Dijebak Di Malam Pengantin

Dijebak Di Malam Pengantin
59. Tertawa lepas


__ADS_3

Karena Rayyan dan Aura akan menikah kembali dihari Jumat, maka sehari sebelum pernikahan itu mereka memutuskan untuk pergi ke sebuah pusara dimana kedua orangtua Rayyan di makamkan.


Sebelumnya, Aura memang tidak pernah tau mengenai latar belakang pria itu, jadi mulai sekarang ia akan berusaha untuk tau mengenai Rayyan, selayaknya Rayyan yang mengetahui banyak hal tentang dirinya.


"Ma, Pi. Hari ini Ray kesini sama calon istri Ray, sebenarnya kami udah pernah menikah dan sempat berpisah, tapi kami memutuskan untuk kembali bersama. Ray berharap, Mama dan Papa merestui pernikahan kami besok, meskipun kita udah berada didunia yang berbeda," ujar Rayyan didepan batu nisan kedua orangtuanya.


Aura yang mendengar itu--ikut terharu--sebab Rayyan mau mengajaknya ke pusara kedua orangtua pria itu.


Selepas dari TPU, keduanya saling terdiam di dalam mobil.


Aura mengesah pelan, sebenarnya ia ingin menanyakan pada Rayyan terkait kedua orangtua pria itu yang belum sempat Rayyan ceritakan, namun Aura ragu mau memulainya dari mana.


"Ehm, Mama sama Papa kamu--"


"Mereka meninggal karena kecelakaan, waktu itu umur aku 12 tahun," kata Rayyan seolah memahami apa yang ingin Aura ketahui.


"Maaf ya, kamu pasti udah melewati masa-masa yang sulit setelah kepergian kedua orangtua kamu secara bersamaan," ujar Aura dengan wajah sedih.


Rayyan menipiskan bibir. "Gak apa-apa, kok. Aku emang mau cerita sama kamu, katanya kamu mau tau semua tentang aku, hmm?"


"Iya, tapi aku gak bermaksud untuk membuat kamu jadi mengingat masa-masa sulit kamu," kata Aura dengan penuh penyesalan.


Rayyan mengusak rambut Aura dengan gemas. "Gak kok. Lagipula itu udah berlalu. Tapi kalau kamu masih nyebelin seperti dulu, mungkin aku bakal memasuki masa sulit yang baru," kelakarnya sekaligus menyinggung kelakuan Aura di masa lalu.


"Oh, jadi ceritanya nyindir, nih?" tanya Aura sambil melipat tangan di dada, berlagak marah.


Rayyan malah tertawa. "Gak nyindir, kok, Sayang ..." paparnya lembut.


Aura langsung menundukkan wajah karena malu dengan panggilan Rayyan kepadanya.


"Kok mukanya merah, sih?" goda Rayyan.


"Gak ada, kok!"


"Ada ... kan aku yang lihat!"


Hmm, sepertinya lancar sekali aksi menggodanya kali ini, pikir Rayyan.


Aura langsung membuang pandangan ke arah jalanan. "Udah ih, jalan ... mau sampai kapan disini terus?" tanyanya.


"Iya, kok kita jadi pacaran di depan gerbang pemakaman, ya?" Rayyan tertawa karena ujarannya sendiri.


Mobil itu mulai melaju, kembali membelah jalanan yang tidak terlalu ramai pagi itu.


"Ehm, soal pekerjaan kamu, gimana?" tanya Aura kemudian.


"Oh, kebetulan pekerjaan aku itu fleksibel. Bisa di kontrol lewat email dan meeting virtual. Sekarang kan udah serba canggih. Cuma sesekali aku emang harus hadir kalau ada sesuatu yang mendesak dan membutuhkan kehadiran aku secara langsung."

__ADS_1


Aura manggut-manggut. Sekarang ia mengerti dunia pekerjaan Rayyan yang sebelumnya tidak ia ketahui. Sebelumnya, Bi Dima juga sudah sempat memberitahunya mengenai pekerjaan pria itu di sektor perbankan dan keuangan, juga tambang emas yang Rayyan miliki di Mimika, tapi Aura tidak berniat menanyakan aset Rayyan yang lain kecuali pria itu yang lebih dulu memberitahunya.


"Ehm, aku juga sempat mengelola peternakan almarhum Papa, tapi tidak lama, sekarang hanya memantaunya saja karena tidak bisa terjun langsung dikarenakan schedule yang bentrok, lagipula peternakan itu ada di luar kota."


"Oh, iya, aku udah denger dari Bi Dima, sih," kata Aura mengakui.


"Oh ya? Kamu tanya-tanya sama Bi Dima tentang aku, ya?"


Aura menyengir, tapi kemudian mengangguk juga.


"Kalau soal tambang emas, Bi Dima pasti cerita juga, ya?" tanya Rayyan sambil melirik Aura sekilas.


"Iya, itu gimana ceritanya? Kamu kok bisa ..."


"Awalnya cuma tanam saham disana, terus ya gitu, akhirnya bisa punya profit yang lebih gede," kata Rayyan. "Itu faktor keberuntungan juga sepertinya," ujarnya dengan senyum khas yang menampilkan lesung di pipi.


"Ya, mungkin karena kamu baik jadi rezeki kamu juga ngalir dari banyak arah, kamu jadi seberhasil ini di usia muda. Aku jadi malu sama kamu," akui Aura.


"Malu, malu kenapa?"


"Dulu ... aku sempat meremehkan kamu. Anggap kamu cuma numpang ditempat aku. Padahal, aku sendiri gak sesukses kamu, aku cuma nampang pake harta orangtua dan berpijak di perusahaan milik Oma," ujarnya terus terang.


Rayyan jadi tertawa pelan.


"Tapi kamu juga punya keahlian kan, aku yakin kalaupun orangtua kamu gak sukses, pun Oma gak punya perusahaan kecantikan, kamu tetap bisa naik dengan upaya kamu sendiri. Buktinya, di Jerman kamu bisa mandiri, kan?"


Aura menggeleng samar. Entahlah dulu bagaimana perasaan Rayyan saat ia remehkan. Mungkin pria itu marah atau justru tertawa karena pada kenyataannya Aura lah yang tidak punya apa-apa. Aura malu sekaligus menyesal yang tidak berkesudahan.


"Ayo, turun!" ajak Aura.


Rayyan menggeleng.


"Kenapa?" tanya Aura bingung.


"Besok aja aku kesana, untuk ucap ikrar pernikahan kita. Kalau sekarang aku antar kamu sampai disini aja, ya." Rayyan mengusap pipi Aura dengan lembut.


"Jadi gak mau mampir?"


"Enggak, cukup dua hari aja aku nginap dirumah orangtua kamu, itupun pas ada Oma. Sekarang Oma udah pulang jadi aku gak mesti ada disana lagi."


Aura mencebik. "Kamu gak seneng nginap dirumah Papa? Terus kalau kita udah menikah kamu gak mau nginap disana lagi?" tanyanya.


Sekarang Rayyan terkekeh. "Bukan gitu, kalau soal udah menikah, itu lain ceritanya, Ra," ujarnya.


"Terus?"


"Aku gak suka aja seatap sama kamu tapi gak sekamar," akui pria itu sambil mengulumm senyum.

__ADS_1


"Ih, dasar me sum!" sungut Aura.


Suara tawa keduanya langsung memenuhi kabin mobil.


"Dulu waktu di Jerman juga gak sekamar, kok mau?" tanya Aura kemudian.


"Ya itu beda. Dulu kan aku mikirnya daripada gak sama kamu, jadi keadaan seperti itu jauh lebih baik."


Aura terkikik dengan ujaran Rayyan yang terdengar jujur dan polos itu. Apa segitunya pria itu menginginkannya dulu?


"Jadi, kalau sekarang gak seperti itu lagi?"


"Sekarang juga beda, dong."


"Bedanya?"


"Sekarang kan kamu udah mau kalau dekat-dekat sama aku, jadi aku juga maunya lebih dekat lagi, lebih dari seatap, maunya sekamar, seranjangg juga." Rayyan lantas mengedipkan sebelah matanya ke arah Aura.


Sekarang Aura jadi terbahak. Ia pun memukul pundak Rayyan.


"Ternyata selain me sum, kamu juga ca bul, ya!" cibirnya.


"Gak juga, sih. Cuma sama kamu doang aku begini." Rayyan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Sekarang Aura tau jika ujaran Oma benar, ternyata Rayyan itu pria yang humoris. Buktinya untuk pertama kalinya lagi Aura bisa tertawa lepas seperti ini. Rasa-rasanya, Aura bahkan sudah sudah lupa kapan terakhir kali ia tertawa selepas ini.


"Ya udah, aku masuk dulu deh kalau gitu."


Rayyan mengangguk, lalu menghentikan Aura yang hampir beranjak dari posisinya. Ia mencekal lengan Aura yang hampir menarik tuas pintu.


"Ra?"


"Ya?" Aura menatap Rayyan heran.


Tiba-tiba--sebuah kecupan singkat--Rayyan labuhkan di dahi Aura, membuat perempuan itu merasakan gelenyarr hangat yang muncul didalam dirinya. Ini terasa berbeda, Aura merasakan perbedaannya, mungkin karena sekarang ia memiliki perasaan berlebih itu pada Rayyan. Tidak seperti dulu--disaat ia belum menerima kehadiran Rayyan dalam hidupnya.


Saat kecupan itu berakhir, keduanya saling menatap satu sama lain dengan sorot mata saling merindukan.


"Masuk sekarang ya, aku takut ngelakuin yang lebih dari ini sebelum kita kembali menikah," tutur Rayyan terus terang.


Aura tertawa lagi. Ia menyentil dahi pria itu karena merasa pikiran Rayyan yang sudah kemana-mana.


"Sebelum jadi suami lagi, gak apa-apa kali ya. Biar kepala kamu isinya gak aneh-aneh!" kata Aura sambil mendelik kecil, namun senyum dibibirnya tetap terulas.


Rayyan terkekeh, karena sejatinya Aura tidak benar-benar menyentilnya, lebih seperti menyentuh dahinya saja.


"Udah sana, masuk."

__ADS_1


Aura mengangguk dan segera beranjak, kemudian ia melambaikan tangan pada mobil Rayyan yang langsung keluar dari pekarangan rumah orangtuanya.


...Bersambung ......


__ADS_2