
Jika biasanya Rayyan bisa menghadapi segala masalahnya dengan cukup tenang, tapi tidak kali ini. Menyadari jika Nenek dan Tantenya pernah bersikap dengan tak tahu malu pada Oma Indri, membuat Rayyan cukup panik untuk menyelesaikan semua ini dengan kepala yang dingin.
Perasaan Rayyan campur aduk. Antara marah, benci, malu dan sedih yang berpadu menjadi satu. Harus memulai darimana kah ia mengucap permintaan maaf pada Oma Indri nanti? Sedang ia sendiri bingung hendak meletakkan wajahnya dimana saat bertemu dengan Nenek dari istrinya itu.
Disisi lain, Rayyan juga merasa sedih karena sikap sang Nenek dan Tante Inggrid yang tidak berubah. Ada perasaan miris yang muncul saat mengingat tindakan mereka yang sama sekali tak terpuji, apalagi mereka juga tidak merasa bersalah sama sekali, padahal telah melakukan hal seburuk itu terhadap Oma Indri.
"Bagaimana caranya aku menghadapi Oma nanti?" Rayyan bergumam sembari mengusap wajahnya sendiri.
Rayyan juga tau, jika satu-satunya hal yang membuat Nenek dan sang Tante berhenti melanjutkan tindakan mereka itu saat ini--bukan karena mereka telah sadar jika itu adalah kelakuan yang salah, melainkan karena mereka tidak memiliki kesempatan lagi, pun karena takut jika sewaktu-waktu Oma Indri akan membalas segala perbuatan mereka dimasa silam.
Cukup lama Rayyan termenung di depan balkon kamarnya--sambil menatap cahaya lampu dari gedung-gedung perkotaan. Sampai akhirnya, ia kembali memasuki kamar setelah menggeser pintu sliding yang menjadi pembatas ruangan tersebut.
Melihat istrinya yang tidur lelap dalam posisi meringkuk. Segala pemikiran Rayyan mengenai sikap nenek dan tantenya harus segera di musnahkan untuk sejenak. Bagaimanapun, kesehatan Aura sekarang juga harus dipikirkan. Aura sudah menjadi prioritas hidupnya sekarang.
Rayyan bergerak untuk kembali bergabung dengan sang istri diatas tempat tidur yang sama. Ia menaikkan selimut Aura sampai sebatas dada, tak lupa mengecup pelipis istrinya dengan penuh kasih sayang.
Rayyan sedikit terkejut saat Aura membuka matanya saat itu juga.
"Ng ... aku ganggu tidur kamu, ya?" tanya Rayyan merasa bersalah.
Aura menggeleng pelan dalam posisinya.
"Ya udah, kamu tidur lagi ya. Maaf udah buat kamu terganggu."
Rayyan ikut masuk dalam selimut dan sejurus kemudian ia mulai memejamkan mata tapi suara Aura justru membuatnya urung untuk tertidur.
"Kamu ... sedang mikirin apa, sih, Mas?"
Sontak saja Rayyan kembali melebarkan kelopak matanya.
"Gak ada, Sayang," dalih laki-laki itu.
Yang Aura tau jika sekarang suaminya tengah menutupi sesuatu.
"Aku tau kalau kamu tadi melamun di Balkon, Mas. Aku mau hampiri, tapi kaki aku belum bisa untuk jalan dan menyusul kamu kesana. Jadi, aku memutuskan tidur dan sadar kalau kamu baru masuk kamar lagi sekarang."
__ADS_1
Rayyan baru mau menjawab ketika Aura sudah keburu melanjutkan kalimat.
"Jadi, apa aja yang dari tadi kamu pikirkan di balkon, Mas?" tanya wanita itu.
Rayyan menghela nafas pelan. Ia tak mau menutupi apapun dari istrinya tapi untuk mengakui perbuatan sang nenek dan tantenya dihadapan Aura juga sangat membuat Rayyan malu. Ia tidak tau apa tanggapan Aura jika mengetahui bahwa ia adalah keturunan dari wanita-wanita yang memiliki sikap seperti itu.
Meski sebenarnya Rayyan juga sudah menceritakan pada Aura mengenai sikap dan perangai kedua wanita itu, pun aura pernah menyaksikannya secara langsung sikap mereka yang tidak baik, tapi berhubung yang sempat menjadi korban dari nenek dan Tante Inggrid adalah Oma Aura sendiri--membuat Rayyan enggan untuk menceritakannya secara terang-terangan pada sang istri.
"Aku sedang memikirkan kesehatan kamu. Mulai besok kamu udah jalani terapi, jadi aku harus bisa mengatur waktu untuk menemani jadwal kamu."
"Kalau kamu sibuk dan gak sempat juga gak apa-apa, kok, Mas. Aku bisa ditemenin sama Mama, ataupun nanti minta tolong Cean juga. Lagipula, liburan kita juga udah selesai, kan? Kamu mulai sibuk untuk kerja lagi, ya?" Aura mengelus rahang suaminya dengan pergerakan lembut.
Rayyan menggeleng. "Gimanapun juga, aku bakal usahain untuk nemenin kamu terapi. Kamu tanggung jawabku sekarang," pungkasnya.
"Iya, Mas. Aku tau kamu selalu tanggung jawab sama aku. Makasih ya."
Rayyan mengangguk. "Ya udah, sekarang kita tidur lagi ya?" ujarnya.
"Iya." Aura menjeda ucapannya. "Tapi, mas. Tadi kamu, nenek, sama Tante Inggrid bahas hal apa?" tanyanya kemudian.
"Gak apa-apa. Aku cuma nanya, kenapa mereka bisa mengenal Oma kamu."
"Ah, iya. Emang kok bisa Nenek sama Tante Inggrid kenal sama Oma?"
"Katanya mereka dulu satu kampung." Rayyan mencubit hidung Aura gemas. "Udah ah, kita tidur sekarang, udah larut juga," hindarnya.
Aura mengiyakan tanpa penasaran hal apa lagi yang ditutupi oleh Rayyan. Dalam hati, Rayyan akan berusaha untuk segera menyelesaikan ini dengan Oma Indri. Sehingga, jikapun nanti Aura akan mengetahui perbuatan nenek dan Tantenya, semua masalah itu telah benar-benar diselesaikan dan takkan dibahas lagi dikemudian hari.
...***...
Terapi yang Aura jalani hari ini berjalan dengan lancar. Ia mengikuti semua instruksi dari Dokter yang membimbing aktivitas belajar berjalan itu dengan bantuan alat--semacam pagar pembatas--di kiri-kanan tubuhnya. Dengan itu, Aura dapat berpegangan disana sambil menopang bobot tubuh menggunakan kedua tangannya sendiri.
Kata dokter, perlu beberapa tahap lagi barulah Aura dapat berjalan normal kembali, sebab pengobatan itu memang tidak instan dan langsung memberikan dampak.
Rayyan dan Aura juga perlu lebih bersabar, sembari mengumpulkan semangat di setiap harinya.
__ADS_1
"Gimana perasaan kamu hari ini?"
"Aku lega, Mas. Aku udah gak sabar mau cepat bisa jalan lagi. Masih banyak list kegiatan yang mau aku lakuin sama kamu."
Rayyan tersenyum simpul sembari menyelipkan helaian rambut istrinya ke samping telinga wanita itu.
"Aku juga pengen kamu cepat sembuh. Aku yakin sebentar lagi kamu bakal bisa jalan seperti dulu. Semangat ya, Sayang."
Aura tidak merespon dengan perkataan, melainkan ia langsung menubruk tubuh Rayyan dengan sebuah pelukan. Rayyan menyambut itu, satu tangannya berada dipunggung Aura dan satu tangan yang lain berada di belakang kepala wanitanya. Rayyan mengelus rambut Aura secara perlahan dan konstan, menunjukkan sikap yang amat sangat menyayangi wanita itu.
"Makasih ya, Mas. Kamu mau menemani aku dalam masa tersulit. Aku janji gak akan pernah ninggalin kamu lagi dalam keadaan apapun, sampai umur yang benar-benar memisahkan kita." Suara Aura teredam karena dekapannya yang erat di dada bidang Rayyan, namun untungnya sang suami tetap dapat mendengar ucapan Aura dengan cukup jelas.
"Iya, kita harus bisa melewati semuanya sama-sama ya."
Aura pun mengangguk dalam posisinya dan Rayyan dapat merasakan pergerakan itu.
"Kalau seandainya, nanti kamu tau sesuatu yang gak baik tentang aku, gimana? Apa kamu bakal tetap menepati janji kamu untuk tidak meninggalkan aku?"
Sekarang Aura melerai pelukan mereka. Ia menatap Rayyan dalam-dalam.
"Memangnya apa yang gak baik tentang kamu, Mas? Setau aku, kamu selalu baik, meskipun dulu aku sempat meragukan hal itu dan mencoba menghindari kamu sekuat tenaga, tapi pada akhirnya aku yakin kamu yang terbaik." Aura mengingat selintas bagaimana dulunya ia meragukan segala kebaikan Rayyan padanya, bahkan pernah menganggap jika Rayyan yang menikahinya hanya demi menginginkan tubuhnya saja, dan Aura tau ia salah besar saat itu.
"Mungkin itu berasal dari keluargaku ... aku bukan dari keturunan orang baik, mungkin itu akan mempengaruhi perasaan kamu terhadapku."
Aura mengulas senyum sendu sekarang.
"Apa ini berkaitan sama sikap Nenek dan Tante Inggrid, Mas? Aku pikir, sejak awal aku udah tau kan kalau mereka memiliki perangai yang bagaimana, jadi ... aku gak mungkin meninggalkan kamu hanya karena mereka, Mas."
"Ya, semoga aja. Gimanapun juga hati orang bisa berubah. Aku takut kamu ilfeel sama aku," kata Rayyan yang sebenarnya sungguh-sungguh saat mengatakan itu, tapi Aura malah tergelak karena menganggap suaminya sedang berkelakar.
"Aneh banget sih, kamu, Mas. Mana mungkin aku ninggalin kamu hanya karena mereka. Toh, yang gak baik itu mereka dan bukan kamu. Lagipula, Nenek juga mulai berubah kan sekarang? Mudah-mudahan aja Tante Inggrid ikutan berubah jadi lebih baik."
Rayyan melengos sekarang, Aura tak tau saja jika Neneknya bahkan tidak pernah berubah. Meski Rayyan sendiri belum jelas mengetahui kenapa neneknya berubah dibelakang hari, tapi sekarang Rayyan mulai coba menebak-nebak karena fakta yang baru diketahuinya kemarin.
Apa nenek berubah karena sempat berniat untuk memanfaatkan istrinya?
__ADS_1
...Bersambung ......