
Sejak penolakan Rayyan terhadapnya tempo hari, Aura tidak bisa menyembunyikan sikap canggungnya apabila berpapasan dengan pria itu di kelompok organisasi mereka.
Aura juga berusaha untuk tidak terlibat percakapan dengan pria itu. Aura tampak menghindar, namun ia tetap menyunggingkan senyuman sebagai bentuk sapaan.
Aura menjadi pribadi yang nampak tertutup dan pendiam. Semua itu ia lakukan untuk menjaga perasaannya sendiri, yang semakin sakit setiap melihat kedekatan Rayyan dan Lucy.
Setiap ada kegiatan sosial, Aura selalu tampak menyibukkan diri, ia menjadi salah satu anggota yang paling aktif diantara yang lainnya.
Aura tidak keluar dari organisasi--meski melihat Rayyan dan Lucy berarti ia harus menyiapkan perasaannya.
Baginya, semua ini adalah hukuman buatnya, dengan menyaksikan secara langsung pria yang ia cintai begitu akrab dengan wanita lain yang semakin hari semakin menyebalkan saja.
Ya, setelah mengenal Lucy hampir dua bulan ini, Aura mulai sadar jika wanita itu seolah sengaja membuatnya kesal. Aura menilai, jika Lucy berniat memanas-manasi dan memancing kemarahan Aura.
Entahlah, Aura selalu berusaha untuk tidak menggubrisnya, kendati kadang ia masih mencuri pandang pada kedekatan keduanya dan selalu membuatnya semakin patah hati berkali-kali.
"Aura, apa kau sudah mau pulang?"
Seperti biasanya, yang selalu aktif mengajak Aura bicara disana hanya Devon atau Carl, sementara Wilow tidak begitu aktif di organisasi meski kadang gadis itu ikut datang berpartisipasi.
"Iya. Aku sudah selesai," kata Aura.
Mereka memang baru saja selesai dari kegiatan membagi-bagikan makanan di salah satu pantai jompo, berikut menghibur para penghuni tempat itu yang menyambut mereka dengan berbagai tipe. Ada yang hangat, namun ada juga yang arogan karena pikun.
"Ya sudah, ayo kita pulang."
"Maaf, Dev. Aku pulang sendiri saja."
Devon menghela nafas berat, sudah beberapa kali Aura selalu bersikap menjaga jarak darinya, dulu Aura tak begini entah kenapa sekarang wanita itu berubah.
"Aku tidak akan keberatan. Ayolah!" ajak Devon bersikukuh.
"Tidak usah, Dev. Aku sudah memesan taksi lewat online dan mungkin sebentar lagi akan tiba. Maaf, ya."
Aura memang sengaja menghindari Devon, bagaimanapun, ia menghargai Rayyan yang memintanya untuk jaga jarak dari pria itu. Kendati Rayyan bukan siapa-siapanya dan mereka tidak memiliki hubungan lagi, tapi tidak ada salahnya Aura mengikuti saran dari pria itu. Aura tau Rayyan pasti mau yang terbaik untuknya dan ucapan Rayyan tempo hari menyiratkan hal itu.
Aura berlalu dari hadapan Devon dan menaiki taksi yang untung saja datang tepat waktu--sehingga ia tidak perlu menolak Devon untuk kesekian kalinya.
Devon mendengkus pelan saat melihat kepergian Aura dan tindakannya itu tertangkap oleh mata Rayyan disana.
Devon yang sadar jika Rayyan sedang melihatnya, kini malah mendekat pada posisi pria itu.
"Apa kau tau bagaimana caranya mendekati Aura?"
Rayyan tidak terlalu kaget dengan pertanyaan Devon, sejak awal ia sudah dapat menebak jika lelaki ini menyukai Aura dan terus bergerak mendekatinya.
"Mana hku tau," respon Rayyan cuek.
"Ku pikir kau orang Indonesia, sama seperti Aura, mungkin saja wanita dari negara kalian memiliki tipikal tersendiri."
"Jika dia menghindarimu, itu artinya kau bukan tipikal nya. Right?"
__ADS_1
Devon berdecak lidah karena perkataan Rayyan. "Awalnya dia tak begini, Ray. Tapi belakangan dia tampak menjaga jarak dariku," keluhnya.
Rayyan mengendikkan bahu, tampak acuh tak acuh. Ia tak berminat mendengar curhatan Devon apalagi itu menyangkut mantan istrinya.
"Aku tidak pernah setertarik ini dengan seorang wanita. Biasanya mereka akan gampang ku dekati dan membuat rasa penasaranku langsung terjawab, tapi Aura berbeda, dia membuatku sulit beralih pada wanita lain," akui Devon sambil menatap Rayyan.
Rayyan terkekeh pelan. "Kalau begitu, kau harus lebih berusaha lagi untuk mendekatinya," katanya sambil menepuk-nepuk pundak Devon.
"Kau sendiri, bagaimana?"
"Aku?" Rayyan menunjuk dirinya sendiri. "Memangnya kenapa denganku?" tanyanya.
"Bagaimana awal kau mendekati Lucy? Ku pikir dia hanya lengket padamu," kelakarnya.
Rayyan hanya menipiskan bibir, lantas berujar yang tidak sesuai dengan pertanyaan Devon.
"Aku pulang dulu."
"Kau tidak pulang dengan Lucy?"
Rayyan menggeleng. "Kenapa harus dengannya, jika dia sudah pulang dengan teman-temannya yang lain juga," katanya enteng.
Rayyan hampir beranjak saat Devon kembali bersuara.
"Jangan memberinya harapan, jika kau tidak tertarik untuk membersamai nya, Ray!"
Rayyan tersenyum miring, kemudian pergi dari tempat itu.
...***...
"Kau ini kenapa?"
Aura terduduk lesu di kursinya, membuat Wilow menghampiri wanita itu dengan banyak pertanyaan dikepalanya.
"Kau tidak senang diundang oleh Lucy?" tanya Wilow merujuk pada kartu undangan yang tadi dilemparkan oleh Aura ke atas meja.
"Kenapa dia senang sekali membuat pesta?" Aura tau, ini pasti akal-akalan Lucy untuk memanas-manasinya lagi di pesta itu nanti. Dalam benak Aura, ia yakin jika Lucy curiga akan hubungan yang sebenarnya antara ia dan Rayyan, sehingga perempuan itu sering sekali memamerkan kebersamaan dengan Rayyan padanya.
"Mana ku tau, itu memang sudah kebiasannya. Merayakan kesenangannya dengan pesta," jawab Wilow.
"Rasa-rasanya, pesta ulang tahunnya baru saja terjadi dan sekarang dia mau membuat pesta lagi terkait kenaikan jabatan di kantornya? Oh my ..." Aura terdengar mengoceh, lebih seperti menggerutu.
"Sudahlah, tinggal datang saja. Kita bisa makan gratis."
"Hih, kau ini ... aku juga bisa mentraktirmu kalau mau makan gratis."
"Benarkah?"
"Iya. Jadi kita tidak usah kesana!" sungut Aura.
"Kau sepertinya kesal sekali padanya?"
__ADS_1
Haruskah Aura mengatakan pada Wilow jika sikap Lucy memang keterlaluan? Akan tetapi ia menahan itu mengingat Wilow juga berteman dengan Lucy. Entahlah, Aura hanya menjaga hubungan pertemanan mereka.
"Jadi, kau mau atau tidak?"
"Apanya?" tanya Wilow tak paham.
"Ku traktir! Tepat di acara pesta Lucy agar kita tak perlu datang kesana."
Wilow jadi terkekeh. "Biar ku tebak, kau kesal padanya karena dia memanas-manasimu, kan?" tebaknya.
"Iya!" jawab Aura lugas.
Dan Wilow bertepuk tangan karena hal itu.
Saat acara itu tiba, Wilow dan Aura benar-benar absen untuk datang ke pesta yang dibuat oleh Lucy.
Mereka malah makan malam di sebuah cafe yang letaknya tak jauh dari kantor, mengajak Ghea dan Sylvia juga.
"Darren?" Tanpa sengaja Wilow justru melihat Darren sang sepupu disana--sedang bersama seorang wanita yang ia kenali.
"Kenapa?" tanya Ghea dan Aura serentak.
"A-aku melihat Darren tadi." Wilow mendadak keki.
"Dimana?" tanya Aura memastikan.
"Disana," kata Wilow menunjuk ke arah teras cafe.
"Lalu, kenapa kau begitu kaget? Itu hanya Darren," kata Aura menenangkan.
"Masalahnya, aku melihat dia bersama seorang wanita dan sangat mesra," jelas Wilow.
"Mungkin Darren sudah memiliki kekasih," kata Sylvia menimpali.
"Masalahnya, kalau aku tidak salah mengenali ... wanita itu mirip sekali dengan Lucy!"
Sontak saja ucapan Wilow membuat Aura, Ghea dan Sylvia melongo.
"Mungkin kau salah lihat, tidak mungkin Darren bersama Lucy. Lagipula Lucy sedang menggelar pesta di kediamannya, kan?" kata Ghea mengutarakan isi kepalanya.
"Iya, lagipula Lucy kan dekat dengan Rayyan," ujar Aura yang berujar sambil mengesampingkan sakit hatinya. Ia juga tampak acuh tak acuh.
"Ya, mungkin saja aku salah lihat. Tapi aku jadi penasaran dan aku mau membuktikannya," papar Wilow.
"Bagaimana caranya?" tanya Ghea pula.
"Ya kita datang ke pesta Lucy. Kalau dia ada disana, kemungkinan yang bersama Darren tadi bukan dia. Tapi jika dia tidak ada disana, aku yakin itu adalah Lucy!" kata Wilow heboh dan kekeuh pada keyakinannya.
Mereka saling menatap satu sama lain dan menanyakan pendapat Aura sebab hanya wanita itu yang paling menentang keras untuk menghadiri pesta Lucy.
"Ku pikir lebih baik kalian saja yang kesana. Aku pulang saja, ya." Aura menyahut lesu, lebih baik ia kembali ketimbang harus ke pesta Lucy dan mendapati kemesraan wanita itu dengan mantan suaminya lagi dan lagi.
__ADS_1
...Bersambung ......
Yang masih ada vote Senin, boleh dikirimin kesini yakkk💚 Semoga kita sehat selalu yaaa🥰🙏🙏🙏