
Rayyan baru saja keluar dari kamar mandi saat mendengar ponselnya berdering menjerit-jerit. Ia segera meraih benda pipih yang tergeletak begitu saja di atas tempat tidur. Ternyata itu adalah panggilan dari kurir pengantar makanan yang sudah menunggu didepan unit apartmen.
Rayyan jadi tak enak hati, sepertinya kegiatan mandinya yang lama bersama sang istri--membuat kurir itu menunggu cukup lama disana.
Masih dengan jubah mandinya, Rayyan membukakan pintu dan menemukan kurir pengantar makanan dengan wajah yang tampak menyedihkan.
"Maaf ya, Mas. Tadi saya lagi mandi," kata Rayyan dengan wajah sungkan.
Kurir itu langsung berdiri dan tampak semringah. Akhirnya pesanan makanan itu berhasil diantarkan pada yang bersangkutan karena pemesannya sudah membukakan pintu. Jika tidak, mungkin ia yang harus membayar makanannya dengan uang pribadinya sendiri.
"Gak apa-apa kok, Pak. Saya pikir orangnya pergi tadi. Saya udah tekan bel beberapa kali, udah telepon juga tapi gak ada jawaban. Saya pikir saya dikerjain," ujar kurir itu terus terang.
Rayyan semakin merasa tak enak hati. Ia menerima pesanan makanan itu lalu memberikan pembayaran yang berlebih banyak.
"Pak, ini uangnya terlalu banyak."
Rayyan tersenyum simpul. "Gak apa-apa, Mas. Buat Mas aja. Sekali lagi saya minta maaf ya, karena saya udah buat Mas nunggu terlalu lama."
"Ta-tapi, Pak?" Kurir itu kaget mendengar Rayyan yang mengatakan jika kelebihan uang itu untuknya, masalahnya itu sangat banyak, bahkan melebihi tarif pesanan makanan yang dipesan.
"Gak apa-apa, Mas. Mas pasti udah kehilangan banyak waktu yang seharusnya bisa Mas pakai untuk menerima orderan lain. Sekali lagi maaf dan terima kasih masih tetap menunggu disini," kata Rayyan tulus.
Sang Kurir langsung menyalami tangan Rayyan, lantas begitu riang saat meninggalkan koridor apartmen itu dengan membawa lebihan 3 lembar uang merah dari Rayyan. Tak ada wajah sedih lagi yang terlihat di rautnya.
Aura tampak mengeringkan rambutnya didepan meja rias--saat Rayyan masuk ke kamar mereka. Sebelumnya, pria itu sudah meletakkan bungkusan makanan di meja yang ada di ruang makan.
"Siapa, Mas?" tanya Aura yang tau jika tadi Rayyan menerima panggilan telepon kemudian berlalu ke arah depan.
"Kurir makanan yang tadi kamu pesan."
"Ya ampun!" ujar Aura setengah memekik. "Aku bener-bener lupa, Mas!" sambungnya dengan wajah penuh penyesalan.
"Aku juga lupa." Rayyan menipiskan bibir. "Tapi, aku udah minta maaf juga tadi. Gak enak kan, kurirnya nunggu didepan lama banget. Padahal tadi aku udah pesan sama penjaga gedung supaya biarin kurirnya naik ke lantai atas buat antar makanan kita, bisa-bisanya aku yang lupa."
"Ini gara-gara kamu, Mas. Kita mandinya jadi lama," gumam Aura, namun Rayyan dapat mendengarnya.
"Lho, kok aku sih?" Rayyan yang baru saja mengambil kaos dari dalam lemari, sontak menatap pada istrinya. "Bukannya kamu yang gak mau udahan," sambungnya menekankan.
"Udah ah, aku udah laper banget!" Aura melengos keluar dari kamar.
Rayyan terkekeh diposisinya, lalu mengenakan kaosnya sembari mengikuti Aura yang sudah berjalan lebih dulu.
"Makan yang banyak, biar energinya pulih kembali," kata Rayyan mencium puncak kepala Aura sekilas saat wanita itu sibuk membuka bungkusan makanan mereka.
__ADS_1
Rayyan duduk di kursi makan dan menanti Aura yang menyiapkan menu pesanan tadi. Melihat gelagat istrinya yang cekatan menuangkan air, setelah itu duduk disisinya untuk makan bersama-sama.
"Malam ini kita makannya cuma berdua aja, Mas."
Rayyan mengangguk, biasanya mereka makan dikediaman orangtua Aura dengan formasi yang ramai.
"Kamu sedih?" tanya pria itu kemudian.
"Enggak lah, Mas. Aku cuma jadi ingat pas kita di Jerman waktu itu."
Rayyan mulai mengunyah makanannya dan diam mendengarkan Aura yang kembali berbicara.
"Dulu kita juga sering makan bareng, dimeja makan kayak gini. Sarapan juga berdua. Kamu ingat gak, Mas?"
"Ya ingat, bagian mana sih yang aku lupa," kelakar Rayyan.
"Aku minta maaf ya, Mas. Aku banyak salah sama kamu."
"Hmm, mulai ... udah, sekarang kamu makan yang banyak. Karena kalau kamu gak makan, aku juga gak mau makan."
Aura jadi terkekeh mendengar ucapan suaminya itu. "Lebay, ih kamu ..." cibirnya.
"Aku serius, mana mungkin aku makan kalau kamu gak makan juga."
"Iya deh, iya."
"Mas, jadi selama tinggal di peternakan, Nenek kamu siapa yang jaga? Kan kamu bilang Tante Inggrid pergi setelah melarikan sertifikat yang ternyata palsu itu."
"Oh ..." Rayyan menghabiskan air putih didalam gelasnya sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Aura.
"Disana ada ART juga, Sayang. Mbok Jum dan Mbak Niar. Mereka disana aku pekerjakan untuk jagain Nenek karena Nenek gak mau aku urusin. Bahkan kalau aku datang, Nenek terlihat gak suka. Tapi kan gak mungkin aku biarin nenek hidup disana sendirian, apalagi disana itu dataran tinggi yang jauh dari keramaian. Rumah-rumah letaknya berjarak gak kayak di kota yang ramai."
"Aku udah nebak sih," kata Aura mengakui.
"Nebak? Nebak apa?" tanya Rayyan yang lanjut mengunyah makanannya.
"Kalau Tante Inggrid bohong, gak mungkin kamu menelantarkan nenek seperti yang sempat dia bilang itu."
Rayyan hanya merespon perkataan Aura dengan senyuman tipis karena ternyata istrinya itu sudah mulai bisa mengenali dirinya dan dapat menebak karakternya yang tidak mungkin lepas tangan begitu saja.
"Ehm, soal makanan dan kebutuhan Nenek disana gimana, Mas?"
"Semuanya diatur Pak Deri, Sayang. Aku cukupi semua, kan gak mungkin Nenek gak makan disana. Ya dosa lah aku," kata Rayyan akhirnya.
__ADS_1
Namun, yang membuat Rayyan tersedak kemudian adalah pernyataan Aura selanjutnya.
"Aku mau kamu ajak kesana dong, Mas. Lihat peternakan sekalian ketemu sama Nenek kamu."
Rayyan menggaruk pelipisnya sekilas. "Nggak usah ya," katanya pelan.
"Kenapa? Disana pasti sejuk dan pemandangannya juga bagus. Aku mau kesana ya, Mas. Kan, kamu bilang kita perlu liburan untuk bulan madu. Kesana aja ya, ya?" rengek Aura.
Rayyan bukan tak mau mengajak Aura kesana. Saat melihatnya datang saja neneknya tidak suka, apalagi jika Rayyan membawa Aura. Rayyan takut Aura akan tersinggung jika nanti neneknya menolak kehadiran mereka disana.
"Kita bulan madunya ke tempat yang lain aja ya, Ra. Gak usah kesana."
"Segitunya kamu gak mau aku kenal sama nenek kamu, Mas."
"Bukan gitu." Rayyan menatap Aura lekat. "Nenek gak suka sama aku, aku takut kamu tersinggung sama sikap nenek nanti. Nenek bukan kayak Oma kamu yang bijaksana, Nenek itu beda, Ra," paparnya.
"Aku merasa Nenek pasti mau berubah."
"Ya ampun, sayang. Udah aku bilang kamu jangan menyamakan nenek dengan kamu yang mau berubah. Bahkan aku tinggalin bertahun-tahun juga Nenek gak akan pernah cari aku, justru dia senang kalau aku gak pernah kesana lagi menemui dia."
Aura menggenggam jemari Rayyan. "Kita belum coba, ayo kita kesana. Kalau ternyata gagal meluluhkan Nenek, kita segera pulang. Ya?"
Dengan berat hati akhirnya Rayyan mengangguk.
"Tapi ada syaratnya, ya?"
"Syarat?" tanya Aura mengernyit.
"Iya, syaratnya selama disana kamu harus masakin aku."
"Itu mah gampang, kamu gak tau aja kalau selama ini aku udah banyak belajar soal masakan," kata Aura dengan percaya diri.
"Masa?" respons Rayyan.
"Iya, Wilow sama temen-temen aku yang lain aja ketagihan sama masakan aku."
Sekarang Rayyan tergelak, membuat Aura bersungut-sungut karena reaksi suaminya yang terkesan mengoloknya itu.
"Awas kamu ya, Mas. Nanti aku buatin makanan yang enak jangan ketagihan ya."
"Iya, coba aja buktiin nanti," tantang Rayyan dan Aura semakin bertekad untuk membuat suaminya diam dengan masakannya yang enak--nanti.
...Bersambung ......
__ADS_1
Minta kirimin kopi, udah. Sekarang kirimin bunga aja deh. Boleh, gak???
❤️❤️❤️❤️semoga berkah bagi yang udah kasih dukungan ke sini✅✅🙏🙏🙏🙏