Dijebak Di Malam Pengantin

Dijebak Di Malam Pengantin
36. Melepaskan


__ADS_3

Embusan nafas berat, bahu yang luruh, serta gurat yang tampak kecewa berpadu pada diri Rayyan. Bibirnya terkatup rapat, namun tangannya dengan sigap mengemas semua barang yang berada dalam ruangan 4x5 meter itu.


Ya, Rayyan sudah sampai pada titik kesabarannya. Yang kali ini tidak bisa memaklumi Aura lagi. Entahlah, semua orang punya batas sabar, kan? Mungkin Rayyan memang sudah tiba di batas itu.


Selesai berkemas, Rayyan berderap keluar kamar dan mendapati wanita yang masih berstatus sebagai istrinya tengah berdiri didekat sofa dengan tangan yang terlipat.


Rayyan hendak melewati dan mengabaikan Aura begitu saja, tapi wanita itu memilih bersuara.


"Kenapa kamu harus bilang ke Darren kalau aku istri kamu? Aku udah bilang kalau aku daftar kerja dengan status single!"


Ternyata hal itu yang justru dibahas istrinya, seolah perasaan Rayyan yang sudah menyatakan kekecewaannya tidak begitu penting bagi Aura.


"Terus, kenapa juga kamu harus bilang kecewa segala? Aku udah bilang kalau aku cuma dianterin sama Darren, gak pergi bareng dia! Aku pergi sama temen-temenku dan semuanya perempuan."


Rayyan mendengkus pelan, menarik nafas dalam-dalam, ia sedang menahan kesabarannya lagi saat mendengar ucapan wanita itu. Mungkin inilah kali terakhir Rayyan akan bersabar sebab ia sudah sampai pada ambang batasnya.


"Aku udah coba buat nerima kamu disini, aku juga udah bilang kalau masing-masing dari kita masih bebas. Terus, kenapa kamu malah nuntut aku untuk hal-hal aneh yang lain? Harus tau batasan sebagai istri lah! Emang sejak kapan aku nerima status sebagai istri kamu? Harusnya kamu mikir, sejak awal aku emang gak pernah mau jadi istri kamu!"


"Cukup, Ra!" sergah Rayyan, Aura langsung terdiam, bahkan ia sedikit tersentak karena suara Rayyan benar-benar meninggi. "Jika kamu memang gak pernah menerima status sebagai istriku, gak mau dibatasi dan diingatkan tentang batasan seorang istri, kamu masih selalu menganggap diri kamu bebas. Oke ... aku gak bakal maksain kamu lagi untuk menghargai pernikahan kita!" tukasnya menohok.


Aura menatap Rayyan jengah, selalu begitu seolah ucapan pria tersebut hanyalah omong kosong seperti biasanya.


Rayyan sendiri berfikir Aura akan mengucapkan kata-kata penyesalan. Mengucap maaf karena ia sudah mengatakan soal kekecewaannya, nyatanya Aura malah semakin membahas soal pernikahan mereka yang tidak pernah dianggap oleh wanita itu.


"... jadi, mulai hari ini aku putuskan untuk melepaskan kamu, Ra! Kita berpisah. Aku ... menceraikan kamu," ujar Rayyan dengan berat hati.

__ADS_1


Mendengar itu, bukannya syok atau terkejut, Aura justru mengembangkan senyuman.


"Oke. Itu emang yang terbaik," kata Aura percaya diri.


Rayyan mengangguk-anggukkan kepalanya dengan samar, ada sesuatu yang terasa berderak nyeri, hatinya patah, perasaannya benar-benar sakit, ngilu. Apalagi respon Aura tampak tidak menyesal sama sekali, justru wanita itu tampak lega seolah telah melepaskan beban yang membelenggunya dan belenggu itu adalah diri Rayyan sendiri.


Aura tak menanyakan kemana tujuan Rayyan selanjutnya, apa akan tetap bertahan di negara yang sama dengannya, atau justru pulang dan kembali ke Indonesia, Aura tak tertarik sama sekali untuk mengetahui hal itu. Baginya, keputusan Rayyan hari ini adalah yang terbaik untuk mereka. Sejak awal, memang tidak seharusnya Rayyan menikahinya.


Rayyan berlalu pergi dari hadapan Aura, ia tidak akan menoleh lagi. Tak akan. Nyatanya, perasaannya justru ingin kembali. Rayyan seolah berperang dengan dirinya sendiri.


Jika kamu kembali, maka kamu adalah lelaki yang tidak memiliki harga diri.


Begitulah ego dalam diri Rayyan yang akhirnya mempertahankan keputusannya.


...***...


Aura sudah membayangkan list kehidupannya selanjutnya. Untuk saat ini ia sudah mempunyai semangat hidup kembali. Lupakan masa lalu dan bangkit. Ia akan mengejar karir dan tidak tertarik untuk mengungkit masa lalu.


Mengenai hubungan, untuk sekarang Aura belum terpikir untuk menjalin hubungan dengan pria lain. Itu tidak penting. Aura ingin bersenang-senang dengan dirinya dan teman-temannya saja. Tidak ada pria, sebab tidak ada yang tulus diantara mereka.


Aura kembali ke rutinitasnya, seolah tidak terjadi apapun. Ia menyiapkan sarapan paginya sendiri sebab tak ada lagi yang akan menyediakan sarapannya seperti dulu. Tak apa, maid juga sudah tak aura pekerjakan. Ia merasa bisa menghandle kebutuhannya sendiri. Hanya sendiri. Aura hanya butuh keluarga dan teman-temannya saja untuk melengkapi dirinya.


Aura sudah tidak mendengar kabar Rayyan lagi. Kendati demikian, orangtuanya tetap rutin menanyakan perkembangan rumah tangganya dengan Rayyan.


Dari sana, Aura tau jika Mama dan Papanya tidak pernah tau jika Rayyan sudah menceraikannya. Dalam hati, Aura meremehkan sikap pengecut Rayyan yang tidak berani berterus terang pada orangtuanya mengenai pernikahan mereka yang sudah tak dapat dipertahankan.

__ADS_1


"Apa maksud kamu kalau Rayyan udah menalak kamu, Ra?" Papa Sky berujar dengan nada tegas dari seberang sana. Mereka sedang tersambung dalam panggilan seluler.


"Iya, Pa. Jadi, dia udah ceraikan Aura. Kita udah gak terikat pernikahan lagi," jawab Aura enteng.


Papa Sky terdengar menggeram disana, Aura yakin jika sang Ayah amat kesal pada sikap Rayyan yang pengecut.


"Papa kecewa sama kamu, Ra!"


Dan hal itu justru membuat Aura keheranan. Rayyan yang menceraikannya kenapa malah Papanya mengucap kecewa padanya?


Aura ingin mendapat dukungan dari sang Mama, setidaknya mamanya pasti akan mengerti dengan semua yang terjadi, nyatanya sang Mama juga berujar serupa.


"Mama pikir kamu bisa dewasa setelah mengetahui status kamu udah berubah menjadi seorang istri. Nyatanya kamu gak belajar dari semua ujian yang udah diberi ke kamu. Mama bener-bener sedih dengan hal ini, Aura. Mama tau Rayyan suami yang baik."


"Tapi, Ma? Aura yang ngadepin dia setiap hari. Mama gak tau gimana dia ngatur-ngatur Aura, Ma. Gimana bisa mama yakin dia pria yang baik? Sedangkan Mama aja berada di Indonesia."


"Aura!" Suara Mama Yara memanggilnya tegas. "Kurang apa Rayyan sama kamu? Mama pikir dia udah cukup sabar menghadapi kamu, dia menerima kekurangan kamu, dia menerima masa lalu kamu. Apa yang kurang, nak? Dia lembut dan pengertian. Terutama, dia mampu bertanggung jawab untuk hidup kamu. Kenapa kamu tidak bersyukur, Nak?"


Dan Aura tidak sanggup menelan semua lontaran kalimat yang seakan menyalahkannya. Ia pikir keluarganya akan mendukungnya tapi nyatanya Aura tidak mendapat sokongan itu justru ia dipersalahkan.


Kenapa tidak ada yang bisa mengerti dirinya? Begitulah yang ada dibenak Aura.


Di akhir pekan, Aura mengajak Wilow dan teman-temannya yang lain untuk jalan-jalan, nyatanya mereka memiliki kesibukan masing-masing. Aura jadi tau, jika tidak semua orang akan menjadikannya prioritas utama. Aura merasa sendirian.


Aura memutuskan berjalan-jalan sendirian. Ini sudah seminggu sejak ia dilepaskan oleh Rayyan. Ia memilih menikmati es krim sendiri saat musim panas. Kemudian berbelanja di fashion store ternama. Aura pikir itu mampu membuatnya bahagia. Nyatanya, Aura tetap merasa ada yang kurang. Sebenarnya, apa yang Aura cari dalam hidupnya? Kenapa ia selalu diliputi rasa sedih dan diterpa masalah yang tidak kunjung usai?

__ADS_1


Apa sekarang Aura menyesal? Entahlah, ia juga tidak tau harus bagaimana. Ia sering berpikir bisa menghadapi semuanya sendirian. Tapi entah kenapa sekarang ia merasa kesepian.


...Bersambung ......


__ADS_2