Dijebak Di Malam Pengantin

Dijebak Di Malam Pengantin
79. Murka


__ADS_3

Setelah tau jika Aura adalah cucu dari Indri, sedikit banyak Inggrid dan Marini langsung merasa ciut. Mereka jadi enggan untuk melanjutkan rencana yang sebelumnya ingin memanfaatkan kebaikan Aura. Terlebih lagi Marini jelas mengingat jika dosa di masa lalu terhadap Indri bahkan belum ditebusnya sampai saat ini. Bagaimana bisa ia melanjutkan niatnya jika--selama ini-- dengan ia dibiarkan hidup oleh Indri saja--harus patut ia syukuri.


Dengan sikap yang kikuk, Marini dan Inggrid menyelesaikan sesi makan malam itu dengan perasaan yang berkecamuk.


"Saya ingin menanyakan sesuatu tapi tolong jawablah dengan jujur." Rayyan memulai perbincangannya saat mereka telah kembali ke Apartmen. Ia bahkan menahan Inggrid untuk segera pergi, padahal biasanya Rayyan yang tak tahan jika Inggrid datang apalagi berlama-lama di Apartmennya.


Inggrid dan Marini lantas saling melihat satu sama lain--seolah sadar hal apa yang ingin Rayyan tanyakan pada mereka saat ini.


"Ehm, Ray ... sepertinya Tante harus segera pulang ke kontrakan Tante ya," ujar Inggrid mencari alasan.


Rayyan yang sudah paham betul mengenai watak Tante dan Neneknya, langsung menjadi semakin curiga karena Inggrid yang terasa ingin menghindar dari pertanyaannya.


Rayyan tak menyahut perkataan Inggrid, namun sorot matanya seolah memerintahkan untuk Inggrid tetap diam dalam duduknya saat ini. Dan tatapan tajam itu berhasil membuat Inggrid kicep sehingga akhirnya berat untuk melangkah pergi.


Lain Inggrid, lain pula sang ibu. Marini tampak sudah meremass jemarinya sendiri. Telapak tangannya terasa dingin karena ia bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan Rayyan. Meski Aura sudah berada di kamar karena Rayyan tau ini hanya harus dibicarakan bertiga bersama Nenek dan Tantenya--tapi tetap saja Marini merasa gelisah dan khawatir. Ia takut tidak bisa mengelak lagi dari pertanyaan Rayyan yang sudah dapat ia tebak kemana arahnya.


"Kenapa Oma nya Aura ... Oma Indri bisa mengenal Nenek dan juga Tante Inggrid?"


Dan pertanyaan yang Marini takutkan benar-benar dilontarkan oleh Rayyan.


"Darimana dan bagaimana bisa kalian saling mengenal?" tambah Rayyan dengan tatapan penuh intimidasi pada kedua orang wanita berbeda generasi dihadapannya.


Inggrid menundukkan kepala, sesekali melirik sang ibu yang juga melakukan tindakan serupa. Mereka serasa ingin dikuliti habis-habisan oleh Rayyan saat ini juga.


"Jawab, Nek." Rayyan berucap dengan nada rendah namun jelas sekali penuh penekanan disana.


"Ehm ... Indri itu dulunya sahabat Nenek," akui Marini pada akhirnya.


"Sejak kapan?"


"Sejak kami sama-sama tinggal di kampung. Sebelum Indri menikah dengan Opa nya Aura ... Mas Awan Lazuardi," terang Nenek.


"Oh, Nenek juga mengenal mendiang opanya Aura?"


Marini mengangguk. "Mengenal sekilas saja," akuinya takut-takut.


"Kalau Tante Inggrid? Kenal darimana? Apa Oma yang mengenalkan?" tanya Rayyan yang kini mengarah pada sang Tante.


"I-iya." Inggrid menganggukkan kepala dengan ritme cepat, tampak manut sekali.

__ADS_1


Jeda cukup lama disana karena Rayyan memperhatikan lamat-lamat pada keduanya.


"Jadi, kenapa kalian seperti melihat hantu saat menyadari ada Oma Indri ada disana?" tanya Rayyan yang kini dengan intonasi tegas.


Sekarang Marini dan Inggrid saling tatap, kemudian keduanya seolah berdebat untuk siapa yang kali ini harus menjawab.


"Jawab, Nggrid."


"Mama aja," balas Inggrid.


"Tapi ini kan karena kamu."


"Ah, gak mau," ujar Inggrid.


Dan Rayyan habis kesabaran melihatnya. "Jawab! Jujur! Atau aku akan menanyakannya dari Oma Indri secara langsung mengenai apa yang udah kalian perbuat?" ancam Rayyan marah.


Inggrid dan Marini sampai terkejut melihat kemarahan Rayyan yang demikian. Sementara Rayyan sendiri, merasa ada sesuatu yang diperbuat oleh kedua wanita ini--yang mungkin saja mempermalukan namanya dimata keluarga besar sang istri.


"Ja--jadi, waktu dulu itu---" Inggrid ragu memulainya, sekali lagi dia menatap pada Marini dan wanita yang melahirkannya itu malah melengos saja. "Nenek kamu sering pinjam uang sama Tante Indri ..." terangnya dengan penuh kehati-hatian.


Sudah Rayyan duga, jika berurusan dengan kedua orang ini pasti tidak jauh dengan urusan uang uang dan uang.


"I-iya, Nenek pikir kan Indri itu kan orang kaya, terus dia juga udah menikah sama pria kaya raya, jadi uang segitu pasti gak ada artinya sama dia," timpal Marini yang mulai berani menjawab.


Oke, sekarang Rayyan sudah tau sifat memanfaatkan tantenya berasal darimana, tentu saja menurun dari neneknya.


"Terus, Indri pindah ke kota ngikut suaminya. Jadi nenek gak bisa bayar hutangnya, Ray. Bukan nenek gak mau bayar," kata Marini kemudian--yang Rayyan tangkap disini adalah nenek berniat membela dirinya sendiri.


"Terus, apalagi?" desak Rayyan. "Apalagi kesalahan Nenek sama Oma Indri?" tuntutnya.


"Gak ada..." lirih Marini.


"Jangan bohong. Jujur sama saya semuanya supaya saya tau bagaimana caranya meminta maaf pada Oma-nya Aura, Nek."


Marini menatap Inggrid seolah meminta persetujuan putrinya itu, tak dapat respon, ia pun mulai menceritakan kembali apa yang terjadi.


"Sejak Indri pindah ke kota Mama emang gak ketemu dia lagi. Tapi, tantemu yang ketemu lagi sama beliau. Terus ... terus ..." Marini tak melanjutkan kalimat, seakan tidak sanggup untuk melakukan hal itu.


"Terus kenapa?" Rayyan menatap Inggrid sekarang. "Apa yang Tante perbuat?" geram Rayyan tak sabar lagi.

__ADS_1


"Tante minta kerjaan sama Tante Indri, sempat dikasi kerjaan sih, waktu itu anaknya Tante Indri juga masih SMP, jadi Tante yang baru tamat SMA diminta kerja di rumahnya buat sekalian temenin putranya itu tapi Tante malah mencuri disana," jawab Inggrid takut-takut.


"Apa?" Rayyan kehabisan kata sekarang. Ia menarik nafas dalam-dalam, menahan kesabaran.


"Dulu itu hidup kami turun naik, Rayyan. Gak langsung senang. Ada kalanya kami susah dan harus mencari uang hanya untuk makanan harian. Kamu gak akan ngerti karena hidup kamu udah terjamin dari hasil peternakan milik adikku!" kata Inggrid tak mau kalah.


"Bukan berarti tindakan mencuri Tante itu bisa dimaklumi. Lagipula, apa yang Tante curi disana? Uang? Berapa?"


"Oke, Tante akui Tante salah. Tante mencuri uang, perhiasan dan barang-barang milik Tante Indri disana. Banyak ... banyak sekali, Rayyan!" akui Inggrid akhirnya.


Dan sekarang Rayyan murka mendengarnya. Ingin marah tapi sudah nyaris kehilangan kata. Mau ditaruh dimana wajahnya didepan Oma Indri nanti dan bahkan sejak awal sepertinya Oma dari istrinya itu tau jika dia adalah cucu dari Marini. Kenapa Oma merestuinya jika begini?


"Tapi kamu lihat, kan? Bahkan keluarga mereka semakin kaya. Apa yang sudah Tante curi waktu itu, tidak berpengaruh apapun untuk keluarga mereka. Itu sama sekali tidak menyebabkan mereka bangkrut!"


Dan emosi Rayyan semakin tersulut karena ucapan Inggrid yang seolah tidak merasa bersalah atas tindakannya dimasa lalu itu.


"Pergi, Tan!" usir Rayyan dingin. "Pergi sebelum aku berbuat kasar sama Tante!" lanjutnya sambil berdiri.


"Oke, Tante pergi dari sini! Tapi harus kamu ingat ya, Ray... sampai kapanpun kamu gak akan mengerti kesusahan hidup kami dulu. Bahkan Bian, papi kamu itu juga menikmati hasil curian aku!" tukasnya menohok.


"Jangan bawa-bawa mendiang Papi Saya, Tan!" Rayyan maju dua langkah, ingin sekali menerjang Inggrid saat ini juga namun ia masih waras untuk tidak melakukan kekerasan pada wanita--terlebih itu masih tantenya sendiri. "Saat Tante mencuri diumur belia, pasti papi saya juga belum mengerti darimana uang yang Tante dapatkan!" desisnya kemudian.


Ya, harus Inggrid akui jika waktu itu Bian masih berumur sembilan tahun yang ketika ia membawa makanan atau barang-barang, Bian akan selalu menyambutnya dengan suka cita tanpa pernah menanyakan dia mendapatkan uang darimana. Mungkin Bian saja yang terlalu polos dan percaya jika ia bekejra keras untuk hidup mereka.


"Tapi tetap saja, Bian menikmati hasil dari curianku!" kata Inggrid kemudian.


Tangan Rayyan sudah naik tinggi, sedikit lagi ingin menampar Inggrid namun lagi-lagi kewarasan melarangnya untuk melakukan itu.


Seketika itu juga Marini ikut berdiri. "Rayyan! Jangan coba sakiti anakku! Inggrid memang pernah salah, tapi kamu tidak berhak memukulnya!" bela nenek.


Rayyan menurunkan tangan yang tadi sudah membumbung di udara. Meski tanpa larangan sang Nenek pun sebenarnya ia juga tak sanggup untuk melakukan itu. Sekarang Rayyan tau dan dapat menilai jika nenek selalu membela Tante Inggrid meski begitu banyak kesalahan yang dilakukan oleh wanita itu.


"Saya sekarang sadar, Tante Inggrid begini dan gak pernah berubah... itu semua karena didikan nenek yang salah. Kita boleh mempercayai anak kita, Nek. Tapi kalau kelakuannya salah, kita juga patut menegurnya. Tidak semua perbuatannya harus kita benarkan."


"Kamu ngerti apa, heh? Jangan nasehatin nenek kamu sendiri. Kamu bahkan baru menikah dan belum punya anak."


Rayyan mengangguk mengiyakan. "Tapi itu ajaran dari mendiang papi saya. Entah kenapa, sekarang saya bersyukur karena dulu Nenek pernah mengusir Papi sehingga papi tidak terlalu lama hidup dengan keluarganya yang toxic!" pungkas Rayyan sambil berlalu.


...Bersambung ......

__ADS_1


Tinggalkan komentar, Guys. Ini novel udah mau tamat. Jadi beri dukungannya yaaa✅🙏🙏🙏


__ADS_2