gak sanggup meski aku udah berusaha untuk melihat kamu bahagia dengan wanita lain."


Aura tau, tindakannya memang selalu berujung pengecut. Hal yang sudah mati-matian ia coba, nyatanya ia memang tak bisa. Apalagi melihat Rayyan bahagia tanpanya, justru membuatnya begitu sakit dan hal yang paling mungkin Aura lakukan adalah pergi.


...Bersambung ......


Terima kasih ya yang udah kasih vote dan kirimin gift ke novel ini. Othor jadi semangat buat ngelanjutin bab-nya.


Nanti othor up lagi ya🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2