Dijebak Di Malam Pengantin

Dijebak Di Malam Pengantin
42. Di atas Yacht


__ADS_3

Mengikuti kata hatinya, Aura mencoba menghubungi nomor Rayyan. Hal yang sama sekali belum pernah Aura lakukan kendati dulu Rayyan selalu meminta dihubungi jika Aura memerlukan sesuatu. Memang, selama ini Aura tidak pernah menelpon pria itu, yang ada selalu Rayyan yang lebih dulu meneleponnya untuk menanyakan apa yang dia butuhkan. Dan sekarang, Aura mengaku jika ia menyesali hal itu.


Nomor yang sebelumnya Aura berikan nickname 'pengganggu' itu, kini malah ia hubungi karena ingin mengucapkan kata maaf. Bahkan jika bisa, ia akan mengucapkan lebih dari itu. Aura ingin Rayyan tau penyesalannya dan beribu rasa terima kasihnya untuk hal lampau maupun hal yang baru terjadi beberapa hari lalu.


Sayangnya, nomor itu tidak bisa dihubungi. Baru sekali ini Aura mengharapkan untuk mendengar suara Rayyan lagi.


Apa yang harus Aura lakukan untuk menebus kesalahannya pada mantan suaminya itu? Ia sadar jika ia yang telah abai, egois serta menyia-nyiakan perasaan Rayyan yang sudah tulus kepadanya.


Sekarang Aura hanya bisa menangis meratapi dirinya sendiri. Apa ada pria lain yang mau dengan wanita egois sepertinya? Jika pun ada, Aura tidak akan mau dengan mereka karena kini yang ia inginkan hanya Rayyan, itupun jika Rayyan masih mau menerimanya.


"Maafin aku, Ray. Maafin aku!"


Aura tau jika ia wanita terbodoh yang mengabaikan segala ketulusan Rayyan. Bahkan Sahabatnya Wilow sudah memperingatkannya jika ia takkan bisa menemukan seseorang yang sama seperti mantan suaminya tersebut.


...***...


Diakhir pekan, Aura mencoba mengalihkan pemikirannya sebab sudah hampir seminggu ini kepalanya hanya dipenuhi oleh satu nama itu. Rayyan.


Wilow dan teman-temannya yang lain, mengajak Aura ke sebuah pantai yang menyediakan banyak hiburan. Disana ada jetski, trampolin pantai juga permainan air yang lain.


Sebenarnya Aura tidak begitu tertarik, tapi demi pengalihan pikirannya agar tidak stres, akhirnya ia mengikuti ajakan teman-temannya.


Kabarnya, Wilow juga akan menyewa sebuah yacht untuk mengantarkan mereka ke pertengahan pantai bahkan ke pulau lain yang masih dalam lingkup laut yang sama.


Dengan pakaian santai, Aura dan teman-temannya tiba ditujuan mereka menjelang siang.


"Pakailah, sebentar lagi akan semakin panas," kata Wilow menyerahkan sebuah topi pantai pada Aura.


"Thank, Wil."


"Ya, ku harap ini bisa menjadi penghiburan untukmu. Aku tidak suka kau bersedih, tapi aku juga memahami situasinya, jadi ku harap kau bisa bersenang-senang dengan kami semua." Wilow menepuk pelan pundak Aura dan kemudian berjalan bersama yang lain didepan Aura yang masih saja tidak bersemangat.


Mereka mulai menyusuri sisi pantai, bermain voly pantai kemudian sibuk berlompat-lompat di trampolin.


Senyum di wajah Aura mulai terlihat sampai pada akhirnya Wilow mengatakan jika sekarang saatnya menaiki yacht yang sudah menunggu mereka dekat pantai.


"Wah, kau kaya sekali bisa menyewa yacht itu?" ujar Sylvia pada Wilow.


"Ah, tidak, bukan aku yang menyewanya tapi seorang temanku. Kebetulan dia sedang berulang tahun hari ini."


"Apa kita semua boleh menaiki yacht itu? Ku pikir itu acara privat untuk temanmu, Wilow?" timpal Ghea.


"Tidak apa-apa, Lucy sangat baik. Aku juga sudah mengatakan padanya kalau aku akan datang dengan kalian bertiga," jawab Wilow.


Mereka semua akhirnya berjalan sedikit ke tengah pantai untuk menuju Yacht yang sudah dikonfirmasi. Melihat dari ciri-ciri yacht yang bersandar disana, sepertinya itu adalah yacht yang sudah disewa Lucy, pikir Wilow.


"Nah, itu yacht nya. Kita kesana!" seru Wilow pada Aura, Ghea dan Sylvia.


Mereka mulai menaiki Yacht yang dimaksudkan oleh Wilow, dan kedatangan keempat orang wanita itu disambut oleh Lucy yang katanya adalah teman Wilow.


"Hai, Lucy. Kenalkan, aku Ghea." Ghea menyalami jemari Lucy dan disambut dengan senyuman gadis bermata biru itu.


"Hai, Ghea," sapa Lucy ramah.


"Aku Sylvia." Kali ini Sylvia yang berkenalan. "Selamat atas ulang tahunmu, ya. Wilow tidak memberitahu kami sejak awal jika kau berulang tahun jadi maaf kami tidak membawa hadiah," ujarnya kemudian.

__ADS_1


Lucy tertawa kecil, tampak sangat manis. "Tidak apa-apa, aku tidak mengharuskan kalian membawa hadiah," ujarnya tenang.


Aura sendiri ikut menyalami jemari Lucy yang menyambut mereka dengan hangat.


"Hai, Lucy. Aku ... Aura."


"Hai, Aura, selamat bergabung disini ya."


"Thank you and happy birthday, Lucy," ujar Aura tulus.


"Terima kasih, Aura."


Mereka semua terlibat obrolan ringan dan Lucy juga menawarkan keempatnya untuk makan makanan yang disediakan didalam yacht.


"Lucy!"


Lucy menoleh pada seorang yang memanggilnya.


"Sebentar ya, Aku kesana dulu," pamit Lucy pada Wilow, Aura dan yang lainnya. "Kalian nikmati saja suasana diatas Yacht ini. Kalau mau berenang, nanti yacht nya akan berhenti saat sudah sedikit ke tengah," lanjutnya.


Lucy pun pergi dengan langkahnya yang anggun.


Wilow menyenggol lengan Aura saat melihat wanita itu menatap Lucy tidak berkedip.


"Kau kenapa?"


"Temanmu cantik sekali, seperti Barbie," kata Aura mengakui.


"Hahah, kau memujinya tapi tidak pernah memujiku!" gerutu Wilow.


"Hmm, kau benar. Mungkin karena dia terlahir dari keluarga kaya raya, sedangkan aku tidak," kelakar Wilow dengan kekehannya yang nyaring.


Di Yacht itu bukan hanya ada Aura dan teman-temannya. Tentu saja karena Yacht itu disewa oleh Lucy dan pasti ada temannya yang lain disana--yang juga akan menikmati acara ulang tahun Lucy.


Mereka semua mulai berkumpul di dek yacht yang ada diujung saat Lucy memberikan sebuah atensi disana.


"Hai, guys. Acara ulang tahunku kali ini akan berakhir nanti malam di acara puncak. Dan itu akan kita rayakan jika kita sudah sampai di pulau. Setuju?" teriak Lucy dan disambut riuh oleh beberapa temannya.


Disana bukan hanya ada wanita, tetapi juga ada para pria yang diundang oleh Lucy.


"Apa kau mengenal teman-teman Lucy yang lain?" tanya Sylvia pada Wilow.


"Tidak, hanya sebagian."


"Kalau yang itu?" Sylvia merujuk pada seorang pria dengan senyum penuh arti.


"Kenapa? Kau tertarik padanya? Jika ya, coba saja berkenalan. Aku tidak mengenalnya," saran Wilow.


Sylvia mengangguk dan mau mengikuti saran temannya itu.


Perhatian Wilow kembali pada Aura yang tampak tidak begitu antusias. Sedikit banyak, Wilow prihatin pada nasib temannya yang satu ini, dia berharap Aura bersemangat kembali melalui acara ini, namun ternyata sama saja. Sepertinya Aura masih merasa kosong didalam keramaian.


Aura sendiri sedang memandang lautan dari pinggiran yacht. Ia melamun disana dan terkejut saat Wilow menepuk pundaknya.


"Ayo! Apa kau tidak mau seperti Ghea dan Sylvia? Lihat, mereka sudah bisa berbaur dengan teman Lucy yang lain."

__ADS_1


Aura menggeleng samar. "Aku lebih suka disini, Wilow."


Dan percakapan mereka terhenti kala mendengar suara seseorang menyapa Aura disana.


"Aura? Kau Aura, kan?"


Wilow dan Aura sontak menatap pada orang itu dan Aura mengenali jika pria tersebut adalah Carl--salah seorang teman Rayyan yang membantunya saat disekap Shandy dan Jeno tempo hari.


"Carl?"


"Kalian saling mengenal?" timpal Wilow.


Aura dan Carl pun mengangguk.


"Baiklah, apa kalian butuh waktu untuk bicara? Aku kesana saja kalau begitu," kata Wilow yang memberikan waktu untuk kedua orang itu agar bisa mengobrol. Wilow langsung beranjak dari sana.


"Kau teman Lucy?" tanya Carl memulai obrolan dengan Aura.


"Ng--tidak, Wilow yang teman Lucy, aku hanya diajak kesini."


Carl manggut-manggut.


Karena kebetulan ini, Aura ingin merealisasikan niatnya. Mumpung ia bertemu dengan Carl, Aura mau menanyakan tentang Rayyan pada pria tersebut.


"Apa kau tau nomor ponsel Rayyan?" sergah Aura to the point.


"Kau mau menghubunginya?" tanya Carl dengan kernyitan dalam.


"Ya, aku belum mengucapkan terimakasih yang pantas padanya."


"Oh, terkait kejadian waktu itu, ya?" tebak Carl. "Kenapa kau tidak minta langsung saja pada orangnya?" ujarnya sambil mengendikkan dagu ke arah lain.


Disanalah Aura baru menyadari jika ada sesosok orang yang sangat ingin ia temui. Rayyan ada di Yacht yang sama dengannya. Mata Aura memanas sekarang, ingin sekali mengeluarkan airmata bahagia.


"Sejak kapan Rayyan ada di Yacht ini? kenapa tadi aku tidak melihatnya?" batin Aura.


"Baiklah, aku akan kesana dan menanyakannya sendiri," kata Aura percaya diri.


Dengan langkah yang nyaris berlari menghampiri Rayyan, tiba-tiba saja Aura urung, senyum yang tadi ia usung perlahan mulai memudar tatkala melihat Lucy yang lebih dulu menghampiri pria itu.


Carl menyusul Aura yang nampak berhenti, pria itu berdiri tepat dibelakang tubuh Aura dan berkata pelan.


"Ku pikir akan sulit mendapatkan nomor Rayyan jika ada Lucy. Jika kau sangat membutuhkan nomornya, nanti aku akan mengirimkannya padamu," katanya.


Aura menatap nyeri pemandangan didepannya, dimana Rayyan sedang berbicara dengan Lucy sambil sesekali saling tertawa satu sama lain.


"Ini, coba ketik nomormu disini agar aku mudah mengirimkan nomor Rayyan untukmu." Carl masih saja berbicara dan kini menyodorkan ponselnya kepada wanita itu agar Aura menyisipkan nomornya disana.


Aura menerima ponsel Carl sembari matanya tetap fokus menatap pada kebersamaan Rayyan dan Lucy disana. Kenapa jadi seperti ini? Hati Aura ternyata sangat sakit melihat kejadian itu, bahkan saat bersamanya Rayyan tidak pernah sebahagia itu?


...Bersambung ......


Dukungannya mana? Kok enggak bertambah ya? Huhuhu🥲


Mampir juga yuk ke novel satunya masih on going juga.. dengan judul ELARA : FATED TO LOVE

__ADS_1



__ADS_2