Dijebak Di Malam Pengantin

Dijebak Di Malam Pengantin
81. Sahabat lama


__ADS_3

Selama satu Minggu ini, Rayyan hanya memendam kecurigaannya terhadap niat nenek yang tampak kembali bersikap baik kepadanya dan Aura. Tante Inggrid tidak pernah berkunjung ke Apartmen lagi setelah pengakuan dosanya waktu itu. Rayyan memilih diam sembari memperhatikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Jika benar Nenek dan Tante Inggrid pernah berniat untuk memanfaatkan kebaikan istrinya, barulah Rayyan akan bertindak lebih jauh.


"Ehm, Ray, hari ini nenek boleh pergi ke kontrakan tantemu, gak? Kabarnya Tante Inggrid sedang sakit. Kasihan kan dia disana, nenek mau jenguk sekalian bawain makanan buat tantemu."


Rayyan diam, seolah mencerna ucapan sang nenek.


"Ya sudah, saya antar ya nek."


"Gak usah." Nenek langsung mengibaskan tangannya saat itu juga. "Pesankan saja nenek taksi," jawabnya.


"Tapi, Nek?" Rayyan tidak mungkin membiarkan wanita tua itu pergi sendirian begitu saja.


"Gak apa-apa. Nanti cukup pesankan Nenek taksi saja ya."


Rayyan berpikir cepat sampai akhirnya ia mengangguk. Tanpa nenek ketahui, nanti dia akan meminta Pak Deri untuk mengikuti kemana nenek pergi, lagipula ia ingin tau dimana kontrakan Tante Inggrid, untuk sekedar berjaga-jaga saja--siapa tau nanti dia akan mencari wanita itu.


Hari ini Rayyan harus menghadiri rapat penting di kantornya, dia harus hadir dikarenakan banyak dewan direksi yang juga diundang untuk mengikuti meeting tersebut. Mau tak mau Rayyan juga harus meninggalkan Aura di rumah. Menjalani terapi seminggu penuh, syukurnya Aura sudah mulai bisa berjalan dengan tertatih-tatih meski harus menahan rasa sakit yang teramat sangat.


Dalam keadaan seperti itu, bukan berarti Rayyan akan membiarkan Aura-nya sendirian saja di Apartmen. Apalagi nenek mengatakan ingin mengunjungi Tante Inggrid. Jadi, Rayyan menelepon seseorang yang bisa membantunya memantau sang istri di rumah.


"Marsya, hari ini kamu tidak usah ikut meeting. Temani istri saya saja di rumah."


Dan ucapan Rayyan itu tidak mendapat sahutan dari seberang telepon.


"Marsya?" panggil Rayyan lagi. Wanita itu adalah bawahannya langsung di kantor pusat. Bisa dikatakan sebagai sekretaris Rayyan hanya saja Rayyan lebih sering mengandalkan Pak Deri sebagai asistennya yang serba bisa. Jadi, Marsya hanya bertugas mengatur skedulnya saat dia ke kantor saja.


"A-ah, iya, Pak."


"Saya kirim alamat Apartmen saya. Kamu kesini dalam dua puluh menit." Rayyan berujar tegas, sebagaimana ia dikenal dikalangan rekan kantornya--Rayyan adalah pria yang tegas.


"Ba-baik, Pak." Sepertinya Marsya disana cukup terkejut mendengar hal ini, bukan karena Rayyan memintanya untuk ke Apartmen pria itu. Melainkan ucapan Rayyan yang memintanya untuk menemani sang istri. Bahkan Marsya tidak pernah mendengar jika pria itu telah menikah.


Rayyan mengirimkan alamat apartemennya ke nomor Marsya dan sedikit merasa lega meski tak benar-benar tenang harus meninggalkan Aura dalam penjagaan orang lain.


Marsya yang Rayyan kenal adalah wanita cekatan dan ulet, jadi untuk sehari ini saja mungkin dia bisa mengandalkan wanita itu. Mudah-mudahan semuanya akan baik-baik saja. Rayyan menanamkan hal itu dalam dirinya.


"Aku kerja ya, Sayang. Nanti ada sekretaris kantor yang datang kesini buat jagain kamu."


Aura mengadah pada Rayyan. Rasa-rasanya ia tak percaya jika sekarang Rayyan sampai mengurus seorang pekerja untuk menjaganya.


"Maaf ya, Mas." Wajah Aura tampak bersedih.


"Maaf? Maaf kenapa?"

__ADS_1


"Keadaan aku yang seperti ini membuat kamu harus repot sampai meminta bantuan orang lain."


Rayyan mengulas senyum tipis sembari meletakkan helaian rambut Aura ke belakang telinga wanita itu. "Gak masalah. Yang penting kamu tetap merasa nyaman. Kalau nanti kamu gak suka sama orangnya atau dia buat kamu kesal, kamu bisa bilang sama aku," tuturnya pengertian.


"Gak gitu juga lah, Mas. Masa udah dibantuin dan ngerepotin orang lain aku masih juga bertingkah," kata Aura serius.


Rayyan mengusap kepala Aura sekarang. "Nah, kalau begitu jangan nakal dan jangan sulit dihubungi. Selesai meeting aku langsung pulang tapi kalau selesainya sampai sore, aku minta maaf duluan sekarang," katanya lagi.


Aura mengangguk. Ia paham jika sudah sepatutnya suaminya sibuk bekerja. Aura tau tugas Rayyan bukan hanya menjaga dan memantaunya saja setiap hari tapi ada kalanya Rayyan harus sibuk dengan rutinitasnya sendiri.


...****...


Tak lama setelah memastikan Nenek pergi dengan taksinya. Rayyan pun ikut meninggalkan unit apartmennya tersebut. Dan tak lama seorang wanita dengan setelan kantor datang ke Apartmen yang menjadi hunian Rayyan.


Marsya sudah tau jika Rayyan tak berada disana. Pria itu bahkan mempercayai untuk memberikan password Apartmen kepadanya karena Rayyan mengatakan jika istrinya sedang sakit dan kemungkinan tidak bisa membukakan pintu ataupun menyambut kedatangan Marsya disana.


Saat Marsya masuk, rumah itu terasa sangat sepi. Ia ditugaskan menjaga istri dari atasannya sehingga ia mencari-cari keberadaan wanita itu.


"Bu?" Marsya berusaha memanggil istri Rayyan yang bahkan belum ia ketahui namanya.


"Permisi, Bu. Saya dari kantor Pak Rayyan yang diutus untuk menjaga ibu disini." Marsya sedikit berseru agar sang empunya mendengar suaranya, sebab ia tidak melihat tanda-tanda keberadaan orang lain di unit apartmen tersebut.


Tak berapa lama, Marsya mendengar suara sahutan yang samar-samar.


"Ya, saya disini."


"A-Aura!"


"Marsya?"


Mereka berucap serentak. Lalu tak lama terkekeh bersamaan pula.


"Jadi lo istrinya Pak Rayyan?" tanya Marsya tanpa bahasa formal.


"Jadi lo sekretaris di kantor laki gue?" respon Aura.


Entah kenapa mereka sama-sama merasa senang dengan kebetulan ini. Marsya adalah teman SMA Aura, yang juga pernah menjadi pacar adik kembarnya. Ya, Marsya ini salah satu mantan pacar Cean saat masa putih abu-abu.


"Wah kebetulan banget. Apa kabar lo?" Marsya bertanya antusias, lalu tiba-tiba seperti sadar akan sesuatu. "Ah, maaf ya ... apa saya harus memanggil anda dengan sebutan ibu?" tanyanya kemudian dengan nada meledek.


"Parah lo!" kata Aura cepat. "Lo kira gue ibu lo!" gelaknya.


Aura yang tadinya mengira akan canggung bertemu dengan orang baru, nyatanya harus ikut senang karena kini yang menjaga dan menemaninya seharian kedepan adalah sahabat lamanya.

__ADS_1


Mereka duduk di ruang keluarga dengan cemilan yang Aura minta Marsya untuk mengambilnya dari dalam kulkas.


"Kalo gue boleh tau, lo kok bisa begini?" tanya Marsya merujuk pada keadaan Aura.


"Iya, ini ada insiden sedikit. Gue jatuh jadinya ya gini."


"Tapi ini gak permanen, kan?" tanya Marsya lagi.


"Syukurnya sih enggak. Gue udah jalani terapi tapi masih sakit banget kalau dibawa jalan."


"Pelan-pelan pasti lo bisa sembuh lagi, Ra!"


"Aamiin ..."


Marsya melihat-lihat keadaan Apartmen yang beneran sepi tersebut.


"Lo tinggal disini berdua aja sama laki lo? Sumpah ... gue gak tau kalau Pak Rayyan udah menikah dan istrinya malah lo!" ujar Marsya yang terbiasa nyablak.


"Sebenarnya kita tinggal berdua cuma beberapa hari ini ada neneknya Mas Rayyan yang ikut tinggal disini untuk sementara waktu. Tapi beliau lagi keluar, ke rumah anaknya."


"Oh ..." Marsya manggut-manggut. "Lo kok bisa nikah sama Pak Rayyan, terus gak publikasi pernikahan gitu?" tanya Marsya menyelidik.


"Memang kita belum buat resepsi. Rencananya bakal buat tapi gue malah kena musibah begini." Aura senang mendapat teman mengobrol seperti ini. Tau sendiri jika sekarang ia hanya sering bicara dan ngobrol dengan suaminya. Selain Rayyan, teman bicaranya yang lain adalah Wilow, tapi jarak sudah memisahkan mereka meski kadang masih sering komunikasi via telepon, tapi kehadiran Marsya sekarang justru membuat Aura merasa cukup dan jauh lebih baik.


Suara deringan ponsel Aura membayarkan percakapan keduanya. Aura lantas menyahut benda pipih tersebut dan mendapati jika itu adalah panggilan dari Nenek Rayyan.


"Ada apa, Nek?" tanya Aura.


"Aura, Tante Inggrid harus dilarikan ke rumah sakit. Ini Nenek lagi pesan taksi tapi tolong nenek Aura, Nenek lagi gak pegang uang sama sekali untuk biaya pengobatan Inggrid."


"Tante Inggrid gak punya asuransi kesehatan, Nek?" tanya Aura yang menjadi ikut panik sebab suara nenek terdengar gamang diseberang sana.


"Gak ada. Tolong kamu bantu nenek ya, Ra. Kirim uang ke rekening milik Inggrid saja. Sekarang ya, Ra!"


Telepon itu terputus, disusul dengan sebuah pesan yang menampilkan nomor rekening atas nama Inggrid Dewi.


Aura terdiam sejenak, tampak menimbang-nimbang, tapi hati nuraninya berbisik mengatakan jika ia tidak mungkin mengabaikan nenek dari suaminya, apalagi nenek meminta tolong khusus padanya seperti saat ini.


"Ada masalah, Ra?" tanya Marsya yang melihat gelagat Aura agak aneh sesaat menerima teleponnya.


"Ng--nggak. Tantenya Mas Rayyan masuk rumah sakit," kata Aura seadanya.


Aura sudah membuka menu m-banking di ponselnya, ia memang memiliki tabungan disana karena Rayyan sudah membuatkannya rekening baru untuk segala keperluannya setelah berumah tangga.

__ADS_1


"Aku pakai buat nolongin Tante Inggrid, Mas Rayyan bakal marah gak, ya? Tapi ini kan mendesak. Menyangkut kesehatan Tante Inggrid juga, gak mungkin lah Mas Rayyan perhitungan soal biaya semacam itu," batin Aura gundah.


...Bersambung .......


__ADS_2