Dijebak Di Malam Pengantin

Dijebak Di Malam Pengantin
74. Kembali ke kota


__ADS_3

Setelah perdebatan yang cukup alot antara Rayyan dan Neneknya mengenai keinginan nenek untuk ikut ke kota, akhirnya Rayyan menyetujui juga sebab neneknya beralasan ingin mengetahui kondisi kesehatan kaki Aura selanjutnya.


Mengenai ini, Rayyan sempat merasa semakin aneh saja dengan sang nenek yang nampak mulai peduli pada istrinya. Meski sebenarnya Rayyan mengkhawatirkan kesehatan sang nenek jika ikut dalam perjalanan yang cukup lama menuju kota, namun ia tidak mungkin mendebat nenek terus menerus.


Nenek tampak sangat semringah dalam perjalanan tersebut. Disinilah Rayyan sadar mungkin neneknya juga ingin merasai bepergian. Mungkin selama ini ia yang kurang peka dengan tidak pernah mengajak nenek kemanapun, atau justru karena ia hanya terlalu khawatir mengingat umur nenek yang tidak muda lagi dan tidak seharusnya melakukan perjalanan yang jauh.


"Nanti kita berhenti di rest area dulu, ya, Pak." Rayyan berpesan pada sang sopir yang mengendarai mobil mereka untuk kembali ke Jakarta.


"Siap, Pak."


Rayyan mau istri dan neneknya tidak terlalu memaksakan perjalanan ini, meski sebenarnya Rayyan sangat ingin untuk cepat tiba di kota lalu segera memeriksakan keadaan kaki sang istri.


Tiba di Rest area, Rayyan mengajak Aura dan Neneknya makan siang di sebuah tempat makan yang ada disana, tidak lupa ia juga mengajak Pak Dery dan sang sopir yang menempati meja berbeda dengan mereka.


"Nanti, kamu harus lebih hati-hati kalau kaki kamu udah sembuh. Jangan sampai jatuh seperti ini lagi, ya," pesan Nenek pada Aura.


Rayyan dan istrinya langsung saling melempar pandang. Makin kesini makin terasa saja perhatian dan kepedulian Nenek. Aura merasa terharu karena akhirnya nenek dari suaminya mau bersikap demikian. Sangat berbanding terbalik dengan sikap nenek saat pertama kali mereka bertemu di rumah yang ada di peternakan tempo hari.


"I-iya, Nek. Makasih ya, Nek." Aura tersenyum sendu ke arah Nenek dan dibalas wanita tua itu dengan anggukan.


"Ah iya, makan makanan yang sehat, kalau perlu yang bisa memperkuat tulang kamu. Ada ikan yang bisa dikonsumsi dan itu bagus, nanti nenek masak buat kamu. Oh iya, minum susu juga."


Aura menyengir keki. "Iya, Nek. Maksih banyak nenek mau repot-repot untuk itu," jawab Aura sungkan.


Sekali lagi Aura dan Rayyan bertatapan, lalu saat makan siang itu berakhir, semuanya kembali masuk ke mobil dengan Rayyan yang menyandarkan Aura di lengannya yang kemudian sekaligus mendekap tubuh sang istri di kabin mobil.


"Mas, kamu ngerasain perubahan sikap nenek, gak?" bisik Aura pada suaminya.


Rayyan mengangguk dalam posisinya.


"Aku pikir, semua yang terjadi sama aku mungkin membuat nenek sadar, Mas. Aku anggap ini cobaan sekaligus hikmah yang bersamaan karena nenek jadi berubah karena keadaan yang aku alami sekarang."


Rayyan hanya menipiskan bibir. Ia masih merasa janggal dengan perubahan sikap sang nenek, namun ia tidak mau menyampaikan hal itu pada Aura sebab ia takut harapan istrinya menjadi musnah jika ia mematahkan kata-katanya.


"Semoga aja nenek terus begini ya, Mas."


"Aamiin..." Dalam hati, Rayyan juga berharap sang nenek benar-benar berubah. Semoga saja.

__ADS_1


Perjalanan yang memakan waktu cukup lama itu, akhirnya mengantarkan mereka sampai di sebuah gedung Apartmen yang menjadi tempat tinggal Aura dan Rayyan selama di Jakarta. Sang nenek di tuntun Pak Deri untuk menaiki lift, sementara Aura dibantu oleh Rayyan dengan digendong didepan dada agar tiba di lantai unit apartmen mereka.


"Mas, maaf ya aku ngerepotin kamu terus," sungkan Aura pada suaminya.


"Aku gak ngerasa direpotin, Sayang. Ini udah jadi tugas aku," jawab Rayyan masih dengan kedua tangan yang membawa tubuh istrinya.


Ting.


Lift berdenging dan membuat mereka sampai di lantai yang dituju. Sampai di depan unit, Pak Deri undur diri untuk pulang sementara Nenek ikut Rayyan dan Aura yang memasuki tempat tinggal mereka.


"Jadi ini rumah kalian? kenapa gak tinggal di rumah biasa? Kenapa di Apartmen?" tanya Nenek seperti menginterogasi saja.


"Disini pengamanannya lebih aman, Nek," jawab Rayyan seadanya.


"Kalau keluarga Aura dimana? Nenek mau juga mengunjungi keluarga besan."


Rayyan meletakkan tubuh istrinya diatas sofa dengan hati-hati sebelum menjawab perkataan sang nenek. Sebenarnya Rayyan sedikit terkejut dengan ujaran neneknya yang kali ini. Bukan apa-apa, selama ini nenek bahkan tak pernah menganggap Rayyan cucunya, lalu bagaimana bisa kini nenek mengatakan mau bertemu keluarga besan? Itu artinya ia sudah menganggap Rayyan sebagai keluarga, kan? Jika keluarga Aura saja beliau sebut sebagai besannya?


"Nanti kita kesana, Nek. Saya masih mau ngomongin soal kondisi Aura sama keluarganya dulu, setelah itu baru kita main kesana."


Rayyan ingin ke dapur untuk mengambilkan Aura dan Neneknya minum, tapi suara nenek kembali terdengar membuat langkah Rayyan terhenti.


"Kamar nenek dimana, Ray?"


Rayyan menoleh, "Itu disana, nenek mau langsung ke kamar?" tanyanya.


"Iya, nenek capek sekali. Perjalanan tadi melelahkan. Nenek mau rehat sebentar," katanya mengakui.


Rayyan memberi isyarat pada Aura untuk menunggunya yang akan mengantar nenek sekejap menuju kamar tamu dan Aura menganggukkan kepalanya.


"Ini kamar nenek. Kalau perlu apa-apa nenek bisa panggil saya, ya."


"Ya," jawab Nenek.


"Selamat istirahat, Nek. Semoga nenek nyaman disini."


"Kamar kalian dimana, Ray?"

__ADS_1


"Kamar kita disana, Nek." Rayyan menunjuk arah yang berlawanan dengan kamar yang ditempati nenek.


"Oh, lebih luas mana sama kamar yang nenek tempati ini?"


"Sama saja, Nek."


Nenek akhirnya mengangguk, padahal jika Rayyan menjawab lebih luas kamar mereka, mungkin wanita tua itu minta agar ia bisa menetap dikamar mereka saja dengan alasan kenyamanannya. Tapi berhubung jawaban Rayyan demikian, ia memilih diam.


Rayyan segera beringsut setelah nenek memasuki kamar yang akan ditempati, ia kembali ke hadapan istrinya dengan segelas cokelat hangat.


"Makasih, Mas."


"Hmm." Rayyan mengecup dahi Aura sekilas. "Kamu nonton apa?" tanyanya kemudian.


"Tuh," kata Aura merujuk apa yang sedang ia tonton.


Rayyan segera melihat pada acara televisi di layar datar yang sedang disaksikan sang istri, ternyata Aura sedang menonton salah satu acara tentang wisata kuliner, sementara Aura mulai menyeruput cokelat panas yang dibuatkan oleh Rayyan tadi.


Mereka pun lanjut menyaksikan acara itu bersama-sama, sampai akhirnya Rayyan merasa istrinya sudah jatuh tertidur di atas dada bidangnya.


Rayyan menghujani pelipis Aura dengan kecupan-kecupan kecil, lantas menggendong sang istri ke kamar mereka sendiri. Ia tau tadi Aura belum sempat membersihkan diri lagi setelah mereka tiba di Apartmen sehingga Rayyan mengambil inisiatif untuk membasuh tubuh istrinya dengan handuk hangat.


Dengan sangat hati-hati Rayyan melakukannya, ia hanya membersihkan sekilas area wajah, tangan dan kaki istrinya. Setelah itu ia lanjut mandi dan kemudian bergabung bersama Aura di tempat tidur yang sama.


Rayyan tidak lanjut tidur, ia malah memandang langi-langit kamar. Pria itu memikirkan nasib istrinya pun sikap neneknya yang mendadak berubah. Rayyan bukan mencurigai neneknya, ia justru berharap jika neneknya benar-benar berubah hanya saja ia masih tak percaya jika ini terjadi begitu saja, karena bagi Rayyan neneknya bahkan tidak menyayanginya ataupun Aura. Jadi, tetap saja Rayyan merasa ini sangat janggal.


Entahlah, otak Rayyan hanya tidak mau berpikiran negatif mengenai sang nenek, namun hati kecilnya seolah merasa tidak enak.


Rayyan menoleh ke samping dan mendapati wajah lelah istrinya. Ia merasa berdosa pada wanita ini.


"Maafin aku, Sayang. Liburan dan rencana bulan madu kita jadi berantakan begini," sesalnya. Kemudian ia memeluk tubuh Aura yang tertidur, hingga lambat laun mulai mengantuk karena nyaman dalam posisi tersebut.


...Bersambung ......


Novel ini akan segera tamat, berikan dukungan dan tinggalkan komentar.


Mampir juga ke novelku yang satunya, dengan judul : ELARA : FATED TO LOVE 🙏❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2