
Pukul 1 siang waktu setempat, Aura dan Rayyan akhirnya tiba di sebuah daerah dataran tinggi yang tidak menunjukkan cuaca panas sedikitpun. Disana sangat sejuk dan sejauh mata memandang ada banyak sekali pemandangan yang memanjakan mata. Bukan pantai atau danau, tapi disini Aura dapat melihat gunung dan bukit barisan yang jaraknya tampak sangat dekat. Banyak kebun strawberry, juga pohon-pohon pinus yang menjulang.
"Mas, disini keren banget," celetuk Aura. Meski perjalanan mereka jauh, tapi tidak membuat Aura lelah karena ternyata ia menyukai pemandangan yang disajikan disepanjang perjalanan.
Rayyan hanya menanggapi perkataan Aura dengan terkekeh samar. Sebenarnya dalam hatinya was-was, ia tidak mau Aura tersinggung dengan sambutan neneknya nanti. Tapi, mau bagaimana lagi, ini keinginan istrinya sendiri, jadi sejak awal Rayyan sudah mengatakan pada Aura untuk mempersiapkan diri.
"Mas, nanti aku mau petik strawberry ya. Ehm, kalau bisa kita beli bibit tanamannya juga. Aku mau menanamnya," kata Aura dengan permintaannya yang selalu diluar perkiraan Rayyan.
"Iya, Sayang. Iya."
Rayyan senang melihat istrinya yang bersemangat. Mereka tidak hanya pergi berdua saja, tapi bersama Pak Deri dan seorang sopir yang mengantarkan keduanya.
"Makasih, Sayang." Aura memeluk leher Rayyan dengan semringah.
"Hmm ..." Rayyan manggut-manggut, "tapi kamu mau menanam pohon strawberry dimana, Sayang? Kita kan gak punya pekarangan?" tanyanya heran.
Aura mengangguk, ia pikir ujaran Rayyan benar juga. Tapi ia tetap ingin melakukannya.
"Nanti kita beli pot, terus diletakkan di balkon kamar. Gampang, kan?" kata Aura dengan ide yang dia rasa cemerlang.
"Hahaha, cuaca disana kan panas, nanti kalau tanaman strawberry nya mati, kamu jangan nangis ya."
Sekarang Aura cemberut. "Belum apa-apa udah didoain mati tanaman aku," katanya berlagak merajuk.
Rayyan membawa Aura dalam dekapannya. "Iya, iya, nanti tanam lebih dari satu, jadi kalau yang satu mati masih ada yang lain lagi," katanya menenangkan sang istri.
Aura terkikik sekarang. "Kamu emang paling the best, Mas," pujinya.
Perjalanan yang cukup memakan waktu itu akhirnya sampai pada titik lokasi yang dituju.
"Kita sudah sampai, Pak." Pak Deri menoleh ke belakang dan melaporkan keadaan pada Rayyan yang sibuk meladeni pembicaraan istrinya.
"Silahkan turun duluan, ya. Saya masih mau bicara sama istri saya," kata Rayyan dan Pak Deri pun mengangguk hormat.
Setelah Pak Deri dan Sang Sopir keluar dari mobil, Rayyan segera menatap pada Aura yang duduk disisinya.
"Seperti yang aku bilang kalau nenek itu beda, jadi kamu harus siap ya apapun yang nanti dia bilang. Jangan sampai tersinggung. Siapkan hati dan mental kamu."
"Iya, Mas. Tenang aja. Kalau nanti Nenek marahin aku, anggap aja itu balasan karena dulu aku juga sering marah-marah sama cucunya," jawab Aura berkelakar.
"Ada aja kamu."
Rayyan mengesah pelan sebelum akhirnya mengajak Aura untuk turun dari mobil.
"Mas?" Aura menarik tangan Rayyan lebih dulu sebelum mereka menginjakkan kaki di luar mobil.
"Kenapa?"
"Kalau kira-kira mulut nenek terlalu pedes sama aku, aku boleh ngejawab gak, Mas?" tanyanya disertai cengiran lebar.
Rayyan terkekeh sekarang. "Jangan melawan nenek ya, Sayang. Kalau kira-kira nenek kelewatan, kamu pergi dan hindari aja," katanya memperingatkan.
"Oke, Mas."
Keduanya benar-benar sudah turun dari mobil Rank Rover yang digunakan untuk menuju ke tempat itu.
Sebuah rumah putih besar tampak sangat kontras dengan pemandangan sekitar yang hijau. Itu lebih seperti villa ketimbang rumah tinggal biasa. Aura merasa disini sangat sejuk dan nyaman. Tapi mungkin suasana itu akan hilang dikarenakan penghuni rumah tersebut, entahlah. Aura harus bersiap mulai dari sekarang. Sejujurnya Aura juga sedikit gugup.
"Disini ada 5 kamar, dulu satunya aku tempati. Setelah aku gak disini lagi, mungkin kamarnya kosong, cuma aku udah telepon Mbok Jum untuk membersihkannya. Jadi nanti kita tempati itu, ya."
Aura mengangguk dengan ujaran suaminya. Mereka sudah memasuki pekarangan rumah besar itu dan langsung disambut dengan seorang ART yang tidak terlalu tua.
"Selamat siang, Pak. Apa kabar?" sapa Art itu.
__ADS_1
"Siang, Mbak Niar. Saya sehat. Mbak sendiri, gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah saya sama Mbok Jum juga sehat, Pak."
"Nenek?"
"Ehm, Nyonya kurang sehat akhir-akhir ini, Pak."
Rayyan langsung menoleh pada Pak Deri, dan pria yang ditatap itu langsung mengangguk pada Rayyan seolah membenarkan perkataan Mbak Niar.
Rayyan menghela nafas pelan, kemudian menangkap jika Mbak Niar terus melihat Aura dengan senyuman penuh arti. Rayyan tidak mau ART itu salah mengartikan siapa Aura disini, jadi tidak ada salahnya ia memperkenalkan istrinya.
"Ini Aura, Mbak. Dia istri saya."
"Pak Rayyan sudah menikah?" tanggap wanita itu dengan raut kaget.
Rayyan mengangguk dan mengajak Aura memasuki pintu utama. Sementara Aura, tampak tersenyum ramah pada Mbak Niar yang masih menatapnya tak berkedip.
"Mbok Jum dimana, Mbak?" tanya pria itu kemudian.
"Mbok Jum lagi ngantar makan siang untuk pekerja di peternakan, Pak."
"Oh. Kamar saya sudah dibersihkan, kan?"
"Sudah, Pak."
Rayyan langsung mengajak Aura menuju letak kamarnya. Ia ingin Aura beristirahat dulu sebelum nanti bertemu dengan neneknya. Diikuti Mbak Niar yang membawakan barang-barang bawaan mereka yang memang tidak terlalu banyak sebab mereka akan disana hanya beberapa hari saja.
Sayangnya, langkah mereka terhenti kala mendapati seorang wanita sepuh di koridor rumah itu. Ya, itu adalah Nenek Rayyan. Sepertinya beliau juga sudah mendengar jika Rayyan akan datang ke rumah itu.
"Tidak pernah berkunjung, kemudian datang kesini membawa perempuan. Apa itu pantas?" sarkas Nenek.
"Ini istri saya, Nek," jawab Rayyan tenang.
"Untuk apa kau membawa istrimu kesini? Apa kau pikir aku mau menerimanya disini?"
Nenek terkekeh. "Makin sombong saja kau, Rayyan. Apa kau menikahi wanita kaya?" ujarnya disertai suara batuk diujung kalimat.
Aura prihatin dengan wanita sepuh itu, ia segera meminta tolong pada Mbak Niar agar mengambilkan air minum untuk sang nenek dan seketika itu juga Mbak Niar berlarian untuk mengambil minuman.
"Ini, Nek. Minum dulu ..." kata Aura berusaha bersikap sopan mengingat jika itu adalah orang tua yang patut disegani.
Trang !!!
Gelas berisi minuman itu langsung ditepis nenek dan jatuh berhamburan dilantai.
Dalam hati Aura, Nenek Rayyan benar-benar sangat menguji kesabaran. Disini Aura paham kenapa kesabaran Rayyan sudah sangat teruji.
Aura dan Rayyan lantas saling bertatapan satu sama lain.
"Gak usah mencari perhatian saya. Saya tidak mengenal kamu, jadi jangan mengganggu saya disini." Nenek pergi setelah mengucapkan kalimat yang membuat Aura cukup terkejut. Padahal ia tidak pernah berniat mengganggu nenek.
Rayyan mengusap pelan punggung istrinya. "Kamu gak apa-apa, kan? Udah aku bilang seharusnya kita gak kesini," sesalnya.
"Mas? Kita masuk kamar aja yuk!" ajak Aura yang tampak seolah tidak terjadi apapun.
...***...
Selepas membersihkan diri, Aura dan Rayyan sudah bersiap untuk makan malam. Namun, sebelum benar-benar keluar kamar, Rayyan kembali memperingatkan istrinya.
"Sayang, kamu yakin mau makan satu meja sama Nenek?"
"Ya iya, emang mau dimana lagi?"
__ADS_1
"Kita makan di kamar aja, ya. Atau enggak, kita makan di pekarangan belakang, minta Mbak Niar menyiapkannya."
"Mas, Aku pikir Nenek itu kesepian selama ini. Jadi, saat kita disini seharusnya kita menunjukkan pada beliau bahwa nenek masih mempunyai keluarga," kata Aura terdengar bijak.
"Tapi, Ra. Aku gak bisa lihat nenek terus memperlakukan kamu dengan kasar, bisa-bisa nanti aku jadi ngomong keras sama nenek."
"Kamu cukup diam aja, biar aku yang ngadepin Nenek." Aura unjuk dada dengan gaya yang sangat percaya diri, membuat Rayyan akhirnya mengalah dan membiarkan untuk mengikuti keinginan istrinya.
Saat mereka tiba di meja makan yang sudah dihidangkan banyak makanan itu, Rayyan tidak mendapati Nenek disana. Pun dengan Tante Inggrid. Bicara soal Tante Inggrid, mungkin wanita paruh baya itu memang tidak pernah kembali ke rumah yang ada di peternakan. Entahlah, Rayyan tidak mengetahuinya dan nanti dia akan menanyakannya pada Mbak Niar atau Mbok Jum.
Rayyan baru saja mau makan dengan tenang, karena sepertinya neneknya tidak mau makan malam bersama mereka. Akan tetapi, suara Aura berhasil membuat Rayyan menghentikan pergerakannya yang ingin membalik piring makan.
"Nenek dimana? Kenapa gak ikut makan malam sama-sama, Mbak?"
"Nyonya besar tidak mau makan disini, Bu," sahut Mbak Niar.
"Kenapa?"
"Sayang, ini udah biasa. Makanya kamu jangan terlalu berharap kalau nenek mau bergabung bersama kita dimeja yang sama. Sekarang kamu makan aja, ya. Biar urusan Nenek Mbok Jum sama Mbak Niar yang mengurusnya."
"Tapi, Mas?"
"Udah, kamu makan aja dulu."
Aura menurut dan mencoba menikmati makan malamnya bersama sang suami.
"Wah, masakan ini namanya apa ya, Mbok?" tanya Aura menunjuk sebuah menu makanan yang tersaji saat Mbok Jum menuangkan air putih untuk mereka.
"Itu namanya masak pindang, Bu. Apa rasanya tidak cocok di lidah ibu?" sahut Mbok Jum.
Aura menggeleng. "Enak, Mbok. Aku suka. Boleh gak nanti ajarin aku gimana cara masaknya. Soalnya suamiku ini maunya dimasakin aku," katanya sembari mengedipkan mata pada Rayyan yang terdiam dengan perilaku Aura sekarang.
"E-eh, kirain ibu gak suka masakannya."
"Enak, Mbok. Ya kan, Mas?"
Rayyan mengangguk mengiyakan.
"Kamu mau kan Mas kalau aku masakin ini?"
"Iya, Sayang."
"Nah, Mbok. Nanti tolong ajari aku ya, Mbok."
"Iya, Bu." Mbok Jum tampak kikuk, ia pikir istri majikannya adalah wanita yang sombong rupanya Aura terlihat tidak canggung dan malah sengaja mengakrabkan diri pada mereka yang hanyalah pekerja di rumah itu.
Selepas makan, Aura dan Rayyan duduk bersantai di depan TV. Saat Mbak Niar menyajikan cemilan untuk mereka disana, Aura langsung menanyakan pada Mbak Niar soal makan malam nenek, apa sudah diantar atau belum dan dijawab dengan sudah oleh wanita itu.
"Mas, aku nemuin Nenek ya, Mas."
Rayyan langsung tercengang dengan permintaan istrinya kali ini. Ternyata Aura belum menyerah juga setelah tadi siang mendapat perlakuan kasar dari neneknya.
"Kamu penasaran banget, ya? Masih kekeuh untuk buat nenek melunak?" tanya Rayyan yang tak habis pikir dengan istrinya.
"Iya, Mas. Aku yakin Nenek pasti akan berubah."
Rayyan meletakkan i-Pad nya diatas meja. Lalu menatap Aura lekat.
"Aku gak tau sampai seberapa batas kesabaran kamu menghadapi nenek, tapi aku aja yang udah mencoba meluluhkan Nenek selama bertahun-tahun tetap gak berhasil. Jadi, aku mohon sama kamu jangan terlalu berusaha, aku takut usaha kamu sia-sia dan itu berdampak sama rasa kecewa kamu yang semakin besar nantinya."
"Aku tetap mau coba, Mas." Aura bersikukuh.
"Kamu denger sendiri tadi siang, Nenek anggap kedatangan kamu disini itu mengganggu dia. Nah, kalau sekarang kamu mampir ke kamarnya itu sama aja dengan kamu bener-bener mau mengganggunya, Sayang. Gak usah, ya," cegah Rayyan.
__ADS_1
...Bersambung ......
Dukungannya mana? Kok gak ada. Udah up 4 bab lho hari ini. Lanjut gak ini??