
Seperginya Aura, Rayyan memejamkan mata rapat-rapat. Ciuman itu seakan masih terasa di bibirnya. Entahlah apa perasaannya sekarang, yang jelas ia benar-benar terkejut karena tindakan Aura yang diluar prediksinya.
Rayyan menghela nafas sepenuh dada, tidak jadi turun ke bawah untuk mengambil charger ponsel yang tertinggal di mobil, ia malah kembali ke kamar tamu yang ditempatinya di rumah itu.
Pria itu membaringkan tubuh di atas sebuah ranjangg yang cukup besar. Mengadah menatap langit-langit kamar. Mendadak mengingat semua yang telah berlalu diantara ia dengan mantan istrinya.
Soal perasaan, memang tidak pernah ada yang bisa mendalami hati seorang Rayyan. Ia pandai menyimpan hal itu dari siapapun, termasuk saat dulu ia mencintai Aura selama belasan tahun secara diam.
"Kamu masih menjadi urutan pertama dalam list kelemahanku."
Rayyan menyugar rambutnya, lanjut mengusap wajahnya sendiri. Terbayang akan kebersamaannya bersama Aura dimasa lalu. Kendati ia sadar bahwa kenangan manis itu sangat sedikit--tertimbun dengan sikap egois Aura yang telah memporak-porandakan pertahanannya--namun nyatanya wanita itu tetap masih ada di dasar dan palung hatinya yang paling dalam.
"Apa kepergian ku udah membuat kamu belajar, Ra? Belajar memahami perasaan kamu sendiri? Atau justru ini semua belum cukup?"
Rayyan tau, semakin lama ia diam, semakin lama pula ia menyiksa perasaan mereka berdua. Namun, ia bingung apakah semua ini sudah cukup untuk membuat pelajaran bagi Aura, atau justru ini hanya efek sementara? Apakah Aura benar-benar akan berubah? Rayyan ragu, namun jika ia tidak memberi kesempatan maka ia tidak akan pernah tau perubahan itu.
...***...
Pagi hari itu, Aura turun dengan tergesa-gesa. Ingin segera sarapan bersama keluarga besarnya, terutama kembali duduk disamping pria itu lagi disana. Sayangnya, Rayyan tidak kelihatan batang hidungnya. Entah kemana pria itu, padahal ia berharap bisa mendapat jawaban atas pernyataannya semalam.
Apa Rayyan sengaja menghindar? Aura pun menghela nafas kecewa.
Syukurnya Oma hari ini tidak menanyakan kemana Rayyan padanya, mungkin pria itu juga sudah pamit lebih dulu sebelum Aura turun ke lantai dasar. Entahlah.
Aura hanya mendengar jika Rayyan pergi pagi-pagi sekali karena ada urusan pekerjaan yang sangat mendesak.
Selepas sarapan, Aura memilih untuk duduk disebuah ayunan besi yang ada di taman belakang rumah, menikmati matahari pagi yang terasa hangat saat menerpa kulit tubuhnya. Mengayunkan sedikit ayunan dengan kaki yang digerakkan perlahan. Memejamkan mata, meresapi hembusan angin yang semilir datang.
"Aura!"
Suara seseorang yang memanggil Aura dengan lantang, membuat kedamaian Aura terusik. Ia segera menoleh untuk mendapati sang Papa yang berdiri disana demi memanggilnya.
"Ada apa, Pa?"
"Rayyan ..." Sekarang suara Papa Sky terdengar lirih.
"Rayyan kenapa, Pa?" Sedang Aura menyahut dengan panik.
"Barusan ada yang nelepon, katanya Rayyan kecelakaan."
"Apa?" Aura syok dan langsung berderap. Sempat bingung ia hendak kemana untuk menemui pria yang katanya kecelakaan itu.
"Di Rumah Sakit Sejahtera, Ra!" seru Papa Sky lagi.
"I-iya, Pa."
"Minta anter sama Pak Dedi aja, Ra. Jangan nyetir sendiri. Papa takut kamu malah kenapa-napa."
Aura mengangguk, lalu berlalu dengan tergesa-gesa. Berita yang disampaikan sang Papa membuat Aura kalang kabut, serta panik dengan pikiran semrawut.
__ADS_1
"Aura! Hati-hati, Nak!"
Masih bisa Aura mendengar suara teriakan sang Mama yang mengkhawatirkannya.
Aura mendesak sang Sopir untuk segera mengemudikan mobil dengan cepat menuju Rumah Sakit yang disebutkan oleh sang Papa tadi.
Namun, perjalanan dengan kecepatan sedang itu membuat Aura tidak sabar.
"Pak! Buruan, Pak! Aku takut Rayyan kenapa-napa."
"Iya, Non. Ini udah dinaikin kecepatannya."
"Lebih cepat lagi, Pak!" desak Aura.
"Saya takut kalau kecepatan diluar rata-rata, Non. Nanti saya dimarahi Bapak."
"Papa gak akan tau. Ayo, Pak! Buruan!"
Aura tidak tau kenapa ia harus mendengar berita seperti ini. Jantungnya terasa mencelos. Ia sampai menangis meraung-raung di jok belakang.
Kenapa Rayyan sampai kecelakaan? Kenapa pria itu tidak berhati-hati? Aura sangat takut sekarang. Ia takut kehilangan Rayyan untuk selamanya.
"Kalaupun Rayyan gak bisa kembali sama aku, kalaupun dia harus sama orang lain, itu lebih baik daripada dia ninggalin aku untuk selamanya dan aku gak bisa melihat dia lagi sampai kapanpun," gumam Aura.
Aura tersedu-sedu di posisinya. Apa Rayyan melamun saat menyetir? Atau pria itu banyak pikiran karena tindakan yang Aura lakukan semalam?
Kembali Aura tergugu. "Aku lebih ikhlas kalau kamu sama orang lain, Ray. Daripada kamu harus ninggalin aku untuk selamanya." Aura kembali bermonolog. Ucapannya bahkan tidak jelas karena bercampur dengan tangisnya.
"Kita udah sampai, Non."
Aura tersadar dari pemikirannya yang sudah jauh kemana-mana akan kondisi terakhir Rayyan akibat kecelakaan yang menimpa. Sampai akhirnya, ia keluar dari mobil tanpa melihat keadaan sekitar dan terdiam sesaat karena merasa janggal dengan tempat yang saat ini ia injak.
Aura bukan diturunkan di sebuah halaman Rumah Sakit, melainkan disebuah taman kota.
Aura yang keheranan, kini sedikit membungkuk didepan kaca jendela mobil, lalu mengetuknya perlahan.
Kaca mobil dibuka sang sopir dari dalam dan Aura lantas mengeluarkan pertanyaannya pada sang pria tua.
"Pak? Kok kesini? Kita harusnya ke Rumah Sakit, Pak!" omel Aura.
Pak Dedi menggaruk kepala. "Kata Pak Sky, saya harus anter Non Aura kesini, Non," jelasnya.
"Jangan main-main, Pak! Saya sedang buru-buru. Ayo anter saya ke Rumah Sakit sekarang juga!"
Aura sudah menarik tuas pintu mobil untuk kembali menaiki kendaraan itu, namun suara seseorang berhasil membuat Aura kembali mengurungkan niatnya.
"Aura!"
Wanita itu berbalik arah, melihat sesosok yang tadi dikabarkan mengalami kecelakaan sedang berdiri tegak disana tanpa luka secuilpun. Malah pria itu tampak tersenyum sendu kepadanya.
__ADS_1
"Ray?"
Aura lantas berlarian ke arah Rayyan yang berjarak beberapa meter dari posisinya.
"Ray, kamu disini? Kamu gak apa-apa?" Aura menangkup kedua sisi wajah Rayyan, kemudian menatapinya penuh selidik dari ujung kepala sampai ujung kaki seolah ingin memindai dan memastikan kondisi pria itu--apakah baik-baik saja?
"Hmm, maaf," kata Rayyan yang akhirnya menyadarkan Aura akan sesuatu.
"Jadi, kabar mengenai kecelakaan kamu itu gak benar?"
Rayyan menggeleng dengan sunggingan senyum yang sangat Aura rindukan. Sudah lama ia tidak melihat sikap Rayyan seperti itu dihadapannya.
"Kalian ngerjain aku?" tebak Aura.
Kini Rayyan mengangguk.
"Gak lucu tau, gak!" hardik Aura. Tangisnya kembali pecah, ia bahkan sudah berpikir terlalu jauh.
Rayyan mengambil kedua tangan Aura dan sengaja memukulkan itu ke dada bidangnya sendiri, seolah itu tindakan setimpal yang pantas ia terima dari Aura untuk kebohongan yang sudah ia lakukan pada wanita itu.
Aura tidak mengikuti keinginan Rayyan untuk memukulinya, yang ada dia malah memeluk tubuh Rayyan dalam rasa yang sangat takut kehilangan.
Rayyan membalas pelukan Aura, sembari mengusap-usap punggung wanita itu yang terasa berguncang.
"Maafin aku, aku gak nyangka kamu bakal segininya," ujar pria itu penuh penyesalan.
"Terus, kamu pikir aku bakal gimana saat denger kamu kecelakaan?" balas Aura masih dalam keadaan memeluk Rayyan.
"Aku pikir kamu bakal seneng," jawab Rayyan random.
"Keterlaluan banget!" Aura makin mengeratkan pelukan, menghidu aroma maskulin dari pria yang ia rindukan. Sangat. Sangat merindukannya.
"Udah ya nangisnya, nanti baju aku basah. Gak bawa ganti soalnya," kelakar Rayyan. Ia melerai pelukan Aura dan mengusap jejak-jejak airmata yang masih tersisa di pipi wanita itu dengan ibu jarinya.
Aura merengut, tapi kemudian kembali memeluk Rayyan.
"Biarin aja, aku buat baju kamu basah semua," kata Aura.
Rayyan terkekeh. Entah kenapa beban yang selama ini ia pendam terasa luruh seluruhnya. Ia mengelus-elus kepala Aura, lalu berujar lirih.
"Aku udah punya jawaban."
"Gak usah jawab. Aku udah tau jawaban kamu," sungut Aura.
Rayyan kembali tertawa pelan. Akan tetapi ia tetap memilih untuk mengutarakan jawabannya.
"Aku udah mikir semalaman, aku rasa gak pantas kalau kamu yang memohon sama aku. Jadi, biar aku aja ..."
Tiba-tiba Rayyan pun berlutut dihadapan wanita itu, membuat Aura tercengang karena aksi yang Rayyan buat.
__ADS_1
...Bersambung ......