
Mengetahui apa yang telah terjadi pada Hanin, membuat Aura cukup prihatin. Akan tetapi, mengingat apa yang wanita itu lakukan padanya memang sangat keterlaluan. Aura bahkan belum sempat menemui orang yang sudah menjebaknya itu dan kini ia malah mendengar jika Hanin sudah meninggal.
"Kamu kenapa, Ra?"
"E-eh, Oma." Aura meringis keki pada sang Nenek. Tidak menyangka Oma-nya masih berada dirumah orangtuanya dan malah mendapatinya melamun saat baru saja memasuki rumah. "Gak apa-apa, kok, Oma," katanya sembari memasang cengiran.
"Yakin? Emang abis darimana, sih?"
"Cuma jalan-jalan aja, Oma. Aura kan udah lama ninggalin Indonesia."
"Sini," kata Oma seraya menepuk bagian sofa disampingnya--mengajak Aura duduk disana dan bergabung dengannya.
"Duh!" Aura mengaduh didalam hati, bagaimanapun ia sebenarnya sangat menghindari percakapan dengan sang Nenek. Ia takut Oma Indri kembali menanyakan soal Rayyan dan ...
"Rayyan kok gak menginap disini, Ra?"
"Ehm ..." Aura tampak bingung dengan pertanyaan sang Oma. Menginap? Rayyan saja masih di Jerman, pikir Aura. Bagaimana ceritanya bisa menginap di rumah orangtuanya?
"Oma pikir kamu perginya sama suami kamu, eh pulang-pulang kok sendirian?"
"Ng--Oma ..." Aura menggaruk sekilas pelipisnya. "Rayyan kan masih di Jerman, Oma," jawabnya terdengar gugup.
Oma Indri malah memukul pelan lengan Aura. "Oma ini udah tua, Aura. Jangan dibercandain terus," ujarnya disertai tawa pelan.
Aura semakin bingung saja dengan ucapan sang Nenek.
"Padahal, pas Cean nikah kemarin Oma masih ngobrol sedikit sama suami kamu. Dia sibuk sekali, ya? Tadi pagi juga gak ikut sarapan bareng kita, eh ... ternyata kata Mama kamu Rayyan gak nginap disini tapi dia gak bilang apa alasannya, makanya Oma tanya kamu, kenapa Rayyan gak menginap disini, malah kamu bercanda bilang suamimu ada di Jerman. Aura ... Aura ..."
Mungkin sekarang, raut bodoh sudah terpancar jelas di wajah Aura yang tak memahami maksud dari ujaran sang Nenek. Sekali lagi Aura memasang cengiran, apa mungkin neneknya ini sudah terkena penyakit tua yang kadang sering ngawur? Begitulah pemikiran Aura.
"Oma seneng sama sikap suami kamu itu. Orangnya sopan, makin dikenal ternyata baik pula. Dia juga lucu, pantas aja kamu jadi sering bercandain Oma, ya. Mungkin ketularan sikap humoris suami kamu itu."
What??? Hampir saja kata itu meluncur dari bibir Aura. Oma-nya semakin mengarang bebas, pikirnya.
Kenapa Oma jadi memuji Rayyan seolah mengenal dekat pria itu? Aura saja tidak tau jika Rayyan orang yang humoris. Ah, seketika kepala Aura menjadi pening.
"O-Oma, Aura ke kamar dulu ya," katanya menghindar.
"Lho, ngapain? Kita kan masih ngobrol-ngobrol."
"A-Aura mau mandi dulu, Oma. Soalnya tadi kan abis dari luar," katanya memberi alasan.
Oma malah tersenyum kecil. "Iya, iya, mandi yang wangi, siapa tau suamimu sebentar lagi pulang, kalau kamu belum mandi, bau, bisa-bisa dia gak nginep disini lagi malam ini," godanya pada sang cucu.
Aura agak membeliak kecil, sesaat kemudian langsung berderap pergi demi menghindari ujaran-ujaran Oma yang selalu menjurus pada hubungan pernikahannya dengan Rayyan.
__ADS_1
Aura masuk ke kamarnya sendiri, menutup pintu dan memutuskan untuk mandi. Bisa-bisanya Oma Indri mengucapkan hal-hal yang membuat Aura jadi merindukan mantan suaminya.
"Bisa-bisanya Oma terus ngomongin Rayyan. Kan aku jadi kepikiran dia," gumam Aura sambil memasuki pintu kamar mandi.
Aura berendam di bathub, ia juga menyalakan lilin aromatherapy untuk merilekskan tubuh serta pikirannya.
Entah kenapa, saat-saat seperti ini ia justru teringat saat ia dan Rayyan menghabiskan waktu berdua dalam keadaan yang sama.
Aura mengingat bagaimana Rayyan menyentuhnya, memperlakukannya, serta menyebut namanya saat bercintaa.
Tapi perasaan itu seperti dihantam saat Aura mengingat kalimatnya sendiri yang pernah mengatakan pada Rayyan bahwa mereka hanya melakukan itu atas dasar kebutuhan satu sama lain karena sudah terlanjur merasakannya. Pun Aura menuding jika Rayyan hanya menginginkan tubuhnya.
Aura juga ingat, setelah ia mengatakan itu, Rayyan tidak pernah lagi melakukannya sampai akhirnya mereka benar-benar berpisah seperti saat ini.
"Maafin aku, Ray. Maafin aku." Lagi-lagi Aura menangis, bahkan dalam mandinya wanita itu kembali terisak mengingat bagaimana ketusnya dia pada Rayyan saat itu.
...***...
Makan malam sudah disiapkan, semuanya sudah berkumpul di satu meja yang sama.
Aura turun paling belakangan dan mendadak jantungan saat melihat sesosok pria yang sangat ia rindukan sudah berada disana.
Semua orang menatap Aura yang mendadak terdiam di ambang tangga. Tidak terkecuali pria yang sudah membuat detak jantung Aura berdebar tiga kali lipat dari biasanya.
"Aura? Kenapa diam disitu? Ayo, makan! Ini sekalian ambilkan suamimu makanan."
Ucapan Oma Indri itu tidak bisa membuyarkan Aura dari sikap diamnya. Aura masih belum bisa mencerna semuanya. Bagaimana bisa ...
"Lihat, kan, Ray. Istrimu itu suka sekali bercanda sekarang," kata Oma pada Rayyan.
Rayyan tampak menyunggingkan senyum tipis khasnya, tapi tidak menyahut apa-apa.
Mama Yara yang memahami kenapa Aura bersikap demikian, langsung menghampiri putrinya.
"Ayo, Ra. Kamu mau diam disitu sampai kapan?" tanya Mama Yara.
Aura menatap sang Mama dengan sorot bertanya-tanya.
"Udah, gabung aja dulu. Nanti Mama jelaskan," bisik Mama Yara.
Aura pun berjalan dengan kaku, mungkin langkahnya sudah seperti robot. Tapi akhirnya ia bisa menempati juga satu kursi kosong yang letaknya tepat disisi Rayyan.
Sekarang, Aura sampai menahan nafas, karena takut jika ia menghirup oksigen justru itu akan menghilangkan sosok yang amat ia rindukan tersebut.
Makan malam itu berjalan dengan hening, Aura tampak lebih banyak menunduk seolah sangat menekuri piring dihadapannya, tapi tak dipungkiri jika sesekali ia melirik pria itu menggunakan ujung matanya.
__ADS_1
Rayyan tampak sangat tenang, seolah tidak terjadi apapun diantara mereka.
Jadi, yang sore tadi diucapkan oleh Oma Indri tentang Rayyan itu benar? Bukan ngawur seperti yang Aura perkirakan?
Dan soal Rayyan yang datang ke acara pernikahan Cean, itu juga benar? Jika iya, apa kemarin Rayyan melihat Aura juga? Tapi kenapa Aura tidak melihat adanya sosok itu disaat pesta berlangsung?
Mungkin karena Aura terlalu sibuk kemarin, ia sampai tak memperhatikan sekitar dan para tamu yang hadir.
"Malam ini kamu nginep disini kan, Ray? Jangan sering-sering gak pulang, itu gak baik," kata Oma Indri menasehati Rayyan disana.
"Iya, Oma. Semalam saya ada pekerjaan sampai larut, jadi tidak enak kalau pulang terlalu malam, takut ganggu yang lagi istirahat, jadi saya memutuskan untuk tidur di kantor saja," kata Rayyan memberi alasan.
"Tapi kan kasihan Aura kalau kamu sampai gak pulang begitu. Ingat ya, jangan sering-sering begitu," nasehat Oma yang direspons Rayyan dengan senyum dan anggukan.
Aura hanya bisa diam mendengarkan. Bibirnya seperti terkunci, tapi ia jadi memikirkan soal Rayyan yang akan menginap malam ini. Bagaimana ini? Mereka kan sudah bercerai.
Ingin rasanya Aura segera pergi dari sana setelah makan malam berakhir, tapi sang Mama mengajak Aura untuk bicara empat mata.
Aura mengiyakan, lagipula ia mau mendengar penjelasan sang Mama soal Rayyan.
"Rayyan menginap disini malam ini, Ra."" Mama Yara berujar setelah mereka sama-sama berada di teras samping, hanya berdua.
"Ma, ini maksudnya gimana, sih?"
Mama Yara mengembuskan nafas pelan. "Jalani aja, Ra. Ini semua akibat dari kebohongan kita sama Oma. Kita semua gak ada yang berani bilang kalau kamu sama Rayyan udah berpisah jadi ini konsekuensinya."
"Terus?"
"Ya, kamu bilang kamu mau usaha ngedeketin Rayyan lagi, ya udah mama rasa kamu bisa manfaatkan waktu saat-saat Rayyan disini."
Aura rasa ucapan sang Mama ada benarnya tapi ...
"Ah ya, satu lagi. Bukan berarti Rayyan menginap di kamar yang sama dengan kamu ya, Ra. Ingat, kalian udah gak halal untuk berada dalam situasi itu, kecuali emang kalian udah rujuk. Yang jelas, Mama akan pastiin Rayyan tidur di kamar tamu!" tegas Mama Yara.
"Iya, Ma. Iya. Aura juga tau kok soal itu." Aura berujar pasrah.
"Jangan sampai Oma tau, Ra. Kalaupun nanti Oma tau kalian pisah, Mama harap itu terjadi disaat kalian udah kembali bersama." Mama Yara menekankan kalimatnya.
"Kalau ternyata kita gak bisa kembali sama-sama, gimana, Ma?"
"Mama belum tau gimana, Kamu usaha dulu lah sambil menunggu kita semua siap bilang ke Oma yang sebenarnya."
...Bersambung ......
Yang kemarin komen minta up 5x sehari? Mana suaranya? Eh, mana komennya? 😅 ntar jari othor keriting dong kakðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1